Fallen Leaves [Chapter 4]

Kyu-Sung 2

Fallen Leaves

@claudiangel_’s Request: A KyuSung multi-chapter fanfiction

Chapter 4Why?

[—A frozen glance, a single tear. It’s harder than I ever feared.]

Warning: Mature Contents. Don’t read if you can’t stand it

.

.

Diperkenalkan sebagai calon saudara, sering bertemu, terpuruk di saat yang sama, lalu hidup demi satu sama lain; semua hal itu pasti membuat Yesung menyayangi Kyuhyun, mengkhawatirkan pemuda itu lebih daripada mengkhawatirkan dirinya sendiri, berusaha menjadi yang terbaik tanpa peduli akan kondisi.

Meski tak terikat tali persaudaraan, rasa sayang yang ia rasa seharusnya mutlak kasih sayang dari kakak ke adiknya. Yesung tahu itu dengan pasti, ia tak perlu membohongi diri sendiri atau apapun juga; karena memang itulah yang ia rasa sampai malam di mana Kyuhyun yang tak menyenangkan berubah menjadi sangat tak terduga.

Orientasi seksualnya tak menyimpang. Yesung ingat ia pernah jatuh hati pada seorang yeoja beberapa tahun lalu—entahlah dengan masalah percintaan Kyuhyun. Tapi fakta yang menamparnya adalah kenyataan bahwa seseorang yang ia anggap adik kini tengah melakukan hubungan intim dengannya, secara tiba-tiba dan tanpa alasan.

Ada apa?

“Kyu… Hyun…” gumamnya lemah. Tangan namja ikal itu menari di seluruh bagian tubuhnya, membuatnya merasa panas meski pendingin ruangan telah menyala. Yesung yakin mereka tak menggunakan pakaian apapun lagi—karena walau setetes peluh mengalir dari pelipisnya, pergesekan kulitnya dengan lelaki di atasnya terasa terlampau nyata.

Tiap titik yang Kyuhyun sentuh entah mengapa berbeda dari sebelumnya, membuatnya merasakan sensasi yang tentu saja belum pernah ia rasakan. Sepasang mata tajam sang Cho dengan sempurna menaklukannya hingga ia tak mampu mengeluarkan suara apapun selain desahan. Yesung tahu saat itu ia takkan mampu menolak.

Kyuhyun berada di atas tubuhnya yang terlentang tanpa sehelai kain yang menutupi. Entah sejak kapan semua pakaian lengkap yang ia gunakan terlepas tanpa sisa. Yesung memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan sentuhan yang Kyuhyun berikan. Seolah tersengat listrik, ia tersentak ketika Kyuhyun menyapu lehernya dengan kecupan, perlahan naik ke telinga dan mengulum lembut indra pendengarannya.

Segalanya terasa asing dan ganjil. Suhu tubuhnya meningkat, napasnya memburu. Yesung mengeluarkan suara halus yang menyebabkan Kyuhyun semakin menjadi. Bibir pemilik onyx itu mengambil alih sentuhannya, menikmati tubuh Yesung secara perlahan, membiarkan sang hyung yang tanpa perlawanan semakin tak berdaya di hadapannya.

Yesung bohong jika berkata tubuhnya sama sekali tak bereaksi akibat segala hal yang Kyuhyun lakukan. Kontak fisik semacam ini memberikan berbagai sensasi aneh yang memabukkan. Kyuhyun menatapnya liar, sedangkan ia hanya dapat mengerjap sayu. Yesung masih yakin ia adalah seorang lelaki normal, namun benarkah?

“Ahh!” Tubuhnya sontak menegang ketika merasakan kehadiran asing dalam dirinya. Yesung kembali tersentak ketika merasa jari Kyuhyun bermain di dalamnya, menimbulkan rasa sakit dan panas tak tertahankan.

Pemilik surai ikal itu menatapnya dalam, mencoba menghanyutkannya dalam sebuah lautan biru yang tak nyata. Yesung menggigit bibirnya, mencegah mengeluarkan lebih banyak suara. Napasnya terengah, tak mampu melakukan apapun ketika Kyuhyun melebarkan kedua kakinya.

Teriakannya tertahan ketika Kyuhyun memaksanya untuk membuka diri, mengisinya dengan panas bak api yang membara. Rasa sakit menguasainya bersamaan dengan getaran sepanjang tulang belakang, sedangkan kedua tangannya mencengkram seprai yang tak lagi beraturan.

