Elapse [Chapter 1]

“Aku tidak akan menonton film roman picisan seperti itu, tidak akan.”

Hyung!”

“Bagaimana dengan Bingo?”

“Lagi?! Apa tidak ada permainan lain di dunia ini?”

Suasana keakraban kental dalam ruangan itu diselimuti oleh gerutuan dan gelak tawa. Kim Seokjin hanya dapat menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kelakuan lima sahabat baiknya sejak masa perkuliahan beberapa tahun silam. Umur mereka bertambah tiap tahunnya, namun sifat kekanakkan yang sudah menempel ternyata sulit untuk benar-benar hilang.

Dalam (minimal) satu bulan sekali, kelompok pertemanannya yang terbentuk akibat berada di satu sekolah tinggi yang sama ini selalu menyempatkan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Tujuh dari mereka di tengah kesibukan masing-masing pasti akan menyempatkan hadir, sekedar bercengkrama, bermain game, menonton film, atau mungkin mabuk di waktu tertentu. Seokjin mengedarkan pandangan, menyadari adanya satu orang yang belum datang terlepas telah lewat dua jam dari waktu yang dijanjikan.

Ketika bunyi bel terdengar nyaring, sosok paling tinggi di antara mereka semua, Kim Namjoon, langsung bangkit dan berlari menuju sumber suara untuk membukakan pintu. Apartemen Namjoon selalu menjadi opsi pertama dikarenakan letaknya yang berada di tengah dari tempat tinggal mereka semua, dan Namjoon tidak pernah merasa keberatan karena Seokjin, Hoseok dan Jimin biasanya akan membantunya membereskan semua sampah.

“Ah, Yoongi-hyung!” seru yang paling muda di antara mereka dengan ceria. Jungkook agak tersentak ketika Yoongi membalas seruannya dengan sapaan dan senyuman, namun berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan merangkul yang lebih tua setelah memposisikan diri untuk duduk di sebelahnya.

“Kau terlambat, Hyung!” Taehyung menimpali, berusaha menggali informasi sebanyak yang ia bisa. “Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa yang membuatmu terlambat?”

Min Yoongi mengedikkan bahunya tak acuh, lalu meraih mangkuk popcorn di pangkuan Jimin dan mulai menyuapkannya ke dalam mulut. “Kemacetan.”

Semua yang ada di dalam ruangan tampak tidak mempercayai alasan Yoongi, saling melirik satu sama lain sebelum membiarkan topik itu menghilang ditelan udara. Topik lain muncul dilanjutkan oleh topik lainnya, pembahasan serius terus bersambung hingga yang paling tidak masuk akal.

Dari semua hal yang dapat ia perhatikan malam itu, Seokjin tidak dapat berhenti mencuri pandang ke arah Yoongi yang tertawa dan berbicara jauh lebih banyak dari malam-malam perkumpulan mereka beberapa bulan belakangan.

Jung Hoseok tengah melakukan latihan menari rutinnya ketika Seokjin datang untuk berkunjung sore itu. “Hai, Hyung,” ia menyapa di antara satu gerakan ke gerakan lain, memanfaatkan tubuhnya yang lentur untuk melakukan perputaran gesit di atas lantai. Fokus pada penyempurnaan irama lagu dan ritme gerakannya, untuk sesaat Hoseok mengabaikan kehadiran Seokjin.

Studio tari milik Hoseok tidak terlalu luas, namun tidak dapat dikategorikan sempit pula. Lantai kayu vinyl berwarna cokelat terang menjadikan ruangan itu terlihat cerah dan menyegarkan, dibantu oleh pencahayaan penuh, speaker di setiap ujung, lalu dilengkapi dengan cermin penuh pada satu sisi. Seokjin tidak pernah menjadi seorang penari handal, kendatipun ia mengerti ruangan tari seperti apa yang dapat menimbulkan rasa nyaman.

Duduk menyandar pada salah satu sisi ruangan, ia memerhatikan Hoseok yang menari dengan stamina penuh meski peluh mulai berjatuhan. Melihat seseorang tengah melakukan suatu hal dengan semangat dan gairah membara, Seokjin selalu berakhir teringat akan Yoongi yang memiliki passion tak terkalahkan dalam hal musik.

Entah sejak kapan fokusnya memudar, tak lagi terhibur oleh aksi Hoseok di atas lantai—pikirannya melayang, tatapannya kosong menerawang. Seokjin mengingat kejadian kemarin malam di mana Yoongi datang terlambat dengan mood yang dua kali lipat lebih baik daripada biasa. Hal yang hampir tidak pernah ia temukan setengah tahun belakangan.

Dari pertemuan rutin kelompok pertemanan mereka selama ini, Yoongi selalu terlihat murung. Lebih pendiam, sulit untuk tertawa, dan seolah tidak berada pada tempatnya. Sosok bermarga Min itu memang dikenal sebagai seseorang yang irit berbicara, namun meski masih menyeletukkan satu-dua lelucon atau gerakan jenaka, Seokjin kerap berpikir bahwa Yoongi berubah sangat banyak dalam waktu beberapa bulan.

Hoseok menepuk ringan pundaknya sejurus kemudian, menariknya kembali pada kenyataan dan tujuannya datang menemui si penari handal. “Apakah tarianku semembosankan itu sampai membuatmu melamun, Hyung?”

Seokjin tertawa. “Jangan bercanda. Tarianmu selalu luar biasa!”

