High School Series: Memories [Chapter 8]

High School Series: Memories

Track 8Confession [Super Junior M]

[—Accept this sincerity. Don’t ignore it, there is no reason to.]

.

.

Sungmin tak mengerti mengapa ia menerima perlakuan Kyuhyun dengan suka rela. Ia juga tak mengerti mengapa sekarang detak jantungnya seolah-olah menggila—Sungmin bahkan merasa pipinya memanas dan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Semuanya terjadi begitu mendadak dan tanpa dapat diduga.

“Aku mencintaimu, Sungmin-hyung.”

Mata foxy-nya membulat terkejut ketika mendengar kalimat pengakuan dari pemuda di hadapannya. Sungmin spontan melangkah mundur, namun ia mendapati Kyuhyun menahannya dengan cara memegang pergelangan tangan kanannya. Seolah segalanya belum cukup membingungkan, ia dapat melihat sepasang mata onyx Kyuhyun berkaca-kaca.

Ia tahu apa yang Kyuhyun rasakan; memendam perasaan, kemudian menyatakannya karena tak kuat menahan segala rasa sakit yang ada. Namun sekarang Sungmin juga tahu apa yang Yesung rasakan; menganggap orang terdekatmu menyayangi dirimu seperti kau menyayanginya, tapi dihadapkan kenyataan bahwa orang terdekatmu ternyata menyayangimu lebih dari seharusnya.

Sungmin bohong jika berkata ia tak terkejut dengan pernyataan mendadak Kyuhyun—masalah yang ia hadapi sudah cukup banyak, karena itulah ia tak bisa menunjukkan rasa kagetnya semaksimal yang seharusnya ia lakukan.

Tubuhnya ditarik oleh si namja lebih muda masuk ke dalam kamar. Kyuhyun menutup pintu, lalu menyandarkan dan menyudutkan Sungmin di sana. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan dan lakukan sekarang. Setelah ini, Sungmin mungkin akan menjauhinya. Mungkin Sungmin takkan mau berbicara lagi dengannya. Karena itu, semuanya akan ia selesaikan saat ini juga.

Tapi bagaimana?

“K-Kyuhyun?”

Tak ada yang keduanya lakukan selain saling bertukar pandang. Sungmin dapat melihat kilat luka di sepasang mata yang dicintainya. Ia ikut merasakan sakit yang Kyuhyun rasakan selama pemuda Cho itu mencintainya, dan seketika ia merasa menjadi orang yang jahat.

Sungmin tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi Kyuhyun. Kyuhyun mencintainya, tapi ia selalu menceritakan orang lain dan berkeluh kesah tentang perasaannya di hadapan Kyuhyun—seseorang yang notabene mencintainya dalam diam, entah berapa lama.

“Maafkan aku,” bisik Sungmin seraya menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya. “Maaf karena aku tak menyadari perasaanmu. Maaf karena aku selalu menyakitimu,” sambungnya dengan nada penuh rasa bersalah.

Kyuhyun terdiam kaku. Ia tak menyangka respon seperti ini yang akan ia dapatkan. Kyuhyun bahkan sempat membayangkan Sungmin akan langsung pergi meninggalkannya, tapi ternyata tidak. “Kau ti-tidak marah padaku, Hyung?”

Pelukan singkat itu Sungmin lepaskan. Ia tersenyum kecil, menatap sendu wajah Kyuhyun yang kini menatapnya dalam. “Tentu saja tidak. Kenapa aku harus marah padamu?” Tangannya menyentuh wajah yang lebih muda, lalu dapat merasakan tangannya digenggam oleh yang bersangkutan.

Sungmin memejamkan mata. Siwon bilang, ia harus membuka hatinya untuk orang lain hingga segalanya akan mengalir tanpa ia sadari. Sekarang Kyuhyun menawarkan hal itu padanya, dan Sungmin yakin, Kyuhyun takkan tega menyakitinya. Lagipula Kyuhyun telah menahan rasa sakit akibat dirinya entah berapa lama. Sungmin tahu perasaan bukanlah sesuatu untuk dicoba, tapi berusaha mencintai seseorang yang mencintaimu takkan pernah menjadi sebuah kesalahan.

Mungkin ia belum bisa melupakan perasaannya pada Yesung sekarang. Mungkin melupakannya bukan pula hal yang mudah. Tapi semua yang harus Sungmin lakukan hanyalah tak melihat Yesung dalam jangka waktu yang lama, dan membiarkan Kyuhyun mengisi hari-harinya.

