High School Series: Peach

tiffany_bday

High School Series: Peach

 [Sometimes, all you have to do is talk.]

.

.

Stephanie Hwang memejamkan matanya erat. Tatapan para gadis di hadapannya seolah berusaha untuk melenyapkannya detik ini juga. Ia sudah biasa. Seharusnya ia tak perlu merasa takut atau berharap seseorang akan menyelamatkannya. Seharusnya ia hanya perlu menerima kenyataan dan diam tak melawan seperti yang selalu ia lakukan.

Tiffany memang melakukannya—diam, pasrah, tak melawan. Tapi sebelum gadis-gadis itu sempat melakukan sesuatu pada dirinya, ia dapat mendengar suara seorang lelaki yang berseru dari kejauhan; berkata, “Apa yang kalian lakukan?” Dan menyebabkan kerumunan di depan matanya bubar secepat mengedipkan mata.

Tak pernah sekali pun ia tak berharap untuk dibela dan diselamatkan. Namun ketika menyadari bahwa orang yang menyelamatkannya adalah guru konseling yang dipuja murid yeoja sekolah, Tiffany merasa bahwa hari ini akan menjadi awal dari mimpi buruk yang lainnya.

“Kau baik-baik saja?”

Seraya mengangguk kaku, ia menerima uluran tangan sang guru dan bangkit dari posisi terduduknya. Tiffany menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata, nyaris meninggalkan tempat itu jika saja tak lagi berpikir untuk menghargai gurunya.

Ia tahu siapa guru konselingnya itu—Kim Jongwoon, atau Yesung, terserah siapa pun orang menyebutnya. Nama gurunya itu sering menjadi topik pembicaraan siswa terutama murid perempuan. Tiffany juga mengenal adik tiri sang guru—dan ia juga tahu alasan adik tiri gurunya itu selalu menunduk ketika berjalan di sisi sang kakak.

Karena mereka sama-sama perempuan, mereka saling mengerti satu sama lainnya.

Sekarang, ia melakukan hal yang sama; menunduk, bergeming, dan diam. Jika ada yang melihatnya berdua dengan Yesung, gosip pasti akan menyebar, namanya akan semakin memburuk, dan para gadis yang sering mem-bully-nya akan semakin parah saja. Tiffany merasa tak seharusnya kehidupan sekolah yang ia jalani menjadi seburuk ini, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa.

“Ikut aku ke ruang konseling sekarang, Tiffany-ssi.”

Si gadis Hwang mendongak, agak merona ketika mendapati sang guru tersenyum manis di hadapannya.

Tak lama kemudian, ia mendapati dirinya duduk di hadapan Yesung dengan sebuah meja sebagai pembatas yang menghalangi mereka. Ia masih menunduk meski tahu takkan ada yang dapat melihatnya sekarang. Tiffany merasa ia akan diinterogasi walau nyatanya tidak.

Dan… gurunya ini tahu namanya. Ia bukan gadis yang cerdas atau pintar bersosialisasi hingga kemungkinan untuk menjadi bahan pembicaraan guru sangatlah kecil. Tiffany meringis ketika berpikir mengenai alasan guru seperti Yesung mengetahui namanya; pasti karena menjadi target tetap bullying ia menjadi terkenal.

“Jadi, apa salahmu sebenarnya?”

Untuk jawaban dari pertanyaan itu, hingga sekarang pun ia masih mencari tahu sebisanya. Ia tak pernah mencari masalah dengan kakak kelas yang kini menjadi pem-bully setianya. Sama sekali tak pernah—bahkan mengenal pun tidak. Tiffany hanya gadis lugu pindahan dari Amerika yang kurang pintar mencari teman dan lebih memilih berkutat dengan kamus Bahasa Korea-nya. Hanya itu.

“A-aku tidak tahu, Seonsaengnim,” ucapnya agak terbata. “Mereka tidak mem-bully-ku pada awalnya, tapi beberapa bulan belakangan ini…” Tiffany ingat empat bulan yang lalu ketika ia hendak mengganti sepatu namun tak menemukan benda itu dalam lokernya. Ia terus mencari meski bel telah berbunyi beberapa kali—lalu menemukannya beberapa jam kemudian di dalam tempat sampah yang jauh dari ruang loker sekolah.