Ciuman Kyuhyun membungkam mulutnya, mencoba untuk menetralisirkan rasa sakit yang mendera. Yesung dapat merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak sesuai dengan irama gerakan Kyuhyun, menimbulkan rasa perih yang perlahan berganti secara pasti.

“Sebut namaku, Yesung-ah…”

“Kyuhyun! Hahh… Ahhh! Cho Kyu—Ngghh!”

Gema suara yang memantul dalam diri Kyuhyun bagai melodi indah tak terkalahkan. Vokal tak beraturan terdengar, sejenak melupakan bahwa dunia ini tak hanya dihuni oleh mereka.

Dan setelahnya, Yesung tak lagi dapat menganggap Kyuhyun sebagai adiknya; karena tak ada seorang kakak yang takluk pada pesona adiknya dan menerima dengan pasrah seluruh sentuhan yang sang adik berikan. Tak ada pula lelaki normal yang melakukan seks dengan sesama lelaki normal.

Mereka bertemu secara tak sengaja akibat takdir memutuskan orang tua mereka—seharusnya—akan menikah. Yesung tak berteman atau bersahabat dengan Kyuhyun sejak dulu, segalanya mutlak akibat sebuah pertemuan terencana. Tak ada hubungan saudara dan persahabatan di antara keduanya, lalu bagaimana dengan cinta?

Sepasang matanya terbuka perlahan, ingatan masa lalu yang menjadi teman tidurnya sangatlah tak menyenangkan. Kyuhyun tak berada di sisinya—begitu pula tas yang seharusnya pemuda itu gunakan untuk menghadiri fakultas di mana merupakan tempatnya untuk belajar.

Berhasil duduk dan menyandarkan punggungnya pada sebuah bantal, Yesung melirik jendela yang terbuka lebar. Langit tak tampak cerah, sedangkan angin dingin bertiup kencang; membuatnya merinding dan memutuskan untuk mengganti pakaian.

Musim yang merupakan musim di mana malapetaka itu terjadi baru saja datang.

#

Siwon memperhatikan Yesung yang terduduk lesu di sebelahnya, menghela napas dan memilih untuk keluar dari mobil karena mereka telah sampai di tujuan. Yesung mengikuti dalam diam, menengadah untuk melihat sebuah papan besar yang bertuliskan nama tempat di mana kini ia berada.

Pemakaman.

Keduanya berhenti melangkah sesampainya di hadapan makam yang merupakan tempat peristirahatan ibunya dan Ayah Kyuhyun. Siwon lebih dulu membungkuk hormat, meletakkan karangan bunga yang ia bawa di makam ibu sahabatnya, lalu melangkah mundur.

Setelah melakukan hal yang sama, keduanya berdiri berdampingan. Yesung tahu datang ke sini hanya akan menambah kekacauan dalam hatinya, namun ia merasa bahwa ia harus memberi kabar pada orang tuanya di awal musim kepergian mereka.

Eomma, Cho-ahjusshi, apa kabar? Dalam segi kesehatan, aku dan Kyuhyun baik-baik saja,” ucapnya dengan senyum tipis. “Musim dingin baru saja datang, dan sampai sekarang aku masih tak mampu kembali menyukai musim ini—hal yang sama pasti berlaku pula pada Kyuhyun.”

Siwon mendengarkan dengan setia. Yesung selalu menolak mengunjungi makam bersama Kyuhyun di saat sedang memiliki beban pikiran, karena ia pasti akan mengutarakannya di depan orang tua mereka. “Hubunganku dengan Kyuhyun… kalian pasti tahu, kami tak mungkin membuat kalian bersedih di sana. Aku masih melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan sebagai seorang kakak—” Jeda singkat. “—meski aku bukanlah kakaknya.”

Yesung berlutut perlahan, sedangkan Siwon memejamkan mata. “Maafkan aku. Seperti yang terakhir kali kuceritakan tentang hubunganku dan Kyuhyun, aku masih tak dapat menemukan jalan keluar yang tepat.” Ia berucap pelan, berusaha tak mempedulikan dadanya yang mulai sesak.

