Broken

Min Yoongi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mendapati sentuhan warna putih yang seharusnya memanjakan mata, namun justru terasa dingin dan menimbulkan rasa tak nyaman. Suhu ruangan yang cukup rendah membuatnya secara refleks mengusap sebelah lengan, entah dikarenakan temperatur atau aura kurang menyenangkan.

Duduk di depannya dengan sebuah meja membatasi, seorang pria berkacamata tengah sibuk mencoret kertas tanpa mengindahkan kehadirannya. Ia telah menunggu lima belas menit dan berusaha bersikap sopan, menahan protes di ujung tenggorokan susah payah. Namun kesabarannya kini telah di ambang batas.

“Jadi, Yoongi-ssi,” akhirnya sosok itu menaruh perhatian pada dirinya. Yoongi dengan cepat memberikan seluruh atensi yang dimilikinya. “Sudah berapa lama kalian saling mengenal?”

Pertanyaan itu lagi. “Tiga? Empat tahun?” jawabnya tanpa berniat menutupi minimnya minat terhadap percakapan mereka. “Entahlah, aku tidak menghitung.”

“Apa hubunganmu dengan pasien?”

Selama beberapa saat, Yoongi tidak memiliki kuasa untuk menjawab. Pikirannya melayang pada sebuah kertas berisikan peraturan bodoh yang ia tulis ketika mabuk, di mana salah satunya termasuk sebuah peringatan pada diri sendiri yang berbunyi,

Jangan menjadi temannya. Kalian tidak akan pernah bisa berteman.

“Teman,” suaranya yang terdengar serak mengundang perhatian lawan bicaranya untuk melirik sejenak. “Aku teman dekatnya.”

Bohong.

“Dari mana kalian saling mengenal?”

“Kapan aku bisa keluar dari sini dan menemuinya?”

Terdapat suara helaan napas dari pria di depannya. “Kau harus menjawab seluruh pertanyaanku lebih dulu, Yoongi-ssi,” pandangannya berubah serius meski sejujurnya Yoongi sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Aku butuh kerjasamamu. Dia juga membutuhkannya.”

Dia.

Betapa Yoongi membenci sebutan itu.

“Kalau begitu tolong tinggalkan alat tulismu dan selesaikan pembicaraan ini secepatnya,” pintanya dengan nada penuh desakan.

Sang pria berkacamata menuruti, meletakkan pulpen di atas meja dan menyatukan kedua tangannya pertanda sepenuhnya berkonsentrasi pada pembicaraan mereka. “Aku bukan mengabaikanmu, aku menunggumu siap untuk melakukan pembicaraan ini.”

Yoongi ingin meneriakkan, “Omong kosong!” Namun ia tahu bahwa dibanding siapa pun, orang-orang di tempat ini memahami ketidakstabilan emosi seseorang lebih baik dari khalayak umum. Maka ia memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan membulatkan tekad.

“Aku siap. Tanyakan apapun padaku, lalu biarkan aku menemuinya.”

Bunyi detik jarum jam memicu antisipasi dan gelisah dalam diri Yoongi. Ia berusaha untuk bersikap semeyakinkan mungkin, menepis perasaan asing yang menolak pergi sejak ia tiba di bangunan ini.

Tanpa sadar, ia mengangkat ibu jarinya ke depan mulut, mulai menggigiti kuku untuk menenangkan diri. Lulus dari interogasi ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Ia tidak memiliki banyak pilihan agar dapat bertemu dengan—

“Baiklah,” suara berat itu menariknya kembali pada situasi yang dihadapinya sekarang. “Apa yang membawamu datang ke sini dan menemui Kim Seokjin?”

two broken people will either fit each other perfectly…

Yoongi hidup dengan peraturan-peraturan tidak tertulis yang ia pegang sebagai prinsip. Baginya, menata kehidupan tanpa penyesalan di kemudian hari membutuhkan lebih dari sekedar tekad. Ia selalu berusaha memastikan bahwa kelak ia dapat mengenang hidupnya sebagai sebuah berkah alih-alih berandai akan kehidupan yang lebih menyenangkan.

Jangan membuang sampah sembarangan. Sisihkan uang untuk tabungan masa tua. Jangan mengatakan sesuatu tanpa berpikir panjang. Luangkan waktu untuk mengunjungi orang tua minimal satu kali tiap bulan.

Seluruh peraturan yang ia buat memiliki maksud tertentu dan semaksimal mungkin dilaksanakan. Rata-rata bersifat mutlak, namun sebagian dapat berubah seiring dengan situasi hidup yang kerap tak tertebak.

Tapi Kim Seokjin—sosok itu mengubah prinsipnya semudah membalikkan telapak tangan.

“Kau sedang memperhatikan siapa?”

