Pride and Heart [Chapter 1]

Hogwarts AU Series: Part 4

Hyung, kau tidak serius.”

Seokjin merengut mendengarnya. “Kalau ini tentang aku tak mendukungmu untuk mengikuti pertandingan Quidditch akhir minggu nanti, ya, aku serius.”

Menggelengkan kepala, Taehyung berpindah ke sisi kanan Seokjin ketika sang kakak bergeser demi menghindarinya. “Bukan, bukan itu—walau aku masih tetap akan melakukannya,” ia menjawab cepat, mengabaikan lirihan putus asa Seokjin yang kemudian menghela napas. Salah satu prefek asramanya, Jungsoo, menghampiri untuk menegur keberadaannya yang duduk di meja Hufflepuff, namun hanya mendapatkan cengiran menyakitkan mata sebagai tanggapan.

“Ini tentang kau dan si Slytherin itu,” meski tampak tak berminat, Taehyung dapat melihat kakaknya kehilangan fokus selama sesaat. “Kau belum mengakhiri hubungan kalian. Hyung, kau pasti tidak serius,” ulangnya dengan menekankan kata tidak serius seolah hidupnya bergantung pada dua kata itu.

“Yah… Yang itu juga.”

“Juga apa?!”

“Aku serius.”

Sebulan lebih sedikit setelah tahun ajaran baru dimulai, Taehyung mendapati kakaknya berpacaran dengan Min Yoongi—seorang Slytherin bersurai blond yang tak tampak menyenangkan karena nyaris selalu berwajah datar, namun merupakan murid kebanggaan di kelas pertahanan terhadap ilmu hitam. Ia tak pernah menyukai Slytherin, bahkan cenderung membenci para murid asrama tersebut dikarenakan sebuah insiden di tahun pertamanya. Lalu secara tiba-tiba, beberapa bulan lalu, Seokjin menyatakan bahwa kini ia menjalin hubungan dengan salah satu penghuni asrama yang identik dengan warna hijau tersebut.

Tentu Taehyung tak terima, bahkan menolak untuk membahasnya dan menghindari Seokjin hampir selama dua bulan. Ia sempat melimpahkan semua kesalahan pada Jeon Jungkook, penghuni asrama yang sama dengan Yoongi, satu tahun di bawahnya, karena yakin bocah itu pasti terlibat. Itu pun, setelah akhirnya berhasil menemui Jungkook, Taehyung berakhir merasa bahwa anak itu takkan berguna banyak, ditambah mood-nya yang memang tak pernah bagus jika menghabiskan waktu dengan Jungkook terlalu lama. Jadi ia melepaskan sang Jeon dan tak lagi berusaha untuk mendampratnya tiap mereka berpapasan.

Sekarang, lima bulan telah berlalu sejak Seokjin mengatakan bahwa ia resmi berpacaran dengan seorang Slytherin. Tiga bulan telah berlalu sejak ia melunak dan meminta maaf pada kakaknya karena bertindak kekanakkan. Dua bulan telah berlalu sejak ia mengacungkan tongkatnya di hadapan Jungkook, menyatakan perang. Bulan terakhir musim semi telah datang, pertandingan Quidditch antara Gryffindor dan Ravenclaw menanti di akhir bulan, dan ujian akhir siap menghadang setelahnya.

Demi Merlin, ia tak pernah menanyakan hubungan antara Seokjin dan Yoongi karena merasa bahwa mereka takkan bertahan lama. Seokjin akan segera menyadari betapa brengseknya seorang Slytherin, atau Yoongi akan segera menyadari bahwa seorang darah murni tak pantas bermain-main dengan muggle-born (rata-rata pemilik darah murni memang seangkuh itu). Tapi di sebelahnya, setelah lima bulan berlalu dan akhirnya ia memutuskan untuk bertanya karena yakin bahwa Seokjin sudah kembali berstatus lajang, kakaknya dengan tenang menyatakan bahwa hubungan mereka belum menemukan titik akhir; bahkan Taehyung tak menemukan nada kecewa di balik kalimat tersebut.

