Forecast

Pukul lima sore, seperti yang telah diperingati oleh seluruh media nasional, badai salju datang menerjang dengan perkasa.

Kim Seokjin memaki dalam hati—pekerjaan menyebabkan dirinya mengabaikan seluruh pemberitahuan perkiraan badai salju dan membuatnya berakhir terdampar di sebuah pub pinggir kota. Atau mungkin ini semua bukan dikarenakan pekerjaannya. Pikirannya memang sedang kacau belakangan ini, suasana hati yang buruk selalu berhasil membuat pikiran siapapun menjadi linglung.

Duduk di atas salah satu kursi bar dan memesan cocktail yang direkomendasikan, tayangan televisi yang membahas tentang kepahlawanan salah satu manusia super sama sekali tidak memperbaiki kemalangannya hari ini. Seokjin mendengus, mengalihkan pandangan pada sang bartender yang dengan cekatan menyiapkan pesanannya. Bagaimana bisa tangan seseorang bergerak secepat itu?

Dunia sudah banyak berubah. Invasi makhluk asing memunculkan tokoh-tokoh protagonis berkekuatan super yang dahulu hanya dapat ditemukan di komik atau film bioskop. Polisi atau tantara terdengar seperti pekerjaan formalitas ketika kejahatan berkekuatan magis menyerang—siapa yang bisa melawan makhluk berkekuatan mistis jika bukan manusia super?

Fokusnya beralih ketika ia mendengar dering telepon dari saku celananya, menahan napas tanpa sadar ketika melihat nama yang tertera di layar kaca. Beberapa kali jarinya bergerak bingung di antara kedua icon berwarna hijau dan merah hingga akhirnya cahaya telepon meredup dan tak lagi mengeluarkan suara.

“Mungkin kau bisa memutuskan harus mengangkat atau menolak telepon itu setelah meminum cocktail ini,” ucap sang bartender menyebabkan Seokjin mengangkat kepala dari alat elektronik dalam genggaman tangannya. Ia tersenyum sopan seraya berterimakasih, lalu menelan satu tegukan yang menyisakan rasa manis dalam rongga mulutnya.

Teleponnya kembali berdering, kali ini ia tak lagi bingung. Alih-alih menolak atau mengangkat telepon itu, Seokjin akan membiarkannya layaknya angin lalu.

“Oh? Jadi jawaban yang cocktail itu berikan adalah ini? Mengabaikanku?”

Kaget mendengar suara khas di sampingnya, ia menoleh untuk menemukan Jeon Jungkook duduk dengan satu gelas scotch di atas meja. Ia sama sekali tidak menyadari keberadaan lelaki itu, kehilangan ide akan sejak kapan sosok itu berada di sana. Seokjin membuka mulutnya untuk bersuara, namun benar-benar tak tahu harus berkata apa.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?” Ia akhirnya memutuskan untuk bertanya, masih tak dapat mengalihkan pandangan seolah apa yang kedua netranya tawarkan adalah khayalan belaka.

Jungkook tersenyum tipis. “Aku tidak pernah kehilangan keberadaanmu, Hyung,” kemudian dengan berat menghela napas. “Aku hanya memberimu waktu untuk berpikir. Siapa yang tahu kau akan pergi menyeberang pulau untuk menghindariku?”

Ada jeda yang tidak terasa asing di antara keduanya. Seokjin berusaha memainkan perannya, menjadi dewasa dan lebih sabar daripada sifat alaminya. “Dan sekarang waktu berpikirku sudah habis? Karena itu kau menemuiku?”

Gelengan kecil Jungkook menimbulkan tanda tanya kecil dalam otak yang lebih tua. “Bukan itu. Lagipula seribu tahun tidak akan cukup bagimu untuk berpikir,” sepasang iris onyx-nya memandang lurus iris hazel Seokjin yang selalu berhasil membuatnya luluh dan angkat tangan. “Aku merindukanmu, Hyung. Dua minggu terasa seperti selamanya.”

Jantungnya berhenti berdetak, lalu berdetak dua kali lipat lebih cepat daripada seharusnya. Seokjin mendesis, “Omong kosong.” Yang terdengar lebih cocok ditujukan untuk dirinya. Omong kosong jika pernyataan itu tidak menjinakkanmu.

Berpura-pura menunjukkan raut kecewa, Jungkook merengek, “Hyung!”

Terdapat dorongan besar dari dalam diri Seokjin untuk melupakan semua masalah mereka. Tidak ada hal yang ingin ia lakukan selain memeluk Jungkook dan menangis, bersumpah serapah dan berteriak, “Semua ini kulakukan karena aku mempedulikanmu!” Tapi seandainya hidup mereka semudah itu, maka pertengakaran ini takkan pernah terjadi selain di dalam alam bawah sadar.

“Aku tidak bisa, Jungkook,” sorot matanya berubah tegas. “Tidak selama kau masih bertahan dengan apa yang kau lakukan sekarang.”

“Kita sudah membicarakan ini berkali-kali. Kau tahu aku tidak bisa berhenti begitu saja, Hyung,” Jungkook berusaha menarik simpati lawan bicaranya. “Banyak orang membutuhkan bantuanku.”

