Fiction [Chapter 1]

Fiction

HanAiren’s Request: A fict with Leeteuk, Heechul, Hangeng, and Kibum in it.

Chapter 1Let Me Go

[Cause sometimes, when you realize something, everything already turn out useless.]

.

.

Ia tak pernah tahu.

Bagaimana sakitnya hati orang-orang yang ditinggalkan, berapa banyak tetes air mata yang terjatuh karena merasa kehilangan, sesakit apa hati yang sesak akibat kepergian. Ia tak pernah tahu.

—Dan takkan pernah tahu.

Adanya banyak orang yang selalu memperhatikannya, adanya banyak orang yang ikut merasakan kepedihan dan kesenangan yang ia rasakan, adanya banyak orang yang mencoba mengerti dan memahaminya. Ia tak mau tahu.

Ia tak mengerti.

Bagaimana perasaan orang-orang yang ditinggalkan olehnya, bagaimana pilunya hati yang kini hampa, bagaimana nyerinya luka tak kasat mata yang tercipta hanya karena kepergian satu orang dari kehidupan mereka.

—Dan ia takkan mengerti.

#

Langit terlihat begitu gelap, udara dingin terasa menusuk tulang. Malam hari dijadwalkan untuk datang 3 jam lagi, namun pekatnya awan seolah mengatakan bahwa siang telah berganti malam. Dan nyatanya tidak.

Rintik hujan perlahan turun—tak begitu deras, namun berhasil menyebabkan para manusia yang masih beraktivitas di tengah jalan segera berlari mencari perlindungan. Segelintir sisanya lebih memilih untuk menggunakan payung yang mereka bawa, atau malah berjalan santai menikmati dinginnya air hujan—tak ambil pusing dengan resiko tubuhnya akan basah.

Seperti dia, Kim Heechul.

Jaket hitam yang ia kenakan masih sama seperti kemarin. Kaos putih yang ia kenakan masih sama seperti dua hari lalu. Begitu pula dengan jeans yang ia gunakan. Tak ada yang berubah.

Tidak surai hitamnya yang mungkin saja basah dikarenakan hujan. Tidak wajah minim ekspresinya. Tidak pula orang-orang di sekitar yang tak menganggapnya ada—seolah ia hanyalah jiwa tanpa raga. Dan itu memang benar.

Seminggu sudah ia terdampar di dunia yang seharusnya tak lagi ia tempati. Di sini bukan tempatnya, tempatnya itu di sana, jauh dari tempat ini. Tapi mengapa seolah ada yang menahannya untuk pergi ke sana?

Ia tak tahu apa, namun fakta bahwa ia yang notabene telah meninggalkan dunia—setelah menghuninya selama 29 tahun—membuktikan segalanya.

Tak seharusnya orang yang telah meninggal masih berada di sini. Kim Heechul tahu itu.

Menjalani hidup yang damai selama 17 tahun, kemudian menjadi seorang trainee hingga akhirnya idola—entah itu aktor atau lainnya—selama 10 sampai 11 tahun, dan berakhir hidup tak tentu arah selama 1 tahun di samping tugasnya menjalani wajib militer. Segalanya lebih dari cukup. Heechul tak pernah merasa memiliki beban jika saja tiba-tiba ia harus meninggalkan dunia; seperti kejadian seminggu lalu yang menimpanya hingga menyebabkannya seperti sekarang.

Seperti orang mati—memang itu nyatanya. Kenyataan lain yang mengganggunya adalah, orang mati memiliki tempat lain untuk menjalani kehidupan mereka. Kim Heechul tahu itu meskipun sejak lahir hingga kini ia tak mempercayai Tuhan.

Kakinya melangkah tak tentu arah. Tanpa ia sadari, ia telah sampai di depan pintu sebuah dorm yang dulu ia tempati bersama teman-temannya, saudara tak sedarahnya. Keraguan menyelimuti dirinya secepat ia menyadari di mana kini ia berada. Untuk apa ia mengunjungi orang-orang yang tak dapat melihat dirinya, atau bahkan sekedar merasakan eksistensi dirinya?

