Can It Be Love?

Won-Ye 2

Yesung’s Birthday Project: The Fourth Entry

Can It Be Love?

[—Karena cinta tak selalu datang di awal kisah.]

.

.

Hyung, apa kau tidak bosan?”

Choi Siwon memandang salah satu hyung-nya penuh arti, sedangkan sang hyung hanya memandang langit-langit kamar, mengabaikan pertanyaan sang visual grup yang tidak to the point. “Aku bukan orang pintar. Kenapa tidak langsung ke intinya saja?” aku Yesung disambut oleh kekehan Siwon.

“Bertingkah konyol di depan kamera, lalu menjadi orang irit bicara cenderung dingin di hadapan member grup sendiri,” ujar Siwon pelan, bagaimanapun juga tetap berusaha menghormati hyung-nya. “Kau semakin mirip Jungsoo-hyung.”

“Dan kau semakin mirip Kyuhyun,” ketus Kim Jongwoon—si pemilik stage-name Yesung. Siwon mengernyit tak mengerti. “Terlalu banyak berkomentar,” tambah Yesung menjawab pertanyaan yang bahkan belum Siwon lontarkan.

Helaan napas terdengar. “Aku hanya ingin tahu, Hyung,” gumaman namja tinggi itu pun mau tak mau membuat Yesung merasa bersalah. “Kenapa harus memiliki ‘dua wajah’? Dan lagi, hanya kau dan Jungsoo-hyung yang seperti itu,” lanjutnya ragu.

Yesung melirik pemuda di sebelahnya sekilas. “Maksudmu apa? Mana mungkin aku mempunyai dua wajah pada satu kepala.” Ia bergurau. Sedangkan Siwon tak sedang ingin bercanda saat ini. “Jangan menatapku tajam seperti itu, Siwon-ah,” tegur Yesung lebih mengarah pada ancaman.

“Seseorang yang irit bicara mana bisa membawa kesenangan pada penonton—sepertiku dan Jungsoo.”

“Panggil dia dengan sebutan hyung!”

Sudut bibir sang namja Kim terangkat. “Iya, iya,” gumamnya, tak mau memperpanjang masalah. “Dengan bertingkah konyol dan banyak bicara, para penonton dan fans pasti merasa senang dan terhibur. Memangnya kau mau menatap patung tanpa ekspresi?”

Siwon mengernyit tak setuju, penjelasan Yesung masih belum cukup. “Itu berarti kau tidak menjadi diri sendiri, Hyung. Kalau kau tak bertingkah konyol pun, masih ada member lain seperti Shindong-hyung dan Hyukjae, ‘kan?”

Anggukan kecil. Yesung menarik napas. “Melakukan hal konyol juga tidak terlalu buruk.” Ia memberi jeda sesaat. “Melihat member lain tertawa itu menyenangkan.” Mendengarnya, Siwon memutar bola mata.

“Lebih menyenangkan mana dengan menatapi wajah mereka ketika tidur?” sindirnya, yang disambut dengan gelak tawa Yesung. “Terserahmu saja, Hyung.” Kemudian, yang lebih muda memejamkan kedua mata.

“Memangnya aku sependiam apa? Jika dibandingkan dengan Teukie-hyung, aku masih jauh lebih banyak bicara,” protes Yesung. “Seolah-olah aku ini pemurung saja. Dan—YA! Jangan tidur di kasurku!” Tangan kecil salah satu lead vocal Super Junior itu bergerak, mendorong seseorang yang berbaring di sebelahnya sekuat tenaga.

Mereka tengah berada di dalam kamar Yesung saat ini, hanya kamar Yesung—mengingat Ryeowook sudah pindah ke lantai atas beberapa hari lalu. Agak kesepian, memang. Hanya Ryeowook yang tahan dengan semua sikap dan sifat Yesung. Kenyataan bahwa namja mungil itu takkan lagi menjadi seseorang yang pertama dilihatnya ketika bangun pagi sudah dipastikan membuatnya merasa kesepian.

Yesung mendesah. “Kau tidur di kasur Wookie saja, jangan di sini. Sempit.”

