High School Series: Memories [Chapter 4]

High School Series: Memories

Track 4You’re My Endless Love [Super Junior]

[Wanting to turn around, your memories are now left only inside pictures. You’re my endless love.]

.

.

Cahaya matahari pagi tak pernah menjadi favorit Siwon di hari apapun juga, terutama pada hari Minggu. Ia bangkit, menarik gorden jendela untuk menutupi sinar matahari yang sebenarnya telah tertutupi langit mendung, lalu kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya menarik selimut hingga dada.

Merasa janggal, Siwon kembali membuka mata. Yesung tak ada di sampingnya—ke mana orang itu pergi? Rasa kantuknya menguap seketika. Ia sempat membayangkan mendapat ucapan selamat pagi di hari Minggu, pelukan hangat, atau mungkin morning-kiss.

Walau tak pernah membalas pernyataannya, Yesung memang selalu berada di sisinya.

“Kenapa kau membawaku ke sini, Hyung? Kau bahkan tak menggunakan syal!”

“Berisik.”

Ingatannya berputar kembali pada sepuluh tahun yang lalu. Hari di mana ia jatuh hati pada seorang Kim Jongwoon dengan sempurna. Musim salju yang hampir tiba, Sungmin dan Kyuhyun yang mereka tinggalkan ketika telah terlelap, dan udara dingin yang mengintimidasi.

Baginya, Yesung cocok disandingkan dengan hujan. Pemilik surai red-wine itu juga cocok disandingkan dengan matahari yang cerah, atau bahkan dengan musim gugur yang indah. Siwon selalu merasa Yesung cocok dengan musim apapun, kecuali salju.

Salju terlalu angkuh untuk namja seperti Yesung. Terlalu membekukan, dan tak baik untuk mantan bocah penyakitan seperti si Kim setahun lebih tua darinya itu. Siwon ingat betapa paniknya ia ketika Yesung mengajaknya keluar di malam hari pada musim dingin sepuluh tahun lalu. Ia ingat tangan mereka yang bertautan, juga pelukan untuk berbagi kehangatan sesampainya mereka di bukit tak jauh dari perumahan.

Untuk beberapa waktu sebelum salju turun, Siwon tak tahu maksud Yesung mengajaknya ke sana.

“Sebenarnya apa yang ingin kau tunjukkan? Aku tak mau kau sakit lagi, Hyung.”

“Lihat, Siwon-a!”

Butiran es lembut itu turun dengan anggunnya. Yesung melepaskan pelukan mereka dan berdiri dengan antusias di hadapannya saat itu. Siwon masih ingat betapa bodohnya wajah terpana yang ia tunjukkan. Setelah hari itu, ia mulai menerima kecocokan di antara salju dan Kim Jongwoon.

Sosok Yesung benar-benar mengalihkannya dari rasa dingin dan panik yang ia rasa. Butiran salju di sekeliling mereka, senyum manis dengan pipi yang merona, kerlap-kerlip cahaya kota, juga keindahan Yesung yang dihujani butiran salju seperti bersahabat dengan musim itu sejak lama.

Tapi Siwon ingat bagaimana Yesung tak masuk sekolah selama tiga hari keesokan harinya.

“Maksudmu—?”

“Memperlihatkanmu saat di mana salju pertama kali turun.”

Siwon tak ingat berapa umur mereka saat itu, tapi ia ingat perubahan perasaannya pada Yesung dimulai hari itu hingga sekarang. Ia tak pernah bisa jauh dari Yesung sejak hari itu—selalu merasa ada bagian dirinya yang kurang jika mereka tak bertemu.

Walau hingga sekarang Yesung menganggapnya tak serius mengenai hal yang ia rasakan, Siwon akan terus membuktikan. Ia akan terus berada di sisi Yesung hingga namja itu percaya dan membalas perasaannya.

Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan mengakui, bukan membalas.

Seraya melirik jam digital yang terletak di sampingnya, Siwon mendesah pelan. Melihat jam yang telah menunjukkan pukul sebelas siang, pantas saja Yesung sudah menghilang.

#

“Kau tahu apa fungsi payung, Hyung?”

Sungmin mengangguk kaku. Terkadang sebutan hyung-dongsaeng hanyalah pajangan di antara dirinya dan Kyuhyun. Sering kali ia terbalik diperlakukan sebagai adik, sedangkan Kyuhyun seolah seorang kakak, memberi ceramah tak penting seperti sekarang; fungsi payung. Apa gunanya?

“Melindung diri dari hujan. Aku hanya menyuruhmu membawa payung karena langit mendung. Memangnya kau mau kehujanan dan berakhir basah kuyup?”

Mengangguk, lagi. Kyuhyun mengernyit bingung dibuatnya. “Aku memang mau bermain hujan jika seandainya hujan turun, Kyu,” ucap Sungmin gamblang—menyebabkan Kyuhyun ternganga. “Kau tahu aku suka hujan,” lanjut yang lebih tua.