Semuanya akan berjalan lancar. Semuanya akan baik-baik saja.

“Beri aku waktu, Kyu.” Sungmin berjinjit untuk menipiskan jarak di antara dirinya dan Kyuhyun, lalu memberikan sebuah kecupan singkat yang menyebabkan Kyuhyun terperangah. “Aku akan belajar untuk mencintaimu seperti kau mencintaiku.”

#

Seminggu telah berlalu, namun tak segalanya kembali seperti semula.

Tak ada lagi namja manis yang sering mengunjungi ruang konseling, tak ada lagi gadis bersuara indah menyanyi di ruang musik, dan tak ada lagi guru tampan yang sering mengganggui teman seprofesinya seolah tak memiliki pekerjaan.

Yesung mendengarkan lagu yang senantiasa menemaninya melalui ear-phone, merasa bosan dan kesepian. Taeyeon telah menerima tawaran CEO bernama Lee Sooman hingga kini lebih sibuk dari biasanya. Siwon seolah menjaga jarak, sedangkan ia belum bertemu dengan Sungmin sejak insiden pernyataan beberapa waktu lalu.

Satu-satunya orang yang mengunjunginya beberapa kali adalah Kyuhyun—walau hanya untuk berkeluh kesah dan meminta pendapat, setidaknya ia mempunyai seorang teman untuk mengusir rasa jenuh yang melanda.

Oppa, aku masuk!”

Pemilik nama lengkap Kim Jongwoon itu tersentak mendapati Sunny tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya. Yesung melepaskan ear-phone yang ia gunakan, mengerjap bingung melihat adik tiri dari adik sedarahnya kini duduk dengan manis di hadapannya.

Mereka semua saling mengenal dan memiliki hubungan yang baik. Namun belakangan ini, ia memang jarang bertemu dengan Sunny karena jadwal padat masing-masing. Yesung yakin Taeyeon dan Sunny masih sering berkomunikasi; ia sering mendengar dongsaeng-nya menyebut nama Sunny sesekali. Tapi sekarang, apa yang menyebabkan Sunny datang ke ruangannya?

“Kau tidak bertengkar dengan temanmu, ‘kan, Soonkyu-ya?” terka Yesung curiga. Sunny menggelengkan kepalanya tegas, lalu menghela napas seolah hidupnya sangatlah berat.

“Apa yang terjadi di antara Oppa dan Sungmin-oppa? Kalian semua aneh belakangan ini,” ujar yeoja mungil itu to the point. “Sungmin-oppa tak pernah membicarakanmu selama seminggu. Siwon-oppa lebih sering menghampiriku dan Taeyeon daripada menghampirimu. Sebenarnya ada apa? Kalian menyebalkan!”

Yesung tertawa kecil menanggapi ledakan Lee Soonkyu. Sama seperti Sungmin, Sunny terlihat dua kali lipat lebih menggemaskan ketika kesal atau marah. “Tunggu, Soonkyu-ya. Seharusnya kau bertanya pada Sungmin, bukan padaku,” balasnya tenang. Ia memilih untuk tak membahas apapun dengan siapa pun sekarang.

“Jika dia mau bercerita, aku takkan bertanya padamu, Jongwoon-oppa,” tandas Sunny final. Ia menyilangkan tangannya di depan dada, sedangkan punggungnya bersandar pada kursi yang didudukinya. “Kenapa kalian semua tertutup sekali…”

Si pemuda Kim tersenyum kecil, lalu berkata, “Jika dia tak mau bercerita, kenapa kau harus mencari tahu? Aku yakin Sungmin akan bercerita jika saatnya sudah tiba.” Yesung menatap Sunny yang cemberut, sedikit-banyak merasa bersalah. “Yang harus kau lakukan hanya terus berada di sisinya, katakan pada Sungmin bahwa kau mempercayainya dan akan ada kapan pun jika suatu saat ia membutuhkan seseorang.”

Sunny menunduk, membiarkan rambut pendeknya menutupi matanya. Ia memotong rambutnya dikarenakan Sungmin sering disebut sebagai kembaran perempuannya—menurutnya, jika rambutnya pendek, orang-orang akan mengatakan bahwa ia adalah kembaran lelaki Sungmin; baginya, lebih baik ia dikatakan mirip namja daripada Sungmin dikatakan mirip yeoja.