Menuruti hyung-nya, Siwon pindah ke kasur seberang. Kasur itu sengaja tak dipindahkan. Leeteuk bilang, kasur itu akan berguna ketika jadwal mereka padat hingga ia tak sempat pulang ke rumah.

Saat jadwal padat. Namun jelas-jelas mereka senggang. Bocah itu malah berani-beraninya memasuki kamar Yesung, mengganggu tidur sang hyung hanya untuk menumpang berbaring dan menanyakan hal yang sangat tidak penting.

Itu berarti kau tidak menjadi diri sendiri, Hyung.”

Kenapa sekarang perkataan Siwon malah mengiang di telinganya? Kenapa kini ia merasa seolah melakukan kesalahan yang harus diperbaiki secepatnya? “Sikap konyol itu… entah sejak kapan menjadi kebiasaanku,” bisik Yesung pada dirinya sendiri, lalu memijat dahinya pelan.

#

Pukul lima sore dan Siwon belum bangun sejak dua jam lalu. Yesung bangkit perlahan, meninggalkan kamarnya tanpa menimbulkan banyak suara. Di luar, ia bisa melihat para dongsaeng-nya sibuk dengan urusan mereka seperti Kyuhyun dan Eunhyuk yang sibuk bermain PS—juga Donghae sebagai penonton setia—dan Sungmin duduk di atas sofa sambil membaca sebuah buku. Sedangkan Ryeowook… di mana Ryeowook?

Menyadari hilangnya sang roomate, Yesung mendekati Sungmin perlahan. “Wookie ke mana, Minnie-ya?”

Yang ditanya hanya memandang bingung, kemudian tersenyum kecil. “Hyung lupa Wookie sudah pindah ke lantai atas?” Namja yang lebih tua segera menepuk dahinya sendiri, lalu meringis. “Baru beberapa hari, jadi kita belum terbiasa. Aku juga sering lupa, Hyung.”

Setelah menyudahi perbincangan sesaatnya dengan Sungmin—ditambah bonus menegur Eunhyuk yang berteriak akibat kekalahannya melawan Kyuhyun, Yesung beranjak ke dapur untuk mencari makanan. “Biasanya ada Wookie, dan aku tinggal membantu sedikit,” gumamnya seraya tersenyum miris. “Karena beberapa hari ini hanya aku yang berjadwal padat, aku tak menyadari akan merasa sesepi ini.”

Ia membuka kulkas dan menemukan berbagai macam bahan makanan di sana. Sayangnya, Yesung terlalu malas untuk memasak terlebih dahulu. Ia ingin makanan yang dapat dimasak dengan cepat, seperti ramen contohnya. Jika saja stok ramen mereka tak habis, tentu saja ia telah selesai makan saat ini.

“Mungkin aku akan ke dorm atas saja, mengajak Wookie makan di luar bukan hal yang buruk,” ucapnya bermonolog; tentu saja dengan suara yang pelan, tak mau predikat aneh yang disematkan padanya berubah menjadi gila.

Bermaksud untuk mengambil jaket dan topi di dalam kamar, Yesung membalikkan tubuh dan berjalan memasuki kamar.

#

Siwon membuka mata, mengerjap beberapa kali sebelum bangkit dan melihat jam tangan yang ia gunakan. Belakangan ini ia merasa sulit untuk tidur, namun jika tidur di kamar Yesung dapat menyebabkannya terlelap senyenyak ini, mungkin lebih baik ia tinggal di dorm saja mulai sekarang.

GAME OVER! SIALAAAN!”

—Atau tidak. Makian Eunhyuk sukses mengurungkan niatnya.

Melihat ranjang di sebelahnya tak berpenghuni, Siwon melangkah malas meninggalkan kamar. Pemandangan yang ia dapatkan selama dua hari belakangan di dalam dorm selalu sama tanpa adanya perubahan. Namja itu mengerlingkan matanya bosan.

Sepintas, ketika menolehkan kepala, ia dapat melihat Yesung memasuki dapur dan tentu saja langsung berusaha menghampirinya. Ketika sang Choi hendak mengeluarkan suara, Yesung memotongnya dengan gumaman. “Biasanya ada Wookie, dan aku tinggal membantu sedikit.”

Ragu apakah kalimat itu ditujukan padanya atau tidak, Siwon bergeming di tempatnya. “Karena beberapa hari ini hanya aku yang berjadwal padat, aku tak menyadari akan merasa sesepi ini.”