Seokjin dapat merasakan emosi menguasainya, matanya terasa panas dan suaranya tercekat ketika berkata, “Lalu bagaimana denganku?” Tubuhnya terasa lemas, ia berusaha menguasai dirinya agar emosinya tidak meledak dan menimbulkan sebuah adegan mencolok di depan khalayak umum. “Kau mengutamakan semua orang yang tak kau kenal dan memilih untuk mengorbankan perasaanku?”

Tidak ada yang sempat Jungkook ucapkan karena Seokjin kembali menyuarakan isi hatinya, “Jungkook-ah, umur kita terpaut lima tahun dan aku mengenalmu sejak—entahlah, kau baru bisa mengendarai sepeda roda tiga?” Pundaknya terasa berat, ia memandang Jungkook dengan rasa lelah luar biasa. “Kau bukan hanya kekasihku, kau juga adikku dan sahabat yang sangat kuhargai. Apakah salah jika aku hanya menginginkan keselamatanmu?”

Hyung, tapi—”

“Umurmu hanya 21 tahun, Jeon Jungkook,” Seokjin benar-benar merasa ingin menangis. Ia tidak ingin terus-menerus berdebat tanpa ujung dengan Jungkook tentang ini. “Aku tidak bisa melihatmu memikul beban dan bertaruh nyawa setiap hari.”

“Pilihanmu. Aku atau semua orang-orang itu,” ia berdiri dari tempat duduknya, beranjak menuju meja kosong sejauh mungkin (persetan badai salju!) setelah berkata, “Jangan sebut aku egois. Kau lah yang egois karena berusaha menolong semua orang. Tidak ada yang namanya pahlawan untuk semua orang, Jungkook-ah. Kau hanya harus menjadi pahlawan untuk dirimu sendiri, dan mungkin orang-orang terdekatmu.”

Secara refleks mengejar Seokjin, Jungkook meraih tangan sang Kim dengan gesit sebelum menariknya ke balik rak besar yang jarang orang lewati. “Hyung, apakah benar itu yang kau inginkan?” Ia berusaha mencari jawaban di dalam mata Seokjin yang memerah dikarenakan menahan tangis. “Kau tahu aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan meninggalkan semuanya.”

“Jadi biarkan aku bertanya untuk terakhir kali, apakah kau benar-benar menginginkan itu?”

Hingga lima menit lalu, Seokjin benar-benar yakin tidak ada hal yang lebih ia inginkan selain agar Jungkook berhenti mengerjakan apapun yang sedang digelutinya saat ini. Namun ketika Jungkook mendesaknya sekarang, ia tak tahu apa yang menyebabkan dirinya merasa ragu untuk sekedar menganggukkan kepala. Ia sangat menginginkan ini, sungguh. Apa yang menahannya?

Hyung, jika kau dilahirkan dengan sebuah kekuatan yang membantumu untuk menolong orang lain, apakah kau akan berdiam diri ketika melihat seseorang terluka di depanmu?”

Menundukkan kepala, pikiran itu bukan belum pernah terlintas dalam benaknya. Jungkook benar—kekasihnya itu tidak meminta untuk dilahirkan dengan sebuah kelebihan yang membuatnya dijuluki sebagai pahlawan. Jungkook jugalah salah satu korban takdir, sayangnya ia terlalu baik hati untuk berdiam diri. Sayangnya ia memiliki Seokjin yang tidak bisa lepas dari rasa khawatir.

“Aku mencintaimu, Hyung. Aku berterimakasih karena kau sangat mempedulikanku. Tapi kumohon, mengertilah,” Jungkook menyentuh wajah Seokjin dengan lembut, mengelusnya dengan amat perlahan. “Aku pasti akan menjaga diriku untukmu agar kau tidak perlu sedih ataupun khawatir.”

Seokjin mengambil tangan Jungkook pada wajahnya, memandang nanar lantai di mana kakinya berpijak. “Bodoh. Aku akan selalu khawatir.”

Tersenyum hangat, yang lebih muda memberikan sebuah pelukan tanpa celah. Seokjin menerimanya dengan senang hati, membalas pelukan itu setelah mengedarkan pandangan untuk memastikan tidak banyak orang menaruh perhatian pada mereka. Untuk sesaat ia melupakan fakta bahwa ia tak sedang berada dalam rumahnya.

Pelukan Jungkook terasa hangat terlepas dari terjangan badai salju dan ramalan cuaca yang semakin memburuk. Seokjin pikir dengan telah bertahan sejauh ini, seribu satu perdebatan dan seribu satu akhir yang tak pasti, maka pada titik ini apapun yang akan terjadi pasti akan dapat mereka lewati.

“Tidak ada lagi bom rakit dalam kotak sepatuku, Jungkook.”

“… Aku kira kotak sepatu itu tidak digunakan lagi.”

“Dan tidak ada pelacak dalam barang apapun yang kau berikan untukku.”

“Tidak ada salahnya untuk waspada, Hyung.”

Kim Seokjin menghela napas frustasi. “Aku benar-benar akan membakar kostum jelekmu itu, Jeon Jungkook.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s