Di sebuah acara reuni akbar universitas, Yoongi tidak sengaja melihat Seokjin yang tengah berbincang dengan sekelompok orang. Postur tubuhnya yang tegak, gestur dan ekspresi wajahnya ketika berbicara, genggaman tangannya pada gelas, kemeja yang digunakan—semua hal yang tampak pada Seokjin membuatnya begitu menonjol di tengah keramaian.

Helai rambutnya berwarna hitam natural, wajahnya seolah dipahat khusus ketika diciptakan, senyumnya menyebabkan Yoongi sulit mengalihkan pandangan. Gambaran Seokjin dari sudut pandang Yoongi adalah apa yang semua orang pikirkan ketika kali pertama berjumpa dengan yang bersangkutan.

Kesimpulannya, Yoongi hanyalah satu dari sekian banyak orang yang terpukau akan eksistensi Kim Seokjin pada pandangan pertama. Pada saat itu, ia tidak tahu bahwa ia adalah manusia beruntung yang dapat mengenal sosok itu lebih dalam.

Atau justru kurang beruntung.

“Ah, Seokjin?” Hoseok tertawa pelan, lalu menyentuh pundaknya. “Lupakan saja. Dia sudah punya pacar.”

Mendengar informasi itu, Yoongi mengangkat bahu tak acuh. Dalam peraturan hidupnya, mendekati seseorang yang tengah menjalin hubungan dengan orang lain merupakan sebuah hal tabu. Ia akan dengan suka rela mundur tanpa niat untuk bertarung.

Malam itu berjalan layaknya malam reuni kebanyakan; mengobrol dengan teman lama, menambah koneksi pekerjaan, melepas rindu akan pengalaman semasa kuliah, juga bersenang-senang. Pada pukul sepuluh lewat lima, Yoongi meminta izin untuk keluar ruangan akibat desakan mengecap nikotin di lidah.

Keberadaan Seokjin di halaman gedung adalah sebuah kebetulan. Yoongi menghampirinya murni karena rasa penasaran. Mereka tidak saling mengenal semasa kuliah dan apabila keduanya memang tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya saling mengenal bukanlah sebuah dosa.

Seokjin berdiri dengan satu tangan di dalam saku celana, sedangkan satu tangan lain mengapit batang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengah. Yoongi menyalakan rokoknya, berdeham seraya berjalan mendekat, mengundang Seokjin untuk menolehkan kepala begitu menyadari kehadirannya.

Mereka berkenalan, sedikit berbincang dan mencari tahu latar belakang masing-masing untuk mengisi keheningan. Hoseok benar tentang Seokjin yang telah memiliki pasangan, karena lelaki itu mengatakan bahwa ia datang bersama kekasihnya sebagai plus one.

Di luar ekspektasi Yoongi, Seokjin mengajaknya bertukar nomor telepon dengan alasan memiliki firasat baik dari banyaknya kemiripan berdasarkan obrolan singkat mereka. Yoongi tidak memikirkan apapun ketika nama Seokjin resmi menjadi penghuni baru kontaknya.

Tidak ada peraturan yang dilanggar pada malam itu.

Mereka tidak saling menghubungi satu sama lain sekali pun.

Ketika Yoongi bertemu dengan Hoseok beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan sebuah kabar kurang baik tentang Seokjin. Yoongi menghabiskan beberapa malam untuk menimbang menghubungi sang Kim, berujung tidak memiliki cukup keberanian karena berpikir bahwa Seokjin telah melupakan eksistensinya.

Sebulan setelah pertemuannya dengan Hoseok, Yoongi berpapasan dengan Seokjin yang tengah duduk di pinggiran Sungai Han. Ia ingat bagaimana Seokjin menyadari kehadirannya lebih dulu, memanggil namanya dengan senyuman ramah, menepukkan tangan pada rumput di sisinya sebagai gestur mengajak duduk berdampingan.

“Sudah hampir setahun sejak satu-satunya pertemuan kita,” ucap Seokjin membuka obrolan.

Yoongi menggedikkan tubuh dan memandangi riak air yang begitu tenang. “Tidak seperti kita adalah teman sebelumnya, wajar kita tidak pernah kembali bertemu setelahnya.”

Tawa Seokjin terdengar layaknya melodi indah yang teramat menyegarkan bagi pendengaran Yoongi. “Padahal kita memiliki nomor satu sama lain.”

Kaulah yang meminta nomorku lebih dulu tapi tidak sekali pun pernah menghubungiku, batin Yoongi setengah keki. Ia memilih untuk menunjukkan sikap tak acuh layaknya melupakan fakta bahwa lebih dari sekali ia pernah berusaha untuk menghubungi Seokjin.

Cuaca pada penghujung musim semi hari itu tergolong hangat, didukung oleh jam yang menunjukkan siang. Yoongi memejamkan mata, meresapi cahaya matahari yang mengarah tepat pada wajahnya. Terdapat sebuah perasaan familiar yang membuatnya tidak merasa sungkan meski kini tengah duduk bersama seseorang yang baru kedua kali berjumpa dengannya.