“Baiklah, Oppa. Aku mengerti,” gumamnya pasrah. Sunny hanya ingin berguna bagi Sungmin, sungguh. Ia hanya ingin membantu kakaknya, menyemangati kakaknya, melakukan apapun agar Sungmin senang dan tersenyum ceria. Namun jika ia harus menunggu terlebih dahulu sebelumnya, maka ia akan menunggu dengan sabar.

#

Siwon berbaring di atas tempat tidurnya—dan Yesung—dalam diam. Sudah seminggu ia menjaga jarak dengan Yesung, berbincang seperlunya, menahan diri untuk tidak mengunjungi ruangannya di sekolah, langsung tidur sesampainya di kamar, dan semua itu membuatnya hampir gila.

Yesung sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia merasa kehilangan akibat perilakunya—dan hal itu semakin meyakinkan dirinya bahwa Yesung… mungkin memang tidak pernah mengharapkan keberadaannya. Siwon semakin pesimis sekarang. Seminggu yang lalu ia yakin Yesung hanya enggan mengakui perasaannya, sedangkan kini ia mulai yakin bahwa Yesung benar-benar tak memiliki perasaan apapun pada dirinya.

Pintu kamar mereka terbuka setelahnya. Siwon dapat melihat Yesung masuk dan terkejut mendapati keberadaan dirinya. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Yesung memilih untuk meletakkan tasnya di sofa dan duduk di sana, menghidupkan televisi untuk menghapus kesunyian yang ada.

Ia dapat merasakan sepasang lengan melingkar di lehernya beberapa detik kemudian. Yesung tak perlu menolehkan kepala untuk melihat siapa yang melakukannya, karena hanya ada satu orang di sini sekarang. Sepasang matanya masih fokus menatap layar televisi, memilih tak merespon dengan gerakan atau ucapan.

Lagipula, ia cukup merindukan keberadaan Siwon di dekatnya.

“Apa yang membuatmu kembali jam segini?” tanya yang lebih muda memulai pembicaraan. Siwon menyandarkan dagunya di atas kepala Yesung, ikut melihat acara yang kini tengah televisi tayangkan. “Atau jangan-jangan kau merindukanku?” tanyanya sekedar bermaksud menggoda.

Yesung mencoba berpikir keras dalam waktu sesingkat mungkin. Sepertinya lebih jujur dengan diri sendiri harus lebih sering ia lakukan demi dirinya dan orang lain. “Sepertinya begitu,” jawabnya pelan. Ia dapat merasakan Siwon melepaskan pelukannya, lalu tiba-tiba muncul di depannya.

“Kau bilang apa, Hyung?”

Si pemilik marga Kim menghela napas, mendongak untuk memandang wajah Siwon yang berdiri tegak. “Aku bilang, ya. Aku merindukanmu, Bodoh.” Yesung mengerlingkan mata, here it goes again. Jantungnya seolah ingin melompat keluar detik ini juga.

Siwon menyeringai senang. Ia mendudukkan diri di sebelah Yesung, lalu memandangi wajah si teman sekamar dengan lekat. “Usahaku seminggu ini tidak sia-sia ternyata,” ujarnya seraya meraih wajah Yesung dan membuat sang hyung balas menatapnya.

Hanya suara televisi yang terdengar kemudian. Siwon meraih tengkuk Yesung, menarik namja itu agar dapat menghapus jarak di antara mereka. Tak ada penolakan—tentu saja, Siwon tahu Yesung takkan pernah menolaknya, karena itu ia yakin dengan semua tindakan yang ia lakukan.

Tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, ia menempelkan dahinya pada dahi Yesung dengan sekali gerakan. “Nah, Hyung. Kau sudah berani mengakui bahwa kau merindukanku. Kapan kau akan mengakui bahwa kau mencintaiku?”

Yesung memajukan bibirnya dengan maksud cemberut menanggapi pertanyaan Siwon—tapi apa yang terjadi berbanding terbalik dengan apa yang ia maksud. Bibirnya menyentuh bibir Siwon yang berjarak kurang dari dua senti di hadapannya. Spontan ia memundurkan tubuhnya dan menjauh, memandang sang dongsaeng dengan mata membulat sempurna.

Yang lebih muda menyentuh bibirnya menggunakan tangannya sendiri, kemudian menatap Yesung dengan pandangan menuduh. “Kau bahkan berani mencuri ciumanku sekarang, Hyung,” ucapnya membuat Yesung merona.