Jungkook memang mengatakan bahwa Seokjin terlihat menikmati hubungannya dengan Yoongi meski di awal keberatan dan merasa diperlakukan secara sangat tidak adil, namun Taehyung menepis jauh hal itu dengan menyumpahi Jungkook karena tak mungkin kakaknya merasa bahagia menjalin hubungan dengan anggota asrama yang membuatnya diharuskan menginap di St. Mungo selama sebulan penuh.

(Taehyung tahu ia tengah membohongi diri sendiri dua bulan lalu, karena dengan jelas ia melihat Seokjin tersenyum hangat seminggu lalu tepat sebelum ia bertemu dengan Jungkook, pada Yoongi yang menghampiri di saat mereka tengah menghabiskan waktu edisi kakak-beradik di suatu Minggu siang)

Hyung, kenapa harus seorang Slytherin?” Ia akhirnya bertanya, sepenuhnya mendapatkan perhatian Seokjin yang menoleh dengan tatapan kenapa tidak?

“Apa maksud—oh,” sang Kim sulung berusaha mengunyah makanan di dalam mulutnya secepat mungkin, lalu meneguk jus labu yang disediakan seperti hari-hari lainnya. Sejujurnya, membicarakan masalah ini dengan Taehyung takkan menemukan akhir karena adiknya takkan mau melihat dari persepsi lain.

Nada bicara Taehyung melemah ketika akhirnya ia memutuskan untuk berbicara dengan kepala yang lebih dingin, hati yang lebih ikhlas, juga suasana yang lebih ringan. “Kau bisa mendapatkan siapapun, tapi kenapa harus…”

Kalimat itu terpotong karena Seokjin menyela, “Taehyung, kurasa aku sudah sering mengingatkanmu untuk tidak berprasangka buruk.”

Saling beradu pandang, Taehyung merasa begitu frustasi karena ia begitu ingin Seokjin untuk mengerti. Mengerti bahwa Taehyung mempedulikannya. Mengerti bahwa Taehyung tak berniat menambah pikiran kakaknya. Mengerti bahwa Slytherin itu sialan dan tak pantas diperlakukan dengan ramah. Tapi Seokjin memandangnya seperti itu, pandangan sama sejak bertahun-tahun lalu, pandangan yang menyatakan kebingungan akan ketidakpahaman.

“Seokjin-hyung, tapi mereka memang seperti itu. Egois, licik, arogan,” ujarnya dengan suara ditahan mati-matian, tak ingin menyulut masalah yang hanya akan merugikan dirinya. Ia dapat melihat mulut kakaknya bergerak, menggumamkan sesuatu yang dipastikan tak jauh dari kata “cukup” atau “jangan berkata seperti itu”, namun Taehyung sama sekali tak berniat untuk menurut.

Setelah menimbang selama beberapa saat, Taehyung menarik napas dalam. Jika Seokjin ingin menjadi putri duyung yang bahagia dengan keadaan di dasar laut, maka ia akan memerankan sosok jahat dengan menarik hyung-nya ke daratan; menghadapi fakta bahwa kebahagiaan bersifat semu semata. “Jangan bilang kau mempercayainya, Hyung. Dia tidak mungkin menyukaimu. Seorang darah murni… Mana mungkin sudi melihat kita.”

Dan berhasil. Seokjin menggigit bibirnya, memutuskan kontak mata dengan sang adik sejurus kemudian. “Aku tahu,” bisiknya lemah, menyebabkan Taehyung semakin bimbang. Apa maksud di balik bisikan lemah itu? Kenapa Seokjin tampak sedikit murung? Kenapa ia memilki firasat bahwa Seokjin kecewa dengan kenyataan itu?