Tentu saja Kyuhyun tahu. Ia bosan mendengar alasan Sungmin mengenai mengapa namja itu mencintai hujan. Yesung mirip dengan hujan, katanya. Auranya, perilakunya, sifatnya… entahlah. Kyuhyun tak mengerti maksud Sungmin. Ia memang merasa Yesung cocok dengan hujan, tapi ia tak mengerti alasan si Lee yang kini menatap langit antusias.

“Hari Minggu hanya ada seminggu sekali, Kyu. Jangan membuang waktu!”

Yang lebih muda hanya bisa pasrah dan meninggalkan payungnya ketika tangannya ditarik paksa. Mereka berencana menghabiskan hari Minggu kali ini dengan mengunjungi toko es krim favorit Sungmin, toko game langganan Kyuhyun, taman kota, dan beberapa tempat lainnya.

Kyuhyun sempat melihat Yesung tengah berdiri di atap sekolah, namun memilih mengabaikan. Ia menyamakan langkahnya dengan Sungmin, agak merona melihat tangannya yang digenggam erat sang pujaan hati.

Ia tak pernah suka es krim, sungguh. Kyuhyun heran mengapa ada namja yang mencintai es krim seperti Sungmin. Dan rasa vanilla. Kurang feminin apa? Kebanyakan lelaki di umur mereka mencintai game, bukan minuman dibekukan beraneka rasa.

Bahkan Kyuhyun tak dapat membayangkan jika ia menyukai es krim. Uhm, Cho Kyuhyun dan cute bukan kombinasi yang menyenangkan.

Mereka sampai di toko es krim favorit Sungmin setengah jam kemudian. Kyuhyun merasa kehilangan ketika tautan tangan mereka terlepas. Tangannya masih terasa hangat—begitu pula hatinya. Ia memandangi punggung Sungmin yang berlari kecil menuju counter es krim, sedangkan tangannya terangkat untuk mengacak rambutnya pelan.

Ia bisa merasa sebahagia ini karena Sungmin. Dan ia bisa merasa begitu sakit pula karena orang yang sama.

“Kyu! Kau mau es krim rasa apa?”

Si pemilik rambut ikal melangkah, merangkul pundak hyung-nya sebelum ikut memilih beraneka warna es krim yang ada. Mungkin ia memang tak suka es krim—tapi Kyuhyun menyukai semua hal yang Sungmin sukai.

#

Yesung memandangi lapangan sekolah dari atas atap. Langit berwarna kelabu dan angin kencang bertiup sesekali. Ia mengeratkan jaket yang ia kenakan, tersenyum kecil mengingat Kyuhyun yang ditarik Sungmin sekitar tiga jam lalu. Setidaknya Sungmin masih memiliki orang yang bersedia terus berada di sisinya sejak kecil hingga sekarang.

“Apa yang kau lakukan?”

Menghela napas. Untuk kategori orang yang bersedia berada di sisinya sejak kecil hingga sekarang, sebenarnya ia juga memiliki Siwon. Tapi mungkin akan lebih menyenangkan jika orang itu Sungmin—Siwon terlalu menyebalkan dan sulit ditebak.

Mereka memang tahu satu sama lain sebaik mereka tahu diri mereka sendiri. Tapi sejak Siwon mengungkapkan perasaannya, Yesung merasa persahabatan mereka berubah. Siwon memperlakukannya sebagai seorang teman dan kekasih di saat yang bersamaan. Ia cukup menyukuri keadaan yang tak berubah menjadi canggung, tapi tetap saja perasaan janggal itu ada.

“Aku bertanya padamu, Chagiya.”

Memejamkan mata. Yesung merasa kesal bukan main. Ia benci diperlakukan seperti yeoja oleh seseorang yang bahkan setahun lebih muda daripada dirinya. Tangannya bergerak, melakukan gesture agar Siwon mendekat, lalu menginjak kaki namja Choi itu kuat.

“Kau—“

“Berisik.”

Siwon memilih duduk di sebuah bangku seraya meratapi kakinya yang berdenyut sakit. Mendapati Yesung yang menolehkan kepala dan melemparkan senyum meremehkan, ia mendecih pelan. Sosok yang ia cari sejak bangun tidur itu terkadang bisa menjadi luar biasa menyebalkan.

Matahari yang ia kira mengganggu tidurnya tak terlihat di mana pun. Langit mendung dan gumpalan awan gelap menghiasi di atas sana. Siwon menengadah, yakin cepat atau lambat hujan akan turun dengan deras. Ia menarik bagian belakang jaket Yesung pelan, mencoba memberitahu namun diabaikan.