Ada yang ganjil tentang senyuman Hoseok setelahnya. Entah mengapa senyuman itu menimbulkan rasa yang tidak menyenangkan. “Apakah ini tentang Yoongi-hyung?”

Kerutan singkat pada dahi Seokjin tak luput dari pandangan Hoseok. Pertanyaannya tepat sasaran walau Seokjin membantahnya dengan pertanyaan lugu dipaksakan. “Ada apa dengan Yoongi?”

“Untuk seorang aktor, aktingmu benar-benar buruk,” tandas yang lebih muda. Seokjin merengut tak terima seraya memeluk kedua kakinya yang dilipat di depan dada. “Hyung, kau tidak bisa membohongiku. Hanya dua hal yang bisa membuat pikiranmu melayang entah ke mana: penampilanmu dan seorang Min Yoongi.”

Memerhatikan Hoseok yang sibuk mencari handuk kecil di dalam tasnya, Seokjin tidak sepenuhnya setuju. Ia memang memikirkan Yoongi sebelumnya, tapi Seokjin yakin memikirkan Yoongi tidak selalu membuatnya kehilangan konsentrasi. Mungkin sekali atau dua kali, atau mungkin agak lebih dari beberapa kali. Tapi tidak selalu.

“Kau kenal Jaehwan, bukan? Temanku semasa kursus menyanyi?” Ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. Hoseok tampak tidak peduli akan pernyataannya yang diabaikan, lalu mengangguk sebagai jawaban. “Dia akan menikah bulan depan.”

Tangan sang Jung yang sebelumnya sibuk mengelap keringat terhenti di udara. “Lee Jaehwan yang itu? Jaehwan mantan kekasihmu?”

Seokjin mengerlingkan mata seolah ingin menyampaikan kau tidak perlu menekankan itu. “Singkat cerita, dia meminta beberapa bantuanku, salah satunya adalah menghubungimu. Jaehwan ingin kau menari di pembukaan pestanya.”

Mengedikkan bahu, Hoseok mencibir, “Betapa mulianya kau mau membantu pelaksanaan acara pernikahan mantan kekasihmu,” yang mengundang tatapan tajam dari Seokjin. “Tapi, ya, aku akan melakukannya dengan senang hati.”

Mereka menghabiskan waktu dengan membicarakan beberapa hal setelahnya. Tentang murid-murid baru di akademi menari Hoseok, drama musikal Taehyung, gosip tidak masuk akal yang menimpa Jungkook, hingga lagu terbaru yang diproduseri oleh Yoongi. Seokjin berusaha menyudahi pembicaraan tentang Yoongi dengan membahas kebodohan Namjoon kemarin malam, tanpa sengaja mematahkan kacamata yang baru saja Jimin beli beberapa hari sebelumnya.

Tapi Hoseok bukanlah Hoseok jika ia membiarkan momen ini lewat begitu saja. “Kecerobohan Namjoon adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah keterlambatan Yoongi-hyung dan mood baiknya yang sangatlah langka,” ia menghela napas senang layaknya beban yang ia pikul perlahan mulai terangkat. “Sejak kalian terjadi, kemarin adalah kali pertama Yoongi-hyung terlihat benar-benar menikmati malam bermain kita.”

Mendengar itu, Seokjin mengulum senyum kecil. “Benar,” responnya tanpa tahu harus berkata apa lagi. Yoongi memang terlihat berbeda kemarin, mungkin ia lah yang pertama kali menyadari. Seokjin tidak membenci perbedaan itu, Yoongi patut merasa bahagia setelah apa yang terjadi di antara mereka. Ia hanya merasa asing.

Hyung, apakah menurutmu akhirnya dia menemukan seseorang?” Hoseok bertanya dengan binar harapan di matanya. Seokjin tidak tahu mengapa ia harus berusaha menahan diri untuk tidak menusuk sepasang mata bulat itu menggunakan garpu di ruangan sebelah. “Akan sangat menyenangkan jika dia benar-benar telah menemukan penggantimu dalam hidupnya. Yoongi-hyung memang tidak berubah banyak, tapi kita semua tahu ada yang berubah darinya sejak kau meninggalkannya.”

Seokjin merasa tenggorokannya tercekat, dadanya terasa sesak membayangkan apabila kemungkinan yang Hoseok katakan benar adanya. Seharusnya ia tidak merasakan ini. Ia sudah melewati fase ini jauh hari. Kim Seokjin yakin ia sudah melupakan semua perasaannya terhadap Min Yoongi.

“Kau pikir begitu?” ia bertanya pelan, berdoa Hoseok tidak menyadari adanya kekecewaan di balik suaranya.

“Tentu saja! Ini sudah—enam bulan? Setengah tahun sudah berlalu,” Hoseok mendudukkan dirinya di sisi Seokjin, ikut menyandarkan punggungnya pada tembok putih sebelum menolehkan kepala untuk menatap yang lebih tua. “Kau sudah berjalan maju sejak lama. Bukankah sudah saatnya Yoongi-hyung mengikuti jejakmu untuk tidak menetap di satu tempat?”

Ada denyutan menyakitkan dalam dadanya. Seokjin tidak tahu mengapa ia tiba-tiba merasa mual. Menolak untuk membalas tatapan Hoseok, ia kembali memaksakan sebuah senyuman. “Sudah saatnya,” ia mengulang perkataan sang Jung tanpa sadar.