“Maafkan aku karena kami mengecewakan kalian. Tentu tak ada orang tua yang ingin melihat anak lelaki mereka bertingkah seperti gay meski sebenarnya bukan. Kyuhyun hanya sulit menyampaikan perasaannya melalui kata-kata—mungkin ia merasa sedih dan kesepian, sedangkan aku terlalu bodoh karena tak berani bertanya dan menolak.”

Angin yang tak berhenti bertiup mengacak surai hitam dua lelaki yang berada di sana, membiarkan keheningan menemani setelahnya. Tak ada bunyi lain selain dedaunan yang bergesekan, tak ada pula aura yang dapat mencairkan suasana.

Dan tak ada pula yang menyadari bahwa Cho Kyuhyun berada di sana, mendengar segalanya.

#

Siwon mengenal Yesung ketika berumur tujuh tahun. Mereka terus berada di sekolah yang sama, bahkan berkuliah di universitas yang sama dan menjadi model di agensi yang sama. Ia adalah tipe sahabat yang baik, selalu kecewa pada diri sendiri di saat dirinya tak dapat hadir untuk membantu atau minimal menenangkan ketika sebuah musibah terjadi.

Seperti ketika Yesung mengalami kecelakaan; ia sedang berada di Cina bersama keluarganya tanpa tahu apapun juga. Siwon menyalahkan dirinya sendiri yang terlambat—bahkan kalah telak dari Cho Kyuhyun, si mantan calon adik sahabatnya sejak kecil.

“Aku tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir apalagi menyalahkan dirimu sendiri.” Yesung berkata dengan tenang. Siwon mendengarnya sebagai penyemangat untuk diri sendiri. “Aku tidak apa-apa,” ulang sang pemilik hazel pelan, nyaris tak terdengar.

Sejak saat itu Yesung tak pernah baik-baik saja.

Kyuhyun adalah tipe bocah egois, karena itu ia tak menyukainya. Lagipula Yesung bukanlah benda yang dapat menjadi hak milik atau legal untuk diperebutkan. Siwon tak berniat membuang waktu demi bersaing dengan Kyuhyun pula, karena ia tahu ia pasti menang.

Namun dalam kasus ini, menang tak menghasilkan apapun. Kyuhyun adalah bocah egois yang mungkin takkan peduli meski wasit telah meniupkan peluit tanda permainan telah selesai. Baginya, Yesung adalah miliknya dan hal itu tak dapat diganggu gugat. Tentu saja Siwon membenci jalan pikiran childish itu, dan mungkin ia akan membencinya selamanya.

“Kenapa kau berada di sini?” Pertanyaan dingin itu dianggapnya angin lalu. Ia duduk di depan televisi, hendak meraih secangkir teh yang sempat sang pemilik apartemen buatkan untuknya, tapi terpaksa menunda ketika Kyuhyun kembali bersuara, “Aku berbicara denganmu, Choi Siwon.”

Dengan malas, Siwon menolehkan kepala. “Aku menemaninya pergi hari ini, lalu menyempatkan diri untuk singgah. Ada masalah dengan itu?” tanyanya berusaha terdengar bersahabat meski gagal.

Tak ada komentar lain. Ia agak terkejut dengan kenyataan Kyuhyun tak mengusir atau minimal membentaknya. Sepasang matanya memperhatikan Kyuhyun yang melangkah melaluinya, masuk ke dalam kamar Yesung untuk mengecek keberadaan mantan calon kakaknya.

“Dia berada di dalam kamar mandi, sekedar informasi untukmu,” jawab Siwon sebelum Kyuhyun menyempatkan diri untuk bertanya. Pusat perhatiannya kembali tertuju pada televisi, kemudian beralih pada Kyuhyun yang mendudukkan diri di sofa yang sama dengannya.

Sebuah senyuman ia pamerkan. “Ini pertama kalinya kau seramah ini padaku. Ada apa?”

Kyuhyun mendecih, memilih untuk berkutat dengan handphone-nya tanpa menyadari Siwon yang mengernyit bingung. Ia tak pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan Kyuhyun, dengan aura setenang ini, dalam situasi yang lumayan bersahabat seperti sekarang.

—Lalu ia menebak bahwa Kyuhyun juga berada di pemakaman beberapa jam lalu, mendengar semua hal yang Yesung katakan dengan jelas.

