More Than (Enough)

Angin malam musim dingin di New Zealand terasa bersahabat, namun tidak cukup ramah hingga tak menimbulkan rasa ngilu pada tulang. Cukup, Seokjin menarik kesimpulan. Rasa dingin yang mendera memang tidak senyaman itu, namun setidaknya cukup untuk dirinya yang menggunakan piyama tipis dan satu lapis jaket tebal.

Di malam terakhir mereka, di saat semua member dan kru terlelap untuk menyiapkan hari esok di sebuah negara yang sangat menakjubkan, Kim Seokjin berdiri di beranda villa tempat mereka menginap. Seorang diri, menatap lurus pemandangan yang terhalang gelap malam.

Satu bulan penuh untuk beristirahat, cukup.

Satu minggu penuh untuk kembali menyesuaikan diri dengan kamera, cukup.

Segala sesuatu di dunia ini adalah fana, bukan? Kata cukup bukanlah sebuah batas akhir dari sebuah ambisi. Cukup adalah cukup; preferensi, perpektif—yang jelas adalah puncak dari singkatnya kehidupan. Cukup. Tidak cukup adalah delusi egois yang begitu serakah.

Mengenang perjalanan hidupnya bersama Bangtan, Seokjin tidak dapat menepis bahwa mungkin inilah saatnya ia (mereka) merasa cukup.

Segelas cangkir kopi instan di tangannya tak lagi terasa panas ketika ia hendak kembali menyesapnya. Temperatur rendah mempercepat berubahnya suhu air dalam hitungan menit. Ia memutar tubuhnya untuk kembali masuk, mendidihkan air panas dan duduk di ruang tengah beberapa jam lebih lama. Menunggu kantuk datang dan menghapuskan semua pikiran berat yang sebenarnya tak pernah sepenuhnya hilang.

Niatnya terhalang oleh sepasang mata sipit milik Min Yoongi yang berdiri di depan pintu beranda, menatapnya lurus tanpa maksud mengintimidasi, toh Seokjin selalu merasa sedikit menciut di hadapan yang lebih muda.

“Apa yang kau lakukan, Hyung?”

Empat tahun lalu, di kamar mereka yang terbagi menjadi dua sisi dengan interior bertolak belakang, Seokjin terbiasa mendengar Yoongi menyuarakan pemikiran-pemikiran serupa dengan apa yang kini terlintas di benaknya. Bahkan hingga setahun lalu di mana mereka masih menjadi roommate meski dengan rak sebagai batas privasi yang terkesan formalitas.

“Apakah kita akan berhasil, Hyung?”

“Berapa lama lagi kita akan sampai di sana?”

“Bagaimana rasanya berdiri di puncak?”

Menyedihkan, Seokjin pikir. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil mengasihani diri sendiri. Satu tahun belakangan berjalan sangat cepat.

“Yoongi-ya, jadi—bagaimana rasanya?”

Faktanya, kata cukup terdengar layaknya sebuah ilusi bagi Bangtan.

Seokjin tidak suka memaksakan diri. Orang-orang menyebutnya terlalu rendah hati, mensyukuri hal kecil yang kerap luput dari pandangan dan selalu berusaha membatasi mimpi. Karenanya ketika Bangtan akhirnya diakui, mendapatkan tropi pertama di acara musik mingguan televisi, Seokjin sudah merasa cukup karena ekspektasinya terpenuhi.

Selebihnya adalah bonus, bonus, dan bonus: all kill, tur dunia, billboard, daesang, world record, Grammy, dan sederet panjang pencapaian lainnya. Pada tiap momennya, Seokjin selalu berpikir bahwa momen tersebut adalah titik akhir, puncak yang selama ini mereka nanti. Tapi keberuntungan datang tanpa ada niat untuk berhenti dan Seokjin merasa bahagia, sungguh. Tetapi juga bingung dan tak mengerti.

Tiap harinya popularitas Bangtan terus beranjak naik dengan jumlah fantastis. Kini Seokjin bisa pergi ke Kutub Utara dan penduduk di sana akan mengenalinya dalam sekali lirik—sebesar itulah nama Bangtan di dunia. Di luar akal, karena boyband besar Korea seperti Bigbang dan Super Junior pun tidak pernah berada di posisi mereka sekarang. BTS bukan boyband Korea pertama yang melebarkan sayap ke luar Asia, tapi jelas adalah boyband pertama yang diakui dan bertahan cukup lama menjadi topik panas.