Kim Seokjin dan Min Yoongi terjadi sekitar tiga tahun lalu. Memasuki sekolah tinggi seni yang sama mempertemukan mereka di tahun pertama, lalu mengakrabkan mereka dengan teman-teman lainnya di tahun kedua. Tujuh orang berjiwa seni tinggi di berbagai bidang, pertemanan solid yang terjalin hingga sekarang.

Di tahun kedua, bersamaan dengan terbentuknya kelompok pertemanan mereka, Yoongi mengambil inisiatif untuk menghapus kata teman di antara dirinya dan Seokjin. Teman tidak pernah menjadi kata yang tepat untuk keduanya; tidak dengan afeksi dari tatapan mata, genggaman tangan yang sulit untuk lepas, atau rangkulan posesif yang kasat mata. Baik Yoongi maupun Seokjin menyadari ada sesuatu yang lebih di antara mereka dan mereka sepakat bahwa teman bukanlah status yang sempurna.

Selama hubungan mereka terjalin, mereka tinggal bersama di sebuah apartemen dekat dengan lokasi sekolah tinggi keduanya. Perbedaan antara Yoongi dan Seokjin membuat mereka melengkapi satu sama lain, persamaan di antara keduanya menjadi alasan untuk berbagi alih-alih berselisih. Bagi Seokjin, Yoongi adalah salah satu hal terhebat yang terjadi dalam hidupnya.

Setidaknya sampai satu hari di mana Seokjin tersadar bahwa semua ini tidak akan berlangsung selamanya.

“Yoongi-ah, hubungan ini takkan berhasil.”

Seokjin mengakhiri hubungan mereka sekitar enam bulan lalu, pergi meninggalkan apartemen dengan seluruh barang di dalam satu koper termasuk isi hatinya.

Setelahnya Yoongi tidak lagi sama.

“…jin”

Sebagian dari diri Seokjin tidak benar-benar berada di coffee shop tempat ia berdiri saat ini. Belakangan pikirannya mudah teralih oleh hal-hal abstrak tak masuk akal yang bahkan tidak dapat ia kenali. Sesekali ia akan mendapati dirinya ditegur oleh orang-orang terdekatnya akibat melamun, sedangkan di lain waktu ia tidak cukup fokus untuk sekedar mengingat di mana letak suatu barang yang ia bawa.

“Seokjin.”

Jika dipikir lagi, mungkin ia kurang berolahraga sehingga oksigen tidak berjalan dengan lancar ke otaknya. Atau mungkin ia kurang banyak mengkonsumsi air mineral. Tapi ia masih rutin berolahraga tiga kali selama seminggu dan selalu menjadwal waktu untuk meminum air mineral agar kesehatannya prima. Seokjin mulai berpikir apakah ini semua hanyalah masalah tubuh yang mulai menua.

“Kim Seokjin.”

Kemungkinan lain, semua ini adalah salah Jung Hoseok. Seokjin bukannya tidak menyadari bahwa keanehan kondisinya ini dimulai dari hari di mana ia mengunjungi studio tari temannya itu, ia hanya tidak mau mengakuinya karena mengakui itu sama dengan mengakui bahwa Min Yoongi adalah akar dari seluruh permasalahan yang menimpanya.

Min Yoongi hanyalah bercak masa lalu. Sebuah masa lalu takkan pernah bisa memengaruhinya sedemikian rupa.

“Seokjin-hyung?”

Suara bass itu menyadarkannya dari segala pikiran yang sempat berlalu-lalang. Seokjin mengerjapkan mata, mendapati sang barista berdiri menatapnya bingung di balik meja bar. Mengalihkan pandangan, ia mendapati Yoongi melakukan hal serupa di hadapannya dengan sebuah cup take away untuk kopi panas.

Tidak siap mendapati perhatian hanya dikarenakan tidak sengaja melamun membuat Seokjin sedikit salah tingkah. “Ugh, maaf,” ia meringis kikuk. “Hanya melamun.”

Barista dari coffee shop langganannya itu mengernyitkan dahi, tidak pernah sekalipun mendapati Seokjin terlihat seaneh ini sebelumnya. “Kau mengabaikan panggilanku dengan jarak sedekat ini,” ujarnya lalu menjentikkan jari tepat di depan wajah Seokjin. “Kau melamun atau rohmu keluar selama sesaat?”

Kaget dengan jentikkan jari yang terlampau dekat dengan wajahnya, secara refleks Seokjin melangkah mundur. “Hyung!” serunya kesal, mengundang tawa dari yang bersangkutan. Barista yang ia kenal empat tahun belakangan itu hanya melambaikan tangan sambil berjalan masuk ke dalam dapur.

Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, sosok itu menyempatkan berbicara, “Aku memanggilmu tiga kali dan kau tidak mendengarku, sedangkan Yoongi hanya membutuhkan satu kali. Untuk pasangan yang sudah putus, kalian benar-benar menarik.”

Kalimat yang ditujukan untuk menggodanya itu menyebabkan Seokjin berdeham, sesaat melupakan kehadiran Yoongi di dekatnya. Ia meraih sebuah cup yang bertuliskan namanya, mencuri pandang ke arah Yoongi yang masih bergeming tanpa kata. Bertemu dengan Yoongi di sini bukanlah hal baru mengingat coffee shop ini merupakan favorit mereka sejak dulu.

Sebuah masalah di antara Yoongi dan Seokjin, selain mereka berada di satu kelompok pertemanan yang sama adalah mereka memiliki banyak persamaan (di samping perbedaan yang tak kalah banyak). Coffee shop langganan, makanan favorit, preferensi tempat, dan lain-lain. Seokjin tidak jarang menemukan Yoongi berada di tempat yang sama dengannya seperti sekarang, yang mana sama sekali tidak membuatnya terkejut atau salah tingkah.

