Pride and Heart [Chapter 2]

Hogwarts AU Series: Part 4

Terkadang, Jungkook merasa bahwa ia tidak berada di asrama yang tepat. Slytherin dan kesuramannya, ruang rekreasi yang meski elegan namun tampak seperti ruangan (atau penjara) bawah tanah, dan para anggota yang cenderung angkuh tidaklah cocok dengan semangat membara dalam dirinya. Dalam periode waktu tertentu, Slytherin sangatlah membosankan.

Mungkin mengunjungi Seokjin atau mendengar pernyataan ilmiah baru dari Namjoon di asrama Ravenclaw bisa menjadi solusi—tapi jika bertemu Seokjin berartikan bertemu dengan Taehyung maka Jungkook akan mundur dan pernyataan ilmiah Namjoon tak selalu menarik, jadi lupakan saja semua rencana itu.

Ia membaringkan tubuhnya pada salah satu sofa kosong di ruang rekreasi Slytherin, memastikan salah satu prefek asramanya tak berada di sekitar, lalu teringat pada Yoongi yang seharian ini belum ia dapati keberadaannya.

Ketika mendengar derap langkah terburu-buru seseorang, Jungkook melompat dari posisi berbaringnya lalu mendapati sang hyung dengan wajah merah (dikarenakan marah, Jungkook berani bertaruh). Ruang rekreasi Slytherin yang berisikan cukup banyak orang termasuk dirinya langsung menjadikan sang Min pusat perhatian, di mana Jungkook meyakini hal buruk akan terjadi secepatnya.

Salah satu dari para Slytherin yang sedang berada di sana adalah Park Jiyeon, gadis cantik yang ia ketahui berada di tingkat yang sama dengan Yoongi. Jungkook mendapati senior perempuannya itu menghela napas, beranjak untuk meninggalkan ruang rekreasi jika saja Yoongi tak mencegahnya dengan menarik kuat pergelangan tangannya.

“Kau—”

Jiyeon menepis cengkraman yang menahannya, tersenyum sinis pada Yoongi yang nyaris bergemetar akibat menahan emosi dalam dirinya. “Aku hanya ingin mengetahui hubunganmu dengan murid Hufflepuff itu, Yoongi,” seraya mengedarkan pandangan, Jiyeon kembali berkata, “Semua orang di sini merasakan penasaran yang sama.”

Aura di sekitar Yoongi masih terasa semengerikan awal kedatangannya di ruangan ini, menyebabkan Jungkook merasa perlu ikut campur meredamkan amarah sang Min meski tak mengetahui akar dari permasalahan yang terjadi. Belum sempat ia menggerakkan tubuh untuk menghampiri Yoongi, Jiyeon kembali melemparkan minyak ke atas api yang membara. Tentu tidak secara literal.

“Jadi semua gosip itu benar? Kau dan Kim Seokjin?” Bisikan dari orang-orang di dalam ruang rekreasi mulai terdengar, dan betapa Jungkook sangat ingin mengatai Yoongi dan kepopulerannya (mungkin lain kali). Di lain pihak, Yoongi tampak lebih berhasil mengendalikan diri. Jungkook pikir, Seokjin benar-benar berpengaruh besar pada hidup Yoongi sekarang—namanya saja dapat menyebabkan si pemilik surai pirang itu lebih tenang.

Dengan tegas, Yoongi menjawab, “Benar,” yang mana mengejutkan semua orang termasuk Jungkook. “Dan hal itu bukanlah urusan kalian semua.”

Sejujurnya, Jungkook tak pernah meremehkan keseriusan Yoongi. Ia hanya tak pernah berpikir bahwa keseriusan sosok itu berada pada taraf sejauh ini, di mana ia mengakui hubungannya dengan Seokjin di hadapan para penghuni asrama Slytherin. Jungkook seharusnya merekam hal ini dan memberikan rekamannya pada Taehyung agar si keras kepala itu melunak.

Mendengar jawaban yang tak diharapkan itu, Jiyeon kembali beranjak meninggalkan ruangan. Ia melewati Yoongi yang kini membiarkannya melangkah menjauh, menyebabkan rasa kesal semakin menggerogotinya akibat diabaikan. “Kalau kau lupa,” ia berucap beberapa langkah sebelum meninggalkan ruangan. “Kim Seokjin adalah mudblood.”