—Dan sepertinya bukan. Buktinya, Kim Jongwoon tak menoleh ke arah di mana tempatnya berdiri bahkan untuk sejenak saja.

Siwon bungkam. Tiba-tiba saja ia merasa ada yang salah dengan dadanya. Sesak. Sulit bernapas, padahal ia yakin tak pernah mengidap penyakit asma atau gangguan pernapasan lainnya.

“Mungkin aku akan ke dorm atas saja, mengajak Wookie makan di luar bukan hal yang buruk.”

Secepat Yesung mengatakan kalimat itu, secepat itu pula Siwon meninggalkan dapur dan kembali memasuki kamar, duduk di tepi kasur seraya menyentuh dadanya. Cara Yesung menyebut nama Ryeowook menambah rasa sesak yang belum pernah ia rasa, dan ia tak tahu mengapa.

Terlalu larut dalam pikirannya, Siwon bahkan tak menyadari si pemilik kamar telah berada beberapa langkah di dekatnya dan menatap dirinya penasaran.

Langkah pertama—bergeming.

Langkah kedua—masih bergeming.

Langkah ketiga—Yesung membungkukkan badan, menyetarai kepalanya dengan kepala sang namja lebih muda dari depan.

Kedua mata kelam itu saling bertukar pandang dalam diam.

Sepuluh detik berlalu. Tak ada yang membuka suara hingga akhirnya Yesung bertanya, “Ada apa denganmu?”

Tanggapan Siwon jauh di luar perkiraan sang pemilik surai senada. Dongsaeng-nya itu mundur dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, tak ingat jika sebuah tembok pucat kapan saja dapat menimbulkan suara—BUK—akibat bunyi benturan dua benda keras yang salah satunya tak lain adalah kepala.

Tak dapat ditahan, Yesung menyemburkan tawanya tanpa dapat dihentikan.

Siwon mengusap bagian belakang kepalanya yang terasa begitu sakit, lalu duduk bersandar pada tembok, memandangi sang hyung yang masih tertawa. Ah, ia ragu apakah hyung-nya itu tertawa atau menangis. Lihat saja air mata yang mengalir dari mata sipitnya.

Hyung, hentikan. Ini sakit sekali,” rajuknya. Yesung berusaha menenangkan diri, menarik napas, lalu membuang napas. Ia tak ingat kapan terakhir kali ia tertawa seperti ini. Rasanya, tawa yang ia lontarkan ketika mengikuti acara reality show agak sedikit berbeda, sedikit terkesan… canggung, menahan diri, atau malah dipaksakan.

Itu berarti kau tidak menjadi diri sendiri, Hyung.”

Perkataan itu lagi. Dan sekarang… bukankah sekarang ia sedang menjadi dirinya sendiri? Jika berada di depan kamera, persetan dengan tidak menjadi diri sendiri. Ia adalah seorang idola, harus bisa menyenangkan hati para penonton dan juga fans-nya. Selama di belakang kamera ia dapat menjadi pribadi aslinya, takkan ada masalah besar, bukan?

Setelah menghembuskan napas dengan tenang, Yesung kembali pada niat awalnya. Mencari jaket dan topi, lalu mengenakan dua pakaian yang selalu membantu penyamaran orang-orang. “Siwon-ah,” tegurnya ketika mendapati sang dongsaeng tengah melamun, entah melamunkan apa. Ia bahkan sempat berpikir apakah ada gangguan pada otak Siwon akibat kejadian terbentur beberapa menit sebelumnya.

“Mau temani aku ke luar? Aku lapar.”

Ajakan Yesung entah mengapa menghilangkan seluruh rasa sesak yang sempat menghampiri sebelumnya. Senyum sumringah ia pamerkan, kemudian mengangguk dengan semangat. “Tentu saja!”

#

Setelah dua menit perjalanan terlewati begitu saja, Siwon melirik bangku pengemudi diam-diam. Ia sudah memaksa Yesung untuk duduk di bangku penumpang, namun namja itu malah menjawab tanpa berpikir panjang; “Aku tahu kau terlihat lebih tua dan dewasa daripada diriku, tapi biarkan aku yang menyetir.”