Detak jantung yang semakin cepat akibat tidak sengaja bertemu sudah lenyap tak berbekas. Keharusan akan formalitas saling menyapa tak lagi perlu dipertimbangkan. Masa-masa seperti itu telah lama berlalu, namun Seokjin tak mengerti mengapa saat ini ia kembali merasakan hal-hal yang seharusnya sudah lama hilang.

Ia masih berkutat dengan pemikirannya ketika Yoongi berucap, “Kudengar Jaehwan-hyung akan menikah,” untuk menghapus keheningan di antara mereka. Seokjin yakin Yoongi tidak sepenuhnya ingin membahas ini karena Yoongi sama sekali tidak menyukai atau bahkan mempedulikan eksistensi Jaehwan.

Dulu, benaknya mengoreksi. Kini tak lagi menjalin hubungan dengannya, Yoongi seharusnya tak lagi merasakan hal seperti itu terhadap Jaehwan. “Ya, sekitar tiga minggu lagi,” ia berusaha menanggapi, kemudian meraih sedotan untuk memasukkannya ke dalam cup minuman di tangannya.

Berdiri di depan meja bar, saling berhadapan namun menolak untuk menatap satu sama lain. Seokjin berharap Yoongi akan segera pergi untuk menghindari kecanggungan ini. Lagipula lelaki di hadapannya menggenggam cup take away, seharusnya ia tidak akan menghabiskan waku berlama-lama di sini; terutama dengan satu cup minuman lain yang terletak di atas meja bar dan baru Seokjin sadari jugalah merupakan milik sang Min.

Tidak ingin berspekulasi, ia membuang muka ke arah lain. Mungkin titipan dari salah satu rekan kerja Yoongi. Seokjin tidak dapat membohongi diri sendiri bahwa ia tidak teringat akan masa lalu di mana Yoongi sering membawakannya minuman tiap mampir ke sebuah coffee shop secara acak.

“Bagaimana kabarmu, Hyung?”

Menggigit bagian dalam bibirnya, Seokjin ingin menjawab, aku tidak baik-baik saja, tidak sampai kau memberitahu siapa yang membuatmu mood-mu membaik seminggu lalu dan untuk siapa minuman yang kau pesan itu. Sayangnya, ia tahu sampai mati pun ia takkan memberikan jawaban sedemikian rupa. “Kita bertemu setidaknya sebulan sekali, Yoongi. Kita bahkan bertemu minggu lalu.”

Tawa kecil dari Yoongi merupakan hal yang tidak terbesit dalam benaknya sama sekali. Tuhan, kapan terakhir ia melihat tawa itu ditujukan padanya?

“Banyak hal yang dapat terjadi dalam waktu satu hari, lebih banyak lagi yang dapat terjadi dalam waktu seminggu.”

Benar, seperti bagaimana aku mengubahmu dalam waktu satu hari dan bagaimana siapapun itu berhasil membuatmu berubah kembali.

Seokjin mendesah, ia tidak boleh terus-menerus seperti ini. Ia melemaskan tubuhnya yang tanpa sadar kaku sedaritadi, lalu tersenyum tipis. “Aku baik, Yoongi. Bagaimana denganmu?”

Yoongi mengangguk sekali. “Begitupun aku,” sepasang matanya menolak untuk beralih dari wajah Seokjin. “Lalu, apa yang kau lakukan di sini?”

Berada dalam satu kelompok pertemanan yang sama bukan berartikan hubungan mereka kembali menjadi sahabat baik. Di masa awal mereka baru saja berpisah, Yoongi dan Seokjin begitu menghindari hari di mana kelompok pertemanan mereka terbiasa berkumpul sebulan sekali. Setelah keadaan membaik, keduanya masih menahan diri dengan tidak berbicara banyak selama berkumpul bersama. Dua bulan belakangan, keadaan hampir kembali seperti sedia kala.

Namun tanpa dua tangan saling menggenggam. Tanpa kepala menyandar pada pundak salah satunya. Tanpa duduk bersebelahan tanpa celah. Tanpa tatapan mengagumi yang membuat teman-teman mereka merasa mual.

Seokjin dan Yoongi akan mencari posisi sejauh mungkin dari satu sama lain, menolak untuk menatap mata sebisa mungkin, menghindari topik di mana mereka terpaksa harus saling menimpali, dan pulang tanpa sempat berbasa-basi.

Sejak setengah tahun lalu, mungkin mereka tidak lagi pernah berbincang seperti ini.

“Aku menunggu Jaehwan. Dia bilang dia ingin meminta pendapatku mengenai pesta pernikahannya.”

Ada kilat aneh di mata Yoongi, Seokjin tidak berani menerka-nerka. Tepat sebelum Yoongi akan kembali berbicara, suara Jaehwan memotong pembicaraan mereka.

“Jin-ah!” panggilan itu terdengar seceria biasanya. Lelaki dengan surai cokelat madu itu menyadari kehadiran Yoongi setelahnya, tidak menyangka akan bertemu dengan sesama mantan kekasih Seokjin di sana. “Ah, Yoongi. Apa kabar?”

Jika sebelumnya Seokjin berkata bahwa canggung adalah momen di mana ia dan Yoongi harus berdiri berhadapan tanpa topik pembicaraan apapun, maka yang terjadi sekarang dua kali lipat lebih membuatnya canggung. Dua mantan kekasihnya berjabat tangan, saling menyapa dan membuka obrolan ringan. Seokjin benar-benar ingin melipir ke sebuah meja dan meninggalkan keduanya.