Yoongi mengeluarkan tongkatnya, tanpa berpikir panjang menunjuk Jiyeon seraya berseru, “Petrificus Totalus!

Gadis yang terkena mantra itu jatuh dengan sekujur tubuh kaku, menyebabkan beberapa murid yang berdekatan dengan tubuhnya terkesiap. Jungkook yang tak dapat menahan keterkejutannya spontan memanggil setengah berteriak, “Hyung!” Ia menggerakkan tubuh Yoongi dengan mencengkram kedua pundak yang lebih tua. “Kenapa kau melakukannya?!”

Masih memandang tubuh Jiyeon yang tergeletak di atas lantai, Yoongi menyimpan tongkatnya. “Dia pantas mendapatkan itu,” ia berujar singkat. Sepasang matanya mendapati prefek tahun ketujuh Slytherin memasuki ruangan, seseorang pasti memanggilnya. “Semua orang di sini tahu itu,” tambahnya, kemudian beranjak menuju kamar.

Jungkook masih setengah tak mempercayai apa yang terjadi setelah beberapa menit lalu, ia baru saja menyatakan bahwa Slytherin membosankan. Dalam diam, ia mengikuti sang hyung, membiarkan Yoongi berbaring di ranjangnya dalam keheningan yang familiar. Dua hal langka terjadi di depan matanya hari ini: Yoongi emosi bukan kepalang dan pertengkaran dua senior hingga melibatkan penggunaan mantra.

Butuh waktu setengah jam hingga akhirnya Yoongi menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.

“Hah,” Jungkook mendesah putus asa sebagai tanggapan. “Kau hanya perlu menjelaskan padanya bahwa Jiyeon-sunbae hanya berusaha mempermainkan kalian,” ada saat di mana ia merasa seperti menjadi pihak yang lebih dewasa, contohnya saat ini. “Dan meminta maaf jika kau mau.”

Mengerutkan dahinya, Yoongi bertanya, “Kenapa aku harus meminta maaf?”

Slytherin dan harga diri, tentu saja, Jungkook mengeluh dalam hati. “Karena dia melihat kejadian itu? Entahlah, kurasa tak semua hal membutuhkan alasan.” Senyum di wajah Jungkook merekah, kemudian ia melemparkan dirinya pada ranjang yang sama dengan Yoongi, menimpah sebagian tubuh sang Slytherin lebih tua yang mana menghasilkan serentet sumpah serepah.

Yoongi menggeser tubuhnya, masih memaki Jungkook yang tak tahu diri, namun tak mengusir pula. Ia berhutang banyak pada bocah di sisinya dan Yoongi cukup sadar akan hal itu. Memejamkan mata, ia memikirkan kembali kalimat yang Jungkook katakan, tak semua hal membutuhkan alasan.

“Oh, Yoongi-hyung?” Yang lebih muda menatap langit-langit kamar, memberi jeda sebelum melanjutkan, “Tadi kau menyebut nama Lee Jaehwan?”

Tak ingin mengingat Seokjin dan Jaehwan yang merangkul kekasihnya terlalu akrab, Yoongi mendengus (ia tidak merasa dongkol atau apapun, terima kasih banyak). Respon itu tampaknya cukup bagi Jungkook yang langsung menarik sudut bibirnya sumringah. “Berhati-hatilah, Hyung,” ujarnya memberi peringatan.

Saling mengenal cukup lama membuatnya tahu bahwa ia tak perlu bertanya dikarenakan Jungkook pasti akan akan segera menjelaskan, sehingga Yoongi bergeming menunggu pernyataan selanjutnya dari si Jeon-bergigi-kelinci. “Dia adalah saingan yang cukup berat. Terlebih, dia bukanlah anggota Slytherin sepertimu, melainkan Gryffindor.”

Tentu ia mengetahui informasi itu meski jelas-jelas tak ingin mendengarnya secara langsung dalam situasi seperti ini—mereka berada di tingkat yang sama. Jungkook hanya menyebabkannya semakin sulit menghilangkan bayangan Seokjin dan Jaehwan, dan ia sama sekali tak menyukai ide di mana ia harus membayangkan dua orang itu terus-menerus tanpa henti.

