Happy Rain

Won-Ye 3

Happy Rain

[—When the rain falls, we meet.]

.

.

Jika kemarin Choi Siwon terjebak kemacatan hingga menguras emosi, hari ini ia terjebak dalam arti kata lain.

Saat itu hujan turun dengan deras, menyebabkan dirinya terperangkap di dalam sebuah kafe yang tak terlalu jauh dari letak kantornya berada. Ia mengangkat bahu ringan, sudah pasti akan menjadikan hujan sebagai alasan keterlambatan—meski tahu ayahnya tidak akan memberi toleransi—dan kembali memesan secangkir kopi panas favorit demi menghilangkan rasa bosan.

Dalam waktu singkat, kafe yang sebelumnya tak terlalu ramai itu dipenuhi dengan orang-orang yang memilih untuk berteduh dan bersantai seperti dirinya. Siwon bersyukur ia berada di sini lebih dahulu hingga tak perlu melangkahkan kaki keluar tepat setelah membuka pintu masuk, persis seperti seorang wanita yang baru saja meninggalkan kafe ketika menyadari tak ada lagi tempat duduk.

“Maaf memakan waktu yang lama,” suara bariton itu mengalihkan perhatiannya. Ia dapat melihat seorang lelaki tengah meletakkan minuman yang ia pesan di atas meja, tersenyum kecil ketika tak sengaja bertukar pandang. “Ada lagi yang ingin Anda pesan?”

Siwon mengangguk kaku secara spontan, tak tahu mengapa ia berakhir memesan sebuah kue meski dirinya tak suka makanan manis. Pemuda itu berjalan menjauh memasuki dapur, sedangkan ia mendapati dirinya terpaku. Namja itu terlihat sangat familiar, seolah mereka pernah bertemu atau mungkin dirinya lah yang pernah melihat dari kejauhan—siapa yang tahu?

“Bukankah itu Yesung?” Bisikan dari meja seberang terdengar oleh telinganya. “Model majalah yang belakangan ini sedang naik daun, bukan?”

Tepat setelah itu, pintu dapur kembali terbuka dan menampilkan seorang yeoja mungil yang menyebabkan sebagian besar pengunjung mendesah kecewa—dan Siwon mendapati dirinya melakukan hal yang sama. Kue yang ia pesan datang beberapa menit kemudian, lalu ia menyadari bahwa bukan kue itulah yang ia nantikan; melainkan seorang pelayan yang ternyata adalah model majalah terkenal.

Setidaknya ia merasa lega karena tak ada pekikan histeris para gadis atau usaha anarkis fangirl untuk mendobrak pintu dapur. Hujan sudah cukup mengusiknya, tak perlu ditambah oleh hal lain seperti gadis remaja yang pingsan karena excited berlebihan.

Di antara para pengunjung lain yang kini sibuk membicarakan si model merangkap pelayan, Siwon mendapati dirinya memperhatikan seorang pemuda di sudut ruangan. Hanya pemuda biasa—wajahnya tertutup oleh topi yang ia kenakan, tengah berbincang akrab dengan seorang pelayan. Awalnya ia tak merasa adanya kejanggalan karena semua pelayan di kafe ini sangatlah ramah, namun ketika pengunjung bertopi itu menoleh dan memperlihatkan sebagian wajahnya, Siwon tahu orang itulah yang beberapa menit belakangan menarik perhatiannya.

Model, ya? Pemilik nama Yesung itu menggunakan wajahnya dengan baik, batinnya tanpa sadar. Siwon pikir, mungkin karena itulah ia merasa familiar dengan si model yang kini membaca novel di sudut ruangan. Dan mungkin, karena itu pula ia tak pernah melihat pelayan seperti Yesung; intinya, apa maksud dari seorang model melakukan cosplay sebagai seorang pelayan di dalam sebuah kafe di pusat kota?

Hujan berhenti setengah jam kemudian, sedangkan sebagian pengunjung mulai meninggalkan kafe dan melanjutkan kegiatan mereka. Siwon bertahan di sana, masih memandangi si pengguna topi hitam yang sibuk dengan buku bacaannya. Bisa saja ia terciprat amarah sang ayah, tapi itu bukan masalah besar. Ia terjebak hujan deras, alasan itu harus bisa membantunya.