Kim Heechul menghela napas—ah, ia lupa bahwa kini ia tak butuh menghirup oksigen dan membuang karbondioksida seperti 29 tahun semasa hidupnya. Memikirkan itu saja mau tak mau menarik sudut bibir pria itu untuk membentuk sebuah seringaian.

Satu-satunya yang tak ia sukai adalah tubuhnya yang tembus pandang. Ia hanyalah jiwa, bentuk tubuhnya tentu saja merupakan refleksi raga aslinya. Dan Heechul takkan menyebutnya raga. Ia. Tembus. Pandang. Jelas-jelas bukanlah benda padat. Ia benci ketika orang-orang melewatinya begitu saja, menabrak tubuhnya—walau nyatanya ia tak pernah merasakan apa-apa.

Dan sekali lagi, seorang Kim Heechul tak pernah menyesali apapun juga. Tidak kehidupannya, tidak semua hal yang pernah ia lakukan, tidak pula kematian. Lantas, mengapa ia tak bisa pergi ke alam sana? Mengapa ia tertahan di dunia yang baginya begitu memuakkan?

Ia kembali melangkah pergi. Tanpa arah, mencoba memecahkan teka-teki yang mau tak mau harus ia pecahkan.

#

Tak tahukah ia?

Tak hanya jiwa yang memiliki urusan belum terselesaikan saja yang akan tertahan di dunia. Bisa saja adanya seseorang yang begitu tak rela akan kepergian orang tersebut—sehingga tanpa sadar menahan orang itu untuk benar-benar meninggalkan dunia.

Kim Heechul tak pernah tahu.

Ketika seseorang yang begitu ia kenal mengunjungi makamnya, menatap makamnya dengan tatapan kosong bak tanpa nyawa, baru kali ini Heechul merasakan kesedihan sepanjang kematiannya. Satu hal yang ia lupakan; ia tak memikirkan perasaan orang-orang yang ia tinggalkan.

Sungguh, Heechul tak pernah benar-benar mempedulikan siapa pun.  Ia tak pernah percaya apapun. Hingga tanpa ia sadari, ia hidup di dalam ruangan yang sangat terbatas akibat dirinya sendiri. Hidup di dalam kesendirian yang begitu memanipulasi. Baginya, hanya dirinyalah yang dapat ia percaya. Rasa percaya diri yang tinggi adalah segalanya. Bagaimana bisa seseorang mempercayai orang lain namun tak mempercayai dirinya sendiri?

Dan… orang ini juga sama.

Hampir setengah masa hidupnya ia lewati bersama orang ini. Orang bernama asli Park Jungsoo. Leader boyband-nya. Satu-satunya teman seumurannya. Heechul peduli padanya, percaya padanya, menyayanginya. Namun hanya sekedar itu, tak lebih.

Semua yang ia rasakan pada orang ini sama dengan apa yang ia rasakan pada orang lain. Tak lebih—atau mungkin lebih sedikit. Heechul tak pernah mengerti mengapa. Padahal, orang ini begitu baik padanya. Begitu mencintainya layaknya mencintai saudara sedarahnya sendiri.

“Heechul-ah…”

Mendengar bisikan lemah itu menyebabkan Heechul merasa lemas. Berada di dekat orang ini selalu menggoyahkan hati dinginnya, dan ia benci itu. Semakin benci ketika menyadari dirinya merasa nyaman berada di dekat orang ini. Semakin benci lagi ketika menyadari dinding pertahanannya selalu melemah dari hari demi hari—karena orang ini.

Kim Heechul membenci Park Jungsoo sebesar ia mengharapkan keberadaannya.

Yaa! Mau sampai kapan kau berada di sini? Cepat pergi, Bodoh.”

Tak ada jawaban. Heechul tahu dengan pasti takkan ada yang mendengarnya. Ia hanya berusaha menghibur hatinya—dengan cara yang salah karena ia tak tahu harus melakukan apa.

“…Atau kau mau aku yang pergi?”

