High School Series: Memories [Chapter 5]

High School Series: Memories

Track 5Secret Love [KARA’s Hara]

[I’m okay with just seeing your smile. I’ll always look at you.]

.

.

Tentu saja Cho Kyuhyun ingat semua hal yang Choi Siwon ceritakan pada dirinya.

Tentang bagaimana namja itu jatuh cinta pada Kim Jongwoon, tentang perasaannya yang dianggap candaan, tentang ia yang takkan menyerah, tentang Yesung yang tak pernah menolak keberadaannya, juga tentang ia yang akan selalu berada di sisi Yesung hingga kapan pun juga.

Kyuhyun bosan mendengarnya. Sungmin sering menceritakan tentang Yesung, dan sekarang kakak sepupunya itu juga menceritakan orang yang sama. Ia sempat berpikir apakah nantinya ia akan ikut pindah hati juga—yang mana mustahil ia lakukan.

Ia menjadi tempat di mana dua orang berbeda mencurahkan isi hati tentang satu orang yang sama.

Menjadi pengkhianat bukan keahliannya; karena itu Kyuhyun selalu memilih diam. Ia tak pernah memberitahu Siwon mengenai Sungmin yang memiliki perasaan sama terhadap orang yang sama, begitu pula sebaliknya. Kyuhyun akan menyimpan semua hal yang ia ketahui dengan pegangan fakta bahwa ia, Siwon, dan Sungmin berada pada posisi yang sama.

Tapi semua rahasia, cepat atau lambat tetap akan terbongkar.

Tak pernah sekali pun ia bermaksud membuat rasa bersalah dan beban dua orang itu meningkat. Tapi Sungmin terlanjur melihat apa yang seharusnya tak ia lihat. Kyuhyun harus menjelaskannya jika tak mau kesalah pahaman terjadi di antara keduanya—ia yakin Siwon takkan keberatan, namun Sungmin pasti merasakan hal yang berbeda.

Mereka telah saling mengenal sejak kecil. Ia lahir paling terakhir dan disebut maknae karena merupakan yang termuda. Seharusnya maknae berperan sebagai maknae yang tak tahu apa-apa, bukan sebagai kunci yang mengetahui kebenaran dari dua pihak yang merupakan bagian hidupnya.

Kenapa semua berputar hingga menjadi sesulit ini?

Terkadang manusia kesal karena tak dapat mengetahui kebenaran yang butuh waktu hingga terungkap. Tapi Kyuhyun berbeda—ia menyesal mengetahui hal-hal yang membuatnya bingung harus memulai dari mana dan dari siapa. Ia dihadapkan oleh perang batin yang menuntun dirinya pada beberapa pilihan berat.

Namun yang mana pun itu, semua hanya akan merugikannya.

#

“Idiot.”

Jika Yesung terbiasa mengatai Siwon bodoh, kali ini ia mendapat balasan dua kali lipat. Pertama, orang yang ia katai bodoh menyebut dirinya idiot. Kedua, ia terserang demam parah.

Siwon sendiri mencoba meredamkan emosinya semaksimal mungkin. Ini salahnya yang gagal membujuk Yesung untuk tidak bermain hujan. Salahnya pula karena malah nyaris melakukan sesuatu yang tak pantas di atap sekolah ketika hujan. Juga salahnya karena membiarkan Yesung tak langsung mandi dan malah membantunya memasak setelah hujan.

Sebuah jaket dan selimut tebal telah menutupi tubuh Yesung dengan sempurna—dan menurut yang bersangkutan, belum cukup karena tanpa ampun dingin masih mendera. Siwon tak tahu harus berbuat apa. Ia memilih untuk memasak bubur dan mengambil obat yang selalu ia sediakan.

“Ingatkan aku untuk menyeretmu jika kau berniat untuk bermain hujan di lain waktu,” ucap yang lebih muda dengan wajah datar. Yesung memilih tak peduli. Ia mempunyai banyak masalah yang harus ditangani; kepala yang terasa sakit, tubuh yang kaku karena kedinginan, suhu badan yang mencapai 42 derajat, dan mata yang terasa berat namun menolak untuk terlelap.

Ia tak dapat mencegah ketika Siwon menyuapkan sesendok bubur hangat—yang terasa pahit di lidah—ke dalam mulutnya. Tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar melakukan tindakan protes meski sebenarnya tergoda untuk menendang tubuh temannya itu dan berkata, “Aku bukan anak kecil yang harus disuapi!”

