Fallen Leaves [Chapter 5]

Kyu-Sung 2

Fallen Leaves

@claudiangel_’s Request: A KyuSung multi-chapter fanfiction

Chapter 5Stranger

[—I know that I can’t make you stay, but I would give my final breath.]

.

.

Sepasang matanya tak berhenti memperhatikan seseorang yang berpose elegan di atas sebuah sofa. Siwon duduk bersandar dengan tenang, masih tak kuasa mengalihkan pandangan dari Yesung yang kini menyeringai di depan kamera.

Bagai duo yang sulit dipisahkan, jadwal mereka selalu sama tanpa adanya sedikit perbedaan. Ia tak tahu mengapa hal ini dapat terjadi—sejauh ingatannya, mereka selalu bersama sejak sekolah dasar hingga sekarang, tanpa rencana dan murni sebuah kebetulan.

Kebetulan yang menyenangkan.

Siwon melangkah mendekati Yesung yang masih sibuk berganti pose, duduk di sebelah namja itu karena sekali lagi mereka harus mengisi kover majalah bersama. Sahabat kecilnya itu menolehkan kepala, menatap dirinya datar—lalu ia terpana tanpa sadar.

“Pemotretan kali ini selesai! Terima kasih semua!”

Yesung tertawa melihat ekspresi bodoh yang Siwon perlihatkan. Sang fotografer melakukan hal yang sama, mendekati mereka dan berakhir menepuk pelan pundak sang Choi yang kebingunan. “Aku memotret kalian ketika sedang bertukar pandang, dan di luar perkiraan, hasilnya sudah cukup bagus untuk menjadi kover majalah minggu depan.”

Para kru mulai sibuk merapikan segala peralatan di sana, mengabaikan model mereka yang kini berjalan beriringan memasuki ruang rias untuk berganti pakaian. Yesung masuk lebih dulu, kemudian menatap nanar pantulan dirinya pada sebuah kaca.

Ia menandatangani kontrak menjadi model di hari yang sama dengan Siwon—tanpa mereka sadari. Namun ia menerima pekerjaan ini sekedar untuk menghindari kebersamaannya dengan Kyuhyun, berbeda dengan Siwon yang tertarik seutuhnya. Dan sekarang ia mulai bertanya, benarkah ini dunia dan pekerjaan yang ia inginkan? Sampai kapan semua ini akan bertahan?

Sebuah pelukan yang diawali oleh keraguan menyambutnya perlahan. Ia tak perlu menolehkan kepala untuk mengetahui siapa pelakunya. Hanya ada satu orang selain Kyuhyun yang berani membawanya ke dalam sebuah rengkuhan tanpa celah, dan hanya ada satu orang yang bisa memberikan rasa nyaman sebaik yang kini ia rasa.

Entah kapan terakhir kali Siwon merengkuhnya seperti sekarang—beberapa bulan lalu? Atau mungkin beberapa hari lalu? Yesung tak tahu mengapa ia merindukan kehangatan yang perlahan menjalar dari punggungnya, tak tahu mengapa air mata menggenang di pelupuk matanya karena sebuah kerinduan yang sebenarnya tak nyata; demi Tuhan, hampir setiap hari mereka selalu bersama!

“Yesung-ah, kau tahu—”

“Aku tahu.”

Siwon tersenyum dipaksakan, hanya untuk sesaat karena tak ingin Yesung melihatnya. Ia mengeratkan pelukannya sebelum menyandarkan kepala pada bahu si namja berpakaian hitam. Kenapa begitu menyesakkan? Kenapa perasaan itu kembali datang? Kenapa ia berakhir memeluk sosok ini meski tahu hanya akan membangkitkan sebuah rasa yang menyakitkan?

Kembali pada detik jarum jam yang selalu menjadi teman setia kesunyian. Yang lebih muda mengeratkan pelukan, terlalu takut untuk kehilangan. Siwon menahan tawa; sejak awal ia sudah kehilangan Yesung, sebenarnya. Apa lagi yang bisa orang-orang ambil agar dapat membuatnya merasa kehilangan?

Detak jantungnya tak berpacu lebih cepat, tapi ia tahu perasaannya masih sama. Darahnya berdesir, pelukannya semakin erat meski ia tak memerintahkan otak untuk melakukan hal sedemikian rupa. Kupu-kupu seolah berterbangan dalam dirinya, begitu menggelitik, menyenangkan, namun di saat yang sama jugalah sangat menyesakkan.

