Fallen Leaves [Chapter 3]

Kyu-Sung 2

Fallen Leaves

@claudiangel_’s Request: A KyuSung multi-chapter fanfiction

Chapter 3Suppose

[—And tonight I’m dreaming of all the things that we’ve been through.]

.

.

Kenangan yang takkan pernah Yesung lupakan adalah kejadian tiga tahun lalu—sebuah kejadian yang menyebabkan dirinya dan Kyuhyun terpaksa bergantung pada satu sama lain, merasa saling memiliki, dan beranggapan hidup karena salah seorang lainnya jugalah hidup.

Sampai beberapa bulan terakhir, sebenarnya ia masih mempercayai teori itu.

Yesung membuka kedua matanya perlahan, mendapati dirinya berada dalam rengkuhan hangat Kyuhyun di atas tempat tidur. Tubuhnya terbalut baju handuk yang mungkin Kyuhyun pakaikan padanya semalam, sedangkan keadaan kamar yang sebelumnya berantakan masih tetaplah sama.

Menolehkan kepala, ia dapat menemukan seseorang yang kini merengkuhnya seolah takut kehilangan meski hanya sedetik saja—masih terlelap. Yesung menolak untuk melakukan gerakan kecil apapun, takut mengganggu Kyuhyun yang terlihat nyaman dan menyenangkan untuk dipandang.

Seperti yang Kyuhyun sempat katakan sebelum ia terbuai oleh alam mimpi, tak ada larangan apapun mengenai ilegalnya dua orang tak memiliki hubungan untuk tinggal bersama. Mungkin ada beberapa orang lain dengan kondisi seperti mereka, dan tak ada pihak yang mempermasalahkan. Namun Yesung tak bisa bertingkah seolah tinggal bersama seseorang tanpa hubungan pasti adalah hal yang tepat.

Tak ada yang dapat Kyuhyun lakukan tanpa dirinya—kenapa? Kenapa seperti itu? Manusia hidup dengan oksigen, makanan, tempat tinggal, dan sejenisnya. Kyuhyun memiliki segala hal yang manusia normal butuhkan untuk tetap hidup, dan meski dirinya tak ada, masih ada orang lain yang akan membantunya melanjutkan kehidupan; meski entah siapa.

Seperti fakta bahwa jika Isaac Newton tak menyadari adanya gravitasi, suatu hari orang lain akan menyadarinya.

Lalu Yesung melemparkan pertanyaan itu kembali pada dirinya: kenapa ia selalu yakin bahwa dirinya takkan sanggup melanjutkan kehidupan tanpa Kyuhyun di sisinya? Kenapa ia selalu yakin bahwa ia membutuhkan Kyuhyun di saat ia selalu melakukan segala kegiatan seorang diri?

Apakah segalanya terbentuk dikarenakan sebuah kebiasaan? Jika alasannya sekedar kebiasaan, Yesung yakin ia dapat bertahan tanpa Siwon yang sejak kecil menemaninya—namun mengapa hal sama tak berlaku terhadap Kyuhyun? Apa yang membuat Kyuhyun begitu istimewa di matanya?

… Apa yang membuat dirinya begitu istimewa di mata Kyuhyun?

Cinta. Kyuhyun sempat mengatakannya. Tapi Yesung percaya bahwa selain cinta untuk saudara, tak ada kata cinta di antara dua orang lelaki normal. Dan ia adalah seorang lelaki normal, begitu pula dengan Kyuhyun. Sebagai tambahan, mereka bukan saudara.

Mengapa cinta? Kekasih? Yesung tahu Kyuhyun tak serius dengan ucapannya semalam—meski ada pecahan kecil hatinya yang berharap bahwa apa yang ia dengar adalah fakta—atau jika Kyuhyun serius, segalanya hanyalah akibat sebuah beban pikiran mengenai status mereka.

Kemudian, kembali pada pertanyaan awal: apa yang menyebabkan dirinya beranggapan bahwa ia takkan bisa hidup tanpa Kyuhyun, begitu pula sebaliknya?

Yesung kembali memejamkan mata, memilih untuk melupakan meski hanya sejenak. Namun tak ada yang mengizinkan dirinya untuk merasakan sebuah kedamaian—alam mimpi menjemputnya, menceritakan sebuah kejadian pahit yang menyesakkan…

—Dan kejadian tersebut adalah kejadian nyata yang merupakan bagian dari masa lalunya.