Setelah tiga suap, Yesung menutup mulutnya rapat. Siwon menggeram pelan, tak habis pikir dengan tindak kekanakkan yang terjadi di depan matanya. Ia menyuapkan bubur itu pada mulutnya sendiri, mencari tahu apakah ada kejanggalan di rasanya; sama sekali tak ada.

Siwon meletakkan mangkuk itu sembarangan—mengalah pada orang sakit adalah pilihannya. Ia meraih beberapa butir obat, lalu membantu Yesung menelannya satu persatu secara perlahan.

“Tidurlah.”

Tangannya meraih gelas dan mangkuk yang sempat terlupakan, berniat membawanya ke dapur sekolah sebelum tangan sang Kim menahannya. “Ada apa?”

Yesung melepaskan genggaman tangannya pada pakaian Siwon. Ia melakukan itu secara refleks, tak bermaksud apapun juga. Seraya menggigit bagian bawah bibirnya, ia menghadap ke arah berlawanan dan mengabaikan Siwon yang memandang kesal. Ada apa dengan dirinya?

Dulu, di setiap saat ia sakit, salah satu dari Sungmin dan Kyuhyun selalu berada di sisinya. Siwon juga—tapi namja itu lebih sering tertidur di sampingnya daripada menghibur atau menemaninya mengusir rasa bosan. Lalu, apa yang sekarang ia harapkan? Dengan keadaannya sekarang, Yesung tak yakin ia menginginkan Siwon untuk menghibur atau mengajaknya bercanda.

Lagipula ia tak pernah suka candaan Siwon yang selalu menyebalkan.

“Aku akan kembali secepatnya,” ujar si namja Choi setelahnya. Yesung memejamkan mata ketika suara pintu kamar yang tertutup terdengar. Ingatannya melayang, mengingat apa yang ia dan Siwon lakukan kemarin di atap sekolah. Pelukan hangat, ciuman yang berubah menjadi cumbuan… dia pasti sudah gila karena membiarkan Siwon melakukan semaunya.

Yesung juga ingat ketika mereka dengan keadaan basah kuyup masuk ke asrama lelaki dan bertemu dengan Sungmin juga Kyuhyun dalam keadaan yang sama. Yang menjadi masalah adalah, Sungmin hanya melewatinya tanpa berkata apapun seolah adiknya itu marah dan menghindarinya. Yesung hanya tak merasa ia melakukan kesalahan.

Masih dengan segala pertanyaan yang menghantui dalam benaknya, Yesung mengeratkan jaket dan menaikkan selimutnya. Ia harus sembuh terlebih dahulu sebelum mencari tahu semua jawaban pertanyaan yang tiba-tiba mendatanginya dari berbagai arah. Dan target pertamanya nanti sudah pasti…

—Cho Kyuhyun.

#

“O-oh? Hyung?” panggil Kyuhyun tak yakin ketika bertemu dengan Siwon di koridor asrama. Ia bermaksud mengambil buku yang tertinggal, tapi melihat Siwon yang dengan santainya keluar dari arah dapur, ia melupakan hal yang ingin ia lakukan.

Siwon mengangkat tangannya, memberi gesture ‘halo’ dan melangkah mendekati si adik sepupu. Sebelum memberikan Kyuhyun kesempatan untuk bertanya, ia terlebih dulu menjelaskan. “Yesung sakit karena terkena hujan kemarin. Aku harus mengurusnya.”

Terkena? Kyuhyun menyindir dalam hatinya. Meski Yesung terkenal mudah terserang sakit, ia tahu kakak Sungmin itu takkan sakit jika benar-benar hanya sekedar terkena beberapa tetes hujan. Yesung sakit karena ia diguyur hujan, bukan terkena. Lagipula mereka berpapasan dengan keadaan sama-sama basah kuyup kemarin.

“Jangan berbohong. Aku melihat apa yang kalian lakukan di atap sekolah…” Ia menelan ludah susah payah, menarik napas. “…bersama Sungmin.”

Meski agak terkejut, Siwon memilih tak banyak berkomentar. “Apa yang Sungmin katakan?”

Kyuhyun tak tahu harus berkata apa. Sungmin tak membahas apapun mengenai hal itu, dan ia tak mau membahas apapun. “Entahlah.” Ia mengangkat bahunya ringan, lalu menyandarkan punggung pada dinding yang berada selangkah di belakang punggungnya.

