Mixed Signals

Hogwarts AU Series: Part 6
– VKook spin-off –

“Apa yang terjadi pada kehidupan eomma dan appa tidak menunjukkan kita akan mengalami hal serupa.”

“Buah takkan jatuh jauh dari pohonnya, bukan, Hyung?”

“Mungkin saja. Tapi lihat kita sekarang; bersekolah di sekolah khusus penyihir alih-alih duduk di bangku sekolah elit chaebol.”

“Tetap tak menjamin kita tidak akan kembali ke kehidupan kita sebelumnya.”

“Untuk itu aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kita bisa memilih jalan kita masing-masing tanpa terikat keinginan Eomma dan Appa. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan berusaha bersamaku, Tae-ah?”

.

.

Kim Taehyung memandangi langit biru yang begitu indah dan tampak tak memiliki ujung, begitu menyegarkan pikirannya dan entah mengapa menimbulkan sedikit rasa senang. Baginya, loteng menara astronomi selalu menjadi pilihan terbaik untuk menikmati waktu sendiri—jarang sekali ada yang datang ke sini, keributan takkan terdengar, ditambah pemandangan menakjubkan. Dengan sekolah yang memiliki bangunan sebesar Hogwarts, Taehyung baru menyadari bahwa tempat untuk melepaskan penat masih saja sulit didapatkan.

Hembusan angin membelai wajahnya juga menyebabkan surai cokelat terangnya menari di udara, mengundangnya untuk memejamkan mata seraya menikmati sentuhan angin di kulitnya. Jubahnya yang tidak terkancing memamerkan dasi berwarna merah-kuning khas Gryffindor, asrama di mana ia menghabiskan waktu tiga tahun belakangan. Sesaat lagi ia akan memasuki tahun keempat, tentu jika ia dapat melewati ujian akhir yang diselenggarakan minggu depan.

Berbeda dengan kakaknya, Taehyung telah mengetahui eksistensi dunia sihir di umur yang belia. Ia menyadarinya ketika di umur lima tahun, ia dapat mendengar suara dari pikiran Seokjin mengenai kekhawatiran sang kakak meninggalkannya tiap harus pergi ke sekolah. Hal itu hanya terjadi sekali, namun beberapa bulan kemudian di saat ia merasa sedih, Taehyung mendapati hujan deras menghampiri rumahnya; hanya rumahnya dari semua rumah di satu komplek tempat ia tinggal. Hal aneh terus terjadi setelahnya, membuatnya sama sekali tak terkejut ketika rumahnya kedatangan tamu dari sebuah sekolah bernama Hogwarts, menjelaskan keberadaan dunia sihir pada orang tuanya dan bermaksud mengambil Seokjin untuk bersekolah di sana.

Taehyung dan Seokjin berasal dari sebuah keluarga ternama. Perusahaan yang dipimpin oleh ayah mereka merupakan salah satu perusahaan dengan penghasilan paling besar di Asia selama tiga tahun belakangan. Secara finansial, Taehyung tidak pernah berharap untuk memiliki lebih dari apa yang keluarganya telah miliki. Namun secara kasih sayang dan perhatian orang tua, Taehyung memohon pada Tuhan nyaris setiap harinya.

Sebagai seorang istri CEO perusahaan besar, ibunya dituntut untuk bersosialisasi dan bergabung dengan kehidupan sosialita para istri konglomerat. Ayahnya yang merupakan pejabat tinggi perusahaan hanya pulang ke rumah beberapa kali dalam seminggu, terkadang tidak sama sekali. Seokjin adalah satu-satunya yang ia miliki pada saat ia kecil.

Bahkan hingga saat ini.

Ia tidak memiliki memori akan liburan ke pantai bersama orang tuanya, ataupun memori bercengkrama di ruang keluarga bersama. Taehyung hanya memiliki memori bersama Seokjin; bermain game bersama, berlibur berdua ditemani oleh orang suruhan ayah mereka, diajarkan cara menulis dan membaca selain oleh guru di sekolah, dan semua hal lain yang seharusnya ia lakukan bersama ayah dan ibunya, bukan dengan seorang kakak yang hanya terpaut satu tahun dengannya.