Jadi, secara tak langsung, namja Kim itu berkata bahwa Siwon terlihat lebih berumur daripada dirinya.

Sambil memandangi sang hyung, perlahan tapi pasti, Siwon mengakuinya juga. Yesung memang terlihat lebih muda darinya. Well, sebut saja terlihat lebih kekanakkan; wajahnya yang terkesan serius dan dingin itu dapat berubah kapan saja menjadi manis. Siapa pun tak akan menyangka kalau beberapa tahun lagi Yesung akan menjadi kepala tiga.

Senyum pemilik suara indah itu selalu terlihat polos, dan sekali lagi, manis. Salah satu namja yang termasuk lima besar tertua di Super Junior itu tidak termasuk kategori cantik seperti Heechul, yang jika hanya dilihat sekilas akan mengira ia seorang yeoja. Untuk masalah Yesung, dalam sekali lihat, orang-orang pasti akan langsung tahu bahwa Yesung adalah seorang lelaki tulen—yang memiliki senyum menyenangkan, juga tawa yang cenderung kekanak-kanakan.

Jadi, apa maksud pemikirannya?

Ketika mobil berhenti dikarenakan lampu merah, Yesung menoleh untuk menatap Siwon—ia baru sadar ketika menolehkan kepalanya, sang namja Choi sedari tadi sedang memperhatikannya, entah sejak kapan.

Bersitatap. Yang lebih muda mengalihkan pandangannya lima detik kemudian. Dadanya berdesir hanya dikarenakan iris mata kelamnya menatap iris mata kelam lainnya—milik Yesung. Jantungnya berdegup tak karuan, bahkan ia takut Yesung dapat mendengar degup jantungnya.

Nah, apalagi sekarang? Tadi Siwon merasa sesak, padahal ia tak mempunyai penyakit asma. Dan mengapa sekarang jantungnya berpacu cepat sedangkan dirinya tak memiliki penyakit jantung?

Lima belas menit mereka lewati dengan kecanggungan akibat peristiwa bersitatap selama lima detik tersebut. Yesung, yang awalnya ingin meminta rekomendasi tempat makan, sekarang hanya bungkam dan memilih restoran secara acak. Yang penting ia bisa makan secepatnya.

Setelah memarkirkan mobil dan memasuki restoran-entah-apa-namanya-dan-siapa-yang-peduli itu, Siwon duduk pada meja yang terletak di ujung restoran, mengambil tempat tepat di seberang sang Kim.

Ketika pelayan datang untuk mencatat pesanan, ia dapat menangkap tatapan sang pelayan yang sedikit terkejut ketika menyadari siapa dua orang yang kini tengah menatap menu dengan seksama. Di saat mereka telah selesai memesan, pelayan yeoja itu memberanikan diri untuk bertanya,

“Maaf sebelumnya, kalian…”

Yesung tersenyum manis—tak sadar senyuman itu tak hanya memacu degup jantung sang pelayan, melainkan seseorang yang duduk di depannya juga. Tangannya bergerak, jari telunjuknya bertengger di depan mulut mungilnya. “Ssst.”

Baru kali ini Siwon merasakan wajahnya memanas, menciptakan rona tipis yang sama sekali tidak disadarinya. “Hyung.” Yesung menolehkan kepala, memandang sang lawan bicara dengan polos dan penuh tanya. “Tadi…” Bola matanya bergerak ke kiri-kanan. Sebenarnya, ia hanya tak sengaja memanggil hyung-nya. “Kau kenal?”

Tampang bodoh yang sang hyung lemparkan mau tak mau menyebabkan Siwon tertawa. “Ani, aku bercanda,” ucapnya sejurus kemudian, meyakinkan Yesung bahwa otak Siwon pasti mengalami gangguan akibat kecelakaan kecil di kamar sebelumnya.

#

Sesampainya di gedung di mana dorm mereka berada, Yesung dan Siwon segera memasuki lift tanpa banyak berbicara. Sebelumnya, Yesung menawarkan diri untuk mengantarkan pulang sang dongsaeng, namun ditolak dengan berbagai alasan. Salah satunya, pemilik tubuh atletis itu berkata ingin tidur di dorm hari ini. Yesung sama sekali tak keberatan—karena walau tak terlalu banyak bicara, ia tetap tak menyukai keheningan.