Lalu setelah kejadian itu, Tiffany mendapati dirinya basah kuyup akibat disiram oleh seember air dari lantai atas, tepat ketika ia baru menginjakkan kakinya di koridor sekolah. Ia juga sering mendapati kejanggalan seperti baju olahraga yang menghilang tanpa sebab, buku catatan yang penuh dengan coretan, dan bahkan seekor tikus kecil berada di dalam tasnya.

Yesung memperhatikan ekspresi muridnya itu dengan senyuman. Tak perlu bertanya pada siapa pun tentang sifat dan sikap Tiffany karena yeoja itu terlalu mudah ditebak. Anak itu pasti murid baik yang pendiam dan sebenarnya ramah, namun kurang beruntung karena tanpa sadar mencolok hingga menjadi target bullying di sekolah.

Sepertinya gadis itu tak sadar bahwa sebenarnya ia cukup mencolok—wajah cantik, kulit halus, eye-smile menawan, tinggi yang pas untuk ukuran yeoja, dan surai cokelat panjang bergelombang yang terikat dua menambah kesan manisnya.

Tapi jika hanya itu, Yesung tak yakin mengapa Tiffany menjadi target bullying selama berbulan-bulan tanpa henti. Banyak murid perempuan lain yang juga cantik dan manis, namun tampaknya hanya Tiffany yang cukup sial hingga detik ini.

Ini tugasnya sebagai guru konseling untuk membantu siswa. Yesung rasa ia harus mencari informasi lebih banyak terlebih dahulu, lalu memilih tindakan selanjutnya. Dari sekali lihat saja, ia tahu Tiffany adalah tipe yang takkan memberontak meski dihina dan dipukul sekuat tenaga.

“Jadi, jika anak-anak itu kembali mengerjaimu, laporkan saja padaku, ne?”

Tiffany mengangguk kaku—tak yakin ia akan benar-benar melaporkannya pada Yesung; lagipula ada perbedaan besar di antara dikerjai dan di-bully. Sang Hwang bangkit dari duduknya, membungkuk kecil sebelum berbalik menuju pintu keluar ruangan. Matanya sedikit terbelalak ketika mendapati teman seangkatannya yang ia ketahui bernama Lee Sungmin berdiri dan tersenyum kecil di sana.

Memilih untuk tak terlalu peduli, ia meninggalkan ruangan dalam diam.

#

Hampir satu minggu telah berlalu, namun tak banyak yang berubah.

Pemilik nama lengkap Stephanie Hwang itu duduk di atas bangku taman asrama, memandang langit biru yang terbentang luas. Tiffany menyukai ketentraman yang ia rasa hanya dengan memandang langit di atas sana—sepupunya bilang, hal itu bukanlah hal yang aneh karena memandangi langit memang menyenangkan bagi sebagian besar orang.

Matahari tak tampak di mana pun, awan menutupinya dengan sempurna. Tiffany tak terlalu menyukai musim dingin, tapi ia cukup mencintai musim panas meski bisa saja kulitnya terbakar. Sebagai gadis normal, tentu saja ia selalu memperhatikan penampilannya. Hanya saja, belakangan ini, Tiffany mulai merasa memperhatikan penampilan tak lagi ada gunanya.

Meski bangun lebih pagi untuk menata rambutnya rapi, keadaannya akan tetap berantakan sesampainya di sekolah akibat para pem-bully setianya tiap hari.

“Fany-ah?”

Ia menoleh dan mengerjap ketika mendapati Choi Siwon berdiri di sebelahnya dengan cengiran tanpa rasa bersalah. Tiffany tersenyum ramah, mempersilakan gurunya untuk duduk di sampingnya. Ia tak pernah benar-benar mempunyai teman, tapi Siwon adalah guru yang senang menemuinya tanpa alasan dan asyik untuk diajak berbicara.

Atau tidak. Sebenarnya Tiffany tahu alasan Siwon sering menemuinya; gurunya itu merasa prihatin dan kasihan pada dirinya. Si pemilik surai cokelat menghela napas—ia tak perlu dikasihani, sebenarnya. Ia hanya perlu satu orang teman yang akan terus mendukung dan menyemangati.

“Kau baik?”

“Tak pernah lebih baik dari sekarang,” jawabnya dengan tawa kecil hingga memperlihatkan eye-smile menawan miliknya. Siwon ikut tertawa—tahu maksud dari kalimat gadis yang duduk di sampingnya; Tiffany tak pernah merasa baik. Ia bodoh jika menanyakan hal semacam itu pada gadis yang menjadi target harian bullying.