Jaehwan berakhir mengundang Yoongi ke pesta pernikahannya di akhir bulan nanti di mana Yoongi menyanggupi dan berterimakasih. Tak lama setelahnya, Yoongi pergi meninggalkan coffee shop dengan dalih harus kembali bekerja. Seokjin berakhir menatap punggung Yoongi yang berjalan menjauh, keluar dari pintu dan menghilang dari pandangannya.

Mungkin itulah yang Yoongi lihat ketika aku pergi meninggalkannya.

“Jadi, tukar pikiran seperti apa yang kau inginkan?”

Mereka duduk berhadapan di sisi dalam ruangan yang paling sepi, menyeruput minuman di atas meja sesekali. Jaehwan tersenyum lembut, senyuman sama yang selalu berhasil melelehkan hatinya dulu. Orang ini juga sama, pikir Seokjin miris. Lelaki lain yang kutinggalkan.

“Sebenarnya tidak ada,” aku Jaehwan dengan cengiran lugu di wajahnya. Seokjin tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut menarik sudut bibirnya. “Event organizer sudah mengurus segalanya. Lagipula kau tahu aku tidak benar-benar tertarik dengan pernikahan ini.”

Senyum di wajah Seokjin masih belum menghilang, Jaehwan selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya; entah dulu sebagai kekasihnya, ataupun sekarang sebagai seorang teman. “Jaehwan-ah, kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu.”

Pandangan Jaehwan melembut, lalu Seokjin dapat merasakan tangan kanannya yang terabaikan di atas meja diraih oleh sang Lee. Genggaman itu terasa hangat, begitu lembut seolah Jaehwan memperlakukannya layaknya suatu benda yang rapuh. Ia berusaha membaca arti pandangan yang ditujukan padanya, namun Seokjin tidak melihat apapun selain ketulusan.

“Seokjinie,” menatapnya lurus, Jaehwan terlihat serius namun tidak menuntut. “Kau tahu aku akan pergi meninggalkan pernikahanku detik ini juga apabila kau mau kembali bersamaku, ‘kan?”

Terkejut dengan pertanyaan itu, Seokjin hanya dapat terdiam. Ia pikir setelah selama ini, Jaehwan akhirnya menyerah mengejarnya untuk kembali. “A-aku…”

Kembali tersenyum, yang lebih tinggi mengeratkan genggaman tangannya perlahan. “Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak lagi terbesit sedikitpun dalam benakmu,” satu helaan napas. “Karena aku bukan Yoongi.”

Kedua mata Seokjin mengerjap tak mempercayai pendengarannya. Jaehwan menyentuh wajahnya sejurus kemudian, tersenyum seolah berusaha meyakinkannya. Seokjin tidak tahu harus memberikan respon seperti apa untuk menanggapi pernyataan Jaehwan yang terdengar ringan namun memiliki beban luar biasa berat.

“Kau harus lebih jujur dengan dirimu sendiri, Jinnie. Percayalah.”

Dahulu, dalam waktu satu bulan setelah mereka berpisah, Seokjin sering memikirkan Yoongi. Ia mengandai apa yang akan terjadi jika ia memilih untuk bertahan, bagaimana takdir akan menarik mereka ke seluruh dimensi yang ada. Seokjin juga membayangkan bahwa mungkin mereka akan baik-baik saja dan sebenarnya tidak ada yang dapat memastikan apa yang benar dan apa yang salah.

Dalam waktu tertentu, Seokjin akan mengurung diri di dalam kamar, mendengar seribu satu lagu patah hati dan menangis hingga terlelap. Dalam satu titik di hidupnya, Seokjin merasa menyesal karena telah melepaskan—meski ia melakukan hal yang ia percaya sepenuhnya.

Satu bulan pertama adalah yang paling berat. Seokjin tidak dapat berhenti memikirkan apa yang sedang Yoongi lakukan, dengan siapa dia sedang bersama, di mana ia berada. Tangannya akan dengan otomatis mengecek semua media sosial Yoongi yang jarang sekali aktif, menahan diri mati-matian untuk tidak menghubungi Namjoon atau siapapun yang dapat dijadikan sumber informasi.

Di satu bulan yang sama, Yoongi masih sering menghubunginya. Menanyakan hal yang ingin Seokjin tanyakan namun tertahan. Memastikan ia baik-baik saja, mencari celah agar mereka dapat kembali bersama.

Namun Seokjin dapat menjadi seseorang yang keras kepala di saat ia menginginkannya. Ia memutus kontak, bergelut dengan rasa bersalah dan penyesalan, tetapi tidak melakukan apa-apa. Seokjin pikir pada satu titik, Yoongi akhirnya menyerah. Lalu mereka berjalan di jalur terpisah.

Setelah dua bulan, Seokjin mulai terbiasa. Ia tidak lagi mengecek handphone-nya untuk mengetahui apakah Yoongi menghubunginya (meski hanya akan ia abaikan), tidak lagi mendengarlan lagu patah hati hingga terlelap, tidak menggunakan satu sweter Yoongi yang diam-diam ia ambil dari pemiliknya, dan tidak merasakan sebuah dorongan untuk mencari tahu di mana, sedang apa, dan dengan siapa Yoongi sekarang.