Tertawa. Bahkan ia tak tahu dalam rangka apa ia tertawa. Menertawakan kebodohan dirinya kah? Baru kali ini ia merasa ingin mengajak seorang Park Jungsoo berbicara dengan tenang, seperti yang dulu sering mereka lakukan.

Atau mungkin, ada yang berbeda. Jika dulu Jungsoo lah yang selalu mengajaknya berbicara terlebih dahulu, kini Heechul lah yang ingin memulainya.

Sayangnya, semua telah terlambat.

Heechul mengacak rambutnya frustasi. Apakah ini jawaban dari teka-tekinya? Ia harus berhasil mengajak Jungsoo berbicara? Ia tak yakin; mustahil seorang jiwa (jika tak mau disebut hantu atau arwah) mengajak manusia normal berbicara. Ini bukan drama yang sering Heechul perankan di layar kaca, ini kisah nyata.

Entah sejak kapan wajah Jungsoo—yang lebih dikenal sebagai Leeteuk—memerah. Air matanya mengalir deras. Sebagai seorang lelaki, ia sadar ia sangatlah lemah. Dan ia telah berusaha. Berusaha untuk menyimpan semua perasaannya seorang diri. Menahan air mata yang memberontak ingin keluar. Demi Tuhan ia telah berusaha semampunya.

Hanya saja, ketika melihat makam di hadapannya, makam seorang Kim Heechul, memorinya bersama dengan sang namja terus berputar. Menorehkan rasa sakit tak tertahankan di hatinya. Membuatnya tak kuasa menahan tangisnya. Menyebabkannya jatuh berlutut—tak kuat lagi menopang berat tubuhnya. Ia lemas. Ia merasa gagal. Ia merasa rendah.

Sedangkan di belakangnya, di balik tubuhnya, Kim Heechul berdiri tak kasat mata. Hanya diam dan memandangi Leeteuk penuh perasaan. Ia sadar, selama ini ia hanya memikirkan diri dan perasaannya saja. Ia tak pernah mencoba untuk ikut merasakan perasaan orang lain. Bahkan perasaan satu hyung-nya itu, juga 11 dongsaeng kesayangannya yang lain.

Dan ia lah yang paling tahu segalanya telah terlambat. Semua telah usai. Ia takkan diberi kesempatan kedua untuk sekedar mengucapkan sepatah kata maaf atau mungkin terima kasih.

…Atau setidaknya selamat tinggal.

#

Tak ada yang sadar.

Tidak seorang Kim Heechul, tidak pula seorang Park Jungsoo. Tak jauh dari di mana dua makhluk berbeda dunia itu berada, Kim Kibum dengan setia berdiri di sana. Ia hanya diam—sebenarnya tak hanya dia, semenjak seminggu lalu tak ada yang berani membuka suara di dalam dorm yang dulu jugalah tempat tinggalnya; tempat yang setahunya selalu ramai bahkan hingga tetangga sengaja datang hanya untuk menegur karena merasa terganggu. Seharusnya dorm itu masih sama seperti dulu. Seharusnya.

Menyedihkan. Kibum tak pernah membenci salah satu dari mereka—12 saudara tak sedarahnya. Namun jika hal seperti ini terjadi, setidaknya ia harus berpikir dua kali. Ia benci orang yang menyebabkan salah satu anggota keluarga tak sedarahnya itu menangis, apalagi seluruhnya. Tanpa terkecuali.

Tapi… apa-apaan ini. Dulu, Kibum selalu tertawa kecil jika sang maknae mengerjai salah satu member hingga menangis. Dia masih dapat menerima itu. Bagaimanapun, maknae itu hanya bermaksud untuk bercanda. Bagaimanapun, tangis yang terdengar hanyalah tangis yang bertahan selama beberapa detik. Tak masalah. Hal semacam itu malah menciptakan rasa kekeluargaan yang lebih di antara mereka.