Ia bahkan belum pernah mengatakannya. Yesung selalu memiliki seribu cara agar ia gagal mengungkapkan apa yang seharusnya ia ungkapkan. Selalu memotong kalimatnya tanpa berpikir panjang, bertindak seolah tahu apa yang akan ia katakan; tapi itu memang benar. Yesung tahu, dan ia tahu bahwa Yesung tahu.

Mereka berteman sejak kecil, saling mengetahui apa yang masing-masing benci atau sukai. Selalu menyadari tatkala salah satu tengah menyunggingkan senyum palsu yang terlihat begitu kentara namun transparan di mata orang-orang. Tak perlu mengeluarkan banyak kata untuk bertanya dan memastikan—karena waktu memang berpengaruh, bahkan terlalu berpengaruh hingga keduanya tak perlu apapun selain tatapan mata.

Atau mungkin karena itu ia jatuh cinta.

Tak semudah itu menemukan seseorang yang dapat mengerti dirimu melebihi dirimu sendiri, tapi ia menemukannya. Yesung mengerti segala hal tentangnya, memaklumi sifat dan sikapnya, tahu bagaimana cara agar ia merasa lebih baik di saat lelah, mengerti saat-saat di mana ia ingin sendiri dan tak ingin diganggu siapa pun juga. Sebaik Yesung mengerti dirinya, sebaik itu pula ia mengerti si pemuda yang selalu menjadi prioritas utamanya. Namun segalanya tak bertahan selama yang ia inginkan, karena beberapa tahun lalu Cho Kyuhyun datang.

Siwon tak sempat mengatakan apa yang ingin ia katakan, juga tak cukup cepat hingga tak berhasil menjadi orang pertama yang memeluk Yesung di saat namja itu membutuhkannya. Kyuhyun tak membutuhkan waktu selama dirinya untuk mengenal dan mengerti Yesung sebaik dirinya, atau mungkin lebih baik karena mereka mengalami suatu kejadian pahit bersama. Ia terlambat terlalu lama, dan tak ada yang dapat ia lakukan untuk mengubahnya.

“Kenapa kau selalu memotong ucapanku?”

Yesung ingin menyunggingkan sebuah senyuman untuk mencairkan suasana, namun ia tak kuasa. Pelukan ini terlalu menyakitkan karena menyalurkan sebuah perasaan yang mungkin selamanya takkan pernah ia balas, juga terlalu ia rindukan hingga tak semudah itu bisa dilepaskan. “Karena aku tahu dan aku tak ingin kau mengatakannya.”

Apa yang bisa ia lakukan jika Siwon mengatakannya? Yesung menatap pantulan diri mereka pada kaca yang bergeming layaknya apa yang ia lakukan. Siwon tak pernah bertingkah seperti ini sejak Kyuhyun hadir dalam kehidupannya, seolah melupakan perasaannya dan bertindak layaknya mereka sepasang sahabat yang tak pernah terlibat masalah rumit seperti percintaan karena terlalu sering bersama. Semuanya berjalan tanpa hambatan hingga detik di mana sebuah pelukan hangat membuatnya kehilangan kata-kata.

Pelukan tanpa celah yang sama dengan pelukan tanpa celah yang Kyuhyun berikan, namun memberikan dua rasa yang berbeda. Pelukan Siwon terlampau sempurna, memberikan rasa yang selamanya takkan ia dapatkan dari Kyuhyun meski keduanya melakukan hal serupa. Terlalu nyaman hingga ia bertanya-tanya apakah kata ‘selamanya’ benar-benar nyata.

Kyuhyun selalu memberikan pelukan posesif, bukan pelukan lembut dan penuh perasaan seperti sekarang. Namja Cho itu juga selalu berusaha menyampaikan bahwa ia akan melindungi dirinya hingga kapan pun juga, berusaha memberi tahu seberapa besar ketakutan akan kehilangan meski hanya sekejap. Tak senyaman apa yang Siwon berikan, tapi Yesung menemukan dirinya tersenyum miris di saat membandingkan keduanya, lalu berakhir memutuskan bahwa pelukan Kyuhyun terasa lebih nyata.

Lebih nyata, lebih ia butuhkan, lebih mendebarkan… sama sekali tak sempurna, penuh kekurangan dan berbagai keegoisan juga ketakutan yang berusaha disembunyikan. Yesung menggigit bibirnya, dapat merasakan air mata yang sebelumnya telah mengering kembali memenuhi pelupuk mata—kenapa ia memilih Kyuhyun, bukan Siwon yang lebih lama berada di sisinya?