Berlari mundur ke masa lalu, di malam-malam kejam dengan tuntuan tak terbendung, Seokjin ingat pernah masuk ke dalam studio Yoongi dan menemukan sang pemilik ruangan tertidur dengan kepala di atas meja. Malam itu adalah malam ketiga Yoongi tidak pulang ke kamar mereka dan itu bukan pertama kali; Seokjin bahkan hafal luar kepala akan barang-barang yang harus ia bawakan ketika memutuskan untuk mampir.

Setelah meletakkan dua tas kain besar di tangannya pada sudut ruangan, ia mengambil sebuah selimut yang dilipat dengan tergesa di atas sofa. Seokjin menyelimuti Yoongi tanpa suara, menarik beberapa lembar kertas post it untuk menuliskan pesan kecil seperti, “aku mengambil pakaian kotormu” dan “jangan terlalu memaksakan diri” sebelum menempelkannya di layar monitor.

Dahi Yoongi yang berkerut dalam tidurnya menimbulkan senyum kecil di bibirnya, juga denyut sakit di dadanya. Ia menyempatkan diri untuk meraih surai cokelat yang lebih muda, memberikan sedikit afeksi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.

Hyung,” suara serak Yoongi yang terbangun sedikit mengejutkannya, walau sejujurnya Seokjin lebih terkejut karena sang Min tak perlu membuka kedua mata untuk mengetahui bahwa ia lah yang berada di sana. “Terima kasih.”

Seokjin tidak tersenyum, bahkan merasa bingung karena ia justru merasakan luapan kesedihan yang menyebabkan matanya memanas. “Hm,” ia memberi respon singkat. Tangannya masih bergerak mengusap kepala Yoongi berirama.

“Kita akan sampai di sana, aku janji,” ucapan itu menimbulkan rasa sesak hingga napasnya tercekat. “Aku, bukan, kita akan membuktikan bahwa kita bisa.”

Gerakannya terhenti dan Yoongi masih bergeming dengan matanya yang terpejam. Seokjin berdeham, lalu buru-buru mengangkat kaki menuju pintu keluar. “Aku tahu. Tidurlah, Yoongi,” mungkin Yoongi mendengar getaran dalam suaranya. Member dengan umur terpaut paling dekat dengannya itu selalu menyadari hal kecil di sekitarnya. “Dan sempatkan untuk pulang.”

Malam itu Seokjin menangis tepat setelah keluar dari studio, berjongkok di depan pintu dan menyadari bahwa Yoongi berdiri di balik punggungnya tanpa sepatah kata.

Sebuah pintu yang tidak ditutup rapat membatasi dan Seokjin dengan terisak menyempatkan untuk bertanya, “Setelah itu, setelah kita sampai di sana, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Malam itu adalah awal penyesalan panjang Seokjin karena merasa telah menambahkan beban Yoongi dengan pertanyaan egois. Ia membela diri dengan menanamkan bahwa yang diinginkannya tak lain adalah sebuah keyakinan. Tujuan mereka, apa yang ingin mereka capai, cita-cita—semua itu adalah satu hal yang benar. Apapun arti benar bagi masing-masing orang.

Yoongi tidak pernah memberikan jawabannya.

Di tahun 2014, EXO adalah grup yang memenangkan penghargaan daesang dan memiliki popularitas paling tinggi di Korea. Kontras dengan itu, memiliki kesempatan untuk tampil di red carpet MAMA dan menghadiri acara penghargaan itu sudah merupakan kesempatan teramat besar bagi Bangtan.

Usai memberi salam pada grup senior yang hadir, Seokjin mengasingkan diri untuk mencari spot nyaman dan menghirup udara segar. Ia tidak ingin menimbulkan masalah, secerdik mungkin mencari ruang sempit tak kasat mata. Bernapas adalah hal yang sulit dilakukan di antara orang-orang luar biasa di dalam sana.

Salah satu member EXO yang ia kenal cukup dekat, Kyungsoo, menghampirinya dengan sapaan ceria. Kyungsoo tidak bertanya akan alasannya berada di halaman belakang gedung alih-alih berbincang dengan artis lainnya, tidak berbasa-basi atau membuatnya merasa tidak nyaman. Hanya berdiri di sana dan melakukan hal yang sama; melamun dan sesekali menghela napas.

“Bagaimana rasanya?” Seokjin lah yang menghancurkan keheningan di antara mereka. Pandangannya masih menatap kosong hamparan langit kelam yang minim cahaya, setengah menengadah. “Member Bangtan selalu bertanya, bagaimana rasanya berada di puncak? Mungkin kau bisa membantuku memberikan jawabannya.”

