Don’t You Know?

453289005

Don’t You Know?

 [But if you don’t, I’ll tell you and let you know.]

.

.

Hari terus berganti, sedangkan waktu berjalan tanpa henti.

Lee Donghae tak ingat bagaimana ia menghabiskan waktu tanpa sang kakak tercinta berada di sisinya. Ia tak tahu—semuanya berlalu tanpa sadar. Sangat lama, sangat berat, sangat menyesakkan. Namun segalanya tetap berlalu begitu saja.

Ia ingat bagaimana tiap malamnya ia memandangi handphone yang berada di dalam genggaman tangan; mungkin saja sang kakak tiba-tiba berinisiatif menghubunginya, atau mungkin saja tiba-tiba keberanian merasukinya hingga ia berani menekan beberapa digit angka yang dapat membuatnya berkomunikasi dengan si hyung tersayang.

Ia juga ingat bagaimana tiap paginya ia terbangun dengan perasaan kosong yang entah mengapa menyakitkan. Tak ada lagi suara bariton hyung-nya yang senantiasa membangunkannya, tak ada pula aroma khas sarapan pagi yang merupakan favoritnya. Semuanya menghilang tanpa bekas.

Dan segalanya terjadi selama setahun lebih lamanya.

Melihat sepasang mata sipit nan mempesona sang kakak adalah hal yang ingin ia lakukan. Merasakan aura hangat dan menenangkan sang kakak adalah hal yang ia rindukan. Mendengar gerutuan dan ceramah singkat sang kakak adalah hal yang ia idamkan.

Tapi sebesar apapun keinginan itu membuncah dalam dirinya, Donghae tahu segalanya takkan ia dapatkan.

“Hae-ya? Kau baik-baik saja?”

Bibirnya mengulas senyum dipaksakan—ia tidak baik-baik saja. Kepalanya menggeleng lemah, sedangkan sepasang mata indahnya memandang koridor yang beberapa menit lalu dihuni kakak tercintanya. Kenapa hyung-nya itu tak sudi sekdar menatap matanya?

Musim dingin datang jauh lebih awal dari biasanya. Angin bertiup kencang, mengacak surai halus kedua namja yang berdiri dalam diam di salah satu koridor sekolah baru mereka. Salah satunya, yang memiliki surai blonde, menghela napas tanpa sadar—ini bukan masalahnya, namun ia tetap merasakan rasa sesak yang sama.

“Yesung-hyung butuh waktu untuk kembali menerimamu, Donghae-ya. Kau butuh waktu untuk lebih mengerti kesalahanmu dan rasa kecewanya. Semua yang kalian butuhkan hanya waktu.”

Donghae ingin mempercayai kalimat yang teman kecilnya itu katakan, dan ia memang berusaha untuk percaya. Apa yang ia dan kakaknya butuhkan adalah waktu. Namun bagaimana jika waktu memilih untuk tak membantu mereka?

Ia tahu, mereka tahu—waktu tak pernah membutuhkan siapa pun.

#

Donghae tahu seperti apa sifat kakak kandungnya. Mereka tinggal bersama sejak lahir dan baru berpisah setahun belakangan. Yesung adalah kakak merangkap teman dan orang tua baginya—sosok paling penting, berharga, dan tak tergantikan.

Ia ingat ketika Yesung lebih memilih berkutat dengan buku-buku tebal di dalam kamar; mengabaikan dirinya, Sungmin, dan Sunny yang merajuk ingin pergi ke taman bermain tak jauh dari perumahan. Donghae juga ingat tak lama setelahnya mereka mengganggui si hyung tertua itu hingga kesal, dan berakhir menangis karena Yesung marah—hanya melalui tatapan mata, sebenarnya.

Dari pengalaman kecil itu, Donghae belajar bahwa orang yang sabar dan pendiam bisa menjadi luar biasa mengerikan ketika marah.

Di samping itu, Yesung adalah tipe kakak yang baik dan rela mengalah. Donghae takkan pernah menyangkal bahwa dulu ia sering memaksakan kehendaknya dan melakukan segala cara agar Yesung menuruti permintaannya. Ia sering memaksa Yesung untuk menemaninya di saat sang kakak sedang memiliki banyak tugas sekolah, dan ia tak mau menerima penolakan.