Alasan lain adalah karena ia terjebak rasa aneh ketika bersitatap dengan seorang pelayan di kafe favoritnya.

#

Dua hari kemudian, Siwon kembali memiliki waktu luang di jam yang sama. Ia mengunjungi kafe bernuansa hangat itu tanpa berpikir panjang, memilih untuk duduk di tempat yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Kegiatannya di kafe ini selalu berjalan monoton—datang di jam yang sama, duduk di tempat yang sama, memesan pesanan yang sama, lalu kembali ke kantor pada jam yang sama pula.

Namun itu biasanya.

Hal sama tak lagi berlaku sejak dua hari lalu, hari di mana otaknya terjebak oleh sosok pemuda tampan merangkap manis yang ternyata adalah seorang model dari agensi di sebelah gedung kantornya. Siwon tak melihat Yesung kemarin meski ia merelakan waktu tiga jam untuk mengamati pintu masuk kantor agensi sang pemuda, karena itu ia memutuskan untuk datang ke kafe dan berharap menemukan sosok yang dicarinya.

Dan di sanalah namja itu berada, di sudut ruangan dengan novel yang sama dan topi yang memiliki corak agak berbeda. Siwon tahu tak ada gunanya ia memandangi Yesung dari belakang—karena apa yang ingin ia amati adalah wajah dan ekspresi si model bersurai hitam, bukan merek jaket yang dikenakannya.

“Siwon-ssi? Kenapa memperhatikan Yesung-ssi tanpa berkedip seperti itu?” tanya seorang pelayan iseng, menyebabkan yang bersangkutan tersentak dan menggaruk canggung pipinya yang tak gatal. Tertangkap basah memperhatikan seseorang seperti stalker bukan mimpinya sejak kecil, sungguh.

“Aku hanya penasaran kenapa seorang model menghabiskan waktu di kafe, bahkan menjadi pelayan dan melayani pengunjung,” elaknya setelah berdeham. Itu memang salah satu alasannya meski bukan alasan utama yang ia punya—tak mungkin ia mengatakan bahwa ia tertarik dengan pemuda itu, bisa-bisa ia dicap gila seketika.

Sang pelayan tersenyum kecil. “Yesung-ssi adalah sepupu dari pemilik kafe ini. Ia beralasan sedang memiliki banyak waktu luang dan ingin mencoba menjadi seorang pelayan.” Jeda sesaat. Siwon dapat melihat pelayan berseragam putih itu meringis sebelum melanjutkan, “Meski akhirnya memecahkan berbelas cangkir dan menyerah setelah mengantar pesanan Anda dua hari yang lalu.”

Berarti aku beruntung karena dia menyerah setelah mengantar pesananku, bukan sebelum. Siwon mengangguk basa-basi, menahan senyuman yang memaksa untuk merekah. Ia tak tahu hanya dengan mengetahui fakta tak penting semacam itu dapat membuat hatinya seolah berbunga-bunga. Bisa saja Yesung ternyata adalah seorang model merangkap penghipnotis profesional.

Tepat di saat ia melirik punggung si model yang sebelumnya bergeming di tempatnya, Siwon mendapati Yesung menoleh dan tersenyum kecil ketika pandangan keduanya bertemu singkat. Tubuhnya mendadak kaku, desiran aneh terasa di beberapa bagian tubuhnya. Ganjil, namun menyenangkan.

Siwon pernah merasakan ini sebelumnya—ia bukan bocah tingkat akhir sekolah dasar yang baru pertama kali jatuh cinta. Tapi ada yang berbeda, rasa yang kali ini menderanya terlampau indah. Bisa saja dalam waktu sekejap ia terhempas keras hingga menabrak tanah. Namun karena ia tahu bahwa dirinya sulit jatuh cinta, maka di saat ia merasakannya, ia harus mensyukurinya.

Punggung Yesung adalah favoritnya mulai hari ini; karena hanya itulah yang dapat terus ia pandangi tanpa rasa takut, setidaknya untuk saat ini.