Namun kali ini ia keberatan. Tak peduli bahwa salah satu hyung tak sedarahnya lah yang secara tak langsung melakukan ini. Menyebabkan 11 saudara tak sedarahnya yang lain menangis selama seminggu penuh. Diselimuti hawa kesedihan yang tak berujung. Kibum lelah menangis. Ia ingin terlihat tegar—walau hanya kali ini.

Kibum tahu bahwa ia tak lagi seakrab dulu dengan mereka semua. Tapi tak ada yang berubah. Ia masih menyayangi semua member sepenuh hatinya. Masih pula berharap dapat berkumpul dan bernyanyi di atas panggung yang sama. Dengan lengkap. Namun ketika saatnya untuk kembali hanya memerlukan sedikit waktu lagi, salah satu dari mereka memutuskan untuk pergi selamanya.

Benci. Kibum membenci Heechul. Ia benci Heechul yang pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Ia benci Heechul yang menyebabkan 11 saudara tak sedarahnya menangis tanpa henti. Ia benci Heechul yang seolah… seolah meninggalkannya tanpa beban.

Kibum. Benci. Segalanya. Tentang. Kim. Heechul. Yang. Meninggalkannya.

Bukannya ia tak merasa sedih. Rasa benci yang ia rasakan hanyalah pelampiasan rasa sedihnya. Tak lebih. Jauh di dasar hatinya, ia menyayangi Heechul teramat-sangat. Ia hanya tak sanggup melihat saudara-saudara tak sedarahnya menangis dan ditawan rasa sedih terus-menerus. Ia tak tahan—kesal karena tak dapat berbuat apa-apa.

Sungguh Kibum ingin terbahak. Namun mengapa air mata yang keluar? Kibum tak pernah mengerti. Ia tak pernah mau mengerti. Padahal, semua akan jauh lebih mudah jika ia hanya mengurung diri di dalam rumah, dan menangis. Sepuasnya. Sampai ia muak. Sampai air matanya habis. Dan kalau bisa… sampai Kim Heechul kembali.

Tangan mungilnya tak bergerak sekedar untuk mengusap air mata. Tidak. Ia tahu, jika setetes telah jatuh, maka takkan bisa berhenti. Mungkin bisa, tetapi butuh waktu. Kibum tak tahu kenapa manusia dilahirkan selemah ini, serapuh ini. Padahal ia tak mudah menangis—apakah itu berarti Heechul memang sangatlah baginya?

Yang ia tahu, ia harus bergerak. Entah maju atau mundur. Atau yang terpenting, ia harus selangkah lebih maju. Jungsoo tak dapat diandalkan saat ini. Setidaknya ia harus bisa. Well, satu hal yang pasti; sekarang ia harus ke sana—ke makam Kim Heechul—secepat mungkin untuk mengangkat tubuh Park Jungsoo yang terjatuh lemah. Kehilangan kesadaran entah untuk ke berapa kalinya minggu ini.

Satu hal lagi. Ia harus mengutuk Kim Heechul. Dan suatu saat—

—Kibum harus memeluknya erat hingga Heechul takkan pergi untuk kedua kalinya.

#

Kim Heechul hanya ingin pergi ke dunia yang seharusnya ia tempati secepat mungkin. Berada di dunia ini terus menyusahkannya dari hari ke hari. Semakin lama ia berada di sini, semakin pudar pula harapannya untuk segera pergi. Satu-satunya hal yang mati-matian ia cegah. Walau nyatanya ia memang tak membutuhkan apapun lagi, bagaimana mungkin ia hanya akan berkelana tanpa apapun di dunia yang sangat luas ini?

Melihat Leeteuk dan Kibum 3 hari lalu benar-benar membuatnya bimbang. Melihat tatapan Kibum pada makamnya meluluhkannya perlahan. Tatapan benci namun penuh kasih sayang itu… benar-benar menyiksanya. Heechul dengan jelas dapat melihatnya. Kibum terlalu mudah ditebak. Terlalu mudah baginya.