“Kudengar Yesung-hyung memanggilmu ke ruangannya beberapa hari lalu. Ada apa?” ujar Siwon memulai pembicaraan. Ia menoleh dengan pandangan penuh tanya.

Tiffany mengangkat bahu ringan, tak terlalu peduli. “Tidak ada apa-apa. Kebetulan saja Yesung-seonsaeng melihatku ketika di-bully. Dia mengusir anak-anak itu, lalu menyuruhku mengikutinya ke ruang konseling.”

Angin berhembus pelan, menggerakkan rumput dan dedaunan seirama. Tiffany tak pernah merasa canggung ketika ia harus berdekatan dan berbincang berdua dengan Siwon, namun mengingat hubungan mereka adalah guru dan murid, ia merasa tak sopan karena berbicara tanpa menggunakan bahasa formal.

“Kau tahu, Oppa? Rasanya sulit sekali menggunakan bahasa informal ketika berbicara denganmu. Maksudku, kau guruku, dan aku muridmu,” ungkapnya jujur. Siwon terkekeh pelan, menusuk pipi sang murid menggunakan jari telunjuk tangannya.

“Yesung-hyung juga menyuruh Taeyeon dan Sunny untuk menggunakan bahasa informal ketika berbicara denganku. Mereka bahkan tetap menggunakan bahasa informal di dalam kelas ketika aku sedang mengajar,” ucapnya berusaha menenangkan. Tiffany tersenyum kecil mendengarnya. “Aku hanya ingin menjadi temanmu, Fany-ah. Umur kita tak berbeda terlalu jauh, sebenarnya.”

Yang lebih muda tertawa tanpa sadar dan tak bisa menghentikannya. Ucapan Siwon bukanlah lelucon, tapi entah mengapa terdengar begitu lucu di telinganya. “Ya! Kenapa kau tertawa?” protes sang namja. Tiffany membiarkan air mata menetes dari matanya—tak tahu apakah itu air mata akibat tawanya yang berlebihan, atau malah air mata sungguhan.

“He-hei, jangan menangis, Fany-ah. Kau ini kenapa?” tanya Siwon panik. Muridnya itu tak lagi tertawa, namun air matanya terus menetes tanpa henti. Ia mulai membayangkan skenario terburuk; seorang murid lewat, mengira dirinya lah yang menyababkan Tiffany menangis, melaporkannya kepada kepala sekolah… mungkin pekerjaannya takkan terancam, tapi bagaimana dengan image-nya?

“Aku tidak tahu, Oppa. Ini semua karena kau mengatakan ingin menjadi temanku. Kupikir… kupikir kau hanya mendekatiku karena merasa kasihan,” gumam Tiffany seraya menghapus air matanya kasar. Setahun lebih ia pindah ke Korea dan bersekolah di sini, tapi tak seorang pun mengajaknya berteman.

Yesung baru saja mengantar Taeyeon kembali ke asrama ketika ia berjalan melewati taman dan menemukan Tiffany juga Siwon di sana. Ia ingin langsung pergi dan kembali mengerjakan kesibukannya, namun melihat Tiffany menangis dan Siwon kebingungan, Yesung menghela napas. Apa lagi yang teman kecilnya itu lakukan?

Ya, Siwon—“ ucapannya terhenti ketika melihat bayangan seseorang di balik pohon tak jauh dari di mana ia berada. Yesung mengenalinya sebagai salah satu pem-bully setia Tiffany. Ia dapat melihat yeoja itu mengepalkan tangan menahan kesal, lalu berlari meninggalkan taman tak lama kemudian.

“Dasar bodoh.” Yesung memilih tak peduli. Ia menghampiri Siwon yang telah berhasil menghentikan tangisan Tiffany, menemukan wajah panik namja Choi itu di sana. “Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di sini, tapi orang lain bisa mengira kau membuatnya menangis.”

Si yeoja pemilik eye-smile spontan bangkit dan membungkukkan tubuhnya, meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Yesung tersenyum sebelum menepuk kepala yeoja itu, berkata, “Aku mengerti. Kembali ke asrama dan beristirahatlah.” Dan meninggalkan taman sejurus setelahnya.