#

Desember, 3 Tahun Lalu.

Tepat sebulan sebelum acara pernikahan akan diadakan, Kyuhyun merengek pada ayahnya untuk pergi berlibur ke mana saja; tak perlu jauh, dengan catatan tanpa pesawat (karena menurutnya saat pesawat lepas landas dan mendarat sangatlah menyeramkan), hanya menggunakan mobil, tak didesak oleh waktu, serta mengajak calon ibu dan kakaknya, Yesung.

Tak ambil pusing dengan penolakan sang ayah yang memilih untuk menggunakan transportasi udara, Kyuhyun menyetujui. Mereka berangkat ke Jepang seminggu kemudian dengan pesawat, menyewa sebuah mobil dan menghabiskan waktu dengan semangat seolah hari esok takkan datang.

Kyuhyun tak ingat kapan terakhir kali ayahnya meluangkan waktu untuk mengajaknya berlibur—mungkin ia tak pernah merasakan liburan bersama keluarga sejak sang ayah lebih mementingkan perusahaan. Jadi kali ini, ia mencoba untuk menikmati segala hal yang ia lakukan dengan senyuman, memilih tak peduli ketika calon kakaknya mengatai dirinya kekanak-kanakan di umur yang telah menginjak kelas dua sekolah menengah ke atas.

Negara Jepang di musim dingin sebenarnya tak terlalu menyenangkan. Kyuhyun mengeratkan jaket tebalnya, tak merasa cukup dan berakhir menempel pada Yesung yang terus-menerus menyerukan protes. Kedua orang tua mereka selalu tertawa menanggapinya, bersyukur karena hubungan dua anak mereka sehangat hubungan keduanya.

Penginapan yang ayahnya pilih memiliki sebuah tempat untuk bermain ski yang dapat ditempuh dengan jalan kaki. Kyuhyun menantang Yesung yang memilih menghangatkan diri di depan api unggun, lalu melemparkan senggenggam salju yang ia kumpulkan akibat merasa kesal diabaikan.

YA, CHO KYUHYUN!”

Tak ada permainan ski bagi mereka di musim itu karena setelahnya, perang salju terjadi tanpa terelakkan. Kyuhyun merebahkan tubuhnya di atas salju—punggungnya seolah mati rasa, berkata, “Hyung-ah, aku menyerah.”

Yesung tertawa senang, berakhir melakukan hal yang sama di sebelah Kyuhyun. Keduanya tak mengacuhkan wajah yang semakin merah dan uap yang keluar dari tiap helaan napas. Meski berlibur di musim yang tak tepat, saat itu Kyuhyun sama sekali tak menyesal.

“Kita pasti akan terus bahagia setelah ini, ‘kan, Hyung?” tanya sang adik dengan senyuman. Ia bangkit, sekedar untuk menatap wajah Yesung yang seolah tak tertarik. Ada setitik rasa takut menyusup ke dalam hatinya; rasa takut akan kehilangan.

Yesung mengerlingkan mata. “Tentu saja. Apa yang bisa terjadi?”

Setelahnya, mereka kembali ke penginapan dan dihidangkan semangkuk besar oden. Sang ayah dengan lembut mengacak rambut Kyuhyun setelah anaknya duduk tepat di sampingnya, menampilkan raut wajah paling bahagia yang pernah Kyuhyun lihat setelah ibu kandungnya meninggal dunia.

“Setelah Appa menikah nanti, Nyonya Kim benar-benar akan menjadi ibumu. Meski telah berulang kali menanyakannya, kau benar-benar tak keberatan, bukan, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun mengangguk tegas, menatap calon ibu dan kakaknya yang tersenyum ramah. “Tentu saja. Akan sangat menyenangkan jika aku bisa mengganggui Yesung-hyung setiap hari,” candanya mengundang tawa ayah dan calon ibunya.

Sebuah mimpi buruk yang ia khawatirkan datang dua jam setelah percakapan hangat itu. Mereka pergi ke kota untuk mencari hiburan, tak peduli prediksi badai salju yang akan datang. Untuk mencapai pusat kota, mereka harus melewati jalanan sepi yang tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan akibat dinginnya udara.