“Jaehwan-sunbae adalah calon prefek Gryffindor untuk tahun depan,” Jungkook bangkit, bermaksud untuk meninggalkan Yoongi seorang diri. Namun sebelum menutup pintu, ia memberi sedikit informasi dengan senyum jenaka yang ditahan mati-matian. “Setahuku Slytherin belum memiliki calon prefek yang pasti? Ah, atau sekarang sudah?”

Yoongi melempar bantal bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat—menyelamatkan Jungkook dari benda pengganjal kepala untuk tidur tersebut. “Persetan.”

#

“Kenapa kau menghindariku?”

Seokjin tahu saat ini akan segera tiba, namun ia tak menyangka memakan waktu hanya secepat ini. Ia belum sempat membuka mulutnya ketika Profesor Longbottom memasuki sejenis rumah kaca di mana seluruh murid angkatannya berada, siap untuk menerima pelajaran herbologi. Nanah bubotuber sama sekali bukanlah pelarian yang menyenangkan.

Lee Junghwan hanya melirik singkat ketika Seokjin melipir ke sebelahnya, tak memusingkan gerak-gerik mencurigakan teman sesama penghuni Hufflepuff nya itu. Beberapa hari belakangan, Seokjin sering kali menempel padanya atau Jaehwan dan tak pernah terbesit di otaknya untuk bertanya mengapa. Toh mereka memang cukup akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.

Membiarkan Yoongi melemparkan tatapan sengit, Seokjin berusaha untuk memfokuskan diri pada tumbuhan di depannya. Herbologi adalah salah satu (jika bukan salah semua) pelajaran yang menarik untuk muggle seperti dirinya meski bukanlah yang paling ia sukai; Seokjin ragu ada yang menganggap pelajaran ini sebagai favorit. Junghwan sendiri sudah sibuk dengan peralatannya ketika ia menyempatkan untuk mencuri pandang ke belakang, memastikan apa yang Yoongi lakukan.

Masih bergeming menatapnya, Yoongi terlihat lelah. Dalam arti kata tertentu, Seokjin tak mengerti kenapa dan bagaimana namun ia merasa Yoongi terlihat lelah, secara tidak harfiah. Ia memutuskan untuk kembali mengabaikan lelaki itu dan mengurus tanaman bubotuber yang agaknya menjijikkan, terutama bagi kaum perempuan karena ia dapat mendengar keluhan dari berbagai sudut ruangan.

Pelajaran herbologi, sama seperti beberapa pelajaran belakangan ini terasa sangat lama dan terlalu cepat di saat bersamaan. Sangat lama dikarenakan ia harus terus berusaha tak acuh terhadap pandangan tajam Yoongi, terlalu cepat karena ia harus langsung mencari tempat bersembunyi dari orang yang sama. Seokjin tak gemar melakukan ini, tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tak memiliki pilihan lain.

Ketika pelajaran herbologi berakhir dan Seokjin sedang merapikan segala sesuatu agar langsung dapat melarikan diri, Junghwan meraih lengannya untuk menahan segala hal yang tengah dilakukannya. “Aku tak tahu dan tak mau tahu tentang tingkah anehmu beberapa hari ini,” ia berkata. “Tapi kau dan si Slytherin itu terlalu mudah dibaca hingga kepalaku pening.”

Jaehwan menghampiri mereka di saat rumah kaca penuh tumbuh-tumbuhan unik (dan mengerikan di saat bersamaan) itu telah sepi. Ia memastikan keberadaan Yoongi terlebih dahulu sebelum mengajak kedua temannya untuk pergi. “Kalian sudah beres? Ayo,” ajaknya meski mendapati aura canggung di antara dua pemuda yang tengah berdiri bersebelahan.

“Uh, aku—”

“Bicaralah dengannya,” Junghwan mengambil keputusan final, lalu menarik Jaehwan yang memberontak dikarenakan tak ingin keluar dari sana dan meninggalkan Seokjin bersama Yoongi. Seokjin sendiri sulit mengangkat kepalanya, terutama ketika pandangannya diisi oleh sepasang sepatu hitam yang tentunya merupakan milik sang surai pirang.