Terkadang, Taehyung menyesali kehadirannya di dunia. Mungkin Seokjin dapat lebih menikmati masa kecilnya jika ia tidak dilahirkan. Seokjin tidak perlu merasa memiliki tanggungjawab untuk terus menemani dan menjaganya.

Namun sekarang ia terlanjur hidup dan bernapas, Taehyung pikir ia tidak boleh menghabiskan waktu berlarut pada penyesalan yang bukanlah pilihannya. Ia tidak pernah memilih untuk dilahirkan, sehingga kini yang dapat ia lakukan hanyalah menghargai kehidupan dan menjadi sosok yang dapat diandalkan bagi kakaknya. Setelah Seokjin meninggalkannya di rumah besar milik mereka untuk bersekolah di Hogwarts, Taehyung menghabiskan waktu satu tahun untuk membaca buku mengenai dunia sihir sebanyak yang ia bisa.

Di sinilah ia berada sekarang, menjadi salah satu muggle-born paling berbakat di Hogwarts. Taehyung tahu ia cukup cemerlang untuk mendapatkan hati sebagian profesor, juga mendapatkan nilai O di sebagian besar pelajaran yang diikutinya. Pribadinya yang easy-going menarik minat banyak orang untuk berteman dengannya. Kelihaiannya dalam permainan Quidditch di dua tahun belakangan semakin membuatnya populer di kalangan penyihir remaja.

Meski begitu, sering kali Taehyung tidak merasa puas. Ia dipuji dan dihargai oleh banyak orang, namun tujuan utamanya adalah untuk melindungi Seokjin; yang malah menjalin hubungan dengan seorang lelaki dari asrama Slytherin.

Min Yoongi ternyata memang tidak seburuk bayangannya. Slytherin tetaplah asrama yang buruk, Taehyung takkan mengubah pemikirannya untuk yang satu itu. Tapi mungkin Seokjin ada benarnya, ia tidak bisa memukul rata. Memang ada anggota Slytherin yang menyebalkan, menghina para muggle-born ataupun bersikap angkuh dengan meninggikan darah mereka. Namun ia tidak dapat menutup mata akan adanya Slytherin yang memiliki sifat baik dan tidak menyebalkan (sayangnya tertutup oleh nama asrama mereka).

Jeon Jungkook, misalnya.

Mengernyitkan dahi, Taehyung terkejut mendapati nama itu melintas di pikirannya. Jungkook adalah murid dari asrama Slytherin, satu tingkat di bawahnya, dan merupakan seorang seeker baru di tim Quidditch Slytherin. Berkebalikan dengan rata-rata penghuni asrama Slytherin yang memiliki wajah tidak ramah, Jungkook memiliki ekspresi lugu yang mengingatkannya akan kelinci. Taehyung tak pernah benar-benar memiliki hubungan yang akur dengan si Jeon, Seokjin lah yang akrab dengan bocah bersurai hitam itu.

Belakangan ini, setelah Seokjin menjadi kekasih Yoongi, Taehyung beberapa kali berinteraksi dengan Jungkook. Dimulai dari ingin merapalkan mantra kutukan hingga bersembunyi dari Yoongi bersama, ia merasa telah menurunkan kewaspadaannya di sekitar yang lebih muda. Taehyung memiliki beberapa teman dari asrama Slytherin, pun tetap meningkatkan kewaspadaannya secara insting tiap berada di dekat mereka. Tampaknya kini Jungkook adalah pengecualian.

Menghela napas, Taehyung mengedikkan bahu tak kentara. Lagipula apa yang dapat bocah itu lakukan padanya hingga ia harus merasa waspada?

Sama dengan Kim Taehyung, Jeon Jungkook jugalah berasal dari keluarga ternama.