Hyung…” Taehyung memanggil kakaknya lembut, baru saja ingin menggenggam tangan Seokjin yang entah bagaimana caranya, lebih kecil daripada tangannya. Namun apa yang ingin ia lakukan terhenti di saat Seokjin membuka mulut dan bersiap untuk bersuara, sepasang mata menerawang jauh entah ke mana.

“Kau melupakan satu hal, Tae. Mereka ambisius dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan,” kalimat itu menohok yang lebih muda, seratus persen tepat sasaran. “Takkan ada yang berubah meski aku meninggalkannya. Dia akan menarikku kembali.”

Taehyung tak tampak setuju, dahinya yang mengkerut menunjukkan apa yang ingin ia lakukan dengan jelas; mengeluarkan seribu bantahan tanpa jeda, “Tapi—”

“Percayalah padaku, Tae. Aku hanya sedang memainkan peranku dengan baik.”

Mendengar kalimat itu berhasil membungkamnya dalam durasi singkat. Ia seharusnya merasa lega, merasa bangga dengan kakaknya yang ternyata tak seserius kelihatannya. Ia seharusnya lari mencari Jungkook, berteriak di depan wajah bocah itu bahwa Seokjin memang pintar bertipu muslihat dan berakting sempurna. Ia seharusnya dapat merasakan beban di pundaknya menghilang.

Tapi tidak. Taehyung berakhir menghela napas dengan kedua pundak yang jatuh karena merasa tak tenang, frustasi jiwa, kecewa—karena sebesar apapun ia ingin mempercayai apa yang Seokjin katakan, ia tahu lebih baik daripada siapapun bahwa apa yang kakaknya katakan tak lain hanyalah sebuah dusta.

#

Entah sejak kapan semua menjadi serumit dan semenyebalkan ini.

Atau mungkin sejak awal; Seokjin tak tahu lagi.

Ketika berapa bulan lalu ia menyetujui untuk menjalani hubungan dengan Yoongi, Seokjin merasa yakin bahwa alasannya adalah ia takkan bisa lari. Ke manapun. Tatapan Yoongi menjelaskan segalanya lebih dari cukup; lelaki itu takkan melepaskannya semudah itu. Seokjin yakin ia hanya akan memerankan peran yang ditakdirkan untuk ia terima, cepat ataupun lambat.

Namun hari itu—ketika untuk pertama kali Yoongi membuka diri, memamerkan senyum yang hingga mati pun takkan bisa ia lupakan, Seokjin tahu ia bukanlah aktor utama dalam hidupnya. Ia hanyalah bidak biasa, yang selamanya takkan mampu melakukan segala hal sesuai kehendak. Yoongi merebut kendali atas dirinya, membuatnya kehilangan arah dan terpaksa bergantung pada kata terserahlah.

Dan mungkin, sejak hari itu, ia benar-benar jatuh cinta. Pada Yoongi dan cara bicaranya yang seperti orang mabuk setengah sadar. Pada Yoongi yang tak tampak memiliki emosi, namun menyatakan perasaan pada dirinya. Pada Yoongi dan senyumannya yang, well, siapa sangka seorang Slytherin bisa memiliki senyum menawan? Yang sering mereka tunjukkan hanyalah senyum mengejek teramat menyebalkan.

Seokjin tahu Taehyung tak pernah bermaksud jahat, apalagi menyakiti perasaannya. Ia tahu sebesar apa usaha Taehyung untuk melindunginya, dan sebagai seorang kakak, Seokjin tak bisa merasa lebih bangga. Kekhawatiran Taehyung beralasan—ia lah yang menampik jauh rasa khawatir itu karena ingin mencoba untuk percaya.

Percaya. Seokjin menghela napas. Pada akhirnya, Yoongi tak memiliki alasan yang kuat untuk mencintainya. Yoongi tak pernah memberi alasan, berbicara banyak, ataupun menunjukkan dengan perilaku nyata—tapi di sini Seokjin sekarang, mencoba untuk percaya tanpa apapun sebagai pegangan. Jika ia berpikir ulang, yang harus ia percayai hanyalah semua ini tidaklah nyata. Ia tengah dijadikan sebagai bahan pengisi waktu luang.