“Maaf, Fany-ah. Aku harus menyusulnya,” ucap Siwon terburu-buru. Tiffany mendapati dirinya mengerjap bingung memandangi punggung guru bermarga Choi itu berlari mengejar Yesung, kemudian merangkul sang guru konseling dan berakhir ditepis kasar setelahnya.

“Teman, ya…”

Seharusnya Siwon lah yang berada dalam benaknya sekarang—gurunya itu baru saja bersamanya, berkata ingin menjadi temannya. Tiffany membulatkan mata ketika menyadari ada orang lain yang ia pikirkan, dan orang itu bukan Siwon, melainkan guru lain yang tadi menepuk lembut kepalanya.

“Ah, eottokae?” monolognya sebelum kembali menengadah dan menatap langit juga awan yang berarak. Tiffany memiliki firasat bahwa ia jatuh cinta, mungkin sejak pertemuan pertamanya dengan Yesung—namun di sisi lain tidak.

#

Yesung memikirkan percakapannya dengan Sunny satu jam lalu, kemudian menghela napas tak percaya.

Lelaki bisa saja bertengkar atau tak menyukai sesamanya akibat tak sengaja bersitatap, atau mungkin karena saling berbeda pendapat. Tapi jika perempuan tak menyukai perempuan lainnya, alasannya sudah dipastikan karena…

namja.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”

Bersamaan dengan pertanyaan itu, Yesung dapat merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangnya, memeluknya posesif seperti yang sering orang itu lakukan. Ia memilih untuk tak peduli; sempat berniat untuk protes, lalu sadar takkan ada gunanya.

Yang masih mengganggu pikirannya hingga sekarang adalah, kenapa harus sekejam itu? Kenapa hanya dikarenakan jatuh cinta, seseorang bisa mem-bully orang lain yang ia anggap saingannya selama berbulan-bulan, tanpa menjelaskan apapun, tanpa berusaha untuk berbicara dan bertanya… Ah, atau mungkin dirinya yang terlalu idealis?

Yesung pernah jatuh cinta, namun ia tak pernah berpikir untuk menyakiti orang lain demi cintanya.

“Siwon-ah, kau dekat dengan Stephanie Hwang, bukan?” tanyanya tiba-tiba. Siwon mengangguk sebagai jawaban—jika dibandingkan dengan orang lain, ia dapat dikategorikan dekat dengan Tiffany. “Apakah kau menyukainya? Atau mungkin dia bertingkah seolah ia menyukaimu?”

Kali ini Siwon mengernyit tak setuju. “Kami hanya berteman baik, Hyung-ah,” jawabnya tak habis pikir. “Ada apa? Kau cemburu?” sambungnya dengan seringai kecil—mungkin saja akibat kejadian bertemu di taman beberapa hari lalu, Yesung merasa cemburu dan—

“Dalam mimpimu.”

—mungkin ia berharap terlalu banyak. Siwon meringis mendengarnya, lalu menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Yesung untuk menghirup aroma vanilla yang entah mengapa dimiliki seorang namja seperti seseorang dalam pelukannya. Tapi ia tak dapat memungkiri bahwa ia menyukai aroma itu, terutama pemiliknya.

Yesung mengalihkan pusat pandangannya ke luar jendela. Seharusnya semua murid dan guru (kecuali dirinya dan Siwon) telah kembali ke asrama sejak satu jam yang lalu, namun matanya menangkap sosok seorang murid perempuan berseragam berdiri di pinggir lapangan. Ia menyipitkan mata untuk memastikan, agak terkejut menyadari Tiffany lah yang berdiri di sana.

Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan pelukan Siwon yang ia akui terasa nyaman, lalu melangkah keluar dari ruangan guru seraya berkata, “Tunggu sebentar, ada yang harus kulakukan.” Tanpa peduli seruan pemuda yang bersangkutan. Ia mempercepat langkah, kemudian berhenti ketika berjarak dua meter dari di mana sang murid berada.

“Tiffany-ssi?”

Ketika Yesung tak sengaja menatap lantai atas, ia terbelalak mendapati seseorang tengah mengangkat meja dan hendak menjatuhkannya ke bawah—tepat di atas kepala Tiffany yang kini menatap polos dirinya.

“Awas!”