Lalu ia sadar itulah yang dinamakan cinta.

Ia gagal mengembalikan pribadi menyenangkan Kyuhyun, gagal menjadi seorang kakak-yang-tak-dapat-disebut-kakak, gagal menjadi contoh yang dibutuhkan, gagal dalam segala hal yang seharusnya ia lakukan dengan sempurna, dan kini ia harus menerima fakta bahwa ia gagal menyangkal perasaan yang seharusnya ia anggap hanyalah bagian dari mimpi ketika terlelap. Apa yang harus ia katakan pada orang tua mereka nantinya?

“Siwon-ah—”

“Aku tahu.”

Keduanya enggan saling menatap. Terkadang saling mengetahui apa yang ada dalam benak masing-masing terasa menyakitkan karena dengan begitu benar-benar tak ada yang membutuhkan suara, kata, ataupun kalimat. Tapi keduanya juga tahu, terkadang kalimat dibutuhkan untuk menampar dan membawa diri mereka kembali pada realita. Yesung tahu, Siwon juga tahu. Namun ketika terucap, rasa sakit yang dirasa dua kali lipat lebih nyata dari yang sempat dibayangkan.

Mianhae,” sang Choi tak sanggup menarik napas, memberanikan diri menolehkan kepala dan mengecup pipi yang sering kali ia cubit ketika merasa gemas. “Saranghae.”

Yesung mencengkram tangan Siwon yang masih melingkar di pinggangnya, mencoba untuk mengabaikan rasa perih yang datang entah dari mana. Siwon memutar tubuhnya perlahan, menghujam maniknya seolah meyakinkan bahwa perkataannya bukanlah bualan semata—Yesung tahu, ia tak butuh Siwon meyakinkannya—lalu berakhir mengecup dahinya bersamaan dengan setetes air mata yang menetes tanpa aba-aba.

Kwaenchana,” bisik sang pemilik surai hitam yang tak pernah berganti warna. “Aku tak ingin menambah beban pikiranmu atau menimbulkan rasa bersalah dalam dirimu. Aku hanya ingin mengatakannya, tidak ada maksud tertentu.” Ia melanjutkan dengan senyuman. Yesung mengangguk susah payah, begitu berterima kasih pada Tuhan karena memiliki seseorang seperti Siwon di sisinya.

Pelukan yang sama kembali menyambutnya, namun sayangnya hanya bertahan selama beberapa saat. “Ayo pulang,” ajak Siwon seraya mengacak surai halusnya hingga menjadi dua kali lipat lebih berantakan daripada sebelumnya. Detik itu, Yesung tahu ia merasa kehilangan.

#

Kyuhyun tahu ia munafik. Takkan ada argumen yang bisa menghapuskan fakta itu.

Ia juga tahu bahwa dirinya adalah seorang pengecut yang selalu lari dari kenyataan, bersembunyi di balik apapun yang dapat menyamarkan keberadaannya—karena itulah kini ia mengulur waktu untuk kembali ke apartemen setelah menyelesaikan jam kuliah yang kebetulan singkat.

Salah satu hal yang tak pernah ia ketahui adalah apa yang harus ia lakukan. Kyuhyun tak pernah tahu, hingga akhirnya ia selalu mengikuti insting dan melanjutkan hidup tanpa berpikir panjang. Setelah sekian banyak situasi ia alami, hingga sekarang pun ia masih tak tahu sebenarnya apa yang harus ia lakukan.

Dan di atas itu semua, ia tak lagi yakin akan arti kebahagiaan.

Bahagia adalah sebuah perasaan yang ia rasa ketika Yesung berada di sisinya, mengkhawatirkannya, menunjukkan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya. Namun apakah definisi dari bahagia sama untuk semua orang? Apakah Yesung merasakan hal yang sama tentang bahagia?

Kyuhyun dapat merasakan kedua matanya memanas, ia bahkan tak yakin bahwa ia pernah menunjukkan kasih sayang yang mana mutlak sebuah kasih sayang—sesuatu yang kini ia sadari paling Yesung butuhkan. Ia selalu menutupinya, beranggapan Yesung tahu tanpa harus ia katakan.

Lalu kini ia sadar, tindakan tak selalu cukup untuk menunjukkan sebuah kasih sayang.

Kenapa di saat orang lain memiliki kisah hidup normal cenderung menyenangkan, ia harus dihadapkan masalah yang melelahkan batin dan tanpa sadar menguras tenaga? Kyuhyun memejamkan mata, lupa bahwa mengeluh takkan mengubah apa yang kini hidup tawarkan untuk dirinya.