Kyungsoo menoleh, memperhatikan wajah Seokjin tanpa berhasil menebak apa yang ada di dalam benak lelaki di sampingnya. Ia tidak langsung menjawab, tidak pula berusaha rendah hati dengan menepis bahwa grupnya tengah berada di puncak. “Bagaimana denganmu? Apakah kau tidak pernah bertanya-tanya?”

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang Seokjin hindari, sungguh. Namun Kyungsoo terdengar seperti ia mengerti, bukan menghakimi. Jadi Seokjin hanya mendengus dan menggigit bagian bawah bibirnya untuk menenangkan diri. “Entahlah?”

Lawan bicaranya kembali menengadah, memandangi satu-dua bintang yang terdapat di atas kepalanya. “Seperti… tidak nyata? Aku harus bilang sedikit menakutkan,” Kyungsoo tersenyum tipis. “Kadang aku merasa salah tempat, bingung, dan… kesepian.”

Pernyataan itu mengundang Seokjin menaikkan sebelah alisnya tak paham. Ia belum sempat berkomentar karena Kyungsoo melanjutkan, “Dan terkadang aku bertanya apakah benar ini yang aku inginkan?”

Menutup mulutnya yang sempat terbuka untuk bersuara, Seokjin hanyalah member sebuah boyband pendatang baru dari salah satu agensi kecil Korea Selatan saat itu. Popularitas adalah hal yang jauh dari jangkauan, tapi entah mengapa ia mengerti apa yang Kyungsoo pertanyakan.

Apakah benar ini yang aku inginkan?

Dalam kehidupan selanjutnya atau dunia paralel lain, mungkin Min Yoongi adalah seorang arsitek nyentrik dengan jumlah tawaran kerja tinggi di salah satu negara bagian Amerika Serikat. Yoongi masih akan lahir di Korea dan menghabiskan waktu hingga remaja di sana, sebelum akhirnya melanjutkan studi di Amerika dan berpindah warga negara. Satu kehidupan di Korea Selatan sudah cukup, ia ingin mengeksplorasi gaya hidup baru jika memang memiliki kesempatan itu.

Yoongi membayangkan dirinya tinggal di sebuah penthouse tengah kota, tetap memiliki satu piano besar di ruang tengah—musik adalah hal yang ia cintai, namun di kehidupan ini ia akan menikmatinya alih-alih menjadikannya sumber penghasilan. Beberapa hasil karya fotografinya terpajang di sudut ruangan, sebuah hobi yang sebelumnya gagal ia tekuni akibat kesibukan.

Di dunia ini, ia membayangkan Taehyung sebagai seorang kolektor seni yang juga seorang saksofonis terkenal. Taehyung akan sesekali mampir untuk berdiskusi tentang dunia fotografi, dan di momen tertentu Jimin akan menemani karena di kehidupan ini pun mereka tetap akan menjadi sahabat sejati.

Hoseok dan Jimin tetap akan bergelut di dunia tari, di mana Hoseok akhirnya memiliki kesempatan untuk mencoba semua genre tari di seluruh bagian dunia dengan pundak ringan, tertawa bahagia di tengah-tengah ruang latihan pribadi miliknya, bukan mengerutkan dahi dan bermonolog, “Ini belum cukup baik. Aku harus bisa menyempurnakannya.”

Sedangkan Jungkook, anak itu akan menjadi pelukis legenda di umur belia. Jungkook bisa menjadi pelukis merangkap juara bertahan kompetisi taekwondo, bahkan merangkap gamer profesional di saat bersamaan. Bakat multi-talentanya akan menarik perhatian semua orang dan Yoongi tahu cukup baik Jungkook takkan menolak kesempatan untuk mencoba hal baru. Jungkook dapat memiliki lima hobi dan luar biasa di kelima bidang tersebut.

Yang paling berbeda mungkin adalah Namjoon. Yoongi ingat tentang keinginan Namjoon untuk menjadi penulis buku ketika mereka berbincang ringan mengenai impian di mana menjadi idol bukanlah sebuah pilihan. Namjoon akan menjadi penulis novel misteri dan juga puisi, dua hal bertolak belakang dan memalsukan identitas di balik dua pen-name berbeda.

Leader Bangtan itu akan menyembunyikan diri, hidup penuh misteri bagi para penikmat karyanya. Mungkin juga sebagai konsultan salah satu unit investigasi di mana Jimin berada di dalamnya (anak itu memiliki keinginan untuk menjadi polisi sejak umur sembilan tahun, Yoongi percaya Jimin akan menjadi polisi hebat yang terkenal sebagai penari di dunia maya).