“Kau tahu, Hyung. Aku mulai lelah dengan semua ini,” gumamnya dengan kepala menunduk. Mungkin ia harus memulai semuanya dari Siwon, lalu Yesung, dan terakhir Sungmin. Tapi bagaimanapun, Yesung pasti akan menjadi pihak yang paling terkejut mengenai kenyataan yang akan segera menamparnya. Kyuhyun kembali berpikir dua kali mengenai urutan dalam benaknya.

“Lelah? Maksudmu?”

Sungmin mencintai Yesung. Tidakkah kau mengetahuinya? jerit Kyuhyun dalam hati. Apakah memberitahu Siwon pertama kali adalah urutan yang tepat? Ia mengernyitkan dahi. Sungmin menolak keluar dari kamarnya untuk pergi ke sekolah, mungkin saja memberitahu Sungmin lebih dahulu adalah pilihan yang terbaik.

Tapi Kyuhyun tak mau menyakiti namja itu dengan kenyataan-kenyataan yang lain.

“Lupakan saja. Lebih baik kau urus Yesung-hyung dengan baik,” ucapnya final. Siwon menatap ragu—ia tahu Kyuhyun menyembunyikan sesuatu. Tapi seperti yang adik sepupunya itu bilang, untuk beberapa hari ini, lebih baik ia fokus memperhatikan kondisi Yesung.

“Aku akan menuntut penjelasan di lain hari,” balas Siwon sebelum melangkah meninggalkan Kyuhyun seorang diri di koridor lantai satu. Kyuhyun sendiri memilih bergeming di tempatnya, ragu untuk mengambil bukunya yang tertinggal dan kembali ke kelas—ia takkan bisa belajar dengan pikiran penuh seperti sekarang.

“Kenapa mereka bisa mencintai orang yang sama?” lirihnya putus asa. Ia tak tahu harus mendukung siapa. Sebagai seorang pecinta yang normal, tentu saja Kyuhyun ingin mendukung Sungmin—namun hal itu berartikan ia akan kembali mengorbankan hatinya sendiri. Dan cinta Sungmin jelas-jelas takkan menemukan akhir yang bahagia.

Jalan keluarnya adalah mendukung Siwon. Tapi Sungmin pasti akan merasa terkhianati atau sejenisnya. Ia mencintai Sungmin, dan ia ingin namja yang dicintainya bahagia. Apakah tak ada jalan agar ia bisa berbahagia bersama cintanya?

Kyuhyun menghela napas. Sekali lagi ia harus menahan rasa sakit di hatinya mati-matian.

#

Sungmin melangkah menuju kamar Yesung dalam diam. Sekarang atau tidak selamanya.

Ia tak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Semua menjadi satu dan terasa menyesakkan. Sungmin harus mengatakannya sekarang. Ia tahu jawaban Yesung. Bahkan apapun jawaban Yesung, memang tidak ada masa depan untuk cintanya. Tidak pernah ada sejak awal.

Bayangan Siwon dan Yesung kemarin sore masih menghantuinya. Kenapa ia tak tahu mengenai dua orang itu? Apakah Kyuhyun tahu? Apa Kyuhyun diam dan memilih untuk tak bersuara demi melindungi hatinya? Sungmin sudah tak bisa berpikir dengan benar.

Pintu kamar Yesung sudah berada di depan matanya. Menurut Kyuhyun beberapa hari lalu, Siwon kini sekamar dengan kakaknya itu. Sungmin merasa tak ada yang aneh—ia juga sekamar dengan Kyuhyun. Tapi mungkin saja mereka sekamar karena alasan lain. Untuk mengetahuinya, Sungmin harus memastikan semuanya sekarang.

Yesung membuka pintu setelah ketukan kesepuluh yang ia lakukan. Keadaan kakaknya itu jelas-jelas jauh dari kata baik. Sungmin tersenyum miris. Keadaan hati dan batinnya mungkin jauh lebih buruk lagi.

“Sungmin—“

Hyung, jawab pertanyaanku.”

Yesung terdiam. Sungmin tak pernah berbicara setegas ini di hadapannya. Mungkin adiknya itu bertengkar dengan Kyuhyun. Mungkin adiknya itu tengah terlibat masalah. Yesung ingin menyuruh adiknya masuk, namun pertanyaan yang terlontarkan selanjutnya berhasil membuatnya mengerjap bingung.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Siwon-hyung?”

Si namja Kim berusaha memfokuskan pandangan matanya yang mengabur. Hubungannya dan Siwon? Pertanyaan itu terdengar aneh jika terlontar dari mulut Sungmin. Atau jangan-jangan adiknya itu melihat apa yang mereka lakukan di atap sekolah kemarin sore?