Yesung juga mengajari dan memberitahunya banyak hal. Lelaki tidak boleh berbohong, misalnya. Atau, lelaki tidak boleh memukul perempuan. Contoh lain, hidup adalah pilihan; kau sendiri yang menentukan pilihanmu, jangan pernah menyesal dan menyalahkan orang lain jika pilihanmu salah.

Namun dari sekian banyak nasihat yang ia terima, Donghae merasa bahwa ia telah melanggar lebih dari setengahnya—atau mungkin kurang, tapi beban yang ia rasa entah mengapa terus bertambah tiap harinya.

Donghae merasa ia adalah manusia yang jahat. Tapi ia ingat Yesung pernah berkata bahwa tak ada seseorang yang benar-benar jahat di dunia; setiap orang jahat pasti memiliki setidaknya sedikit sisi baik, dan begitu pula sebaliknya. Lalu, apa sisi baik yang dimilikinya?

Sungmin bilang, sisi baik dari dirinya adalah mengharapkan kebahagiaan orang lain meski dengan cara yang salah dan berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat. Donghae merasa bahwa apa yang Sungmin katakan tidak tepat; bukankah itu adalah kewajibannya?

“Melamun lagi?”

Mengerjap. Sekali, dua kali. Donghae meringis serba salah mendapati mata bulat Sungmin yang memandangnya kesal. Tangannya bergerak mencubit pipi putih di depannya kuat—mengundang protes dari yang bersangkutan.

“Ini tindak kekerasan, aku akan melaporkanmu!” seru si namja blonde tak terima. Donghae memilih tak acuh dan merebahkan kepalanya di atas paha Sungmin yang duduk bersila. Seminggu telah berlalu sejak hari pertama mereka masuk sekolah, dan kini keduanya sedang menghabiskan waktu istirahat di bukit belakang sekolah yang jarang dikunjungi siswa.

“Bagaimana kabar Yesung-hyung?”

Sungmin tersentak, namun tetap diam selama beberapa saat. Menjadi tempat berkeluh kesah dua orang yang menjadikan satu sama lain sebagai bahan pembicaraan bukanlah hal yang mudah. “Biasa saja.”

Dedaunan kering berterbangan akibat angin yang berhembus dengan angkuhnya. Donghae memejamkan mata, mencoba meresapi rasa nyaman yang ia rasa ketika Sungmin berada di sisinya. Ia hidup dengan bergantung pada orang-orang di sekitarnya; terlalu bergantung. Dikarenakan hal itulah ia melepas Yesung dengan harapan sang kakak takkan terbebani oleh keberadaannya.

Salahkah?

“Kenapa dia tak mengerti?” Ia bergumam lemah. Sungmin masih dapat mendengarnya dengan jelas. Pemuda manis itu memilih untuk menengadah dan memandang langit yang terbentang luas di atas sana.

“Kukembalikan pertanyaan itu. Kenapa kau tak mengerti?”

Donghae merasakan nyeri di dadanya. Apa yang tak ia mengerti? Ia mengerti bahwa sudah seharusnya Yesung lebih mengurus kehidupannya sendiri dan berhenti mengurusinya, karena itu ia melepaskan sang kakak. Ia juga mengerti bahwa ia sudah terlalu bergantung pada Yesung hingga titik di mana bisa saja ketergantungan itu bersifat permanen jika mereka tak segera berpisah. Lalu hal apa yang tak ia mengerti?

“Hae-ya, aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya.” Sungmin menarik napas dalam, lalu menunduk untuk menatap sepasang mata cokelat di pangkuannya. “Kau selalu berpikir bahwa hanya dirimu yang membutuhkan Yesung-hyung. Kau tak pernah tahu apakah ia membutuhkanmu seperti kau membutuhkannya. Kau juga tak tahu bahwa ia juga bergantung padamu seperti kau bergantung padanya.”

Tangan Sungmin bergerak, membelai helai brunette Donghae perlahan. Mereka semua saling bergantung pada satu sama lainnya—saling membutuhkan. Ia tahu, Yesung tahu, namun Donghae tak tahu. Bagi Sungmin, itulah kesalahan terbesar teman masa kecilnya itu; beranggapan bahwa di dunia ini ia hanya merepotkan orang di sekitarnya, dan beranggapan bahwa tak ada orang di dunia yang membutuhkannya.