Terakhir, Seokjin. Seokjin tetap akan berada di tengah lampu sorot karena Yoongi selalu yakin bahwa hyung-nya itu ditakdirkan untuk menjadi pusat perhatian. Ia tidak dapat membayangkan Seokjin berada di tempat lain selain industri hiburan. Tapi di sini, Seokjin tidak akan menyanyi atau menari. Ia akan menjadi seorang aktor tepat seperti apa yang diimpikannya.

Seokjin akan menjadi aktor papan atas yang terkenal akan kebaikan hatinya, juga keberaniannya untuk mengeluarkan suara mengenai stereotip buruk yang merugikan pihak tak bersalah. Hal itu akan memicu banyak musuh, namun Seokjin selalu lebih kuat dari yang terlihat di permukaan dan Yoongi tahu tak ada yang lebih hebat daripada Seokjin dalam hal mengubah rasa tidak suka menjadi kekaguman.

Atau, opsi lain, Seokjin dapat lahir sebagai anak presiden yang gemar berbuat sesuka hatinya untuk membela rakyat tertindas. Yoongi tidak dapat menahan senyuman membayangkan hal itu karena Seokjin adalah pembangkang yang natural. Dari mana Jungkook mengutip sifat itu jika bukan dari hyung kesayangannya?

Sayangnya, Seokjin bukanlah pecinta popularitas. Yoongi bahkan tak paham mengapa Seokjin berdiri bersama mereka sejauh ini, terus menepis ketidaknyamanan yang mendera tiap mendapat perhatian dari seluruh orang di dalam ruangan. Ia dapat melihatnya dengan jelas, sang hyung tak memiliki ambisi yang sama. Popularitas, pengakuan, dan mencapai puncak hanyalah opsi, bukan tujuan.

Ia ingat pernah menanyakannya dalam keadaan setengah mabuk dan mendapatkan jawaban di balik beberapa botol soju. “Aku tidak benar-benar memiliki mimpi sebelumnya, Yoongi. Tapi mengenal kalian dan melihat betapa kalian menginginkan itu semua, pada satu momen tertentu aku memutuskan bahwa impianku adalah apa yang kalian impikan.”

Ketulusan di balik suara itu terasa begitu menusuk dada. “Meski itu berartikan kau akan merasa tidak nyaman dalam waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya?”

“Aku merasa nyaman, terima kasih banyak. Jangan memberiku pandangan seperti itu,” ucap Seokjin merengut, tak terima mendapatkan mata Yoongi seolah berkata kau-pembohong-yang-buruk. “Oke. Mungkin nyaman bukan kata yang tepat, tapi paling tidak aku sudah terbiasa.”

Karena Yoongi tidak mempercayai pernyataan defensif itu, ia hanya mencibir dan meneguk soju langsung dari botolnya untuk membungkam mulut dan menghentikan pedebatan mereka.

Seokjin tersenyum, dengan rona merah di wajahnya akibat alkohol dan tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Yoongi untuk melanjutkan, “Ya. Meski aku terperangkap selamanya.”

Yoongi hanya berpikir, berpikir, dan berpikir, jika reinkarnasi adalah nyata, jika kehidupan paralel bukanlah fantasi semata, Yoongi ingin tetap mengenal member Bangtan sebagai orang terdekatnya. Ia ingin mereka mendapatkan kehidupan lain yang sama mengagumkannya seperti kehidupan mereka sekarang, hanya saja tanpa tekanan seberat alam semesta dan tangis rutin akibat merasa tidak cukup puas.

Mungkin tanpa Seokjin, karena Yoongi benci mendengar kata terperangkap yang keluar dari mulut lelaki itu, seolah ia benar-benar tidak ingin berada di sini di antara mereka. Seolah kehidupan ini menghambatnya untuk benar-benar merasa bahagia.

Di kehidupan selanjutnya, di dunia paralel lain, mereka akan mengenal satu sama lain dan sesekali menghabiskan waktu bersama. Seokjin boleh berada di sana bersama mereka, tapi sebelumnya Yoongi akan memastikan bahwa hyung-nya itu memiliki satu impian, mencapainya, dan benar-benar merasa bahagia.

