Speak Now: Long Live

Speak Now

Track 14Long Live [YoonJin/Canon]

[—Promise me this: that you’ll stand by me forever.]

.

.

Kadang, Kim Seokjin merasa kehidupannya sebagai idol tak sepadan dengan pengorbanannya. Ia mendapatkan ketenaran, harta, media memamerkan bakat—tapi Seokjin merasa lelah bagai tiap tetes darahnya dikuras secara paksa, tanpa meninggalkan apapun di dalam tubuh lemahnya. Ia mendapati dirinya yang memikirkan begitu banyak masalah, tak jarang depresi karena merasa tak cukup baik dan menahan diri melakukan banyak hal yang seharusnya dilakukan lelaki di umurnya secara bebas.

Min Yoongi lebih menyedihkan; ia mencintai musik, namun diperbudak oleh hal itu hingga tak memiliki waktu untuk menikmati hidupnya yang hanya mengikuti arus layaknya air. Entah sejak kapan, Yoongi dibodohi oleh apa yang menjadi hobinya, sesuatu yang harusnya ia gemari karena tak butuh desakan untuk melakukannya. Yoongi mendapati dirinya menghabiskan waktu demi musik semalaman atau lebih, membiarkan tubuhnya tersiksa akibat kafein yang ia telan secara paksa demi terjaga semalaman—demi musiknya, sesuatu yang dulu ia lakukan untuk kesenangan semata, bukan kewajiban.

Lalu di saat keduanya lelah dan berpikir untuk angkat kaki, melambaikan bendera putih pertanda tak sanggup lagi, mereka akan berbaring di atas dua kasur yang digabungkan menjadi satu—kamar Yoongi yang merupakan kamar Seokjin, karena mereka adalah roommate sejak pindahnya dorm Bangtan beberapa bulan lalu.

Seokjin takkan mengeluh, ia hanya akan memposisikan kepalanya di atas lengan pucat Yoongi yang tak pernah menolak keberadaannya, menatap langit-langit kamar dalam diam seraya bertanya-tanya akan alasannya masuk ke dunia memenatkan ini sejak awal. Yoongi pun takkan mengeluh, ia hanya akan membiarkan Seokjin menggunakan lengannya sebagai bantal, menatap wajah Seokjin yang menawan alih-alih termenung mengasihani dirinya yang memalukan, lalu mulai bertanya-tanya mengapa ia rela merenggut kesenangannya dengan mengubahnya menjadi sebuah kewajiban.

Tapi takkan ada suara, karena Seokjin dan Yoongi adalah pemendam. Tipe orang yang mengutamakan orang lain di atas kepentingan mereka, juga menerima beban tanpa ingin membaginya karena merasa cukup kuat; padahal tidak. Seokjin sebenarnya hancur, dan Yoongi mungkin lebih buruk. Keduanya hanya ingin tampak tegar dan dapat diandalkan, sedangkan yang ingin mereka lakukan hanyalah mengeluh dan menangis sambil berkata tak mampu melanjutkan segalanya lebih lama. Mereka mengerti satu sama lain jauh lebih baik dari siapa pun juga, memilih untuk tak mengusik pilihan yang dipilih dengan kedua mata terbuka meski mengaku buta ketika menentukan. Yoongi hanya akan berada di sana di saat Seokjin ingin menyerah, dan Seokjin akan berdiri di samping Yoongi ketika pemuda itu berantakan. Seperti itu; sesimpel itu cara keduanya saling mendukung.

Min Yoongi dengan tiap tuntutan untuk menciptakan lagu yang sempurna, juga Kim Seokjin dengan desakan untuk menjadi hyung tertua yang lebih berguna. Tak ada yang lebih buruk daripada merasa tertekan, namun baik Yoongi maupun Seokjin memilih untuk bertahan. Mencari ketenangan dari satu sama lain ketika membutuhkan dukungan, menebalkan muka begitu dihadapkan kenyataan. Yoongi dengan penuh rasa bersalah menyemangati Seokjin untuk tak menyerah, Seokjin dengan rasa tak tega menepuk pundak dongsaeng-nya sebagai pengingat bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Lalu, seperti yang terlihat; Yoongi adalah pekerja keras, Seokjin jauh lebih parah. Yoongi akan berkutat dengan musiknya tiap memiliki waktu luang, dan Seokjin akan mengurung dirinya di ruang latihan berjam-jam lebih lama daripada yang lainnya. Ekspektasi yang diberikan pada mereka secara perlahan menjadi bom waktu yang akan menghancurkan keduanya—tapi Yoongi adalah penjinak bom tersebut bagi Seokjin, begitu pula sebaliknya.

Tak ada masalah, mereka akan baik-baik saja. Seokjin percaya selama keduanya tetap bersama, di dalam agensi yang sama, grup yang sama, atap yang sama, juga kamar yang sama.

“Seokjin-hyung, tetap di sisiku.”

Itu bukan pertanyaan; Yoongi adalah seseorang yang gemar memberi pernyataan. Namun Seokjin hanyalah Seokjin yang akan tersenyum ketika mendengarnya, mengabaikan nada memerintah yang diberikan si Min lebih muda, lalu membalas meski tahu Yoongi tak butuh balasan.

“Seperti yang kau tahu,” suara dering handphone tak berhasil mengusik keduanya. “Aku takkan pergi ke manapun.”

FIN

Credit title: Taylor Swift’s Third Album – Speak Now; Long Live

FINALLY IT’S DONE!!

((This drabble/ficlet collection isn’t as easy as I thought sobs))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s