Kali ini, sekali lagi Heechul melangkah tak tentu arah, dan sekali lagi ia berakhir berada di depan pintu dorm-nya. Kenapa? Kenapa selalu berakhir di sini? Apakah ia begitu merindukan rumahnya ini? Heechul tak tahu. Tak tahu alasan mengapa ia selalu berakhir berada di depan pintu dorm-nya sendiri. Ia tak berusaha untuk tahu.

Perlahan, Heechul melangkah memasuki tempat tinggalnya dengan hati-hati. Seperti pencuri yang takut ketahuan pemiliknya, walau pada nyatanya, ia bahkan tak perlu menyentuh kenop pintu untuk masuk. Hanya perlu berjalan lurus. Ia tembus pandang—kenyataan yang paling ia benci untuk saat ini.

Betapa terkejutnya ia ketika mendapati keadaan dorm yang berbanding terbalik dengan seharusnya. Berantakan. Kacau balau. Ia bahkan tak dapat membedakan yang mana kapal pecah dan yang mana dorm Super Junior. Abstrak.

Tak ada orang. Heechul yakin mereka berada di kamar masing-masing. Lantai 12 ini seharusnya dihuni oleh Leeteuk, Donghae, Ryeowook, dan Shindong. Ke mana 4 saudara tak sedarahnya itu?

Ia berjalan perlahan. Memasuki kamar Ryeowook dan tak menemukan siapa pun. Begitu pula dengan kamar Shindong. Sedangkan ketika ia membuka pintu kamar Leeteuk dan Donghae…

…hanya ada Lee Donghae di sana. Namja yang Heechul katakan akan mengorbankan nyawanya jika itu untuk seorang Lee Donghae. Salah satu dongsaeng kesayangannya. Salah satu dongsaeng tertampannya. Salah satu dongsaeng-nya yang paling mudah menitikkan air mata.

Sepertinya Heechul dapat membayangkan apa yang kini terjadi pada Donghae. Bantalnya basah. Ia pasti menangis. Wajahnya sembab. Ia pasti menangis. Terlihat pucat dan lelah. Ia pasti menangis.

Kim Heechul tak mengerti mengapa orang-orang suka sekali menangis. Padahal menangis takkan pernah mengubah apapun. Takkan pernah mengabulkan apapun.

Kali ini, ia memasuki dorm lantai 11. Tak ada bedanya, atau mungkin sedikit lebih rapi. Ia dapat menemukan Shindong dan Kangin yang berbaring di atas sofa, menonton televisi—tidak, tatapan mata mereka kosong. Keduanya hanya menerawang jauh, entah memperhatikan apa. Ryeowook berada di dapur. Mata sang eternal maknae itu merah, bahkan ia menggunakan kacamata. Tangannya sibuk memotong sayuran, mungkin berharap member lain akan makan dengan semangat seperti biasa.

Kembali melangkah. Kamar Lee Hyukjae menjadi tujuannya sekarang. Masih rapi. Tak ada penghuni—oh, lihat sudut ruangan itu. Heechul dapat mendengar tangis sesenggukan walau samar. Di sudut ruangan. Meringkuk, memeluk kedua kakinya seolah mencari kehangatan yang entah mengapa lebih dari seminggu ini tak ia temukan.

Apakah separah ini dampak kepergiannya?

Ia melangkahkan kaki keluar, berakhir melirik kamar Kyuhyun dan Sungmin yang tertutup rapat. Kembali memasuki kamar itu diam-diam. Lee Sungmin berada di sana. Tak bergerak, tak tertidur. Matanya tak terpejam, hanya menatap langit-langit kamar dengan nanar. Berbotol-botol wine tergeletak di lantai begitu saja. Heechul tahu dongsaeng aegyo-nya itu tak terlalu kuat minum alkohol. Mengapa namja pecinta labu itu memaksakan diri? Jika saja bisa, rasanya Heechul ingin memarahi Sungmin. Ia tak suka melihat dongsaeng termanisnya seperti ini.

Apalagi jika ia tahu bahwa ia lah akibat semua keadaan menyedihkan yang berada di depan matanya.