Semua pemikiran itu mengakibatkannya merasa kecewa seketika.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

Memilih untuk tak menyeburkan minumannya, Seokjin menelan cepat minuman di dalam mulutnya hingga tersedak. Yoongi menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan bagaimana Seokjin berusaha menghilangkan rasa perih di tenggorokannya, lalu meminta segelas air pada pelayan yang kebetulan lewat.

Setelah menegak air yang diberikan oleh sang pelayan, Seokjin berhasil kembali bernapas tanpa hambatan. Ia melemparkan pandangan kesal pada si Slytherin, apalagi di saat mendapati Yoongi sudah menyamankan posisi di kursi tepat di depannya. Siapa pula yang mempersilakan?

“Yoongi, kau harus berhenti muncul secara tiba-tiba seperti itu,” ucapnya setengah putus asa. “Suatu hari kau akan benar-benar membunuhku tanpa sengaja.”

Tak mengayalkan protes tersebut, Yoongi kembali memanggil pelayan dan memesan segelas butterbeer. Seokjin memicingkan mata, tapi tak mengeluarkan suara karena tahu tak ada gunanya. Pemuda di hadapannya kerap tak mengacuhkannya hingga ia berakhir kebal dan tak berharap banyak.

“Tapi aku menyukai reaksimu,” Yoongi menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum sedikit lebih lebar ketika melihat wajah Seokjin memerah kentara. Ia berdeham begitu sang pelayan kembali menghampiri meja mereka, meletakkan segelas butterbeer yang sekitar dua menit lalu ia pesan.

Memilih berpura-pura tak menyadari wajahnya memanas, Seokjin mendengus. “Kenapa kau bisa berada di sini?” tanyanya sambil memperhatikan gerak-gerik Yoongi, tak lagi merasa canggung berada di dekat si pemilik surai blond seperti ketika mereka awal berjumpa. Atau mungkin sedikit—tapi seiring waktu berjalan, Seokjin bisa menanganinya dengan baik.

“Karena kau berada di sini,” Yoongi meneguk minumannya, tak tampak ingin menjelaskan bagaimana cara ia mengetahui keberadaan Seokjin. “Apa yang kau lakukan seorang diri?”

Seokjin menahan diri untuk tak menunjukkan rasa hangat yang menyelimuti hatinya. Yoongi masih sama; misterius, acuh tak acuh, irit suara, namun kini namja itu berusaha untuk lebih terbuka dan sesekali memulai percakapan. “Hanya ingin… menghabiskan waktu sendiri, kurasa.”

“Kau mengusirku?”

“Apa? Bu-bukan begitu!”

Mengangkat bahu ringan, Yoongi mengedarkan pandangan, tampak seperti mencari sesuatu atau mungkin seseorang. “Bagus. Aku juga tak berminat untuk pergi meski kau mengusirku,” ujarnya tanpa merasa berdosa. Seokjin sedikit menyesal sempat merasa khawatir Yoongi akan tersinggung akibat jawabannya.

Suasana The Three Broomstick tak terlalu ramai saat itu, sehingga menemukan seseorang bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Kebetulan berada di posisi menghadap pintu masuk, Seokjin dapat melihat seseorang yang ditunggunya baru saja datang, tampak kebingungan mencari keberadaan dirinya. Ia hendak mengangkat tangan untuk memberitahu di mana ia berada, namun eksistensi seorang murid perempuan yang kini berjalan menuju mejanya berhasil membuatnya mengurunkan niat.

Park Jiyeon. Seokjin tahu siapa murid perempuan berparas cantik itu.