“A-aku tidak sengaja!” Si guru konseling menunduk, berusaha menyembunyikan rona di wajahnya. Ia sering berciuman dengan Siwon, namun tak pernah sekali pun ia memulainya. Yesung sedikit tersentak ketika mendapati Siwon mendekat dan kembali meraih tengkuknya, membawa dirinya ke dalam ciuman panjang yang terasa berbeda dari biasa.

Orang-orang berbohong ketika berkata ciuman memiliki rasa manis yang memabukkan. Mungkin memang memabukkan dan menjadi candu tersendiri, tapi ciuman sama sekali tak memiliki rasa. Basah dan hangat. Kau dapat mengetahui ketulusan seseorang dari sana. Dan Yesung merasakannya.

Perasaan Siwon terasa sangat tulus dan membuatnya berdebar karenanya. Yesung bahkan tak berani membuka mata. Ciuman Siwon kali ini begitu berbeda, begitu menenangkan dan membuatnya panas di saat yang bersamaan. Yesung belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya. Atau mungkin ini semua efek komunikasi mereka yang kurang selama seminggu belakangan?

Ketika ciuman itu terlepas, Siwon dapat melihat wajah Yesung yang merah padam. Namja manis itu tengah berusaha mengatur napasnya dengan susah payah. Entah mengapa ia merasa tubuhnya panas melihat Yesung sekarang. Ia menginginkan lebih, ia menginginkan Yesung-nya sekarang juga.

Hyung,” Siwon menyentuh kancing teratas kemeja yang Yesung kenakan. Persetan dengan tatapan bingung yang bersangkutan. Ia melepaskan kancing pertama, kembali menipiskan jarak di antara mereka. “Setelah ini, tolong jangan marah padaku, ne?”

#

Sunny masuk ke dalam kamar Sungmin yang tak berpenghuni. Kakaknya tak berada di sana sedangkan jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Ia mulai berpikir di mana Sungmin mungkin berada, lalu memutuskan untuk menghampiri Kyuhyun yang sering terlelap di kamar sang kakak.

Dan seperti dugannya, Sungmin berada di kamar Kyuhyun. Masih sama berantakannya seperti seharusnya. Kyuhyun yang tahu kebiasaan Sunny membiarkan yeoja mungil itu masuk, sedangkan ia memilih untuk pergi keluar dan mencari camilan.

Oppa! Kenapa kau tidur di sini?”

Sungmin mengerjap malas, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia butuh lebih banyak istirahat—Kyuhyun mengajarinya bermain game semalaman tadi malam. “Sudah seminggu aku tidur di sini, Soonkyu-ya.”

Si Lee muda duduk di tepi ranjang, memandangi penjuru kamar Kyuhyun karena ini pertama kalinya ia masuk ke dalam sana. “Oppa, kwaenchana?” Ia membelai surai blonde Sungmin lembut, tahu bahwa sang kakak telah sadar sepenuhnya. “Aku tidak akan memaksa Oppa untuk bercerita, tapi aku akan terus berada di sisi Oppa kapan pun Oppa membutuhkanku.”

Sang kakak bangkit perlahan, tersenyum dengan manis seperti yang seharusnya sering ia lakukan. “Jeongmal,” gerutunya seraya menghela napas. “Soonkyu-ya, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit… patah hati.”

Burung-burung terdengar berkicau di luar jendela, menemani suasana hening yang sesaat melanda. “Aku mencintai orang yang tak seharusnya kucintai, hingga tak menyadari bahwa orang di dekatku ternyata mencintaiku.” Sungmin memberi jeda, agak meringis sebelum melanjutkan, “Di sisi lain, orang lain yang juga dekat denganku ternyata mencintai orang yang sama denganku. Rumit, ya?”

Diam adalah pilihan yang Sunny lakukan. Ia belum pernah jatuh cinta—Sunny tak tahu bagaimana rasanya, atau bagaimana sakitnya, bagaimana bahagianya. Tapi Sunny benci melihat Sungmin rapuh dikarenakan cinta. Memangnya perasaan itu sehebat apa hingga dapat membuat kakaknya seperti itu?

Sungmin melirik jendela yang terbuka. Gorden putih yang berada di sana bergerak akibat ulah angin yang berhembus pelan. Ia tersenyum mengingat saat-saat ia berada di sisi Kyuhyun. Segalanya terasa begitu nyaman dan benar. Kyuhyun selalu menerima dirinya apa adanya, juga selalu berada di sisinya kapan pun dan di mana pun juga.