Sungmin membutuhkan Donghae untuk melanjutkan hidupnya—ia membutuhkan senyuman khas namja pecinta hewan ikan itu, membutuhkan rangkulannya, membutuhkan sindirannya, membutuhkan semua yang ada pada diri Donghae karena lelaki itu adalah bagian dari hidupnya.

Tapi Donghae beranggapan sebaliknya; ia lah yang membutuhkan Sungmin agar dapat terus bertahan. Ia membutuhkan orang-orang di sekitarnya, sedangkan orang-orang di sekitarnya sama sekali tak membutuhkan dirinya.

“Setiap orang membutuhkan orang lain, Donghae-ya. Sebagai manusia, kita selalu membutuhkan tempat untuk bergantung dan mengadu.” Sungmin tersenyum manis, sedikit merona ketika melanjutkan, “Aku membutuhkanmu. Aku bergantung padamu. Kau keberatan dengan itu?”

Donghae menggeleng dengan cepat—sebelum sempat membuka mulut dan bersuara, ia mendengar Sungmin kembali berkata, “Jika dulu kau mengatakan dan menanyakan hal yang sama pada Yesung-hyung, aku yakin dia akan menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban yang kau berikan.”

#

Yesung berdiri di beranda gedung asrama dalam diam. Melihat lingkungan sekolah dari atas selalu menjadi favoritnya. Ia juga sering membayangkan bagaimana rasanya melompat dari sana, lalu mendarat tanpa rasa sakit yang menyiksa.

Suasana di sore hari selalu tentram seperti sekarang. Murid-murid lebih senang menghabiskan waktu dengan mengikuti kegiatan klub atau berkumpul di sekolah dibandingkan berada di gedung asrama. Yesung tentu saja berbeda—ia memang mengikuti kegiatan klub, tapi ia lebih senang menghabiskan waktu melamun atau membaca seorang diri.

Sejak dulu selalu begitu.

Ia berbalik, menyandarkan tubuhnya pada pagar beranda dan memandangi koridor asrama yang tak berpenghuni. Sama sekali tak ada siapa pun di sana. Matanya terpejam ketika semilir angin dengan nakal membelai surai halusnya. Kesendirian tak pernah menyeramkan, ini menenangkan.

Telinganya dapat mendengar derap langkah yang mendekat. Yesung bergeming, siapa pun itu takkan berpengaruh. Ia dapat mendengar suara langkah kaki itu berhenti beberapa detik kemudian—tak jauh dari di mana ia berada. Ia masih tak peduli.

“Yesung-hyung…?”

Namun kini ia peduli.

Mendengar suara itu bagai pedang bermata dua baginya. Di satu sisi begitu ia rindukan, sedangkan di sisi lain begitu menyakitkan. Yesung membuka kedua matanya perlahan. Sesuai dugaannya, Lee Donghae berdiri beberapa meter di hadapannya. Memandangnya dengan tatapan… ia benci mengakuinya, tapi itu tatapan penuh rindu dan rasa bersalah.

Lidahnya terasa kelu, bibirnya mendadak kaku. Selama ini ia menghindari Donghae karena ia merasa kecewa tak tertahankan. Ia menolak untuk berkomunikasi dengan adik sedarahnya meski ayahnya tak pernah melarang. Ia merasa Donghae terlalu jahat padanya—ia tak pernah meminta balasan apapun, ia hanya ingin Donghae terus berada di sisinya. Tapi mengapa hal kecil seperti itu bahkan tak dapat Donghae lakukan?

Yesung membutuhkan Donghae. Kenapa adiknya itu tak pernah sadar?

“Ada apa?”

Seharusnya ia langsung pergi dan menghindar seperti biasa. Yesung tak tahu apa yang menyebabkannya bertahan. Tangannya terkepal tanpa sadar, kesal pada dirinya sendiri. Kesal karena kalah dan memilih untuk kembali membuka luka di hatinya. Kesal karena sadar bahwa ia masih mengharapkan keberadaan Donghae di sekitarnya.

Ia tahu tidak memaafkan orang lain adalah hal yang tak pantas manusia lakukan. Tapi Yesung benar-benar terluka. Tak ada yang tahu bagaimana tersiksanya ia setahun ini. Tidak orang tuanya, tidak Sungmin, tidak Sunny, tidak pula Donghae. Ia selalu bertingkah seolah tak terjadi apa-apa, sedangkan pada kenyataannya, ia telah hancur berantakan.

