One of These Magical Days – Drabble #4

“Huh.”

Jungkook menunduk, tiba-tiba mendapati sepatunya terlihat amat menarik untuk dipandangi. Aura meja ini terasa luar biasa canggung dan mencekam. Padahal cuaca di luar sangatlah cerah dan obrolan orang-orang di sekitar mereka terdengar penuh tawa. Kenapa ia tidak bisa bergabung dengan orang-orang itu dan malah terperangkap di sini?

Sedikit mengangkat kepalanya, ia menangkap wajah tegang Seokjin yang cenderung pucat. Pandangan mereka bertubrukan dan masing-masing menyiratkan permohonan tolong bantu aku yang memilukan. Jungkook harus memberitahu Seokjin sebesar apa ia menyesali kebodohannya menyetujui rencana ini bahkan sebelum ini terjadi.

“Err,” itu suara yang refleks Seokjin keluarkan setelah memutuskan kontak mata dengan Jungkook penuh rasa bersalah. Jungkook tidak tahu apakah tindakan refleks itu adalah awal anugerah atau bencana karena dua orang lainnya kini ikut menaruh perhatian pada sang Hufflepuff.

Di sisinya, Yoongi tengah menyeruput teh dengan elegan dan tanpa beban—meski sepasang matanya kini memandang Seokjin yang langsung melirik Taehyung yang menyipitkan mata ke arah Jungkook yang di bawah kolong meja menendang kaki Yoongi yang nyaris tersedak.

Demi Merlin, Jungkook tak lagi sanggup bertahan lebih lama.

Hyung,” ia memanggil Seokjin, atau Yoongi, atau Taehyung, atau mungkin ketiga orang keras kepala itu, lalu mendengus seolah ia adalah satu-satunya orang yang dirugikan dalam kondisi ini. “Apa-apaan.”

Taehyung melipat kedua tangannya di depan dada. “Benar,” lalu berpindah fokus pada Min Yoongi, satu-satunya orang yang tidak terlihat terganggu dalam kecanggungan ini. “Apakah kita akan tetap duduk layaknya empat orang asing yang terpaksa bergabung di meja yang sama karena kehabisan kursi atau kita akan berbincang layaknya teman meski tidak ada satu pun dari kalian yang merupakan temanku?”

Sebelum Seokjin sempat mengatakan apapun, Taehyung menyela dengan, “Tentu saja kau bukan temanku, Hyung. Kau kakakku.” Yang menyebabkan Seokjin menggerutu karena tidak diberikan kesempatan untuk mendebat.

Keramaian di kedai teh Madam Puddifoot terlalu berlebihan untuk seseorang seperti Yoongi, karenanya laki-laki itu memutuskan untuk membuka mulut dan mengakhiri semua ini dengan cepat. Setidaknya Jungkook berpikir demikian. “Kau bisa memulai perbincangannya, Kim Taehyung.”

Taehyung terlihat terkejut, sebagian dikarenakan Yoongi tidak membalas omongannya dengan kalimat tajam dan sebagian lain dikarenakan bingung harus menurut membuka obrolan atau membuat kepala Seokjin pening dengan memancing perkelahian; kenapa harus dia yang mencari topik pembicaraan?

Ini semua memang ide Seokjin, tapi Jungkook tidak dapat menahan diri untuk mengasihani orang nomor urut dua yang terlihat paling ingin lari dari meja ini. Tentu saja ia menempati urutan nomor satu.

“Aku yang akan—”

“Oke,” untuk kedua kalinya, Taehyung memotong kalimat kakaknya. Ia terlihat ragu, penasaran, dan… takut. Jungkook dapat melihatnya transparan. “Seandainya Seokjin-hyung tidak menahanmu kemarin, apa yang akan kau lakukan padaku dan Jungkook?”

Kemarin yang Taehyung maksud adalah hari di mana mereka menguping percakapan Seokjin dan Yoongi tanpa berpikir panjang.

Rasa penasaran? Ceklis.

Konsekuensi? Coret.

Yoongi mengangkat sebelah alisnya, lalu meraih cangkir teh dan menjawab sebelum menyesapnya. “Percaya padaku, kau tidak mau mengetahui jawabannya.”

Oh. Oh.

Keheningan kembali menemani meja itu setelahnya—hanya saja tidak ada lagi rasa canggung, melainkan mutlak rasa takut. Kursi Jungkook telah berpindah ke seberang, merapatkan diri pada Seokjin layaknya yang Taehyung lakukan.

Ini adalah bencana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s