#

Siwon ingat siapa cinta pertamanya. Saat itu ia baru menginjak umur delapan tahun dan sedang bermain di taman bermain perumahan bersama teman-temannya. Rintik hujan mulai turun, semua temannya berlarian meninggalkan satu sama lain untuk menyelamatkan diri dari air yang sebenarnya tak membunuh. Ibunya bilang, ia tak boleh bermain hujan dan harus berteduh agar tak sakit esok harinya—karena itulah ia memilih untuk masuk ke dalam sebuah pipa besar warna-warni yang mana tempat favorit semua anak ketika bermain hide and seek.

Setelah memasuki sebuah pipa berwarna biru muda, ia menyadari bahwa tak hanya dirinya yang berada di sana. Seorang anak yang entah lelaki atau perempuan lebih dulu meringkuk dan menatapnya lugu, membuatnya tanpa sadar tersenyum ramah dan memberanikan diri untuk mendekat.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ia bertanya seraya menikmati suara benturan air hujan dengan tanah, menolehkan kepala untuk memperhatikan si bocah bersurai sebahu tak beraturan. Siwon tahu jawabannya, tapi ia ingin memulai pembicaraan untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.

“Sama denganmu, Jongwoon sedang berlindung dari air hujan,” jawab lawan bicaranya sebelum mengerjap lucu. Siwon tergoda untuk mencubit pipi chubby itu, lalu tertawa lepas ketika si pengguna kaos berwarna raven mengaduh dan cemberut. “Apa yang kau lakukan pada Jongwoon? Dicubit itu sakit, kau tahu?”

Tentu saja aku tahu, batin sang Choi kecil setelah mengangguk beberapa kali. “Jadi, namamu adalah Jongwoon? Aku Siwon, salam kenal,” ucapnya kemudian. Jongwoon menolehkan kepala, tampak masih kesal dan lebih mementingkan hujan di luar sana.

Siwon tak tahu apa yang membuatnya berani menangkupkan kedua tangannya di wajah Jongwoon, menatap dalam sepasang mata hazel itu seraya berkata, “Maafkan aku. Aku janji akan membelikanmu permen gulali jika kita bertemu lagi, ne?”

Sosok lugu itu tersenyum gembira seraya mengangguk semangat, setuju akan tawaran yang diberikan padanya. Senyuman itu masih Siwon ingat hingga sekarang—senyuman yang dapat membuatnya takluk dalam sekejap.

Dulu ia tak sadar bahwa apa yang ia rasa adalah cinta.

“Apa yang kupikirkan,” monolognya setelah sadar telah melamunkan masa lalu yang seharusnya sudah terlupakan. Namja Choi itu melangkah keluar dari ruangannya, bermaksud untuk pulang mengingat jam yang telah menunjukkan pukul sembilan malam.

Tepat sebelum masuk ke dalam mobil, Siwon mendapati Yesung tengah melakukan hal yang sama di lapangan parkir agensinya. Namja bersurai hitam itu memasuki mobil, lalu langsung meninggalkan gedung tanpa berpikir dua kali. Siwon merasa itu wajar, namun tak lagi ketika sepasang matanya melihat sebuah benda tergeletak di sebelah lahan yang sebelumnya Yesung gunakan untuk memarkir kendaraannya.

Setengah berlari, ia mendapati dompet berwarna cokelat tua tergeletak di sana. Siwon meraihnya, memutuskan untuk mengembalikan kepada pemiliknya besok—tapi pertama, ia harus mengetahui siapa pemiliknya terlebih dahulu.

Mungkin ini melanggar privasi, tapi tak ada cara lain. Siwon membuka dompet itu, menemukan berbagai jenis kartu dan berlembar-lembar uang. Sedangkan di bagian foto, ia menemukan dua foto yang menyebabkan kedua matanya membulat tak percaya.

Foto Yesung sama sekali tak mengejutkannya, namun hal berbeda berlaku ketika ia mendapati foto Jongwoon—yang mana berartikan, Yesung dan Jongwoon adalah orang yang sama.