Hyung…” Donghae memberanikan diri untuk kembali bersuara. Sebelum Yesung meninggalkannya, ia harus mengembalikan hubungan mereka seperti semula. “Maafkan aku.”

Napasnya tercekat ketika Yesung tersentak. “Aku tahu kau takkan memaafkanku semudah itu, tapi tolong jangan hindari aku.” Donghae berusaha bertahan—entah bertahan dari apa. Tubuhnya lemas, ia takut Yesung menolak untuk mendengarkannya. “Aku tak mau menyusahkanmu, karena itu aku memilih untuk berpisah denganmu. Tolong mengerti, Hyung.”

Yesung menoleh ke kanan, ke mana saja asal tak memandang adiknya. Ia tahu Donghae tengah berusaha mati-matian sekarang. Berusaha mengungkapkan perasaan sejujurnya, berusaha bertahan dengan posisi berdirinya, berusaha menahan tangisnya. Dengan sekali lihat, siapa pun pasti dapat menebak dengan mudah.

Bukan berarti Yesung tak tahu alasan Donghae meninggalkannya dulu. Ia tahu, namun ia tak dapat menerima alasan itu. Ia tak pernah merasa disusahkan. Ia selalu merasa memiliki Donghae di sisinya berhasil mewarnai hari-harinya. Jika ia merasa terbebani, sudah sejak dulu ia memilih untuk mengabaikan Donghae dan fokus pada dirinya seorang.

“Aku terlalu membutuhkanmu, Hyung. Aku terlalu bergantung padamu. Aku…” Donghae menundukkan kepala, sekarang atau tidak selamanya. “Maafkan aku. Aku tak pernah bertanya padamu apakah kau juga membutuhkanku.”

Yesung membalikkan tubuhnya, kembali memandang lingkungan sekolah yang terlihat di bawahnya. Ia tak tahu kalimat seperti apa yang harus ia ucapkan sekarang. Haruskah ia belajar untuk memaafkan dan menerima kembali keberadaan Donghae yang memang selalu ia harapkan?

Ia tak pernah benar-benar menyukai sesuatu. Ada saat di mana Yesung tak menyukai buku-buku bacaannya. Ada pula saat di mana ia bosan memandang pemandangan dari atas dan memilih untuk duduk di bangku taman. Namun tampaknya, ia harus belajar bagaimana cara benar-benar menyukai sesuatu mulai dari sekarang—karena di saat kau benar-benar menyukai sesuatu, kau akan menyukai semua kekurangan yang ada, juga memaafkan segala kesalahan yang diperbuat.

Dan untuk itu, Yesung akan memulainya dari titik awal. Ia akan belajar benar-benar menyukai adiknya. Belajar mempercayai adiknya. Belajar bahwa tak semua hal berjalan sesuai rencana dan perkiraan. Belajar bahwa manusia memang sering mengecewakan tanpa sadar. Belajar bahwa kalimat ‘tak ada yang sempurna’ bukanlah sekedar kalimat.

Helaan napas dari yang lebih tua terdengar—tetapi senyuman kecil dapat terlihat di bibirnya. Yesung berjalan meninggalkan beranda, menuju tempat di mana Donghae berada. Ia menepuk lembut kepala dongsaeng-nya pelan, kemudian berkata, “Aku membutuhkanmu seperti kau membutuhkanku, Hae-ya. Jangan pernah berpikiran bodoh bahwa kau menyusahkanku atau Sungmin. Manusia memang saling bergantung pada satu sama lainnya. Mengerti?”

Lima detik setelahnya, tangisan Donghae pecah tanpa aba-aba.

#

Lee Sungmin bersenandung seraya berjalan menjauh. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum bahagia—tugasnya untuk menyatukan dua orang itu telah usai sekarang.

Tangannya meraih handphone di dalam saku seragam dengan sekali gerakan. Melihat Yesung dan Donghae menyebabkannya merindukan Soonkyu. Ia teringat bagaimana adiknya itu merajuk selama seminggu penuh ketika ia berkata akan masuk ke sekolah dengan sistem asrama.

“Halo, Soonkyu-ya?”