“Min Yoongi,” geram Jiyeon sesampainya di meja yang ditempati oleh Seokjin. “Kau tidak seharusnya meninggalkanku mengerjakan tugas itu sendirian—”

Sang Min memotong cepat, “Tapi aku melakukannya. Lalu apa?”

Berada di antara dua orang yang sedang terlibat masalah bukanlah hal yang disukai siapapun. Seokjin hanya ingin menghindar dan menjauh dari sana, namun sepasang mata Yoongi menyiratkan ancaman serius. Dengan berat hati, ia memaksakan diri untuk duduk dan bersikap tak acuh.

Jiyeon bukannya tak menyadari keberadaan Seokjin. Ia sudah menahan diri untuk tak menaikkan suaranya demi menghargai penghuni Hufflepuff itu, sayangnya Yoongi memang bukanlah seseorang yang dapat dihadapi dengan kesabaran. Atau mungkin, justru karena ada Seokjin, ia bisa melakukan suatu hal yang menyenangkan?

Duduk di sebelah Yoongi yang langsung melirik tajam, Jiyeon tersenyum manis. Belakangan ini, banyak kabar burung yang beredar tentang Yoongi dan Seokjin—Jiyeon hanya ingin membuktikannya, sekaligus membuat Yoongi kesal seperti yang ia rasakan akibat berjam-jam mengerjakan tugas secara maraton seorang diri. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Yoongi yang langsung bereaksi defensif, tapi Jiyeon mengenal lelaki itu cukup lama untuk tahu celah yang dapat ia lewati.

“Mari kita mencari kebenaran dari kabar burung yang beredar,” bisiknya sebelum mengecup telinga Yoongi singkat. “Juga sedikit membalas dendam, mungkin?”

Ketika Yoongi sadar akan apa yang Jiyeon lakukan, terutama di hadapan Seokjin, ia langsung berdiri dan mengeluarkan tongkatnya, hendak mengeluarkan mantra apapun untuk mengutuk Jiyeon yang masih menyinggungkan senyuman. Jiyeon sendiri tampak tak terganggu dengan sebuah tongkat teracung tepat ke wajahnya, memilih untuk ikut berdiri dan berjalan menuju pintu keluar usai berkata, “Kau takkan melakukan apapun, Yoongi. Kita berdua tahu akan hal itu.”

Masih menggenggam tongkatnya nyaris sekuat tenaga, Yoongi menggunakan lengan jubahnya untuk mengusap kasar telinganya. Ia beralih pada Seokjin yang bungkam, membuka mulut untuk mengatakan apapun—membela diri, memberi penjelasan, atau mungkin meminta maaf meski agaknya mustahil ia lakukan, namun ia tak dapat menemukan suaranya. Yoongi mendapati otak jeniusnya berhenti beroperasi seketika.

Kenapa aku harus membela diri? Penjelasan macam apa yang harus kuberikan? Demi Merlin, aku pasti gila karena berpikir untuk meminta maaf.

“Seokjin-ah!” Dahi sang Min berkedut mendengar suara asing itu. Seokjin sendiri tampak terkejut dan kembali pada kesadarannya yang entah mengapa Yoongi yakini sempat menghilang sesaat, lalu menggumamkan sesuatu dengan cepat. Sang Kim menghembuskan napas panjang, kemudian menghindari tatapan Yoongi dan membiarkan tubuhnya ditabrak oleh seorang lelaki bersurai cokelat yang merangkulnya cukup kuat.

“Jaehwan, kau benar-benar,” Seokjin tertawa kecil, dan Yoongi sangat tak menyukai bagaimana Seokjin melarang sosok bernama Jaehwan itu untuk duduk dengan alasan ingin pergi ke tempat lain—tanpa melepaskan rangkulan di pundaknya, tak terlihat risih barang setitik.