#

Hari itu kafe terlihat lebih sepi dari biasanya—mungkin karena awan hanya mendung dan hujan belum turun, atau mungkin karena para pengunjung sibuk dengan urusan mereka. Siwon tak mau membuang waktu untuk menebak, ia lebih memilih untuk menikmati debaran jantungnya yang tak normal, tak sesuai irama, tak beraturan… sialan, bagaimana ini?

Ia bukan tipe yang mudah gugup atau terbawa suasana; Siwon adalah seseorang yang tenang, mengikuti arus karena ia harus mengikutinya, bukan karena terbawa tanpa sengaja. Tapi kasus kali ini berbeda, ia terombang-ambing terlalu jauh, apa yang dirasakannya meluap-luap bagai air mendidih yang belum dimatikan hingga akhirnya tumpah mengotori ruangan.

Ini baru hari keempat jika ia melihat Yesung—masih dari kejauhan, belum berbicara dengannya—kenapa ia merasa seolah mereka telah dekat bertahun-tahun lamanya? Dan jika benar Yesung adalah Jongwoon, ia harus merasa bersalah karena setelah bertemu satu hari di taman perumahan, mereka tak pernah bertemu hingga sekarang.

Bukan, bukan itu yang harus dikhawatirkan. Kecil sekali kemungkinan Jongwoon masih mengenalnya; karena bahkan jika ia tak melihat foto yang ada di dalam dompet pemuda itu, Siwon juga takkan mengenalinya.

Dan Jongwoon bukanlah Jongwoon yang dulu sekarang.

Bohong jika orang-orang mengatakan bahwa waktu tak berpengaruh banyak. Tentu saja waktu mempengaruhi segalanya. Wajah, sifat, tingkah laku, semua pasti berubah. Namun ada satu hal yang Siwon yakini tak berubah dari Jongwoon; hal yang menyebabkan dirinya merasa bahwa pemuda itu familiar di kala pertama mereka jumpa setelah sekian lama.

Senyumannya.

“Ah,” gumam seorang lelaki yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Sosok itu tersenyum, hendak berlalu—Siwon tahu mengapa, tentu saja karena kini ia tengah duduk di tempat favorit pemuda bertopi itu—namun terpaku ketika melihat sebuah benda tak asing di atas meja.

“Bukankah itu dompetku?”

Siwon berdeham, tubuhnya terlalu kaku untuk mengangguk membenarkan. “Aku menemukannya kemarin. Karena melihat fotomu di dalam dompet itu, aku bermaksud mengembalikannya padamu.”

Sosok bersurai hitam itu kembali tersenyum manis, dan Siwon bersumpah ia bisa meleleh kapan saja, mungkin sesaat lagi. “Terima kasih. Tapi bagaimana kau tahu aku pasti berada di sini?” Pertanyaan akan rasa penasaran itu menghentikan detak jantung sang Choi beberapa detik lamanya. “Kalaupun kau mengenalku, seharusnya kau menemuiku di agensi, bukan?”

Berpikirlah, berikan alasan apapun yang masuk akal. Siwon memutar bola mata, memutuskan untuk agak berbicara jujur karena tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan telak sedemikian rupa. “Aku sering mengunjungi kafe ini dan pernah melihatmu beberapa kali.” Ia diam sejenak. “Jadi, kupikir aku akan menemukanmu di sini,” sambungnya kemudian.

Yesung mengangguk dengan raut wajah bingung yang kentara. “Seharusnya kau tak seyakin itu. Seingatku, aku baru mengunjungi kafe ini kurang dari lima kali,” imbuhnya dengan tatapan menuduh. Siwon terlihat gugup, gerak-geriknya berhasil menyebabkan sang namja bertopi tertawa pelan.

“Aku tidak bermaksud menyudutkanmu—” Yesung melangkah mundur, hendak duduk di seberang Siwon yang terbelalak. “—Siwon-ah.”

#

Tak ada yang namanya kebetulan, semua pertemuan mereka selama ini mutlak rencana.