Sungmin tertawa kecil mendengar seruan antusias dongsaeng-nya di seberang sana. Ia bahkan sedikit menjauhkan handphone dari telinganya akibat suara Soonkyu yang memekakkan telinga. “Bagaimana kabarmu?”

Seorang pemuda berjalan terburu-buru dari arah yang berlawanan. Sungmin tak terlalu memperhatikan dikarenakan ia tengah fokus dengan pembicaraannya dan Soonkyu. Ketika ia menatap lurus ke depan, sebuah tabrakan kecil tak terelakkan di antara keduanya.

Mianhae.”

Pemilik suara bass itu bangkit lebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sungmin. Sungmin menerimanya, bangkit, dan balas meminta maaf. Mereka bersitatap, kemudian terkejut mengenali satu sama lainnya.

“Lee Sungmin?”

“Cho Kyuhyun?”

Tiba-tiba saja ingatan Sungmin berputar. Kejadian beberapa tahun silam bagai video yang diputar dalam benaknya. Tentang siapa namja di depannya. Bagaimana mereka bertemu. Bagaimana mereka berpisah. Bagaimana…

Oppa, aku mempunyai teman sekelas baru!”

“Kau dan Soonkyu lebih seperti dua yeoja kembar.”

“Aku akan melaporkanmu pada Yesung-hyung!”

“Kenapa dia terus menempel denganmu? Siapa namanya? Kim Donghae?”

“Sepertinya aku jatuh cinta, Oppa…”

“Dia menolak Soonkyu? Akan kubunuh dia!”

“Maaf, tapi aku mencintaimu.”

Seolah mempermainkannya, masalah baru kembali datang menghampiri sekarang.

Fin

Credit title: 2PM’s Second Album – Hands Up; Don’t You Know

Please check Don’t Walk Away for the prequel^^

4 thoughts on “Don’t You Know?

  1. kkk~ menyebalkan saat tau hrs nunggu satu bulan unt ngbaca ff kamu ^^

    sekuel yg dluar perkiraan aku, berarti ini masih berlanjut kan? ^^ aku menunggu~

    se-simple ini kisah mereka tapi makna-a dalam, bahwa mudah ataupun rumit qt yg menentukan, aku berpikir gt ^^ terima kasih Kurobochan^^v

    terima request gak? kkk~ ^^v

    1. Sebenarnya tidak harus satu bulan untuk wordpress, tapi memikirkan kemungkinan reader bisa saja bosan, dengan terpaksa saya memberi batas berapa fict tiap bulannya yang harus saya publish kkkkk

      Ini tidak berlanjut~ ;~; orang bilang, di setiap akhir selalu ada awal. Jadi, bagian Kyu-Min merupakan awal di sebuah akhir(?) Tapi akan saya pikirkan lagi karena sebenarnya fict ini HaeMin><

      Ah, saya yang harus berterima kasih hihi

      Request seperti apa, HanAiren-ssi? Akan saya pertimbangkan^^

  2. yep, terlalu sering akan membosankan, aku sepakat ^^ tapi satu bulan satu fict, itu jg menyebalkan kkk~ bkn apa2, aku terlalu pemilih ngbaca fict sekalipun cast utama Sungmin ^^

    aku tunggu cerita asli-a, KyuMin YeMin ataupun HaeMin, gmn pas-a ajh unt cerita ini ^^

    aku kangen dg leeteuk, heechul, hangeng, dan kibum. bisakah ngbuat ff ttg mereka? dalam one shoot ajh, dan Sungmin ttep ada di dalam-a kkk~ tp tolong jgn dbuat official couple krn itu akan sama ajh jadi-a, aku mau sesuatu yg lain ttg mereka ^^ terlalu bny ya? ini cm request, terserah pd author ^^v

    dan satu pertanyaan ajh, apa kamu pernah mengenal Han Airen? aku gak pernah ganti akun, jd aku pengen tau apa qt pernah slg kenal krn kamu spt bnr2 tdk asing. cuma penasaran ^^v

    1. Ini aneh. Saya menge-post balasan yang sangat panjang beberapa kali dan selalu terpotong kkkk
      Request-nya akan saya usahakan sebisa mungkin, tapi tolong jangan berharap terlalu banyak karena mood saya sangat… tak dapat ditebak hihihi
      Mianhae, ingatan saya sangaaat payah>< Pen-name Anda familiar bagi saja, jadi, ayo saling menebak saja^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s