Jika keluarga Taehyung terkenal di antara muggle, maka keluarga Jungkook terkenal di antara para penyihir. Lahir di keluarga yang memiliki silsilah penyihir teramat tua, Jungkook tidak dapat memikirkan dirinya berada di posisi lain dari posisinya saat ini. Ia adalah seorang penyihir dan akan membanggakan keluarganya dengan lulus dari sekolah penyihir terbaik, yaitu Hogwarts. Ia tidak pernah memandang rendah muggle, keluarganya tidak mengajarkannya untuk meremehkan siapapun juga. Tetapi Jungkook tidak pernah menaruh perhatian lebih pada muggle pula.

Setidaknya hingga ia bertemu dengan Seokjin yang menghampirinya di tepi dermaga Great Lake, tengah berusaha menjauhi semua orang karena Jungkook hanyalah murid tingkat pertama pemalu yang sulit berbaur dengan orang baru. Seokjin adalah sosok yang mendorongnya untuk bersosialisasi, membantunya memahami beberapa pelajaran dasar yang sulit ia pahami, dan memahami emosinya yang terkadang tidak stabil. Bagi Jungkook, Seokjin adalah seseorang yang luar biasa meski berlatarbelakang tidak memiliki ide apapun mengenai dunia sihir sebelum memasuki Hogwarts.

Bertemu dengan Seokjin memperluas pikiran Jungkook mengenai muggle-born. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa masih saja ada penyihir yang menghina muggle-born hanya untuk meninggikan diri sendiri. Jungkook tahu banyak penyihir berdarah murni yang tidak secerdas Seokjin, dan Jungkook tahu lebih banyak lagi penyihir berdarah murni yang tidak secemerlang Kim Taehyung.

Mengenal Taehyung sebagai adik dari Seokjin, Jungkook juga mengagumi si Kim lebih muda dengan segala prestasi yang dapat ia capai sebagai seorang muggle-born, terutama keahliannya sebagai chaser di permainan Quidditch. Nama Taehyung adalah salah satu nama yang paling sering didengar di penjuru Hogwarts berkat otak, sifat, dan visualnya yang di atas rata-rata. Jungkook menghargai Taehyung bukan hanya karena itu semua, namun juga dikarenakan loyalitas sang Gryffindor terhadap kakaknya.

Sebulan lalu, Jungkook ingat bagaimana ia berusaha menghindari Taehyung sebisa mungkin agar tidak diracuni atau disihir di tempat. Taehyung sempat menyalahkannya atas hubungan Seokjin dan Yoongi, dan Jungkook paham mengapa Taehyung mengambil kesimpulan itu. Seiring berjalannya waktu, Taehyung tampak lebih tenang dan menerima keputusan kakaknya.

Jungkook tidak menyalahkan Taehyung. Ia tahu dengan pasti bagaimana perilaku beberapa penyihir angkuh pada penyihir muggle-born seperti Taehyung dan Seokjin. Jungkook juga tahu kejadian yang menimpa Seokjin beberapa tahun lalu, kejadian yang menyebabkan Taehyung murka dan mengutuk sekelompok senior yang mengerjai Seokjin. Menjadi over-protective pada Seokjin yang terlalu baik untuk membalas adalah hal yang lumrah. Namun Jungkook masih tidak mengerti mengapa di atas Slytherin, Taehyung lebih tidak mempercayai jatuh cinta.

Rasa penasarannya tidak pernah terjawab.

Duduk di aula ruang makan, Taehyung baru saja meletakkan beberapa lauk di atas piring ketika seseorang duduk di sisinya. Ia menolehkan kepala, mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan penglihatannya ketika mendapati Jeon Jungkook duduk dengan cengiran kikuk, canggung dan mungkin sedikit takut.

”Wah, Jeon Jungkook! Aku melihat permainan debut Quidditchmu beberapa bulan lalu, benar-benar hebat!” sahut salah satu teman Taehyung yang duduk di meja yang sama, mengundang Jungkook untuk mengucapkan sepatah terima kasih dan menganggukkan kepala sopan.