Sejak awal, semua ini adalah salahnya. Yesung hanyalah korban yang ia tarik untuk merasakan penderitaan bersamanya. Kyuhyun tersenyum kecut, lagi-lagi sampai pada titik di mana dirinya lah yang pantas disalahkan. Seharusnya Yesung tak perlu menanggung apa yang kini ia rasa, cukup dia seorang.

Namun jika ia bisa, ia pasti telah melakukannya. Sayangnya Yesung adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa bergantung dan mengeluh, satu-satunya yang berada di sisinya dan menerima kekurangannya apa adanya. Jika namja itu tak ada, Kyuhyun bahkan tak yakin ia masih dapat menghirup oksigen di muka Bumi sekarang.

Yang mana berartikan, sudah waktunya untuk membiarkan Yesung bebas.

Apa yang terjadi bila Yesung tak berada di sisinya, maka terjadilah. Kyuhyun menyerah untuk bertahan, menyerah untuk berspekulasi bahwa mereka hidup untuk satu sama lainnya, menyerah akan segalanya.

Jika cinta adalah tentang membahagiakan, maka inilah saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa ia tak bercanda dengan pengakuannya; ia mencintai Yesung, menginginkan kebahagiaan untuk orang terkasihnya, merelakan hidupnya demi membuktikan apa yang ia rasa adalah sebuah kebenaran.

Terlalu banyak yang terjadi selama ini, dan tak ada satu pun yang luput dari ingatannya. Yesung terlalu berharga untuknya, benar-benar sulit untuk dilupakan meski hanya untuk sejenak. Semua yang terjadi, semua nasihat dan canda, meski setelah ini mereka akan berpisah, Kyuhyun bersumpah takkan pernah melupakannya.

Pintu apartemen terbuka tepat sebelum ia hendak membukanya menggunakan kunci yang selalu ia bawa. Yesung tersenyum kecil di hadapannya—dan ia tak dapat mengalihkan pandangan, takut akan merindukan senyuman yang menghiasi harinya, tak peduli apakah yang berada di hadapannya adalah senyum palsu seperti yang belakangan ini sering ia lihat.

Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Kyuhyun mengulurkan tangan, membelai lembut wajah yang selalu mempesonanya sejak pertama jumpa. Demi Tuhan ia pasti akan merindukan pemuda ini. Kyuhyun mencoba untuk tersenyum, hal yang jarang ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Air matanya menggenang, tapi ia tahu ia takkan menangis.

Hyung…” Sepasang mata sipit di hadapannya membulat; ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia memanggil Yesung dengan sebutan hangat itu. Layaknya sebuah perpisahan, Kyuhyun menghela napas susah payah. Ia tak ingin mengatakannya. Ia ingin bersama dengan Yesung selamanya.

Tapi tak semua keinginan terkabulkan begitu saja.

“Pergilah—” Tubuhnya lemas, Kyuhyun rasa ia bisa terjatuh kapan saja. “Jadilah apa yang kau inginkan, hiduplah tanpa mempedulikanku, bahagialah…”

Senyum yang Yesung tunjukkan telah lenyap, sedangkan Kyuhyun masih bertahan. Tangannya bergerak menjauh, sepasang mata kelamnya tak berkedip memandangi wajah tak percaya yang ditunjukkan pemuda di hadapannya. Ia tahu, sebuah akhir kelak akan menjadi sebuah awal lainnya.

ToBeContinue

Credit quote: Secondhand Serenade’s Second Album — A Twist in My Story; Stranger

Saya hands up kalau masih ada yang bilang tidak mengerti jalan cerita, hubungan Kyu-Ye-Won, dan perasaan mereka orz

Tersisa satu chapter! Maaf, tapi chapter terakhir akan di-publish agak lama. Bukan karena belum selesai, tapi karena bulan depan banyak sekali event seperti YeWon Day, ulang tahun Henry dan Donghae, ext. Mungkin saya akan mem-publish chapter 6 pada tanggal 19^^

Thanks for reading!

13 thoughts on “Fallen Leaves [Chapter 5]

  1. Kyaaaaaa akhirnya update ><

    Ya shiki ah~ kenapa ceritanya semakin miris aja sih huweeeer semua disini merasakan sakit yang amat sangat menyedihkan.