Semua orang berpikir bahwa Seokjin telah mulai bergerak, meninggalkan titik di mana ia terus menetap. Mereka melihat Seokjin sebagai seorang penjahat, pergi jauh setelah meninggalkan luka; karena Yoongi, seperti apa yang Hoseok katakan, masih berdiam diri tanpa ada rasa ingin berpindah.

Berbeda dengan apa yang terlihat, Yoongi adalah seorang pecinta, ia ingat Namjoon pernah berkata. Ia akan tenggelam dalam perasaannya dan kau, Hyung, kau tidak akan berada di sana untuk menolongnya.

Seokjin memang tidak berada di sana untuk menolong Yoongi. Tidak menjawab telepon di jam dua pagi yang tiba-tiba, mengabaikan semua usaha untuk membenahi segalanya, hidup dengan pandangan lurus ke depan tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Tapi begitupun kau, Yoongi.

Lihat siapa yang sekarang tidak berada di sini.

Seokjin tidak mengerti apa itu lebih jujur dengan diri sendiri. Ia selalu jujur pada dirinya sendiri, begitupun jika ia berusaha membohongi diri, ia tahu ia tengah berbohong. Jaehwan membuatnya bingung bukan main.

Jjangu, anjing peliharaannya, tengah berlari ke sana kemari. Seokjin menepuk wajahnya satu kali, berusaha menggapai kesadaran dan fokus agar tidak tertinggal dan kehilangan anjingnya yang sedang hiperaktif. Setengah berlari, ia mengejar Jjangu yang lebih dulu sampai ke sisi seberang taman.

Taman di dekat apartemennya ini tergolong sepi di hari biasa. Seokjin memanfaatkan kesepian taman untuk menyegarkan pikirannya dengan membawa Jjangu menghabiskan sore bersama, tanpa masker dan berpakaian sekasual yang ia inginkan—hidup sebagai seorang aktor pendatang baru ternyata tidak semudah bayangannya.

Mendengar Jjangu menggonggong ceria, Seokjin berhenti untuk memerhatikan apa yang sedang anjingnya lakukan. Jjangu tengah terduduk dengan ekor yang bergerak semangat, ditemani seorang pria yang membelai anjingnya penuh kasih sayang. Bergeming di tempatnya, Seokjin menahan napas melihat orang yang saat ini paling tidak ingin ditemuinya.

Duduk di salah satu bangku taman, Min Yoongi memindahkan laptop di pangkuannya dan membiarkan Jjangu melompat ke atasnya. Ia tersenyum ketika Jjangu mengendus dan menempelkan kepala pada dadanya, mengucapkan sesuatu pada si anjing yang tidak dapat berbicara.

Seokjin menunduk untuk melihat pakaian yang ia gunakan. Sekasual mungkin. Dari semua pakaian kasual yang ia miliki, ia malah menggunakan sweter ini sekarang. Wajahnya memanas membayangkan apa yang bisa saja Yoongi pikirkan ketika melihatnya dan dalam sekejap Seokjin merasa lemas.

Ia harus meninggalkan taman ini sekarang. Yoongi takkan membiarkan Jjangu sendirian, pasti lelaki itu akan mengantarkan Jjangu ke tempat tinggalnya. Seokjin tak yakin Yoongi tahu di mana apartemennya berada, tapi Yoongi masih memiliki kontaknya. Atau Yoongi bisa saja membawa Jjangu ke apartemennya sendiri, lalu menghubunginya untuk menjemput anjingnya. Ia baru saja akan berbalik dan lari ketika Yoongi menolehkan kepala ke arahnya, melihatnya tepat pada sepasang mata.

Tamat riwayatmu, Kim Seokjin, otaknya menyumpahi diri sendiri. Mulutnya terbuka, berusaha mencari sesuatu untuk dikatakan. Seokjin benar-benar merasa salah tingkah.

Setelah beberapa hari memikirkan omongan Jaehwan tentang Yoongi, Seokjin dipaksa berhadapan dengan mantan kekasihnya untuk ketiga kali dalam waktu dua minggu. Rekor baru terlepas dari seringnya mereka berpapasan di tempat-tempat acak di seluruh penjuru kota Seoul.

“Seperti biasa, Jjangu lebih menyukaiku daripada dirimu, Hyung,” Yoongi berkata seraya mengelus peliharaan Seokjin di pangkuannya. “Omong-omong, aku kira aku kehilangan sweter itu. Ternyata kau membawanya.”

Mengabaikan wajah dan telinganya yang mungkin saja kini telah semerah tomat masak, Seokjin mendengus. “Tidak sengaja terbawa,” ketusnya singkat. Ia merasa dihakimi ketika Yoongi menaikkan sebelah alisnya tak percaya. “Nanti akan kukembalikan!”

Tertawa melihat reaksi yang lebih tua, Yoongi mengalihkan pandangan pada Jjangu yang melompat turun dari pangkuannya dan berlari pada majikannya. “Tidak perlu, kau boleh menyimpannya sebagai kenang-kenangan.”

Sang Kim mengabaikan rasa tidak suka yang menghampirinya. Kenang-kenangan terdengar seperti sesuatu yang tidak hangat. Ia mengaitkan tali yang ia pegang pada kalung di leher Jjangu, lalu berjalan menghampiri bangku di mana Yoongi telah kembali sibuk dengan laptopnya.

“Mau menemaniku sebentar?”