Ayah Kyuhyun mengemudi, sedangkan Ibu Yesung duduk di kursi depan menemani. Kyuhyun dan Yesung yang kelelahan terlelap di bangku belakang, saling bersandar satu sama lain. Tak ada yang tahu apa yang terjadi, hingga akhirnya mereka terbangun akibat suara decit ban mobil yang dierem secara tiba-tiba—belum sempat benar-benar tersadar, terdengar pekikan dari satu-satunya wanita di sana, lalu mobil yang mereka kendarai jatuh menuruni bukit dan berputar-putar hingga berhenti setelah menabrak sebuah pohon besar.

Segalanya terjadi begitu cepat. Yesung hanya dapat merasakan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Pelipisnya mengeluarkan banyak darah, tulangnya sudah pasti patah di beberapa tempat. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa keluarganya baru saja mengalami kecelakaan.

Sadar bahwa hanya dirinya yang terlempar keluar dari mobil, ia bangkit dan bermaksud berlari menuju mobil namun berakhir terjatuh akibat nyeri luar biasa di kakinya. Meski harus berjalan tertatih, Yesung menghampiri mobil yang terbalik, mencari keberadaan keluarganya.

Calon ayahnya tak sadarkan diri, begitu pula ibunya. Ia dapat mendengar rintihan Kyuhyun, menyebabkan dirinya spontan berseru, “Bertahanlah, aku akan membantumu!”

Yesung mencari benda apapun untuk membantunya mengeluarkan Kyuhyun. Tak peduli kaki kirinya yang patah, atau darah yang mulai menghalangi penglihatan mata kanannya. Setelah berhasil memecahkan kaca mobil menggunakan sebuah kayu, ia mengeluarkan Kyuhyun dengan susah payah.

Keadaan Kyuhyun tak kalah parah dibandingkan dengan dirinya. Yesung tahu Kyuhyun bahkan tak dapat bangkit untuk menjauh dan melangkah. Air mata mengalir pula di kedua mata seseorang yang seharusnya akan segera menjadi adiknya. Ia membantu Kyuhyun untuk berbaring di pangkuannya, sedangkan dirinya bersandar pada batang pohon dengan penglihatan yang semakin memburam.

Badai salju yang telah diperkirakan datang dan memperburuk keadaan. Kyuhyun menggigil, tak dapat bergerak karena rasa sakit tak tertahankan. Yesung bergeming, menghapus tetesan air mata Kyuhyun menggunakan tangannya, ingin berteriak meminta pertolongan tapi tenggorokannya terasa begitu mencekat.

“H-Hyung…” gumam Kyuhyun seraya meraih tangan dingin Yesung. “… Setelah ini, apa kita masih akan terus… bahagia?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar. Yesung menarik napas susah payah, menitikkan air mata yang tak lagi dapat ditahan.

Sebuah senyuman tak terduga Kyuhyun sunggingkan. “Mianhae… jika aku… tidak memaksa Appa untuk berlibur…”

Tak ada kalimat lanjutan. Yesung mendapati Kyuhyun tak sadarkan diri. Air matanya seolah beku dan tak dapat keluar lebih banyak. Dinginnya udara menyebabkan dirinya sesak—kepalanya sakit, seluruh tubuhnya berdenyut tak menyenangkan. Tak ada kemungkinan terburuk; ini adalah yang terburuk. Yesung hanya berharap orang tua mereka selamat, karena ia yakin masih dapat merasakan denyut nadi di tangan Kyuhyun.

Kemudian kegelapan menyambutnya.

.

.

Pertama kali kedua matanya terbuka, Yesung mengerjap dan berusaha agar pandangannya terfokus dengan sempurna. Aroma khas rumah sakit dapat tercium melalui indra penciumannya, lalu teringat akan keluarganya, ia bangkit namun tak berhasil karena seorang dokter lebih dulu menahan tubuhnya.

“Tenanglah, kau baru menjalani operasi akibat luka yang kau alami,” nasihat sang dokter tenang. Yesung membuka mulutnya, kemudian menyadari bahwa ia terlalu lemas untuk sekedar bersuara.

“Saudaramu masih berada di dalam ruang operasi, luka yang ia dapat sedikit lebih parah dibandingkan dirimu,” jelas dokter itu. Debaran jantung Yesung menggila, tak mungkin rasa takut dan khawatir tak menghampirinya.