Heechul melirik ke kanan, kemudian ke arah kiri—mencari seorang penghuni kamar yang satu lagi. Nihil. Sebelum akhirnya pintu terbuka, menampilkan sosok yang ia cari. Masih sama. Masih terlihat menyebalkan. Masih dengan rambut ikalnya. Namun tatapannya…

Hyung, kau harus makan dulu. Seminggu ini kau hanya meminum wine saja.”

…Itu bukan tatapan Cho Kyuhyun yang Heechul kenal. Demi apapun juga.

Tak ada jawaban. Sungmin masih bergeming, masih dengan keras kepalanya. Kali ini malah memilih untuk memejamkan mata, mengabaikan Kyuhyun yang berdiri di depan pintu dengan nampan di tangannya.

Hyung, bangun. Kau tak bisa terus begini.”

Tanpa sadar, Heechul mengangguk menyetujui. Sampai kapan Sungmin—juga yang lainnya—akan terus begini? Tak bisa. Mereka bisa mati jika terus-menerus seperti ini, atau lebih parahnya, mengalami gangguan jiwa. Membayangkannya saja berhasil membuat Heechul merinding. Gangguan jiwa jauh lebih buruk daripada kematian, setidaknya begitulah menurutnya.

“Aku tak lapar. Kau pergilah, urus saja urusanmu sendiri.”

Datar. Namun bergetar.

Helaan napas. Cho Kyuhyun tak tahan lagi. Ia menaruh nampan yang ia bawa di meja terdekat, kemudian menarik tangan Lee Sungmin kasar. Membawanya ke balkon dorm, seolah mempersilakan namja itu untuk terjun dan mengakhiri hidupnya. Kyuhyun hanya tak sanggup melihat hyung-nya itu begitu terpuruk. Seolah hanya ia yang merasakan kesedihan yang mendalam—salah satu hal yang tak ia sukai dari Sungmin; namja itu tak pernah mau membagi rasa sakit dan derita yang ia rasakan.

“Kau! Lompat saja dan menyusul Heechul di alam sana!”

Bentakan Kyuhyun mengagetkan semua orang di dalam dorm, namun tak ada yang bergerak untuk mencari tahu kecuali Heechul yang berlari dan berdiri di sampingnya. Berusaha menghentikan Kyuhyun semampunya—ia takkan bisa, pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang ia tahu takkan menghasilkan apa-apa.

“Mau sampai kapan kau seperti ini?” Kyuhyun menatap Sungmin kejam, sebengis yang ia bisa. “Kau sudah seperti mayat hidup! Aku…”

Dan tanpa aba-aba, Lee Sungmin memeluknya erat. Menepuk punggungnya pelan. Seketika itu pula tangis Cho Kyuhyun pecah. Meninggalkan Kim Heechul yang tersenyum sendu memperhatikan mereka.

#

Kamar terakhir.

Heechul melangkah ragu. Setelah ia berhasil masuk ke dalam kamar Yesung, ia dapat menemukan sang pemilik kamar dan Choi Siwon yang hanya saling membungkam mulut masing-masing. Dapat dilihatnya Siwon yang duduk bersandar pada tembok, melamun. Dapat dilihatnya pula Yesung yang juga terduduk di hadapan kura-kuranya, tampak tak acuh.

Sedikit rasa syukur dirasakan oleh Kim Heechul. Setidaknya keadaan dua dongsaeng-nya ini tak seburuk yang lainnya; atau setidaknya mereka berusaha terlihat baik-baik saja. Yang mana pun itu, Heechul tak peduli.

Ketika ia akan melangkah keluar, Siwon mengeluarkan suaranya. Nyaris seperti bisikan. “Hyung.” Heechul terdiam di tempatnya. Entah mengapa. “Jangan pergi. Kumohon.” Setetes air mata jatuh bergulir. “Hyung…”

Helaan napas terdengar dari mulut kecil Yesung. “Aku di sini, Siwon-a. Jangan mengada-ada.” Tanpa diberitahu pun, Yesung tahu kalimat itu tak ditujukan pada dirinya. Ia tahu.