“Aku tahu, Bodoh,” gumam yang lebih tua. Tetesan pertama hujan jatuh di wajahnya, menyebabkan senyum tipis tersungging begitu saja. Ia ingat betapa ia mencintai hujan dulu, bahkan hingga sekarang. Yesung ingat pula siapa yang menyebabkannya mencintai tetesan air yang sama sekali tak ada indahnya.

“Hujan itu menenangkan. Bau basahnya bagai aroma terapi tersendiri bagiku. Hembusan angin yang tak tentu, frekuensi yang bisa berkurang dan bertambah tanpa aba-aba, dan banyak hal menarik lainnya. Semua hal menenangkan, tak terprediksi, juga keunikan hujan begitu mirip denganmu, Yesung-ah.”

Terkadang, orang yang menyebalkan dalam hidupmu bisa menjadi orang yang paling banyak memberi warna di hari-hari yang kau jalani. Yesung mengakuinya dengan pasti—seperti itulah Siwon baginya. Entah berapa banyak hal yang mereka lewati bersama, dan semua hal itu adalah salah satu bagian dari masa lalu favorit yang sering ia kenang tanpa sadar.

“Seharusnya kau tahu kau bisa sakit.” Siwon kembali berkomentar. Tak ada manusia yang senang melihat orang yang mereka cintai menderita—begitu pula dengannya. Melihat Yesung sakit selalu menyakiti hatinya karena ia tak dapat ikut merasakan apa yang namja itu rasakan.

Yesung memutar tubuhnya, menghadap Siwon yang memandang dalam diam. Dengan senyuman manis yang jarang ia perlihatkan, kakak dari Lee Sungmin itu berkata, “Selama kau ada, aku pasti baik-baik saja.” Yang menyebabkan Siwon terperangah.

Ia kalah jika Yesung mengatakan hal semacam itu. Ia takkan bisa menolak permintaan Yesung jika kalimat yang membuatnya begitu bahagia itu terdengar lewat telinganya. Siwon menyesal karena gagal mengajak Yesung masuk ke dalam gedung ketika hujan turun dengan derasnya—tapi ia tak bisa membohongi perasaan senang yang ia rasakan.

“Jangan menolakku lagi, Hyung.”

Yesung mengedipkan matanya beberapa kali, tak menyangka Siwon sempat-sempatnya berkata seperti itu ketika mereka tengah diguyur oleh derasnya hujan. Tubuhnya yang terasa dingin perlahan merasakan kehangatan ketika Siwon membawanya ke dalam sebuah pelukan yang berbeda dari biasanya.

Hujan masih turun disertai angin dingin yang berhembus kencang. Yesung bergeming di saat Siwon merengkuhnya semakin erat. “Aku memang akan terus berada di sisimu sampai kapan pun meski kau menolakku, tapi tolong jangan manfaatkan fakta itu dan terus mengabaikanku.”

Masih dengan keras kepalanya, Yesung memilih tetap bungkam, namun membalas pelukan itu dalam diam.

#

Cho Kyuhyun berseru tak terima ketika ia—entah bagaimana caranya—dikalahkan oleh pemain game amatir seperti Lee Sungmin. Di sampingnya, si pemenang hanya mengerjap bingung ketika layar menunjukkan dua kata bertuliskan, “You Win!

Mereka keluar dari toko game di sebelah taman kota dengan ekspresi bertolak belakang. Sungmin menepuk pundak Kyuhyun pelan, bermaksud menyemangati namun tanpa sengaja semakin membuat Kyuhyun terpuruk karena merasa dikasihani.

“Ah, permen kapas!”

Sungmin tersenyum ceria dan menarik tangan Kyuhyun segera. Setelah mendapatkan permen kapas berwarna favoritnya, mereka duduk di bangku taman kota yang tersedia. Keadaan yang menunjukkan tanda-tanda hujan akan turun membuat taman tersebut sepi pengunjung—keuntungan bagi mereka hingga tak sulit menemukan bangku kosong.

Burung-burung berterbangan di sekitar. Sebuah keluarga tampak memberikan makanan untuk burung-burung itu dengan cara melemparkannya ke tanah. Kyuhyun dapat melihat tatapan sendu Sungmin yang tiba-tiba saja menghela napas. Ia tahu Sungmin iri dengan kebersamaan yang ada di depan mata mereka.

“Aku pernah melakukan hal seperti itu dulu. Masih bersama Appa dan Eomma, juga Yesung-hyung.” Sungmin berucap pelan. Senyuman tipis terulas di wajah manisnya. “Saat-saat itu benar-benar… menyenangkan,” lanjutnya nyaris tak terdengar.

Kyuhyun ingat hari itu. Mereka berjanji akan bermain bersama, namun terpaksa dibatalkan akibat piknik dadakan keluarga Lee. Ia sempat mengambek selama sehari penuh—tapi setelah Siwon menasihatinya, Kyuhyun mencoba mengerti dan kembali bersikap seperti semula.