BRAKK

#

Tiffany masih menggunakan seragamnya ketika teman sekamarnya masuk ke dalam kamar dan berkata bahwa Yesung menunggunya di lapangan sekolah. Ia tak percaya pada awalnya, namun teman sekamarnya itu hanya mengedikkan bahu tak acuh dan berkata, “Cepatlah ke sana sebelum dia pergi karena menunggu terlalu lama, atau tak usah pergi dan dapatkan nilai minus besok paginya.”

Ia melangkahkan kaki terburu-buru, tak mau membiarkan sang guru menunggu. Mungkin Yesung hendak menasihatinya atau bertanya tentang bullying yang selalu dialaminya, atau mungkin menanyakan keadaannya, atau entahlah. Tiffany memilih tak terlalu memikirkan. Lagipula… sudah beberapa hari ini ia tak melihat guru konseling itu.

Setelah sampai di lapangan sekolah, ia tak menemukan siapa pun di sana. Tiffany merasa mungkin saja ia dibohongi. Tapi kenapa teman sekamarnya membohonginya meski mereka memang tak akrab? Ia mencoba untuk berpikir positif; bisa saja Yesung menunggu terlalu lama dan bosan, lalu memutuskan untuk kembali ke asrama.

“Tiffany-ssi?”

Mendengar suara khas itu menyebabannya spontan menolehkan kepala. Tiffany menatap Yesung penuh tanya dikarenakan gurunya itu terbelalak. Sejurus kemudian, ia mendapati Yesung berlari ke arahnya seraya berteriak, “Awas!”

Tiffany mendongak, terkejut mendapati sebuah meja terjatuh tepat di atas kepalanya. Tubuhnya kaku, ia tak kuasa untuk bergerak. Matanya terpejam pasrah. Yang terjadi, terjadilah…

BRAKK

Tapi tak ada rasa sakit berlebihan. Ia mendapati tubuhnya terjatuh di atas tanah bersamaan dengan tubuh sang guru di atasnya. Si yeoja bersurai cokelat merasa sulit bernapas akibat tubuh Yesung yang menimpanya, juga dapat merasakan tubuh guru yang dikaguminya itu tak bergerak.

Panik mendera seketika. Ia melirik meja yang terhempas tak jauh dari di mana ia berada. Yesung melindunginya. Mengorbankan diri deminya. Tubuhnya gemetar hebat, tak tahu harus berbuat apa. Menyingkirkan tubuh gurunya itu pun ia tak bisa.

“Fany-ah! Yesung-hyung!”

Tiffany dapat mendengar suara Siwon meneriakkan namanya samar. Ia mendapati namja Choi itu mengangkat tubuh Yesung dari atas tubuhnya, lalu merebahkan tubuh sang guru di sampingnya. Tiffany berusaha bangkit—ia tidak apa-apa, seharusnya.

Pandangannya memburam, semakin memburam..

“Fany-ah!”

Kemudian kegelapan menawan dirinya seketika.

#

Aroma khas obat-obatan tercium melalui hidungnya. Yesung membuka matanya perlahan.

Punggungnya terasa sangat sakit hingga taraf di mana ia lebih baik mati daripada bergerak. Kepalanya terasa pusing, sedangkan pandangan matanya burkunang-kunang. Ia kembali memejamkan mata lama, lalu membukanya, namun hasilnya percuma.

Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya ia telah terbiasa.

“Lebih baik, Hyung?”

Siwon memandangnya khawatir—membuatnya ingin mengatai teman kecilnya itu habis-habisan. Tapi tulang punggungnya memang terasa remuk, dan mungkin layak dikhawatirkan. Yesung menganggukkan kepalanya pelan, mungkin ia baik-baik saja.

“Bagaimana dengan Stephanie Hwang?” Ia bertanya susah payah. Siwon tersenyum kecil, bergumam tidak apa-apa. Tiffany hanya shock dan pingsan, mentalnya akan membaik setelah banyak beristirahat.

Dengan segenap perasaannya, Siwon menggenggam tangan Yesung perlahan. “Aku kira kau takkan bangun lagi, Hyung,” gumamnya lemah. Yesung tergoda untuk memukul namja yang telah ia anggap dongsaeng-nya itu sekuat tenaga. Bagaimana mungkin ia meninggal hanya karena tertimpa meja?

Atau, yeah, bisa saja. Tapi…

“Aku serius.” Siwon kembali berucap. “Kau mau aku menuntut gadis yang menjatuhkan meja itu? Aku akan melakukannya dengan senang hati!” ungkap lelaki bertubuh atletis itu berapi-api.