Kyuhyun tak pernah marah dan selalu menasihatinya juga tersenyum manis di sampingnya. Namja Cho itu selalu berhasil membuatnya nyaman dan merasa aman. Kyuhyun juga selalu memancarkan aura hangat yang menenangkan. Dan semuanya lebih dari sekedar cukup.

Lalu Sungmin sadar, bahwa semua itu adalah cinta.

Sedangkan Yesung… kakaknya itu juga selalu membuatnya nyaman dan aman, juga tenang dan hangat. Tapi semua itu mutlak akibat rasa sayang, sesuatu yang seorang kakak harus miliki agar dapat melindungi adiknya.

Dan semua itu bahkan belum cukup bagi Sungmin.

“Soonkyu-ya, mianhae,” bisik sang oppa dengan senyum bersalah. “Setelah ini… mungkin aku takkan bisa terus berada di sisimu. Mungkin kita harus berpisah selama beberapa saat,” lanjutnya sebelum menarik Sunny ke dalam sebuah pelukan hangat.

“Ke-kenapa?” Sunny merasa air matanya akan menetes mendengar penuturan kakaknya. Ia belum siap kehilangan Sungmin, dan lagipula, apa yang akan Sungmin lakukan? Kenapa Sungmin memilih untuk meninggalkannya sendirian?

“Aku akan pindah ke Jepang dan melanjutkan sekolah di sana. Kumohon mengertilah. Aku harus melakukannya untuk mengobati rasa sakit di sini.” Sungmin menyentuh dadanya, meremas pakaiannya kuat. “Ini bukan perpisahan, Soonkyu-ya. Aku akan kembali setelah menjadi kakak yang lebih baik untukmu.”

Kemudian, tangis Sunny pecah seketika.

ToBeContinue

 2 chapters left! I’ll publish my new multi-chapter fanfiction next month, please anticipate it lol^^

9 thoughts on “High School Series: Memories [Chapter 8]

  1. Yeay dh fin.,
    v sbnr’a kurang puas..
    kan yesung m siwon’a blom jlas ky gmna???
    #galau
    .
    v ggp dh, smangat chingu.,
    q akn sllu mnanti ff u, t’utama wonyekyu main., he.e.e

  2. udah fin??
    Aku suka ending’y
    sungmin yg akhir’y mau ‘melepas’ perasaan dia biay yesung dan mencoba utk membuka hatinya buat kyu

    tpi hub yewon masih blom jelas
    susah banget bikin yesung mau mengakui klo dia juga punya rasa yang sama buat won
    haha itu dasar kuda pervent berawal dr ‘ciuman’ tdk sengaja ye dia malah lebih berani mau ngerape ye,tp kenapa di skip?

    Ok ditunggu fanfic berikut’y chingu hwaiting!!!
    Bulan depan berarti besok kan?
    Hehe

    1. Tersisa dua chapter lagi, Rinny-ssi… Mianhae saya seharusnya menulis ‘tbc’ bukan ‘fin’ TAT

      Mungkin chapter selanjutnya bisa menjawab beberapa rasa penasaran anda><

      Dan ya, seharusnya saya publish chapter satu multi-chap baru hari ini^^

  3. YeWon bs dbilang sudah beres??

    Sungmin mau pindah ke Jepang??? meninggalkan Kyu???

    huhuhu.. udah ga sabar bt 2 chap terakhir.. =_=

  4. Waah akhirnya smua hampir kmbali pd tmpatnya ya,,,sneng yesung dn sungmin mulai memahami prasaan sndiri,,,,,
    suka ma pilihan katanya dn alurnya terasa pas,,,,,,
    lnjjjuuuttt

  5. Akhirnya sungmin dh mulai bs ngelepasin yesung ‘n mulai bljr utk cinta sm kyu. Tp ini yewonnya kok blm jls jdnya. Susah amat yah buat yesung nyatain cintanya ke siwon pdhl mrk hubnya dh lbh dr tmn mlhan siwon dh berani ngegrape2 lbh dr biasanya tuh. Knp diptg sih pas bagian itu pdhl kan pst seru tuh. Hahahaa..
    Yeeesss ditunggu chap selnjtnya

    1. Karena Yesung memang sangat labil lol
      Saya tidak terlalu berbakat dalam bidang scene mature XD
      Sepertinya chapter depan akan memakan waktu satu bulan lebih, mianhae ;;;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s