Siwon hanya dapat memberikan ekspresi tak percaya ketika Yesung mengatakan bahwa ia masih mengingat dirinya dengan jelas, dan apa yang membuatnya lebih terkejut adalah fakta bahwa tiap pertemuannya dengan Yesung telah direncanakan dengan matang oleh yang bersangkutan.

“Kejutan untuk teman lama.” Model yang sedang naik daun itu memberi alasan.

Sebenarnya Siwon hanya perlu menenangkan gejolak-gejolak aneh yang ia rasa, menenangkan tubuhnya yang meriang karena bahagia terlalu berlebihan. Seharusnya ia segera mengakhiri percakapan hari ini sebelum dirinya pingsan di tempat. Tapi apa yang ia lakukan malah kebalikannya—melontarkan pertanyaan bodoh dan menikmati dirinya yang tampak seperti bukan dirinya.

“Untuk apa kau melakukan itu semua, Jongwoon-ah?”

Jongwoon kembali tersenyum, dan Siwon yakin ia mulai tak waras saat itu. “Karena aku tahu kau pasti sudah melupakanku.” Sekilas, ia dapat mendengar nada sendu yang berusaha disembunyikan. “Jika aku tidak menjatuhkan dompetku dengan sengaja, kau pasti takkan tahu, bukan?”

Memang benar. Siwon mengalihkan pandangan, menyesal telah membawa topik yang akhirnya menyusahkan dirinya. “Hanya itu?” Ia kembali bertanya, bermaksud membawa topik lain yang mungkin lebih menarik daripada yang sekarang.

“Karena aku terlalu senang ketika kembali melihatmu. Karena aku terus berusaha mencari tahu tentangmu setelah hari itu, namun tak menemukan apapun. Karena pertemuan sehari itu tak pernah cukup untukku. Karena aku merindukanmu. Karena aku ingin memberikan kejutan pada orang yang… kusayangi. Karena aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah Jongwoon yang berbeda, bukan Jongwoon kecil dan lugu seperti yang kau kenal dulu. Karena aku—”

Siwon mengerjap penuh harap.

“—aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu, aku masih mencintaimu setelah kita berpisah dan tak pernah tahu keadaan satu sama lain, dan aku tahu aku tetap mencintaimu ketika melihatmu beberapa hari lalu, tak peduli kau telah berubah begitu banyak, karena pada akhirnya aku masih mengenalmu.”

Keadaan hening setelahnya. Siwon meraih tas ransel yang ia letakkan di atas sebuah kursi tepat di sebelahnya, mengeluarkan sesuatu yang dapat dikategorikan besar—sesuatu yang membuat Jongwoon tak dapat berkata-kata.

“Aku belum sempat memberikannya padamu dulu. Aku yakin kau masih menyukai gulali. Benar, ‘kan?”

Dan saat itu Siwon sadar, bahwa dua kali jatuh cinta pada orang yang sama tidaklah seburuk kedengarannya.

Fin

Credit title: T-ARA’s Sixth Japanese Single Standart Edition 7 – Bunny Style!; Happy Rain (Areum Solo)

My entry for YeWon Day! Thanks to Chuz-unnie (Fairy.siwoonie) and Ramyun-unnie (Cloudhy3424) who reminded me lol this fict is dedicated to them and my lovely May-unnie (UkeYesung xD)^^

Saya tau fict ini mainstream (bukan tentang idenya, tapi saya memang sering banget bikin fict ringan nggak jelas dengan love sebagai tema), dan saya tau mungkin sebagian mulai bosan meski pendeskripsian saya terus berubah untuk menghindarinya. Should I sing this kind of line?; “This is real, this is me!” orz

Dan, saya tau moment-nya kurang TAT /runs away/

Happy YeWon day!