Taehyung mengerlingkan mata, mengambil pisau untuk memotong ayam di piringnya. “Ada apa?”

Gumaman Jungkook tidak tertangkap oleh indra pendengarannya, menyebabkan Taehyung penasaran namun tetap memilih untuk bungkam. Ia sendiri cukup terkejut dengan kehadiran Jungkook yang tiba-tiba mengingat mereka jarang berinteraksi jika tidak menyangkut masalah Seokjin.

Hyung, aku butuh bantuanmu,” ucap Jungkook terdengar putus asa. “Seokjin-hyung sedang dalam masa pemulihan dan aku tidak ingin mengganggunya. Aku tidak bisa memahami materi Telaah Muggle.”

Mendengus tak kentara, Taehyung sempat berpikir Jungkook akan menemuinya untuk sebuah masalah lain, masalah apapun itu kecuali ini. Sesuatu yang lebih penting. Taehyung tidak ingin orang-orang melihatnya akrab dengan si penghuni Slytherin, entah mengapa. “Cari orang lain. Aku tidak punya waktu.”

Jungkook mengeluh, dengan nada sedih yang berusaha ditutupi berkata, “Tapi aku tidak punya orang lain yang dapat kuandalkan,” yang menyebabkan Taehyung ingin meringis mendengarnya. “Aku tahu kau membenciku, tapi tolong bantu aku.”

Taehyung ingat cerita Seokjin tentang Jungkook yang dapat dikategorikan pemalu, sosok menyenangkan yang membutuhkan waktu untuk membuka diri. Jika Seokjin mendengar percakapan ini, kakaknya pasti akan memarahinya karena menolak permintaan Jungkook. Ia menghela napas, mengunyah daging dalam mulutnya, lalu mengalah dengan merespon, “Baiklah. Biarkan aku menghabiskan makananku.”

Senyum lebar Jungkook di sudut mata Taehyung menyebabkan yang lebih tua harus menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat, terhibur dengan ekspresi kekanakkan yang Jungkook perlihatkan layaknya anak kecil diberikan gulali besar. Dalam diam, ia menghabiskan semua makanannya sebelum mengajak Jungkook ke ruang rekreasi asramanya.

“Kau yakin, Hyung? Apakah tidak apa-apa?” tanya Jungkook sesampainya mereka di depan lukisan The Fat Lady. Taehyung menyebutkan kata kunci untuk memasuki asramanya, mengabaikan pertanyaan sang Slytherin yang gugup dan terlihat sungkan.

The Fat Lady menanyakan hal yang sama sebelum membukakan pintu untuk mereka. “Membawa seorang Slytherin? Kau yakin? Ini pertama kalinya.”

Sebenarnya Taehyung tidak merasa yakin, namun ia tidak dapat memikirkan tempat lain. Perpustakaan pasti sedang ramai mengingat ujian akan segera datang dan aula ruang makan terlalu berisik untuk dijadikan tempat belajar. Lagipula di jam makan siang seperti sekarang, ruang rekreasi asramanya pasti tidak berpenghuni akibat ditinggal untuk makan.

Memasuki ruang rekreasi Gryffindor, Jungkook mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Meski ruang rekreasi Slytherin nyaman, ruang rekreasi di depannya terlihat dua kali lipat lebih nyaman dengan suasana hangat. Jungkook nyaris tersandung kakinya sendiri akibat terlalu asik memerhatikan sekeliling ruangan, mengundang Taehyung untuk menyeringai kecil dan berkomentar, “Kau mau menghabiskan waktu memandangi ruang rekreasi ini atau mempelajari Telaah Muggle?”

Duduk di atas sofa dekat dengan perapian, Jungkook membuka buku yang ditulis oleh Wilhelm Wigworthy, sebuah buku wajib untuk pelajaran Telaah Muggle. Taehyung memilih untuk duduk berseberangan dengannya, menanyakan apa yang tidak Jungkook mengerti dan bagaimana ia dapat membantu mengajarinya.