“Aku turut berduka…” Kedua matanya terbelalak ketika pria berpakaian serba putih itu melanjutkan, “Kedua orang tuamu tak dapat diselamatkan, maafkan aku.”

Kamar pasien yang ia huni terasa begitu mencekam di saat dirinya ditinggalkan seorang diri di sana. Yesung membiarkan air matanya mengalir deras, mengabaikan rasa sakit akibat gerakan yang ia lakukan ketika terisak hebat. Baru saja ia berjanji pada Kyuhyun segalanya akan baik-baik saja, baru saja ia melihat senyum indah sang ibu setelah sekian lama, sekarang segalanya lenyap tanpa sisa.

.

.

“Ini salahku, Hyung.” Kyuhyun menatap kosong makam ayahnya dan Ibu Yesung. Mereka telah kembali ke Korea—dan tidak ada hari di mana Kyuhyun tak menyalahkan dirinya setelah ia sadar dari koma. Yesung berjongkok, menaruh karangan bunga di makam ibunya yang berada tepat di samping makam calon ayahnya.

“Bukan salahmu, Kyuhyun-ah,” bantah Yesung tegas. “Kau hanya ingin bahagia, kita semua pasti ingin bahagia. Hanya saja kali ini takdir tak memihak kita,” lanjutnya lemah. Ia menepuk pundak Kyuhyun, mendapatkan perhatian penuh sang pemilik onyx yang kini auranya tak lagi secerah beberapa hari sebelumnya.

Kyuhyun membiarkan Yesung membenarkan posisi jaketnya, terus memandang tanpa mengedipkan mata. “Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Aku tak memiliki siapa pun lagi, bagaimana denganmu, Hyung?”

Senyum dipaksakan Yesung perlihatkan tanpa sadar. “Selain keluarga seorang teman kecilku, aku juga tak memiliki siapa pun lagi,” ucapnya sendu. Kyuhyun menyentuh wajah Yesung yang terkejut akibat ulahnya, membiarkan kehangatan menjalar dari ujung jari tangannya.

“Ayo tinggal bersama. Meski kini kita tak memiliki hubungan apapun, aku membutuhkanmu. Kau pun membutuhkanku, bukan, Yesung-ah?” Kyuhyun menarik Yesung ke dalam pelukannya, saling berbagi kehangatan di musim yang sangat membekukan. “Aku akan melindungimu dan takkan membiarkan hal yang sama terulang.”

Bagai tersihir, Yesung menganggukkan kepala tanpa berpikir panjang. Sejak saat itu, Kyuhyun yang jahil, childish, dan manja tak pernah terlihat. Hanya ada Cho Kyuhyun yang serius, posesif, tak bersahabat, hingga akhirnya menjadi Kyuhyun yang sekarang.

Tak ada sebutan ‘hyung‘ pula.

#

Ada saat di mana Yesung ingin melihat Kyuhyun di saat ia tersadar dari tidurnya, namun Kyuhyun selalu menginginkan Yesung sebagai objek pertama yang ia lihat ketika ia baru saja terjaga.

Yesung masih di sana, tidur meringkuk dalam pelukannya—tak pergi ke mana pun, sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tangannya bergerak membelai helai hitam sang Kim, begitu lembut dan penuh kasih sayang.

Seluruh saudaranya berpencar di berbagai belahan dunia dan tak tersisa satu pun di Korea. Tak ada pula yang Kyuhyun kenal dengan baik hingga membuatnya yakin ia tak lagi memiliki siapa pun di dunia.

Kecuali Yesung.

Bagai matahari yang selalu menerangi Bumi, Yesung tanpa lelah menghadapi dirinya yang berubah drastis akibat kecelakaan yang menimpa mereka. Kyuhyun yakin ia takkan salah jika bergantung pada Yesung—satu-satunya orang yang tak berpaling meski dirinya bukan lagi Kyuhyun yang menyenangkan.

Ia membutuhkan Yesung untuk menjalani hari-harinya, sebagai penyemangat bahwa masih ada orang yang mengharapkan keberadaannya. Namun hari berlalu, dan segalanya berubah secara perlahan; termasuk apa yang ia rasa terhadap Kim Jongwoon.

Saat itu Kyuhyun melihat Siwon mengantar Yesung pulang ke apartemen mereka, bercanda dan terlihat sangat akrab. Lalu ketakutan itu kembali muncul—rasa takut akan kehilangan. Sebuah awal dari apa yang menyebabkan Yesung ragu, karena pada malam hari itu, Kyuhyun menyentuh sang calon hyung untuk pertama kalinya.