“Heechul-hyung.” Napas Yesung tercekat. Ia sedang tak ingin mendengar nama itu dari mulut para saudara tak sedarahnya. “Aku sudah berusaha kuat, tapi aku—” Perlahan, Siwon menundukkan kepalanya, menjambak rambutnya kasar. “—aku tak bisa, Hyung.”

Yesung bangkit dengan cepat, menghampiri Siwon dan menggenggam kedua tangannya, melepaskan jeratan jemari tangan Siwon pada helaian rambutnya sendiri. “Kau gila. Seolah-olah hanya dia yang kau kenal,” gumam Yesung dingin, tanpa mengharapkan respon berarti. Ditatapnya kedua iris mata kelam Siwon dalam. “Tapi kau tidak sendiri. Apakah selama ini hanya dia yang menemanimu? Kami selalu ada di sisimu, Siwon-a.”

Heechul membenarkan perkataan Yesung, sedangkan di sisi lain merasa sakit menyadari betapa enggannya seorang Kim Jongwoon menyebutkan namanya.

Kim Heechul hanya tak pernah menyangka dampak seperti inilah yang akan terjadi apabila ia meninggalkan dunia. Ia tak pernah menyangka semua akan berakhir begini. Ia tak pernah mau tahu—menurutnya itu tak penting. Menurutnya, semua orang pasti bisa mengerti. Bukankah bagaimanapun juga semua orang pasti akan meninggalkan dunia?

Ia hanya tak tahu. Tak berusaha untuk tahu. Tak mau tahu. Dan takkan pernah tahu apabila ia langsung pergi menuju alamnya secepat malaikat pencabut nyawa mengambil nyawanya. Setidaknya, dengan tertahan di Bumi, ia dapat merasakan penderitaan orang-orang yang ia tinggalkan.

Dan Kim Heechul menyesali segalanya sekarang.

ToBeContinue

Credit title: B2ST’s First Album – Fiction and Fact; Fiction

HanAiren-ssi, sorry if this fict can’t satisfied you kkk and, yeah, it gonna be too long for a one-shot fict, so… here it is, a two-shot fict without any couple cause I just too confused with the many characters>< umm, and Hankyung will be appear on the next chapter. Hope you like it^^

2 thoughts on “Fiction [Chapter 1]

  1. Kurokuro, aku benci kamu!!! ngbuat aku nangis di saat ngrinduin mereka, menyebalkan!!! ==” #nambah dah nie keriput

    aku gak nyangka, kamu bkal buat cerita seperti ini, diluar perkiraan.. kau itu ya, bener2 dah bkin aku shock ==” ini kayak ngwakilin Heechul, bagaimana c namja cantik ini ngrasa gak berharga lg di SJ pas Han-gege keluar dr SM.. seolah gak ada alasan lg buat dia bertahan di SJ, tapi akhir-a Hyung cantik ini sadar kl dia berharga, dicintai, dan dia spesial #sedih lg kan ngbayangin dlu ==”

    masih terus berharap bahwa suatu saat SJ bkal kembali lengkap, berdiri di panggung yg sama sbg The Last Man Standing kkk~

    ini fiction part kan? trz fact part-a seperti apa? kkk~ aku tunggu kelanjutan-a Kurokuro ;*

    hal laen yg dluar dugaan, kamu cepet bgd ngabulin request aku dan aku kecolongan update kamu dan ini bukan oneshoot kkk~ puas dong dan MAKASIH bgd Kurokuro ;*

    aku save boleh ff ini? sesuatu soal-a kkk~ ^^

    1. Saya dibilang jahat DX dan soal Heechul… ah, saya sedang memikirkan Yesung sekarang TT
      Personally, saya kurang puas dengan fict ini hihi. Tapi baguslah jika HanAiren-ssi suka^^ Terima kasih kembali untuk Anda:) silakan simpan, tentu saja saya tidak keberatan~^^
      Chapter 2 sudah saya publish, silakan dibaca jika berminat><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s