Menatap ngeri lelaki bertajuk kekasihnya, Seokjin menelan ludah. Ia menghindari Yoongi susah payah karena ia tak tahu harus berkata dan bertindak seperti apa. Otaknya terus mengulang ingatan tentang Jiyeon dan Seokjin benar-benar ingin membuang momen beberapa menit itu ke dasar jurang.

“Kenapa kau menghindariku?” Suara Yoongi semakin meyakinkan Seokjin bahwa sosok di hadapannya tengah lelah luar biasa. Ia menatap sepasang mata sipit Yoongi yang kali ini sedikit menampilkan keteduhan walau tanpa mengurangi ketegasan.

“Aku… tidak tahu,” keluguan jawaban itu seharusnya menyebabkan Yoongi kesal. Jawaban dari pertanyaan yang dengan susah payah ia lontarkan setelah akhirnya dapat berbicara empat mata dengan Seokjin seharusnya tidak hanya memuat enam suku kata—namun melihat Seokjin dengan tatapan nanar membuatnya tak sampai hati untuk mendesak.

“Semua ini karena kejadian waktu itu, bukan?” Pertanyaan retoris tersebut ingin dibantah oleh yang beberapa bulan lebih tua, tetapi Seokjin mendapati suaranya hilang dan berkhianat. Yoongi menganggapnya sebagai sebuah persetujuan atau pembenaran, entahlah. “Dengar, dia hanya berusaha mempermainkanmu.”

Tanpa penjelasan itu, sebenarnya Seokjin sudah mengetahuinya. Ia juga tahu apa yang Yoongi lakukan pada Jiyeon di ruang rekreasi Slytherin; berita selalu menyebar dengan cepat di lingkungan tertutup seperti Hogwarts. Seokjin hanya menyesali mengapa Yoongi memilih untuk diam saat itu, memanggilnya namun tidak mengejarnya. Membiarkannya dengan berbagai pemikiran dan bayang-bayang menghantui sepanjang malam.

Seokjin hanya berharap terlalu banyak. Ia berharap Yoongi berada di sisinya, meyakinkannya melalui gesture maupun kata-kata meski tahu hal itu mustahil untuk dilakukan oleh seorang Slytherin dingin seperti sosok di hadapannya. Keraguan dan kegundahan dalam hatinya terus mengusiknya tanpa ampun hingga Seokjin tak tahu harus melakukan apa untuk menyirnakan itu semua, dan Yoongi hanya memperkeruh perasaan-perasaan menyebalkan yang menghantuinya.

Ia merasa bodoh dan memalukan di saat bersamaan karena berusaha menolak kenyataan akan satu perasaan yang ia tahu disebut apa, namun selamanya takkan terucap oleh benak maupun bibirnya.

“Kau cemburu?”

Telinganya yang memanas adalah sebuah kesalahan terbesar (meski ia tahu ia tak dapat mengontrol reaksi itu) karena Yoongi terlihat terkejut dengan tebakan beruntungnya. Seokjin menggumam kikuk, mencari kalimat yang tepat untuk menyangkal pertanyaan bagai pernyataan tersebut. Ia melirik ke segala penjuru arah seolah mencari petunjuk.

“Itu… bukan—” kalimatnya terpotong ketika ia merasakan tangan Yoongi menyentuh wajahnya, menangkup sebelah pipinya dengan nyaman. Seokjin menahan napas, terlampau kaget untuk bersuara, terutama di saat senyum kecil merekah di wajah kekasihnya. Ia selalu berada dalam keadaan gawat tiap lengkungan kecil di wajah Yoongi memenuhi pandangannya terlepas dari telah melihatnya beberapa kali.

Belum sepuluh detik merasakan sentuhan Yoongi di wajahnya, Seokjin mendapati tubuhnya ditarik ke belakang dengan kuat. Jaehwan, sebagai pelaku tindakan itu, tak meliriknya barang sedetik melainkan menatap Yoongi dengan sorotan setajam mungkin. Seokjin mendapati Junghwan tersenyum minta maaf di depan pintu melalui sudut matanya, tak lagi mampu mengulur waktu menahan Jaehwan lebih lama.