Ryeowook lagi…

Kenapa dongsaeng kesayangannya itu harus pindah kamar?

Tak lama setelah ia memencet bel, seseorang membuka pintu dari dalam; dengan antusias memanggil namanya, seperti seorang teman lama yang tak bertemu selama beberapa tahun lamanya. “Jongwoonie-hyung!” Yesung hampir saja terjatuh jika ia tak segera menjaga keseimbangan dikarenakan Ryeowook yang melompat dan langsung memeluknya.

Keduanya berpelukan erat, tertawa bersama. Persis seperti adegan novel yang pernah Siwon baca. Kebetulan, di novel tersebut, ada seorang tokoh yang memandangi keduanya dalam diam, terlupakan—sekali lagi, persis seperti dirinya.

Ini sering terjadi, biasa terjadi. Seharusnya ia merasa biasa saja, tetapi mengapa kini ia terpaku dalam diam? Kenapa dadanya terasa sesak untuk kesekian kalinya?

Setelah adegan kecil itu berakhir, Ryeowook yang sempat melupakan keberadaan Siwon mengajak hyung yang umurnya hanya berbeda beberapa bulan darinya itu untuk memasuki dorm; yang anehnya, ditolak halus oleh dengan alasan ingin menjumpai seorang dokter.

“Kau sakit, Hyung? Bagaimana kalau aku mengantarmu?”

Ah. Seharusnya ia tak mengatakan hal itu pada Ryeowook. Ia lupa Ryeowook adalah salah satu member yang paling mencemaskan member lainnya, melebihi cemasnya ia akan diri sendiri.

Siwon memutar otak. Semakin lama terasa semakin sakit—terutama ketika ia melihat tangan Yesung menggenggam erat tangan Ryeowook. Ia harus pergi ke dokter sesegera mungkin. Harus.

“Siwon-ah, kwaenchana? Mau aku dan Wookie mengantarmu?”

Gelengan pelan nan tegas. Ia tersenyum seperti biasa, lalu berjalan menjauh menuju parkiran mobil, meninggalkan dorm dalam diam. Ada yang tidak beres dengan kesehatannya. Tetapi kenapa semua-hal-yang-menurutnya-adalah-gangguan-kesehata n itu hanya muncul di saat dirinya bersama dengan seorang Kim Jongwoon?

Sekarang, Siwon semakin tak mengerti lagi.

Tapi—tunggu. Sepertinya, ia tak asing lagi dengan gejala penyakit yang kini dideritanya. Siwon berusaha mengingat, sepertinya ia tahu gejala penyakit apa… penyakit apa… sepertinya ia pernah membaca gejala-gejala penyakit itu di suatu—

Membaca?

Pasti novel itu lagi! Siwon membatin kesal, tetapi ia benar. Hingga sekarang, Siwon masih ingat dengan jelas isi novel tersebut. Hanya saja, ia sulit untuk percaya. Sulit. Terlalu sulit.

Dan Siwon menghela napas.

Sesak di dada dikarenakan kau cemburu melihat seseorang yang kau cintai bersama dengan orang lain selain dirimu, tersenyum untuk orang lain dan bukan untukmu.

Degupan jantung yang berpacu melebihi batas normal dikarenakan kau gugup atau malah senang akan keberadaan orang yang kau cintai itu.

Siwon memang hanya mengingat dua kalimat yang menurutnya adalah inti novel tersebut, namun dua kalimat itu sudah cukup untuk menjawab semua kegelisahan yang namja itu alami seharian ini. Atau mungkin lebih dari cukup.

Tampaknya, ia tak perlu lagi pergi ke rumah sakit untuk mencari seorang dokter.

#

Hyung, Siwon-hyung sakit apa?”

Yesung menggelengkan kepala. Setahunya, saat makan hingga berada di dalam lift, Siwon masih baik-baik saja. “Aku tidak tahu. Merasa tidak enak badan, mungkin,” jawabnya meski tak yakin. Ia khawatir. Ia cemas. Leeteuk bisa memarahinya karena tak menjaga para dongsaeng dengan baik selagi sang leader berjadwal padat.