Satu hal yang Seokjin tangkap sebulan belakangan ini selain mood baik sang Min adalah Yoongi tidak menghindari interaksi dengan dirinya. Mereka terbiasa berpapasan, saling menyapa, lalu tidak menolehkan kepala untuk memastikan apapun setelahnya. Baik Yoongi maupun Seokjin tidak pernah bertukar lebih dari empat kalimat tiap mereka tidak sengaja berjumpa. Namun ketika bertemu di coffee shop dan hari ini, Yoongi melakukan basa-basi yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan.

Tidak tahu apakah keputusannya tepat atau tidak, Seokjin menjawab permintaan itu dengan menyamankan diri di sebelah Yoongi. Bangku taman mulai terasa dingin berkat peralihan cuaca menuju musim gugur, menyebabkannya berjengit ketika mendudukkan tubuhnya. Perlahan detak jantungnya kembali normal, irisnya mencuri pandang ke arah layar laptop yang ditekuni lelaki di sebelahnya.

“Musik baru?”

“Ya. Terima kasih untukmu, aku baru saja mendapatkan pencerahan.”

Mengernyit tak paham, Seokjin bertanya, “Kenapa aku?”

Yoongi menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard untuk menatap sosok di sebelahnya. “Kau menggunakan sweterku,” tandasnya terus terang. “Tidak. Bahkan keberadaanmu di sini, saat ini, sudah cukup banyak memberikan inspirasi untukku.”

Tidak tahu harus memberikan respon seperti apa, Seokjin hanya dapat membalas tatapan Yoongi penuh tanya. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kenapa setelah setengah tahun berlalu, kau masih memberikan tatapan itu? Kenapa—

“Bersamamu atau tidak bersamamu, mencintaimu atau tidak mencintaimu,” suara Yoongi terdengar pelan, menyiratkan ketegasan dan kesungguhan yang nyatanya selalu ada. “Kau akan selalu memiliki satu spot khusus dalam diriku, Hyung.”

Kalimat selanjutnya, tentu kalimat selanjutnya tidak seindah yang Seokjin harapkan.

“Setidaknya hingga saat ini.”

“Kau masih mencintainya.”

“Tidak, Hoseok.”

“Tapi dia masih mencintaimu.”

“Itu akan berlalu.”

“Hyung, berlalu tidak semudah itu.”

Pesta pernikahan Jaehwan berlangsung semegah yang telah Seokjin perkirakan. Ia bertemu dengan banyak sekali orang yang ia kenal di dunia hiburan, termasuk teman-teman dekatnya. Jaehwan sendiri tampak sibuk menyapa dan berbasa-basi dengan para tamu undangannya, meninggalkan Seokjin setelah mereka bertukar sepatah “selamat” dan “terimakasih” sebagai bentuk formalitas.

Menyandarkan tubuh pada tumpuan satu tangan di atas meja bar, Seokjin mengedarkan pandangan. Di aula sebesar itu dengan sebanyak itu orang yang ia kenal, entah mengapa ia lebih memilih untuk menyendiri dan menghindari obrolan dengan siapapun juga. Bersamaan jam yang hampir menyentuh tengah malam, resepsi formal telah usai dan dengan sedemikian rupa disulap menjadi after-party yang diiringi dentuman musik keras. Bar telah dibuka dan Seokjin lebih dari sekedar senang untuk menghabiskan waktu dengan beberapa gelas cocktail ke depannya.

Jam menunjukkan pukul satu ketika Taehyung naik dan beralih profesi menjadi DJ dadakan. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana cara bocah itu meyakinkan Jaehwan untuk menjadikannya seorang DJ di acara after-party pernikahan ini. Jaehwan terkadang terlalu baik dikarenakan lemah terhadap orang-orang bodoh, atau ia hanya tidak peduli apakah acaranya akan berjalan dengan lancar atau tidak.

“Tidak bergabung dengan teman-temanmu di tengah sana?”

Hafal akan siapa pemilik suara itu, Seokjin menyeringai kecil. “Bagaimana denganmu? Tidak menemani istrimu di tengah keramaian?”

Lee Jaehwan mengangkat sudut bibirnya, lalu menyelipkan salah satu tangannya pada pinggang Seokjin yang terlalu ramping untuk menjadi suatu hal nyata. “Tapi aku sedang bersama dengan istriku sekarang?” candanya mengundang gelak tawa Seokjin.

Memesan dua shot vodka pada bartender, Jaehwan menyodorkan salah satunya pada Seokjin. “Untuk hari-hari yang penuh drama?”

Membenturkan sloki vodkanya pada milik Jaehwan, Seokjin mengangguk menyetujui. “Untuk hari-hari yang penuh drama.”

Rasa pahit alkohol tidak pernah gagal membuatnya menampilkan ekspresi jenaka, tapi Seokjin telah belajar untuk menyukai alkohol sejak ia berumur legal. Ia mendengar Jaehwan memesan empat shot tambahan, menegur temannya dengan mengingatkan bahwa mempelai pria tidak boleh mabuk di hari pernikahan.

“Aku tidak selemah itu, Jinnie,” panggilan itu meyakinkan Seokjin bahwa meski Jaehwan belum mabuk, lelaki itu sudah merasa ringan. Jaehwan pasti sudah minum cukup banyak sebelum datang menghampirinya. “Setidaknya kabulkan permintaanku ini dan minum bersamaku.”

Harus menjalani sisa hidup dengan orang lain yang tidak kau sayangi sepenuh hati pastilah merupakan jalan yang berat. Seokjin tidak ingin mengasihani Jaehwan karena jalan ini adalah sesuatu yang Jaehwan pilih dengan kesadaran bulat. Untuk menyenangkan hati orang tuanya. Untuk seutuhnya melepaskan Seokjin dan berhenti berharap.