(Sehingga ia tidak perlu merasa bersalah karena telah menyeret Seokjin ke dalam sebuah lingkaran yang membuatnya tak nyaman)

“Setelah itu, setelah kita sampai di sana, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Pertanyaan beberapa tahun lalu itu selalu menghantuinya. Mereka sudah hampir sampai di sana dan Yoongi dapat merasakan bahwa mereka akan sampai di sana, menciptakan rekor baru yang jauh dari jangkauan banyak artis lainnya. Tak tersentuh dan menjadi yang paling bercahaya.

Tapi setelah itu apa?

Menelan senyum pahit dan menegak sebotol air mineral di jeda singkat latihan koreografi untuk comeback mendatang, Yoongi seharusnya menyadari sejak pertanyaan itu dilontarkan. Ia dapat membaca keraguan Seokjin dan rasa khawatir yang terpampang nyata, namun memilih untuk mengabaikannya.

Yang lebih buruk, semua itu Seokjin tujukan bukan untuk dirinya, melainkan untuk mereka. Hanya mereka.

Yoongi benci orang-orang yang mengutamakan orang lain di atas diri sendiri, meski di lubuk hati yang terdalam mengakui bahwa ia adalah tipe yang serupa.

Ketenaran adalah harapan yang dimiliki oleh semua orang, entah kecil ataupun besar. Hanya sedikit orang yang berani dengan terang-terangan menunjukkan harapannya, dan lebih sedikit lagi yang benar-benar mendapatkannya. Seokjin juga memiliki harapan itu, tapi sejak ia bergabung bersama Bangtan, ia tak lagi menginginkan popularitas untuk dirinya.

Semasa remaja, Seokjin hanya ingin mengabulkan harapan orangtuanya dengan nilai-nilai bagus dan jenjang studi tinggi. Ia pikir ia akan berakhir seperti ayahnya, melanjutkan bisnis keluarga dan menjadi contoh teladan. Ketika umurnya bertambah, ia merasakan satu keinginan besar untuk menjadi aktor dan berakting di layar kaca.

Tapi keinginan besar itu bukanlah keinginan besar di mana ia akan melakukan segala cara untuk mencapainya. Seokjin rasa ia dapat mempelajari bisnis melalui ayah dan kakaknya, jadi ia tak perlu mengambil jurusan bisnis di masa kuliah. Karena ia tertarik menjadi aktor, dan dunia terlalu kejam untuk orang-orang yang mudah dibaca, ia berakhir mengambil kelas akting—terutama setelah Big Hit merekrutnya.

Seokjin tahu ia takkan debut sebagai aktor. Ia tidak keberatan dengan itu, bahkan tidak keberatan jika ia tidak akan debut sama sekali. Pengalaman itu penting, belajar di lapangan adalah pengalaman tak bernilai. Dengan anggapan itu, kembali lagi, sisanya adalah bonus.

Berbeda dengannya, trainee lain memiliki mimpi tinggi, ambisi besar dan tekad baja untuk mencapai tujuan mereka. Seokjin merasa malu dan salah tempat. Sedikit-banyak termotivasi, tapi kebanyakan adalah ragu.

Bersama dengan member Bangtan, ia belajar memahami kerja keras untuk meraih cita-cita. Ia belajar menghargai proses, bersabar, dan yang paling penting berpikir positif untuk menghalau rasa gundah. Secara tanpa sadar, Seokjin menjadikan Bangtan sebagai mimpi miliknya seorang.

Ia menginginkan popularitas untuk Bangtan, agar teman-teman satu band-nya dapat menjawab pertanyaan mereka atas rasa penasaran akan berada di puncak. Ia ingin melihat senyum teman-temannya setelah akhirnya mereka berhasil meraih apa yang mereka impikan.

Seiring waktu, Seokjin perlahan mencintai musik: ia menekuni menyanyi hampir sekeras menekuni edukasi, tertarik mempelajari alat musik, nada dan bagaimana cara menulis lagu, bahkan gerakan tari yang terkadang membuatnya ingin melebur menjadi abu. Ketika ia tersadar, Seokjin mencintai semuanya—Bangtan, tentu, namun juga musik dan apa yang ia kerjakan sekarang.

Dan semua itu, semua angan itu,  terjadi—harapan mereka terkabul, jauh melebihi ekspektasi siapa pun. Mereka tak hanya menciptakan senyum di wajah diri sendiri, namun juga di wajah para penggemar dan penikmat musik.

Lalu dengan seluruh proses yang telah dilalui, seribu satu malam penuh darah, keringat, dan air mata (seperti judul salah satu lagu mereka), kepala Seokjin tetap dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya akan hadir cepat atau lambat.