“Seperti perempuan saja. Dia mengeluarkan isi hatinya di depan makam orang tuanya,” ucap si namja Cho. Siwon bergumam ambigu, tebakannya tepat sasaran. “Dan tampaknya kau tahu bahwa aku juga berada di sana dan mendengar segalanya.”

Pemilik marga Choi itu bangkit, mematikan televisi menggunakan remote sebelum mengangkat bahunya ringan. “Dia menanggung semuanya seorang diri, apa yang kau harapkan?” Seraya melangkah menuju pintu apartemen, ia kembali berujar, “Bagaimana jika kau bersikap lebih dewasa, Kyuhyun-ah? Suatu saat ketika kau menyatakan perasaanmu yang sebenarnya, mungkin Yesung bisa menganggapnya serius.”

Kedua tangan Kyuhyun terkepal, masih duduk bersandar pada sofa, ia mencuri pandang. “Apa yang kau tahu tentangku? Jangan berbicara sesuka hatimu,” ketusnya menahan amarah. Sindiran yang Siwon katakan tepat sasaran.

“Cukup melihat matamu. Mereka lebih jujur daripada dirimu sendiri, kau tahu?”

Kemudian bunyi pintu yang tertutup menyadarkan Kyuhyun—membawa akal sehatnya kembali, membuatnya merasa lemas dan kalah total. Tak ada hal yang dapat ia lakukan, Kyuhyun masihlah seorang bocah manja dan egois yang sama. Dunia luar tak lagi menjadi favoritnya sejak tiga tahun lalu, Yesung adalah satu-satunya dunia yang ia miliki seutuhnya.

Namun bahkan dunianya tak mengakui telah dimiliki olehnya.

Rasa takut itu kembali datang, menghantuinya tanpa gentar. Yesung bisa meninggalkannya kapan saja; Siwon adalah lelaki yang berpikiran panjang, sedangkan dirinya hanyalah seseorang yang selalu memaksakan kehendak. Kyuhyun benci merasa kehilangan. Ia takkan mau merasakannya untuk yang ketiga kalinya.

Di sisi lain, ia juga tak mau menyakiti Yesung dengan pegangan bahwa mereka saling membutuhkan. Kyuhyun membutuhkan Yesung, lalu bagaimana dengan sebaliknya? Dulu ia yakin Yesung juga membutuhkannya, namun sekarang keyakinan itu sirna dalam sekejap.

Yesung membutuhkan seseorang yang selalu dapat mengerti dirinya, berada di sisinya, mendengar keluh kesahnya, mengalah untuknya, berkorban deminya; dan orang itu adalah Siwon, bukan dirinya.

Sejak tiga tahun lalu, Kyuhyun tak dapat berhenti membenci dirinya sendiri. Segala hal yang ia lakukan terasa salah meski ia selalu beranggapan bahwa semuanya benar. Ia berkali-kali menipu diri sendiri, tak acuh dan mengasingkan diri—namun selalu dibayangi rasa bersalah dan ketakutan yang menghakimi.

Kenapa setelah kecelakaan itu keadaan tak dapat kembali ke sedia kala?

Sepasang mata onyx-nya menatap layar televisi yang tak menyala, tersenyum mengejek karena ia tahu jawabannya. Kembali ke titik awal, kembali pada dirinya yang selalu bersalah.

“Apa yang harus kulakukan, Hyung-ah?”

#

Yesung menyandarkan punggungnya pada pintu kamar yang tertutup, tak sengaja mendengar pertanyaan monolog yang Kyuhyun bisikkan. Namja lebih muda darinya itu terlihat begitu rapuh, perlu tindakan hati-hati yang ekstra untuk sekedar menyapanya—dan Yesung sedang tak berada dalam kondisi yang bisa melakukannya seperti biasa.

Ada rasa sakit di hatinya. Terakhir kali Kyuhyun terlihat seperti itu adalah di hari pemakaman orang tua mereka. Yesung tak sanggup menghibur, ia bahkan tak tahu alasan Kyuhyun kembali terlihat bak tanpa nyawa. Apa yang dapat ia lakukan hanyalah bergeming di tempatnya.

Pintu yang menjadi tempatnya bersandar terdorong pelahan. Yesung menjauh selangkah, mendapati Kyuhyun berdiri di hadapannya. Keduanya terdiam, tak bertukar pandang. Sebuah kecanggungan menjadi teman yang tak nyaman bagi mereka. Dan Yesung memilih untuk mengalah.