Ryeowook mengangguk imut, mengundang Yesung untuk mencubit pipi pemilik julukan eternal maknae itu. “Hhh, Hyung ini ada-ada saja.” Yang lebih muda mengulum senyum sebelum menarik tangan hyung-nya menuju dapur. “Ayo temani aku memasak!”

Skakmat.

Seharusnya Yesung tak melupakan hobi Ryeowook.

#

Siwon kembali mengunjungi dorm pagi ini. Menyadari penghuni dorm lantai 11 masih bergelut di alam mimpi, tanpa ragu ia memasuki kamar Yesung tanpa izin. Sang pemilik kamar masih tertidur, seharusnya. Tapi nyatanya tidak.

“Apa yang kau lakukan, Hyung?” tanya Siwon penasaran. Ketika ia melihat Yesung berhenti menuliskan sesuatu pada bukunya, dengan segera ia mengambil alih buku tersebut dari tangan sang pemuda lebih tua, lalu mendesah pelan.

“Hari ini kau tak ada jadwal?” Yesung balik bertanya. Mendengar pertanyaan Yesung, Siwon menggelengkan kepalanya, namun sedetik kemudian, ia mengangguk cepat—tiba-tiba teringat pesan singkat yang dikirimkan manajernya setengah jam lalu.

“Aku buru-buru, Hyung!” Yang disebutnya sebagai hyung hanya terkekeh pelan. “Oh, hampir saja lupa. Hyung, aku ada rekomendasi untukmu.”

Mendengarnya, sang hyung menatap lawan bicaranya seolah bertanya; “Rekomendasi macam apa?”

“Daripada kau sibuk menulis dan mencoret not-not balok pada bukumu itu, lebih baik kau membaca novel ber-genre romance saja.”

Butuh waktu beberapa detik sebelum Yesung mengerti maksud dari perkataan Siwon. “Untuk apa?”

“Agar kau lebih peka.”

Siwon memamerkan senyum serta lesung pipinya—sebelum akhirnya meninggalkan kamar Yesung beserta sang penghuni yang masih loading dalam diam. Setelahnya, sang lead-vocal hanya dapat bergumam, “Apa maksudnya?”

Kemudian, kembali sibuk dengan not balok yang sejak beberapa jam lalu ditekuninya.

Fin

Credit title: Kim Heechul & Kim Kibum; Can It Be Love? (Rainbow Romance OST)

Note: Ini pertama kalinya saya mem-publish fict tanpa meng-edit terlebih dahulu—karena ini fict RPF yang pertama kali saya buat dan baru di-publish sekarang sehingga meski ingin di-edit rasanya… sama sekali tidak berguna, pasti tetap berantakan. Saya tahu ini sangat hancur-nonsense-menyebalkan-aneh-asdfghjkl.

Selain sebagai penutup projek ulang tahun Yesung, fict ini saya dedikasikan untuk Nierin-unnie yang sudah lama berulang tahun tapi belum saya kasih apa-apa TT mianhae Unnie>< juga untuk Gita-unnie a.k.a Cloudsgratia24 yang request-nya berakhir tidak jelas DX

#HappyYesungDay #HappyBirthdayKingOfSelca #생일축하해요김종운!

22 thoughts on “Can It Be Love?

  1. May I pinch your cheek, shiki? ><
    Seharian ini aku nunggu ada yg update ff yewon, tapi dari tadi di ffn adanya ff kyusung mulu ;;;
    nah ini sekalinya nemu ff yewon malah cliffhanger gini u,u
    well tapi gapapa lah
    meskipun simple, ff ini tetap mempunyai sesuatu/? karena shiki yg bikin lol
    sequel juseyo~ xD

    ah iya, soal 'kecantikan' Yesung itu aku setuju
    mungkin di beberapa pict pose Yesung bikin dia kelihatan cantik banget, bahkan kadang keliatan hampir mirip kayak cewek,
    tapi kalo dilihat secara langsung (di video gitu maksudnya xD) tetep kelihatan jelas kalo dia itu namja
    apalagi kalo udah mulai bersuara kkk~
    Yesung itu lebih cocok dibilang cute daripada cantik
    karena menurutku cantik itu ya yang kayak Heechul, Jaejoong atau Taemin gitu xD
    well, but sometimes I just can't help to say that Yesung is pretty~ lmao