Menegak beberapa gelas shot yang terus Jaehwan pesan tanpa jeda menyebabkan Seokjin dengan cepat merasa gerah. Toleransi alkoholnya cukup tinggi, namun merasa panas dan ringan adalah hal yang lumrah setelah menegak beberapa shot vodka tanpa jeda. Ia hendak meninggalkan Jaehwan dengan berdalih ke toilet, namun sosok yang lebih tinggi darinya itu memberikan pelukan secara tiba-tiba.

“Jinnie,” pelukan itu semakin mengerat. Seokjin tidak ingin siapapun melihat kejadian ini dan berspekulasi yang tidak-tidak. “Aku pikir menikah adalah jalan keluar. Aku pikir dengan menikah aku akan melepaskanmu seutuhnya. Tapi—tapi kenapa aku merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar?”

Memejamkan mata, Seokjin menahan napas. Ia tidak ingin membahas ini sekarang. “Jaehwan-ah, kau tidak bisa membicarakan hal ini di hari pernikahanmu,” kedua tangannya berusaha mendorong Jaehwan untuk melepaskannya. “Aku tidak bisa.”

Tepat setelah ia menutup mulutnya, tubuhnya ditarik secara paksa dalam satu hentakan. Pelukan Jaehwan terlepas dengan kasar, menyebabkan dirinya maupun Jaehwan terkejut dan langsung mencari penyebabnya. Seokjin hanya dapat mengerjapkan matanya ketika mendapati Yoongi menggenggam pergelangan tangannya, cukup kuat untuk membuatnya meringis kesakitan. Namun ada yang lebih penting daripada rasa sakit itu sekarang.

“Yoongi—”

“Kau,” Seokjin menyadari bahwa Yoongi tidak meliriknya sama sekali. Iris gelapnya menatap lurus Jaehwan yang tampak terusik. “Jangan pernah mengganggu Seokjin-hyung.”

Jaehwan melemparkan pandangan tajam. “Mengganggu? Kau tahu apa?”

Tidak ingin mengundang perhatian, Seokjin berusaha menengahi. “Tenanglah, kalian mabuk,” ucapnya menarik perhatian Yoongi yang ingin memprotes. Ia memelototi lelaki lebih pendek darinya itu untuk sepersekian detik. “Jaehwan, kurasa kau harus menemani mempelai wanitamu sekarang?” ia menyarankan, tahu bahwa Jaehwan pasti akan menurutinya.

Menghela napas kasar, Jaewhan mengalah. Ia meninggalkan Seokjin yang dalam diam mendesah lega, kemudian memerhatikan tangan Yoongi di pergelangan tangannya. “Aw? Sakit?”

Tanpa menggubris Seokjin, Yoongi menarik sang Kim untuk menjauh dari bar, memasuki toilet yang kebetulan sedang kosong di sudut ruangan. Seokjin membulatkan mata ketika Yoongi mendorongnya masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi, menutup lalu mengunci pintu sebelum mendorongnya hingga tersudut di dinding.

“Apa yang—” protesnya terpotong oleh Yoongi yang langsung membungkamnya cepat, mempertemukan bibir mereka dalam satu ciuman yang telah hilang setengah tahun lamanya. Seokjin dapat merasakan kepalanya yang berat, juga rasa pusing entah diakibatkan oleh alkohol atau adrenalin mendadak. Perutnya seolah digelitik dari dalam dan pandangannya berputar hebat.

Di satu sisi, Yoongi dengan kesadaran penuh tanpa pengaruh alkohol sama sekali (dengan campur tangan emosi) masih mencengkram tangan Seokjin nyaris sekuat tenaga. Pelampiasan yang ia sendiri ragu akan hal apa. Emosi? Gugup? Nafsu? Rindu?

Bereaksi pada rasa sakit di tangannya, Seokjin membuka mulut untuk mengaduh. Yoongi memanfaatkannya tanpa ragu, menelusuri manisnya sari buah dan pahitnya alkohol di rongga mulut Seokjin. Ia sedikit melonggarkan cengkramannya ketika Seokjin mendesah tanpa sadar, seolah menikmati ciuman yang ia berikan dengan sepenuh hatinya.

Dorongan lemah Seokjin menggunakan tangannya yang bebas menarik perhatian Yoongi untuk melepaskan ciumannya, memberi ruang yang terlalu kecil untuk disebut jarak. “Yoongi, i-ini tidak—kita tidak…”

“Kau tidak lagi memiliki perasaan apapun untukku, begitu pula aku,” Seokjin dapat merasakan napas Yoongi menerpa wajahnya, terasa panas dan begitu memabukkan. “Ciuman ini sama sekali tidak memiliki arti apapun, jadi biarkan aku melakukannya.”

Bagai tersihir, Seokjin mengangguk lemah, memberikan izin pada Yoongi untuk melakukan apa yang ingin sosok itu lakukan. Ia ingin mempercayai bahwa alkohol mengacaukan pikirannya, namun Seokjin tahu ia melakukan ini bukan akibat mabuk semata. Ia memberikan izin dan membalas ciuman Yoongi karena ia menginginkannya, sangat sangat menginginkan Yoongi untuk dirinya.

Ketika Yoongi mengerang dengan suara rendahnya, Seokjin dapat merasakan kedua kakinya melemah dan ia tahu bahwa ia takkan bisa pergi sekalipun otaknya memberi perintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s