Ia melangkah maju, mendekatkan diri pada Kyuhyun yang menatap sendu. Kedua tangannya ia gunakan untuk memeluk sosok itu, persis seperti yang sering Kyuhyun lakukan pada dirinya. Mencoba menyalurkan kehangatan, mengingatkan bahwa ia masih ada, dan memberitahu segalanya baik-baik saja.

Kyuhyun tak membalas pelukannya, diam mematung tanpa kata. Yesung mengeratkan rengkuhannya, menangis dalam hati, merasa gagal dan bersalah bukan main. Detik itu, ia menyadari bahwa Kyuhyun adalah hari-hari yang selalu ia nanti.

Yesung hanya tak tahu bahwa kini pemuda itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasa di dalam hati.

ToBeContinue

Credit quote: Secondhand Serenade’s Second Album — A Twist in My Story; Stranger

Next chapter will officially featuring WonYe, so for those who asked me about WonYe, please wait for the next chapter patiently^^

19 thoughts on “Fallen Leaves [Chapter 4]

  1. Yesung membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya ………. Dan itu adalah siwon bukan dirinya ..

    Kya~ entah knp qu suka bgt pas bag itu. Yosh qu tunggu next chap’y 😉

  2. ahhh knp mereka tidak bisa utk saling mengutarakan isi hati?!
    seandainya mereka bisa untuk lbih berani mengungkapkannya tnp menebak” pasti hubungan kyusung lebih indah dan brmakna

    lanjuttttttttttt chingu!!!!!!

  3. Aaaaaaaaa makin seru aja nih ceritanya hiksss KyuSung sama sama tersiksa disini TAT sbenernya perasaan Kyu ke Yesung itu gimana sih? sulit ditebak TAT itu cinta atau hanya obsesi semata aja sih? ;(

    Saeng, ini berakhir KyuSung atau YeWon sih? plisss ya KyuSung udah dapet feel nya ke mereka TAT *bugh* Siwon sama aku aja TAT *modus*

    Sepertinya besok kalau baca next chapt harus siapkan tissue.. *ignore*

  4. ‘Namun bahkan dunianya tak mengakui telah dimiliki olehnya.’
    Aku suka tuch kalimat..
    tapi, jadi menyebabkan aku berpikir kalo Kyu bener” bodoh..

    Kyu, jika duniamu, Yesung, tidak mengakui telah dimiliki olehmu, mengapa kamu tidak mencoba untuk menjadikan dirimu sendiri sebagai dunianya.
    Berusahalah dan bersabar untuk menunggu sampai Yesung menyadari bahwa kau pun adalah dunianya..

    Di setiap cerita chingu itu, selalu ada kalimat”, yang menurut aku itu keren..

    Ditunggu kelanjutannya.. ^^
    WonYe!!!!

    1. Kyuhyun memang bodoh kok /kabur

      Hihi terima kasih banyak, Sisil-ssi^^ komentar Sisil-ssi juga selalu saya nanti hihi saya suka pendapat-pendapat yang Sisil-ssi ungkapkan tentang plot dan karakter chara><

      Yak, WonYe!

  5. dari keempat chapter yang aku baca, semuanya membuat nyesek banget~~~
    mian unnie commentnya cuma disini, soalnya aku baru nemu wordpressnya unnie, jadi sekalian disini aja ya commentnya??hehehe…
    haduuhh tambah seru aja nih chapter, lanjut terus yaaa, hwaiting!!!
    unnie nanti aku ngefollow unnie, yang chapter 5 sama 6 di pasword apa nda?

    1. Benarkah? ;;;

      Nggak apa-apa kok, saya berterima kasih sekali masih menyempatkan diri untuk meninggalkan komentar^^

      Chapter 5 dan 6 belum di-publish, tapi tidak akan di-protect kok

  6. lanjut lanjut. pnasaran bnget, kyu knpa diem aja ngomong dong!!

    ayo buat kyuhyun lbh menderita.hehe biasa.a kan slalu yesung yg trus trsakiti gntian skarang

  7. ku rasa kyuhyun di chap ini mulai berfikir dewasa dan tidak egois karna dia mulai memikirkan persaannya yesung,,
    waah makin penasaran sama cerita selanjutnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s