Min Yoongi masih berdiri, tak mengeluarkan sepatah kata apapun bahkan ketika sang Hufflepuff berkata akan meninggalkannya untuk mengerjakan sebuah tugas. Seokjin bahkan tak menatapnya dan langsung membalikkan badan untuk meninggalkan meja di mana mereka sebelumnya duduk berhadapan, melangkahkan kaki seraya bercengkrama dengan murid yang baru ia kenali setelah otaknya bekerja cukup lama; Lee Jaehwan.

Di detik Seokjin telah berjarak sepuluh langkah dari dirinya, Yoongi memanggil Seokjin—hanya untuk diabaikan oleh yang bersangkutan.

#

Seokjin tak menyadari ia tengah menahan napasnya cukup lama hingga suara khas Jaehwan terdengar di telinganya, membuatnya tersentak kecil sebelum meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Katakan sesuatu, benaknya bersuara. Apapun, ucapkan apapun, tambahnya tanpa mengetahui siapakah yang ia harapkan untuk memulai percakapan: Yoongi atau dirinya.

Namun tak ada yang kata yang keluar dari mulutnya, begitu pun dengan Yoongi yang telah membuka mulut hingga berakhir menutupnya kembali dengan canggung. “Bukun urusanku,” Seokjin bergumam tanpa sadar dan memohon pada Tuhan atau siapapun agar Yoongi tak mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang, tak menyenangkan, sedangkan sepasang irisnya bergerak acak untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikan pusat perhatian.

Ketika tubuh Jaehwan menabrak punggungnya, Seokjin merasa lega dan bersyukur. Suasana tak nyaman dan canggung ini dapat ia tinggalkan sekarang juga. Min Yoongi tak lagi perlu berada di hadapannya. Ia tak tahu mengapa ia ingin pergi dari meja ini sekarang juga, atau mungkin Seokjin tahu Jiyeon adalah alasannya—dan Yoongi, tentu saja—tapi menolak untuk mengakuinya.

Bukan urusanku.

Tawa kecil yang lagi-lagi Seokjin mohon pada Tuhan agar tak disadari oleh Yoongi kepalsuannya, ia lakukan dengan gelisah. “Ayo pindah ke perpustakaan,” ujarnya pada Jaehwan yang dengan lugu membalas, “Oh? Tapi aku menginginkan segelas butterbeer,” lalu berubah pikiran setelah melirik Yoongi, “Kau tahu, kurasa aku tak menginginkannya lagi. Ayo pergi!”

Dengan ragu, Seokjin melirik pemuda bertajuk kekasihnya, masih menolak untuk menatap sepasang mata Yoongi yang sering kali mengintimidasi baik bagi manusia bahkan binatang. “Aku akan… mengerjakan tugas,” Seokjin benar-benar ingin pergi dari sini sekarang juga. “Sampai bertemu lagi, kurasa?”

Jaehwan menariknya, masih dengan rangkulan di pundaknya. Ia mendapati temannya itu mendengus sebelum berusaha menutupi rasa tidak sukanya pada Yoongi dengan mencetuskan topik baru. Seokjin menghargainya, sungguh. Usaha Jaehwan menyebabkannya tersenyum, kali ini dari hati yang terdalam tanpa paksaan sedikitpun. Setidaknya hingga ia mendengar suara Yoongi tepat sepuluh langkah di belakangnya.

“Kim Seokjin.”

Panggilan tegas itu—Seokjin harap ia memiliki keberanian untuk berhenti, berputar dan menanyakan pada Yoongi, “Kenapa?”

Kenapa memanggilku? Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Kenapa tidak berusaha menjelaskan sesuatu? Kenapa kau selalu memilih untuk diam dan membiarkanku berspekulasi tanpa ujung?

Tapi tidak, karena kali ini Seokjin belum memiliki keberanian itu. Untuk sekarang, ia harus merasa cukup bangga dikarenakan memiliki keberanian untuk mengabaikan panggilan tersebut. Panggilan dari seorang Min Yoongi.

“Kim Seokjin!”

Benar, sekali lagi Seokjin meyakinkan diri. Bukan urusanku.

To Be Continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s