Yesung menghela napas, menolehkan kepala untuk melihat jendela kamar rumah sakit yang dihuninya. “Tidak perlu. Dia pasti menyesal, bukan? Kejadian ini pasti menyebar dan namanya akan menjadi buruk. Itu saja sudah cukup.”

Siwon mengeratkan genggaman tangannya. Terkadang Yesung bisa menjadi pribadi pemaaf yang mentoleransi segala hal—berkebalikan dengan dirinya. “Setidaknya setelah ini Tiffany-ssi takkan di-bully oleh siapa pun lagi,” ucap Yesung dengan senyuman.

“Yesung-seonsaeng?”

Keduanya menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati gadis yang menjadi topik pembicaraan berdiri di sana. Yesung melepaskan genggaman tangan Siwon perlahan, menatap mata pemuda itu seolah berkata untuk meninggalkan mereka berdua untuk sesaat.

“Sudah lebih baik, Fany-ah?” tanya Siwon seraya mencubit pipi gadis itu gemas. “Bicaralah dengan Yesung-hyung, aku akan meninggalkan kalian berdua,” lanjutnya sebelum meninggalkan ruangan.

Tiffany melangkah ragu, lalu duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Siwon. Sebelum sang guru sempat mengeluarkan suara, ia memotongnya dengan, “Maafkan aku, Seonsaengnim. Kau terluka karena melindungiku,” bisiknya penuh penyesalan. Tiffany menatap sepasang mata sipit Yesung dalam, lalu menunduk karena menyadari jantungnya berdegup kencang.

“Sebenarnya aku tak terlalu suka mendengar kata maaf,” balas Yesung bermaksud bercanda. Tiffany tersenyum menanggapinya—bagaimana lagi? Tentu saja ia merasa bersalah; seseorang yang tak memiliki hubungan apapun dengannya, mengorbankan diri demi melindunginya.

“Dan terima kasih, Seonsaengnim.” Ia kembali mengeluarkan suara. Tangannya meremas rok sekolah yang ia gunakan—setelah sadar dari pingsan, ia belum kembali ke sekolah.

Lagi, Yesung memperlihatkan senyumannya yang menawan. “Itu lebih baik.”

Keadaan menjadi canggung setelahnya. Yang lebih tua memutuskan untuk mencairkan suasana. “Kau tahu kenapa gadis itu mem-bully-mu hingga melakukan ini?” Ia mencoba mempertahankan kesadarannya, tiba-tiba saja merasakan kantuk teramat sangat.

“Siwon-oppa,” jawab Tiffany yakin. Ia telah mengetahuinya sekarang. “Tadi dia datang untuk meminta maaf dan menceritakan semuanya. Kurasa bukan hal yang buruk untuk memaafkannya. Semua ini hanya salah paham.”

Yesung memejamkan mata, tak kuasa untuk tetap terjaga. “Kau gadis yang baik,” pujinya singkat—dalam hati masih berpikir kenapa tidak sejak awal saja gadis itu mengajak Tiffany untuk berbicara.

“Tentu saja salah paham, bukan? Karena yang kusukai itu bukan Siwon-oppa, melainkan…”

Entah apa yang gadis itu katakan sebelum kesadarannya hilang. Dan entah mengapa, Yesung merasa ia melewatkan hal penting ketika ia tiba-tiba saja terlelap. Tapi semuanya sudah terlambat.

Tiffany menggembungkan pipinya yang bersemu merah. “Padahal hampir mengungkapkannya…” Ia menggerutu singkat, lalu tertawa kecil menyadari kebodohannya. Seraya bangkit, ia tersenyum manis dan beranjak meninggalkan ruangan.

“Terima kasih, Oppa.”

Fin.

Credit title: IU’s Second Single – Spring of a Twenty Year Old; Peach

*Scene pertama (di ruang konseling) adalah sisi lain dari scene Sungmin datang ke ruangan Yesung pada chapter 1 ff High School Series: Memories

Another fict from a year ago. Something weird tho rofl. Btw #Happy25thPinkMonsterDay! Happy Birthday to the most pretty member of SNSD!^^ (for me she’s the best visual:p)

7 thoughts on “High School Series: Peach

      1. owh…syukur dah
        jadi yg high school memoris ttp dilanjut y?
        Ditunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s