Orang bilang, hal semacam itu cukup sebagai tanda kepemilikan.

Kyuhyun mendengus meremehkan. Meski berkali-kali melakukannya, Yesung masih belum menjadi miliknya. Hubungannya dan Yesung juga memburuk seiring berjalannya waktu. Yesung bahkan memutuskan untuk pindah dan berkali-kali mencoba meninggalkannya dikarenakan segala hal yang terjadi setelah malam itu.

Tapi Yesung tak meninggalkannya, tak sanggup menolak pula. Kyuhyun tahu ia tak sekedar bergantung pada Yesung, karena ia takut kehilangan namja itu, cemburu melihat keakraban Yesung dengan orang lain, dan sakit hati ketika keberadaannya ditolak.

Kyuhyun yakin ia mencintai Yesung—mantan calon kakak angkatnya. Sebuah latar belakang yang membuat perlakuannya terhadap Yesung semakin berubah dari hari ke hari sejak malam di mana ia mengubah pandangan Yesung tentang dirinya.

Berbeda dengan Yesung yang masih tak menemukan jawaban, jika ditanya mengapa Kyuhyun takkan sanggup hidup tanpa sang pemuda lebih tua, ia tahu apa jawabannya. Jawaban yang sama dengan jawaban sang ayah yang memilih untuk menikah kedua kalinya. Jawaban yang sama dengan jawaban dari semua tingkah posesif bagai obsesi yang ia lakukan tanpa sadar.

Cinta.

ToBeContinue

Credit quote: Secondhand Serenade’s Second Album — A Twist in My Story; Suppose

Advertisements

20 thoughts on “Fallen Leaves [Chapter 3]

  1. ternyata itu yg terjadi 3 tahun lalu..
    dan Kyu benar” berubah setelah itu.. rasa bersalah kyu, terlebih rasa takut kembali kehilangan, aku rasa, yang membuat kyu seperti sekarang..

    yesung terlalu banyak berpikir,tp yesung ga mau menerima pemikiran” baru dlm hubungannya dg kyu. yesung hanya berpikir pada apa yg umum terjadi dan menolak hal” tdk umum yg mgkn memang tjadi pd hubungannya dg kyu..

    ‘Jawaban yang sama
    dengan jawaban dari semua tingkah posesif bagai obsesi yang
    ia lakukan tanpa sadar.
    Cinta.’
    aku suka kalimat itu..

    akh.. aku bener” selalu menyukai pemaparan chingu..

    dtunggu kelanjutannya ^^

    • Hihi seperti biasa, komentar Sisil-ssi entah mengapa selalu menjadi favorit saya>< tanggapan yang Sisil-ssi berikan sering membantu saya mendapatkan pemikiran dari sudut pandang yang belum pernah saya coba^^

      Jeongmal gomawo~~

  2. Kalimat terakhir bnr2 bgs ngena bgt kykny. Jd kecelakaan 3thn lalu yg bk Kyu kyk bgtu. Dia ngers berslh ‘n tkt kehilangan lg tp tnp sdr rs tkt kehilangan itu berubah jd cinta sdgkan Yesung msh ragu krn pemkran dr sktrnya.
    Update kilat yah…

  3. Wohoooo! Shiki ya! AAAA tebakan aku bener kan KyuSung itu saudara tiri sebenernya astagaaaa hampir nangis baca nya KyuSung saling cinta tapi masih menganggap hubungan lama mereka itu ada, ah padahal kan KyuSung berhak bersatu mereka gak sedarah kan? huhu galau ikutan Kyudad TAT sebel juga sama Kyu kenapa rasanya dia pecundang banget ya? Arghhhh ditunggu lanjutannya kasian Yemom TAT

  4. dichap ini dah jlas kcelakaan yg mngakibatkan orangtua mreka mati, dn awal hub KyuSung yg rumit.

    keren ff nya, sangat ditunggu lanjutannya.
    hmm boleh tau nma twitter author apa???

  5. Huh,,,,sbnarnya knp dgn yesung??? Yesung ngaku normal,,pi cinta jg kn ma kyu……ayo buat yesung sdr ma perasaanya sma kyu……
    Lnjjjuuuuttttt……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s