16 thoughts on “Happy Rain

  1. awww cute cute cute!!!
    Hari ini semua ff yewon cute!! XD

    oke soal ide emang bisa dibilang mainstream,
    maksudku, jatuh cinta pada pandangan pertama, dan ternyata itu adalah orang yg sama dgn seseorang di masa lalu, dan kemudian happy ending.
    Tapi shiki berhasil membuat fic ini terasa berbeda (?) dgn writing style nya yg awesome as always xD

    satu-satunya yg ngga ketebak adalah yesung ngerencanain itu semua lol
    kaget juga dia yg confes pertama kali xD

    okesip thanks for this beautiful fic :*

  2. ya ampun!!! sangat teramat manis!!! 🙂

    aku ga pernah merasa bosan dengan cara pendeskripsian chingu!!! setiap kali aku baca tulisan chingu, aku benar” bermain dg imajinasiku. pendeskripsian seperti ini membuat aku bener” larut dalam cerita, membayangkan setiap peristiwa yang terjadi, juga perasaan yang dirasakan setiap tokohnya.
    aku justru suka banget yg seperti ini.

    untuk ide cerita, aku akui kalo itu emang sering bngt mainstream, terutama untuk oneshoot..

    tapi, bukannya dunia ini memang berisi hal” yg itu” saja?? tapi, bagaimana setiap orang memandang apa yang ada di dunia itu yang begitu beraneka macam, berbeda”.. dan cara pandang itulah yang membuat dunia, yang sebenarnya emang sama ini, menjadi dunia yg berbeda antara satu orang dg orang lainnya.

    dan cerita chingu, emang cerita yang umum, seperti yg ini.. cinta masa kecil, kembali bertemu ketika dewasa dan rasa cinta itu yg tak pernah hilang, yang kemudian berakhir happy ending..
    tapi cara pandang chingu terhadap peristiwa seperti itu, yang chingu tuangkan dlm bentuk tulisan itu lah yg berbeda. bila orang lain yang membuatnya, akankah itu sama?? aku rasa tidak, walau awal dan akhirnya mungkin sama. tapi pertengahan perjalanan itulah yg aku yakin pasti berbeda.

    mian, malah jd komen ga jelas..
    sejujurnya setiap baca tulisan chingu, bingung mw blng apa.. karena menurutku, terlalu tingkat tinggi.. hehe
    jadinya malah selalu bicara yg ga jelas.. -_-

    aku suka bngt sama tulisan chingu.. ^^

  3. Ahhhh, shiki ini bener2 sweet bangeeeeet >////<

    Aku bacanya sambil blushing hlooo membayangkan kalau itu aku sama errr 'someone' /ignore/

    Siwon jatuh cinta pada orang yang sama, dan parahnya orang yang buat Siwon seperti itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Demi apapun, ini bisa disebut takdir hloooo!!! Ahhhh keren keren keren!!! Aku ngefans banget sama gaya penulisanmu, hebaaaat!!! ahhh banyak belajar dari kamu :)) *duaaar*

    Aku berharap kamu buat sequel ini XD *dihajar*

  4. happy yewon day,,,

    yesung ‘nakal’ y,,,merencanakan hal konyol yang tdk akan menjadi konyol klo udah menyangkut soal cinta hehe…

  5. Shikiiiiii (۳˚Д˚)۳ honey bunny sweety… Gantung ih~ .. Kenapa cm yesung yg nyatakan cinta?? Dimana kata2 indahmu tuan choi siwon???

    Ini udah keren kok walau emang bener momentnya dikit *pundungdipojokan*
    Tp ini udh bagus sebagai gift yewon day mom n daddy \(´▽`)/ yayy…

    Thanks shiki~ kirain km bakal gk buat, tp trnyata bner2 surprised ヾ(≧∇≦)ゞ

    Choi siwon-ssi, kenapa anda membuatku gila?!
    Kim jongwoon-ssi, kenapa kau cocok bgt sih jd uke?? Duh aku senyum2 sendiri bacanya hohoho…
    Ini nih kayak secret admirer tp trnyata yg di intai udh merencanakan jauh sblum pemain utamanya mengatakan yg sbnernya *ngomong apa ini* wkwkwkwk

    Okesip aku tau commentku gk jelas, yg penting ini keren!! Ringan dan sweet (´▽`ʃƪ)
    Aw~ okay shiki.. Ditunggu ff lainnya \(´▽`)/
    Fighting!! (ง▔▔^▔▔)ว
    #kisseu (˘⌣˘)ε˘`)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s