    ok!
    thanks for this awesome fict :*

    1. Unnie… TAT
      Ini nggak cliffhanger kok, memangnya bikin penasaran? XD

      Nah agreed!>< kita memang banyak kesamaan, Unn rofl

      Thanks for reading Unnie! /hugs/

  2. I wanna kill you shiki ¬_¬
    Udah sehari penuh aku nunggu yewon, eh dpt yewon kenapa endingnya kayak gini (۳˚Д˚)۳ hiks..
    Pdahal berharap bgt mereka bs loveydovey di ultah yesung kali ini hiks
    Aku kangen yewon orz!!!! Huwaaaaa shiki~
    Siwon jg kenapa gk langsung sama intinyaaaaaaaa
    Hadoooohhhhh gemes sendiri bacanya *jedokinpalaketembok*
    Okesip aku butuh sequel di fict ini hiks~
    NEXT yaaaa ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ
    Fighting!!!!!!

  3. huaaa cipok sihiki , gomawo baby bener unn kangen ff yewon

    ffnya bagus , daebak chagi , hahhhh. unn tdk pernah anggap yesung cantik lo ho.
    ho

    demi apa say wajib bikin. sequel harus ya * kedip

    1. Cheonma Unnie^^ hihi

      Menurutku Yesung punya sisi cantik tersendiri XD

      Thank you, Unnie~ I’ll try to make the sequel when I have some spare time /hugs

  4. Ini blom slse kn y???
    Ayo chingu lnjutn.,:-(
    siwon’a kn lom ungkpin prasaan’a m yesung.,
    *hppy yesung day* #tlat:-D

  5. itu fin? end? tamat?
    gyaaaaaaaaa ga bsa hrus dilanjut nih ff.

    siwon dah yakin dya suka sma yesung, skarang buat yesung yg sadar prasaanny k’siwon XD

    aku suka sma karakter yesung disni. ga lemah gemulai, cowo bgt malah. tpi tetep jiwa ‘uke’ ny kliatan XD
    #shipper uke!yesung membara XD

    oke, ini harus ad sequelny. ga mau tau 😛

  6. Siwon secara ga langsung menyuruh Yesung untuk lebih peka!!!
    dan aku pingen menasihati Siwon untuk berani mengungkapkan apa yg dia rasa ke Yesung.. hehe xD

    Menurut aku, ketika Yesung sedang diam aja, dia itu terlihat ganteng bngt, penuh misteri. Tapi, waktu Yesung senyum, ketawa, terlihat manis dan imut bngt. Wajah Yesung itu ga pernah bt orang bosen lihatnya. Bener” umur sama wajah Yesung itu ga sesuai..

    Setiap baca crita chingu itu, rasanya gmana gtu. Gaya penulisan chingu bener” bisa bt suatu crita menjadi keren!! ^^

    Kalo bisa sequel donk.. hehe

  7. gemezzz banget ama siwon kenapa gk lansung keintinya ajah sih?
    Yesung itu bukan kyu yg jenius#plakkk
    jadi jangan diajak berteka teki

    sumpah demi apa!aku suka banget karakter yesung disini
    uke spesial uke yg tdk bertingkah layak’y uke
    tp ttp jiwa uke’y suatu waktu emang keluar(?)
    baca ff ne bikin aku ngrbayangin saat yesung tersenyum
    senyum dia emang kadang terlihat spt senyum anak” yah…tdk sesuai ama umur’y,dia selalu terlihat cantik,cute saat tersenyum
    dan akan terlihat tampan dan cool saat diam
    aku banyak cakap y?#plakl

    ok chingu,,,sequel pweeeeeesssseee
    bikin yesung akhir’y sadar klo won cinta dia
    and…bikin yewon bersatu
    ok gitu ajah!

  8. Just read this fic and I want tto strangle you down once again this day -.- yaaaakkk you meanie left me hanging and desperate to know that yewon would end up together or not ;;
    Anyway suka deskripsi tentang kecantikan yesung xD hihi suka senyum kemayu nya dia xD lol next ?? Maybe a suqruel for this lovely fic of yours pls :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s