Pelajaran Telaah Muggle seharusnya baru dapat diambil di tahun ketiga, namun entah mengapa mulai tahun ini, Hogwarts mempercepatnya hingga dapat diambil sejak tahun kedua. Bagi seorang penyihir berdarah murni, pelajaran Telaah Muggle adalah hal yang teramat sulit. Jungkook sedikit menyesal telah mengambil pelajaran ini, namun rasa penasarannya terhadap muggle membuatnya tak dapat menahan diri.

“Jadi, apa itu listrik?”

Taehyung terdiam mendengar pertanyaan polos itu, lalu terbahak sepersekian detik kemudian. “Kau serius?” ia balik bertanya di sela tawa, mengabaikan Jungkook yang bingung dengan reaksi yang ia dapat. Taehyung tahu perbedaan kehidupan antara muggle dan penyihir amatlah jauh, tetapi ia tidak tahu perbedaan itu menyebabkan kesenjangan sebesar ini.

“Listrik adalah… bagaimana aku menjelaskannya,” Taehyung menyeka air mata di sudut matanya setelah puas tertawa. Ia menggerakkan bola matanya ke arah atas, lalu ke kiri—berusaha menemukan kalimat penjelasan setepat mungkin. “Semacam daya, kekuatan yang muncul akibat adanya reaksi kimia. Kekuatan ini kami gunakan untuk berbagai macam hal seperti menyalakan lampu.”

Di luar dugaannya, Jungkook memperlihatkan ekspresi kagum yang tidak dibuat-buat. Penyihir memang aneh, hidup mereka terlalu simpel, batin Taehyung tak habis pikir.

“Bagaimana cara menciptakan listrik?” pertanyaan lain Jungkook lontarkan, kali ini berhasil membuat Taehyung membatu. Sejujurnya ia tidak tahu. Listrik sudah ada sejak berabad-abad lalu, dan ia tidak pernah peduli akan asal-usul listrik di masa lampau. Taehyung berpikir keras, mengerutkan dahi tanpa sadar dan sibuk dengan pemikirannya selama beberapa saat.

Jungkook mengamati sang Gryffindor yang terlihat begitu serius, mungkin bingung akan jawaban dari pertanyaannya. Mana mungkin Taehyung tidak tahu, ‘kan? Taehyung adalah seorang muggle-born. Lelaki di hadapannya hidup lebih lama sebagai muggle daripada sebagai penyihir.

Menunggu jawaban keluar dari mulut yang lebih tua memberikan waktu lebih lama bagi Jungkook untuk memerhatikan sosok di depannya. Taehyung selalu terlihat menyenangkan ketika sedang tersenyum, namun di saat sedang serius seperti ini, Jungkook tidak dapat berhenti untuk berpikir bahwa Taehyung—

“Menggemaskan.”

“Apa?”

Malu dengan perkataannya yang terdengar, Jungkook berusaha tersenyum jenaka. Ia tidak ingin mengulangnya, tetapi Taehyung menatap matanya menuntut sebuah pengulangan.

“Aku pikir ketika kau berwajah serius kau terlihat menggemaskan, Hyung.”

Taehyung terdiam mendengarnya, menatap lawan bicaranya yang menolak untuk membalas tatapannya. Ia tidak pernah membayangkan dipuji menggemaskan oleh seorang Slytherin secara tiba-tiba tanpa adanya pemberitahuan. Kapan pula pujian memerlukan pemberitahuan?

Menggemaskan. Jungkook bilang ia terlihat menggemaskan.

“Apa-apaan…” Taehyung membuang muka, tak lagi dapat fokus pada listrik dan segala aksi-reaksi atom yang membuat otaknya berpikir keras hingga sakit kepala.

Kelinci Slytherin bodoh, pikirnya cepat, berusaha melupakaan perkataan Jungkook yang baginya tidak masuk akal. Sekarang ia memiliki alasan untuk merasa waspada berada di sekitar Jungkook. Taehyung tidak tahu alasan apa yang ia maksud, ia hanya merasa telah memilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s