“Ah, seperti ini rasanya.” Namjoon suatu hari berkata.

“Akhirnya kita berhasil. Akhirnya, Hyung.” Kalimat lain dari Jimin di suatu malam.

Seokjin tidak pernah mendapatkan deskripsinya.

Kita berhasil, ini adalah puncak, seperti ini rasanya.

Lalu apa?

Layaknya semua hal yang menjadi tren, bom waktu tertanam dan akan meledak pada waktunya. Begitu pun dengan Bangtan. Bahkan hingga mereka telah berada di posisi ini, Seokjin masih kesulitan menjawab pertanyaan akan apa yang ia rasakan karena ya, ia merasa bangga dan luar biasa. Tapi senyum di wajah Jimin semakin sulit ia bedakan, dan Jungkook menjadi cukup sering ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan vitamin meski ia adalah salah satu orang terkuat yang pernah Seokjin kenal.

“Yoongi-ya, jadi—bagaimana rasanya?”

Di hadapannya, Min Yoongi melipat kedua tangan dengan wajah datar yang Seokjin tahu adalah akting belaka; lelaki itu sedang berpikir. Matanya sedikit membesar ketika memahami maksud dari pertanyaan yang dilemparkan sang Kim.

“Kau sudah mendengar laguku, Hyung? Untuk intro album kita selanjutnya?”

“Tentu saja.”

“Lagu itu masih kurang mendeskripsikan apa yang aku rasakan? Karena kalau lagu itu masih terasa kurang, aku akan menarik dan merombak ulang semuanya.”

Seokjin tertawa. “Yoongi-ya,” ia berjalan mendekati yang lebih muda. “Boleh aku memelukmu?” kemudian meminta izin yang dengan senang hati dikabulkan.

“Kalau dengan kehadiran Bangtan dan fans tetap membuatmu merasa kesepian, apa lagi yang dapat kulakukan?” tanyanya lemah. “Kyungsoo benar tentang rasa takut di tengah popularitas. Tapi aku lebih takut untuk kalian daripada diriku sendiri; kalian menginginkan ini lebih dari apapun. Berbeda denganku.”

Yoongi mendengus. “Kau terdengar seperti orang tua,” tangannya menepuk pelan punggung Seokjin, kemudian teringat akan semua perubahan yang terjadi secara perlahan namun pasti, seperti bagaimana Taehyung menjadi lebih pendiam dan si sabar Hoseok lebih mudah tersulut emosi belakangan ini.

Menilai diri sendiri sebagai salah satu (dari dua) yang paling berambisi di Bangtan, Yoongi juga mengakui bahwa kini ia berbeda. Ia dan Namjoon, tepatnya. Mereka telah membicarakan ini, tentang musik sebagai bagian hidup yang selamanya takkan terpisahkan dari mereka. Tentang musik dan pelarian, distraksi, hiburan, dan media penyembuhan.

Kemudian tentang musik dan bagaimana semua perasaan yang mereka rasakan terhadapnya mulai hilang.

Rasa jenuh adalah hal yang wajar. Tapi ini, yang mereka rasakan, jauh lebih buruk daripada rasa jenuh. Mati rasa, tidak ada antusiasme, tidak ada rasa puas. Tangan mereka tetap bergerak, mulut tetap mengalunkan nada, tapi Yoongi merasa hampa.

Mungkin semua memang sudah cukup. Perjalanan panjang selama bertahun-tahun, puncak popularitas di mana semua orang menikmati karya mereka, bahkan pengakuan dan kekaguman atas segala pencapaian. Tapi semua pasti berujung pada titik akhir dan Yoongi akan merasa lebih baik menghampirinya sendiri alih-alih diseret secara terpaksa.

“Ayo berhenti, Hyung,” ajakan Yoongi sama sekali tidak mengejutkan yang lebih tua. Menolak untuk bertanya mengapa, ia melepaskan pelukan untuk menatap wajah serius setengah mengantuk milik mantan roommate-nya.

“Semua ini sudah cukup bagimu?”

Perjalanan, pembelajaran, pengalaman, persahabatan, suka dan duka—juga Seokjin dalam jangkauannya. Ia tak menemukan hal lain yang dapat ia impikan kecuali untuk Seokjin merasa benar-benar bahagia dan terlepas dari belenggu kekhawatiran.

“Lebih dari cukup.”

Di malam terakhir perjalanan liburan mereka sebagai member dari Bangtan, Yoongi menemukan senyuman yang selamanya takkan pernah dapat ia lupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s