Di hari yang sama, Kyuhyun ingat ia mendapat ciuman pertama dari Sungmin—meski hanya di pipi.

“Sepertinya kau lelah, Hyung.” Ia berdiri, mengulurkan tangan dan menunggu tangan mungil Sungmin meraihnya. “Ayo pulang,” ajaknya dengan senyuman hangat.

Sungmin tanpa sadar terpana. Hal yang paling ia sukai dari Kyuhyun adalah suaranya. Yang kedua, rambut cokelat ikal halusnya. Ketiga, perilaku manisnya. Dan terakhir, senyumannya. Semua hal itu dapat ia lihat sekarang. Kombinasi empat hal favoritnya ditambah efek angin bertiup yang menyejukkan suasana.

Ia meraih tangan yang selalu terulur untuknya itu dengan suka rela. Sungmin selalu merasa lelah akan hidup dan juga kisah cintanya, tapi ketika Kyuhyun berada di sisinya, entah mengapa ia merasa bahwa belum waktunya bagi dirinya untuk menyerah. Kyuhyun selalu memancarkan aura yang membuatnya yakin akan suatu hal yang diketahui mustahil untuk menjadi kenyataan.

Tangan bertautan. Berjalan beriringan. Langkah yang seirama.

Wajah keduanya merona tanpa sadar. Dibandingkan teman kecil yang saling mengenal dengan baik, mereka lebih terlihat seperti pasangan kekasih yang normal. Kyuhyun menahan tawa membayangkannya—ia bahagia, dan ia tahu Sungmin merasakan hal yang sama.

Setetes air hujan turun disusul dengan beribu tetesan lainnya. Kyuhyun dan Sungmin segera mencari tempat untuk berteduh terdekat. Bangunan asrama sudah terlihat, namun mereka terjebak di bawah etalase toko dengan suara air hujan menghantam tanah yang menemani dengan setia.

“Kali ini saja,” ucap Sungmin memohon. Kyuhyun tahu apa yang dimaksud oleh hyung-nya itu. Sungmin bukan tipe yang mudah sakit, berkebalikan dengan kakaknya—namun kemungkinan itu masih ada. Di saat ia masih berpikir keras, Sungmin sudah berlari kecil meninggalkannya.

Ya! Hyung!” Ia mengejar tanpa berpikir panjang. Tubuhnya basah kuyup seketika; mengundang Sungmin tertawa menang. Kyuhyun mengejar Sungmin hingga gerbang asrama, lalu memeluk tubuh yang lebih mungil darinya itu dari belakang ketika berhasil menyusulnya. Mereka tertwa bersama, mengabaikan dinginnya air hujan yang mengguyur tiada hentinya.

Keduanya kembali melangkah. Ketika Kyuhyun tanpa sengaja melemparkan pandangan matanya ke atap sekolah, ia dapat melihat Yesung dan Siwon sedang berpelukan—tak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui identitas dua orang yang amat familiar di kehidupannya. Kyuhyun hanya berharap Sungmin takkan—

“Kyu…”

—terlambat. Sungmin terlanjur melihat semuanya.

Masih diam. Hal terakhir yang ingin Kyuhyun perlihatkan pada Sungmin adalah hal yang kini tengah terjadi di depan mata mereka. Siwon dan Yesung yang berpelukan (karena ia tahu hubungan kedua orang itu), atau yang lebih parahnya, ketika pelukan itu berubah menjadi ciuman.

Dengan segala rasa bersalah, Kyuhyun menutupi pandangan Sungmin menggunakan tubuhnya, lalu membenamkan wajah namja aegyo itu pada dadanya.

“Berjanjilah padaku, Kyu…” Suara itu masih terdengar dengan jelas di telinga Kyuhyun, dan ia lebih memilih diam. “Ini adalah permintaan egoisku“ Jeda. “Jangan pernah pergi dariku apapun yang terjadi.”

Kyuhyun tak mengerti maksud kalimat itu. Ia tak dapat menebak apakah air hujan yang membasahi dadanya telah berubah menjadi air mata Sungmin atau tidak. Kyuhyun juga tak tahu apakah arti kalimat Sungmin berdampak positif atau negatif bagi dirinya—karena bagaimana pun juga, Sungmin memintanya untuk terus berada di sisinya.

“Aku pasti melakukannya tanpa kau minta, Hyung.”

—Karena sampai kapan pun, aku takkan menyerah untuk mendapatkan cintamu.

ToBeCont.

5 thoughts on “High School Series: Memories [Chapter 4]

  1. ok aku masih bingung,sebetul’y yesung “cinta” sungmin gk?
    Apa cuma sayang ajah?

    Kyu dan siwon sama” kasihan
    kapan kakak beradik lee ini sadar?
    Next…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s