Yoongi tak tampak marah, sedikit banyak menyebabkan benak Seokjin penuh akan tanda tanya. Ia sudah berimajinasi akan skenario terburuk di mana dua pemuda di dekatnya ini mengacungkan tongkat di depan muka satu sama lain, namun setelah tiga puluh detik (Seokjin takkan mengakui bahwa ia menghitungnya) tak ada satu hal pun yang terjadi.

Arah dari pandangan Yoongi menurun, memperhatikan bagaimana lengan Jaehwan merengkuh pundak Seokjin dari belakang. Pemandangan itu amat menyakitkan mata, membuatnya mendengus alih-alih membiarkan emosi menguasainya. Ia tak lagi memiliki tenaga untuk berdebat atau apapun, Seokjin berhasil membuatnya lelah dikarenakan tak lagi tahu harus melakukan apa agar mereka dapat kembali seperti biasa.

“Dan kau masih merasa bahwa kau lah yang pantas merasakan itu,” ucapnya pelan, memandang Seokjin sejenak—tepat di sepasang iris cokelatnya. Yoongi meninggalkan rumah kaca itu kemudian, tak mengindahkan Junghwan yang berpura-pura sibuk dengan sebuah bunga.

Jaehwan menggerutu kentara, bertanya apakah Seokjin baik-baik saja dan tak mendapat tanggapan. Temannya itu memandangi pintu yang baru saja Yoongi lewati untuk keluar, tak berkedip hingga akhirnya Jaehwan mencubit pipinya. Seokjin terlihat linglung dan dua kali lipat lebih tak bersemangat.

“Aku sudah melarangmu, Jaehwan-ah,” Junghwan berpetuah. Sang Gryffindor dengan senang hati menganggap Junghwan tak berada di sana, kembali menanyakan apakah Seokjin baik-baik saja. Ia tahu Yoongi tak mungkin menyakiti seseorang yang notabene kekasihnya sendiri, hanya saja Jaehwan tak merasa memiliki alasan untuk mempercayai Yoongi terlepas dari statusnya dengan Seokjin.

“Terima kasih, Jaehwan-ah.”

Junghwan mengerlingkan mata ketika Jaehwan berseru, “Lihat! Aku melakukan keputusan yang benar!” seraya memperhatikan Seokjin yang tampak bingung. Teman sekamarnya itu kembali tak mengindahkan pertanyaan Jaehwan tentang apa yang Yoongi katakan, malah menatap kosong pintu yang terbuka lebar.

Seokjin bahkan tak tahu mengapa ia mengucapkan terima kasih pada Jaehwan, pikirnya dalam diam.

#

Cuaca hari itu terlampau cerah hingga Seokjin terpaksa menyipitkan matanya untuk menengadah, melihat bagaimana Taehyung dengan lihai mengendarai sapu terbangnya. Tiap Taehyung mengikuti pertandingan Quidditch, Seokjin tak pernah bisa memberi dukungan maksimal akibat khawatir berlebihan. Tak jarang para pemain pertandingan itu berakhir terkapar dengan tulang patah atau hal naas lain dikarenakan minimnya peraturan dalam permainan; Seokjin tak tahu apa yang seru dari sebuah permainan barbar.

Sebuah bludger nyaris mengenai Taehyung, mengakibatkan Seokjin memekik tertahan. Ia mengelus dadanya lega ketika adiknya menyeringai sombong dan langsung melesat, melemparkan quaffle ke sebuah lubang yang berfungsi sebagai gawang. Seokjin bersumpah suatu hari nanti Taehyung akan menjadi penyebabnya terkena serangan jantung dan mati di tempat.

Tak sengaja melihat ke seberang, ia mendapati Jungkook melambaikan tangan terlampau bersemangat tepat di sebelah Yoongi yang melipat kedua tangannya di depan dada. Seokjin berusaha tersenyum meski lebih terlihat seperti tengah meringis, melambaikan tangan pelan pada si Jeon dan gigi kelincinya. Yoongi terlihat sebal dengan keantusiasan Jungkook, memberinya tatapan seolah meminta tolong yang tanpa sadar menjadi alasan Seokjin untuk benar-benar tersenyum.