    Ah, gak tega disini sama Siwon demi langit dan bumi Siwon merana banget disini hiks ah, bagaimana kalau Siwon sama aku aja? Masukin Angelica Claudia sebagai cast dan menjadi obat hati untuk Siwon awww pasti Happy Ending ya~^^ *heniiing* #digiling

    Omonaaaaaa, itu kenapa otp aku semakin begitu ceritanya issssh aku tadi kira Kyu nya akan bilang cinta ke Yesung udah percaya diri banget padahal eh tahunya malah ngelepasin Yesung aduhh pleaseee jangan pisahkan Mommy dan Daddy ku T.T

    Kamu itu emang paling bisa ya buat hatiku tercabik-cabik (?) *pletak* seperti ini huhuhu lanjuuuuuut aku semakin penasaran sama ending nya pokoknya KyuSung harus naik ke pelaminan titik! *semangat 45* #ignore

  2. Kisah cnta yg miris.,
    d saat yesung dh mlih Kyu mlah kyu mo nglepasin dy, siwon oppa biar ma aq aj._.v
    .
    aq ngrti alur n crita’a,
    v dialog antr tkoh’a trlalu dkit mnurut q., #soktau
    .
    Jd 1 chp lg bkal end nh?? Gpp dh aq tgu,
    n jgn lpa buat bkin ff kyusung lg ne.,??
    #maunya

  3. Yaaahhhh jgn smp Yesung bnran ninggalin Kyu pdhl Yesung dh sadar kan klo dia jg cinta ‘n butuh Kyu dismpgnya. Kyusung ga blh psh hrs tetap berst.
    Siwon kasian blm ngomong dh diptg dlan walaupun akhirnya tetep blg ‘n ditolak. Tp salut dia bs trn Yesung lbh plh Kyu.
    Good ff…

  4. wmo?kyu mau ngelepaskn ye td aq kira dia bakaln brani utk langsung bilang cinta ama ye trnyata,,,,,,,,oh jgn sampe kyusung pisah ANDWAE!!!pdhlkn ye jg udah mutuskn milih kyu!!!!ahhh makin,,,,,,,makin,,,,,,pnasaran aplg tinggal satu chap mau kyusung happy end!!!!!!!!!!!!

  5. kkyyaaa harus Happy Ending jgn buat KyuSung pisah
    aku sedih klo kyuhyun oppa sma yesung oppa ny pisah
    pokok ny jgn buat mereka pisah iya thor 🙂

  6. ‘Ia tahu, sebuah akhir kelak akan menjadi sebuah awal lainnya.’
    ini kalimat dalem banget.. aku suka banget!! xD
    ini seperti berarti bahwa tak akan ada yang benar” berakhir dalam dunia ini.
    ketika satu berakhir, maka akan muncul suatu yang baru..

    ketika kyu melepaskan yesung untuk pergi (akh, aku lebih suka menyebutnya dengan kyu membiarkan yesung untuk memilih, menentukan sendiri apa yang ingin jalani), aku rasa, itu akan benar” menjadi awal baru bagi ke duanya.
    kemana yesung akan pergi atau apa yang akan yesung pilih, akan benar” itu adalah keinginan yesung, tanpa ada lagi paksaan dari kyu, termasuk ketika mungkin nanti, yesung akan pergi dan memilih kyu. dan saat yesung benar” memilih, apa pun itu, maka, hubungan baru diantara yesung dan kyu akan benar” terbentuk, entah hubungan seperti apa nantinya. yesung dan kyu benar” akan punya hubungan, tidak seperti sekarang, yang mereka tak tahu disebut apakah hubungan mereka ini.

    dan hubungan siwon yesung itu buat aku berpikir bahwa tak selamanya yang memberikan kesempurnaan dan kenyamanan adalah hal yang kita butuhkan. terkadang sesuatu yang ‘cacat’ akan terlihat jauh lebih indah, akan membuat kita merasa lebih ‘hebat’ karena dapat menerima ‘cacat’ yang mungkin tak akan dapat diterima orang lain.

    akh chingu, aku suka banget!!
    aku ga tau cerita yang lebih banyak ke pemaparan? daripada dialognya seperti ini disebut apa. tapi, aku suka banget sama yang seperti ini!! hehe xD

    menunggu tgl 19.. ^^

  7. huhuhu sedih nya kerasa banget,,
    kyu benar benar berubah jadi lebih baik dia bahkan rela melepaskan yesungnya,,
    cinta bahkan bisa merubah sesuatu yg buruk menjadi lebih baik ,,
    ditunggu lanjutannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s