Sungmin mencoba mengatur napasnya dengan benar. Hatinya sakit. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara, tapi ia tetap harus memastikan semuanya sekarang. Ia lelah membohongi diri sendiri, dan ia lelah mencoba terlihat seolah ia baik-baik saja. “Aku melihat kalian kemarin…”

Yesung memilih tetap diam selama beberapa saat. Ia meminta Sungmin untuk masuk terlebih dahulu, namun ditolak dengan cepat. Keadaannya masih seburuk lima belas menit lalu di saat Siwon meninggalkannya. Seharusnya Sungmin tahu keadaannya dengan sekali lihat.

“Aku mencintaimu, Hyung…”

#

Pernyataan cinta itu Choi Siwon lihat dengan jelas menggunakan mata kepalanya. Ia berdiri beberapa langkah dari sana, bergiming dan tak mampu untuk mendekat. Tanpa diberitahu, ia tahu cinta apa yang dimaksud oleh Sungmin—bukan rasa sayang dari adik untuk kakaknya.

Keadaan hening selama beberapa saat. Tak ada satu pun yang memutuskan untuk berbicara.

Si pemilik surai blonde menatap sendu sepasang mata sipit hyung-nya. Ia tahu ada keterkejutan di balik sana, tapi semuanya harus ia katakan. “Aku mencintaimu—“ Air matanya menggenang. Demi Tuhan ini akan menjadi tangisan terakhirnya demi sang kakak. “Hingga merasa sesakit ini.”

Yesung mengerjap. Ia tak percaya dengan pendengarannya. Sungmin, adik kandungnya, mencintainya. Cinta yang berbeda. Ia bahkan tak tahu cinta terhadap saudara kandung itu benar-benar ada di dunia nyata—tapi kini ia mengalaminya.

“S-Sungmin-ah?”

Air mata Sungmin terjatuh begitu saja. Bibirnya membentuk senyuman begitu menyayat hati siapa pun yang melihat. “Kau tak tahu, ‘kan, Hyung? Selama ini kau hanya melihatku sebagai adikmu…” Kembali menetes—Sungmin merasa dirinya takkan sanggup melanjutkan kalimatnya. “…Mantan adikmu,” bisiknya di sela tangisan yang hampir pecah.

Tanpa sepatah kata apapun lagi, ia berlari meninggalkan Yesung yang terdiam di tempatnya.

#

Kyuhyun menemukan kamar Sungmin tak dikunci dan tak dihuni siapa pun juga. Panik mendera seketika. Di otaknya hanya ada satu tempat yang harus ia datangi—kamar Yesung yang berada satu lantai di atas lantai di mana ia berada sekarang.

Ia berlari secepat mungkin. Kyuhyun takut skenario terburuk dalam pikirannya menjadi kenyataan. Namun ketika ia sampai di ujung koridor kamar Yesung, yang ia dapati hanyalah Sungmin yang berlari ke arahnya dengan wajah berlinang air mata; melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun juga.

Kyuhyun juga dapat melihat Siwon berada di arah yang berlawan darinya, juga Yesung yang bergeming di depan pintu kamar—tak tahu harus melakukan apa.

Detik itu juga, Cho Kyuhyun tahu ia sudah terlambat. Ia gagal.

“Sialan…”

Sekarang, jika ia bertanya pada dirinya sendiri, siapa yang harus disalahkan akibat menyebabkan situasi menjadi semakin runyam dan tak nyaman, Kyuhyun tahu jawabannya;

—tentu saja dirinya seorang.

ToBeContinue

9 thoughts on “High School Series: Memories [Chapter 5]

  1. makin rumit,sungmin terbury” si,,,padahal yesung lagi sakit,,
    siwon juga pasti shock banget
    ok lanjut…

  2. Yesung pasti shock banget……..

    Siwoon….terhempass………..

    Sungmin………sakiiiittt bangets……

    KYu ………..pabboo……………………….bingung plus nyesel…………. bangeets…….!!

  3. Wowww…love is complicated,right!!! Huh bnr2 crta yg bsa mnarik pikiran q sbg reader k dlm crtanya,,I Love it..God job..
    Next chapt jgn lm2 Ya..

  4. huaaa bgus2… Salam sy reader baru ^^
    love is complicated… Bisa rasain rasanya jadi yeppa, meski gak seburuk itu…
    #curcol
    lanjut author…

  5. imajinasiku, yesung sebenarnya udah menyadari perasaan sungmin yg lbh dr seorang kakak ke dia, tp yesung memilih untuk mengabaikannya..
    hehe

    ini cerita menguras emosi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s