Tetap menghindari Yoongi setelah kejadian usai pelajaran herbologi, Seokjin sadar bahwa ia tak bisa selamanya melakukan hal itu dan membungkam mulut, sadar telah bertindak egois; Yoongi telah berusaha mengajaknya berbicara berkali-kali dan ia tak menjadi lawan bicara yang kooperatif. Seokjin hanya merasa bingung dan marah pada dirinya sendiri.

Sang pemilik helai blond mungkin melakukan kesalahan, namun Seokjin selalu percaya bahwa kesalahan tak pernah berdiri sendiri. Sebagai seseorang yang seharusnya merupakan korban dalam hubungan mereka, ia salah karena terlalu berharap, bukan bertindak dan memegang kendali. Bahkan meski Yoongi mengejarnya saat itu, Seokjin tak yakin apa yang ingin ia dengar dari si Slytherin. Bujukan? Atas apa? Permintaan maaf?

Yang benar saja, batinnya merutuki. Seokjin kembali memusatkan perhatiannya pada pertandingan yang seharusnya dapat berakhir dalam lima menit jika saja salah satu seeker bisa langsung menangkap golden snitch—mustahil mengingat betapa cepatnya bola kecil bersayap yang merupakan inti permainan tersebut. Ia kembali mendapati Taehyung menjadi sasaran bludger, kali ini berhasil mengenai adiknya dan menghilangkan keseimbangan si Kim kelas tiga.

Sepasang mata bulatnya nyaris melompat keluar melihat kejadian itu, mungkin benar-benar akan melompat keluar jika Taehyung terjatuh dari ketinggian yang tak ingin Seokjin hitung berapa belas kaki. Permainan ini benar-benar berbahaya dan Seokjin tak memiliki jantung yang cukup kuat menonton adiknya mempertaruhkan nyawa (ia bersikap berlebihan, tentu).

Taehyung yang menyadari keberadaan kakaknya langsung memantapkan posisi, terbang menuju di mana Seokjin berdiri untuk menonton dan memamerkan cengiran. “Jangan memasang raut wajah seperti itu, Hyung!” serunya dengan nada geli sebelum menerima operan quaffle dari teman setimnya dan langsung meninggalkan Seokjin yang memijat dahi demi mengurangi stres dadakan.

Kemenangan gemilang Gryffindor setidaknya dapat sedikit menghiburnya. Adiknya tak jatuh dan terluka seperti pertandingan sebelumnya ditambah kemenangan dengan selisih jauh membuatnya dapat menghela napas lega. Mungkin ia harus mempertimbangkan untuk tidak menonton pertandingan Quidditch Taehyung lagi setelah ini. Jungkook pasti mau menonton pertandingan barbar itu untuknya, lalu memberi kabar secepat kilat jika terjadi sesuatu pada adiknya.

“Jadi,” suara itu membuatnya terperanjat. Ia tengah menyusuri koridor tanpa arah setelah memastikan kemenangan Gryffindor, tak ingin meninggalkan lapangan berdesak-desakan dan memilih untuk pergi lebih dulu. Menyelamati Taehyung dapat dilakukan kapan saja karena mereka pasti akan segera bertemu. “Sudah mau berbicara denganku?”

Mendengar pertanyaan Yoongi menyebabkannya merasa bersalah. Seokjin seharusnya tahu di saat pertama Yoongi menemuinya setelah kejadian itu—pemuda di belakangnya tengah berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka, tetapi Seokjin malah menghindar seperti Yoongi adalah wabah penyakit menular. Yoongi bukanlah tipe yang akan bersusahpayah seperti ini dan Seokjin seharusnya merasa beruntung.

Mendapati sang Hufflepuff tak kunjung membalikkan tubuh, Yoongi berjalan cepat, meraih tangan Seokjin untuk menarik pemuda itu menyusuri koridor, mencari sebuah kelas kosong dan memasukinya. Ia menutup pintu dan menyelotnya, memastikan takkan ada orang yang masuk ke dalam sebelum ia dan Seokjin menyelesaikan masalah mereka.

“Kau boleh menghindariku,” Yoongi mengangkat wajah Seokjin dengan menaikkan dagunya, kembali pada pribadinya yang dingin dan mengintimidasi. “Tapi menghindariku dan menempel dengan orang lain? Jangan bercanda.”

Dahi Seokjin mengerut samar, tak mengerti namun terlalu gugup untuk menanggapi. Ia tak melepas pandangannya dari tangan Yoongi yang melepaskan dagunya, akhirnya berhasil meraup oksigen setelah tanpa sadar membatu di tempat. “Aku tidak mengerti maksudmu, lagipula—”

“Aku tak suka melihatmu dengan Jaehwan,” kalimat itu memotong perkataan Seokjin. Yoongi menahan rasa ingin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, seketika kikuk dan salah tingkah setelah mengatakannya. Ia berdeham, menatap lurus Seokjin yang tampak tengah menyatukan berbagai kepingan puzzle dalam otaknya. “Kau tak berhak merasa cemburu jika kau tak tahu bahwa kau menyebabkan orang lain merasakan hal serupa.”

Ketika mendapati Seokjin memahami tiap kata yang ia ucapkan, Yoongi mendesah putus asa. Tak semua hal membutuhkan alasan, nasihat Jungkook menggema di dalam benaknya. Ia masih memperhatikan tiap gerak dan ekspresi Seokjin, mempertimbangkan untuk mengatakannya atau tidak hingga Seokjin mengeluarkan suara, “Lagipula aku memintamu untuk melupakannya,” Seokjin tersenyum kecil, “Aku sudah bertindak kekanakkan.”

Yoongi tak tahu apa yang membuatnya merasa seribu kali lipat lebih bersalah. Seokjin mengakui kesalahan yang bahkan tak dapat Yoongi akui sebagai kesalahan, sedangkan ia berdiri tegak dan masih membuang waktu untuk mempertimbangkan sepatah kata yang hanya terdiri dari empat abjad.

“Aku—” Ia memejamkan mata, menghela napas, lalu membulatkan tekad. Yoongi kembali memamerkan iris gelapnya, menguasai perhatian Seokjin dengan sorot mata yang serius. “Maaf.”

Seokjin mengerjap tak percaya, semua rasa gugup yang menderanya menguap entah ke mana. Ia tak dapat mempercayai pendengarannya meski ia menginginkannya. Seokjin tak pernah berharap Yoongi akan meminta maaf, namun mendengarnya entah mengapa menyebabkan hatinya terasa begitu tentram.

“Kau bilang apa, Yoongi?”

“Maaf.”

Senyum hangat Seokjin merekah, tak tahu sepatah kata maaf dapat menghiburnya sedemikian rupa. Ia baru saja hendak menyebutkan nama Yoongi sebagai bentuk rasa terharu yang sama sekali tak dibutuhkan, namun Yoongi mendahuluinya dengan sebuah kalimat yang berhasil membuat wajahnya memerah layaknya tomat masak.

“Kim Seokjin,” jeda sepersekian detik sebelum Yoongi melanjutkan, “Aku mencintaimu.”

#

“Kau ini apa? Bodyguard-nya?” Taehyung terlihat sewot, hampir berteriak memanggil Seokjin jika saja Jungkook—yang menyadari gelagat si Gryffindor berisik—tak segera membekap mulutnya. Taehyung meronta ketika yang lebih muda menyeretnya paksa menjauhi ruangan di mana Yoongi dan Seokjin berada.

“Jeon Jungkook,” panggilan itu berhasil menyebabkan Jungkook bergidik ngeri. Taehyung yang bugar saja sudah tak bersahabat, apalagi Taehyung yang kelelahan setelah bermain Quidditch? Ia meringis kecil. “Kau mau mati?”

“Kau yang mau mati,” tandas si Slytherin memberanikan diri. “Yoongi-hyung akan membunuhmu jika kau masuk seenaknya dan merusak usahanya meminta maaf,” sambungnya seraya mengerlingkan mata mendapati reaksi Taehyung yang menurutnya berlebihan; penghuni Gryffindor itu terbahak.

Tak mendapati Jungkook meralat kalimatnya, Taehyung memastikan, “Kau serius?”

Jungkook tak mengerti kenapa ia harus berbohong, tapi mungkin Taehyung menganggapnya demikian karena seorang Min Yoongi dan kata maaf tak terlihat seperti sahabat karib. Ia mengangguk seperlunya, mendelik ketika Taehyung langsung berlari menuju ruangan di ujung koridor—kali ini tak berusaha berteriak memanggil Seokjin, melainkan menempelkan telinganya pada pintu untuk menguping.

Ketika pertandingan selesai, Taehyung merayakan dengan singkat kemenangan bersama para anggota timnya, lalu langsung mencari Seokjin yang menghilang dari bangku penonton. Tak menemukan kakaknya di mana pun, ia justru mendapati Jungkook berdiri di depan sebuah pintu kelas yang entah masih digunakan atau tidak. Taehyung langsung menebak bahwa kakaknya berada di dalam bersama Min Yoongi dan bermaksud memisahkan dua orang itu, tentu sebelum rencananya dihancurkan oleh yang lebih muda.

Kini, rencananya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia akan membuktikan keseriusan Yoongi dengan telinganya sendiri. Taehyung hanya mendengus ketika Jungkook melakukan hal yang sama di bawahnya, menempelkan telinga ke pintu untuk mendengar percakapan dua orang di dalam. Meski sebelumnya bertindak sok heroik dengan melarangnya mengganggu privasi Yoongi dan Seokjin, ternyata bocah itu penasaran juga.

Alohomora.”

Baik Taehyung maupun Jungkook terkejut mendengar mantra itu, tak sempat melakukan apapun ketika pintu yang menjadi tumpuan mereka mendadak terbuka. Suara debuman dan ringisan dari keduanya terdengar sejurus kemudian. Yang lebih tua bergeming selama beberapa saat ketika menyadari bahwa dirinya berada di atas Jungkook yang mengeluh berat, lalu sengaja menambahkan beban agar si Slytherin di bawahnya tak bisa bernapas.

“Taehyung-ah!” Seokjin tak habis pikir dengan kelakuan adiknya yang menyamai anak sekolah dasar, hendak memisahkan dua orang yang bertumpukan di atas lantai itu sebelum Yoongi menghalanginya. Ia menelan ludah tanpa sadar, tahu bahwa kali menyelamatkan Jungkook maupun adik kandungnya dari amarah Yoongi akan menjadi salah satu rintangan terberat dalam hidupnya.

Menyadari bayangan gelap di depannya, Jungkook berhenti berusaha menyingkirkan Taehyung dan berusaha melihat ke atas. Taehyung juga berhenti bergerak ketika menyadari Jungkook tak lagi melawan, mengikuti arah pandangan sang Jeon dan berakhir menahan napas.

“Nah, Jeon Jungkook dan Kim Taehyung,” Yoongi tampak sangat mengerikan meski wajahnya tak berekspresi seperti biasa. “Apa yang harus kulakukan pada kalian, hm?”

Kim Seokjin hanya bisa menghela napas panjang ketika Jungkook dan Taehyung bersembunyi di balik punggungnya dan meminta perlindungan.

.

.

.

Kudengar kau meminta maaf pada kakakku.”

“… Begitulah.”

Taehyung memperhatikan Yoongi dari ujung kepala hingga kaki, tindakan yang tidak sopan dan sangat berani di saat bersamaan—meski ia belum sepenuhnya pulih dari rasa takut seminggu lalu, ketika Yoongi hampir menyihirnya dan Jungkook entah menjadi apa. “Kenapa?”

Tak ingin membuang waktu, Yoongi mendengus. “Apa? Aku melakukan kesalahan dan tidak boleh meminta maaf?”

Hening sejenak, lalu Taehyung mengangkat sudut bibirnya. Mungkin Yoongi tak seburuk bayangannya. Jika ia tak bisa memaksa kakaknya untuk lepas dari lelaki ini, mungkin ia hanya harus memerikan sedikit rasa percaya.

Aku akan mengakuimu, Min Yoongi,” ia berjalan melewati yang lebih tua. “Sebagai gantinya, jaga hyung-ku dan perlakukan dia dengan baik.”

Yoongi hanya mengerlingkan mata mendengarnya, teringat oleh kalimat Jungkook yang nyaris serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s