Tiba-tiba teringat akan pembicaraannya dengan Hoseok, Yoongi memandang Seokjin yang sibuk memainkan rumput dengan jemarinya. Laki-laki itu terlihat sehat, tidak ada bercak air mata ataupun kantung mata menghiasi wajah. Mungkin berita yang Hoseok dapatkan tidak sevalid kedengarannya.

“Aku… aku dengar tentang kabar buruk itu,” ucap Yoongi seraya memperhatikan perubahan ekspresi Seokjin, tidak ingin menyinggung atau membuka kembali luka yang hampir mengering.

Seokjin tidak membalas tatapannya, masih memandangi rumput meski kini senyum lembut menghiasi wajah. “Ah, aku baik-baik saja,” sorot mata lelaki itu tampak hidup, senada dengan lekukan bibir yang indah. “Dia sedang membutuhkan waktu untuk sendiri, tapi aku tahu hubungan kami tidak benar-benar berakhir.”

Menelan pahit di ujung lidah, Yoongi hanya sanggup menyuarakan, “Oh.”

“Dia akan kembali,” kali ini Seokjin menengadah, menikmati semilir angin yang berhembus memainkan surai hitamnya. “Dia pasti kembali padaku.”

Cinta, bagi Yoongi, bukanlah hal yang pragmatis. Wajar apabila tidak semua orang dapat menerima kenyataan dan masih mengharapkan sebuah hubungan yang berakhir untuk dapat dibenahi.

Tapi Seokjin, mungkin Seokjin terlanjur jatuh ke dalam lubang tanpa akhir.

Yoongi memutuskan untuk mengulurkan tangan dan membantunya bangun dari alam mimpi.

Dulu, ia ingat ibunya pernah mengatakan, Yoongi, kau tidak bisa memperbaiki orang yang telah rusak—kau bukan mekanik, mereka bukanlah barang.

Pertanyaannya, apakah ketika kau memiliki kesempatan untuk membantu seseorang, kau harus meninggalkannya karena berpikir bahwa benda rusak selamanya hanya akan menjadi rongsokan?

Seokjin tidaklah rusak, bagi Yoongi ia hanyalah pemimpi yang memiliki imajinasi terlalu besar. Sering menghabiskan waktu dengan Seokjin menyadarkannya bahwa sang Kim hanya membutuhkan seseorang untuk mengingatkannya bahwa hidup tidak semata tentang satu orang.

Setidaknya hingga mereka semakin dekat, semakin akrab untuk mampir ke tempat tinggal satu sama lain, semakin kasual dengan eksistensi masing-masing bahkan pada waktu khusus seperti akhir pekan.

Setidaknya hingga Yoongi sadar bahwa tidak semua hal memiliki presentase keberhasilan tinggi hanya karena memiliki niat baik di baliknya.

Seokjin tidak lagi memiliki pacar, Yoongi terus berusaha menanamkan fakta itu dalam benaknya. Ia bukanlah pihak ketiga dalam sebuah hubungan, juga tidak melanggar prinsip hidupnya yang dengan tegas menolak menjadi perusak hubungan seseorang.

Pada saat-saat tertentu, Seokjin akan teringat pada mantan kekasihnya. Yoongi menandai bagaimana Seokjin enggan menyebut nama sang mantan, menggantikannya dengan tiga huruf simpel bersebutan dia.

“Aku merindukannya,” bisik Seokjin ketika Yoongi menemukan lelaki yang seharusnya terlelap di sampingnya itu duduk meringkuk dengan wajah terbenam pada celah lutut.

Yoongi menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Seokjin, merangkul pundak lebarnya dan memberi kecupan ringan berusaha menenangkan. Ia bisa hidup seperti ini—bersama Seokjin, melewati malam-malam panjang juga kencan singkat di akhir pekan, meski harus menerima konsekuensi rasa sakit akan kenyataan belum berhasil menghapus memori Seokjin bersama lelaki yang sempat menghiasi hari-harinya.

“Aku tahu,” respon Yoongi dengan hati yang luar biasa tabah, sekali lagi menyentuhkan bibirnya pada puncak kepala si pemilik surai kelam. “Tidak apa-apa, aku ada di sini.”

Mengangkat kepalanya, Seokjin menatap iris Yoongi penuh tanya, “Kau akan selalu ada di sini?” Suaranya terdengar tenang tanpa rasa bersalah ketika melanjutkan, “Bagaimana jika dia kembali nanti?”

Normalnya, emosi seharusnya menguasai Yoongi dan membuatnya lepas kendali, menyadarkan Seokjin dengan berteriak, “Buka matamu, Seokjin. Dia tidak akan kembali!”

Namun Yoongi tidak akan pernah sampai hati, terutama ketika menemukan pandangan kosong di kedua manik milik Seokjin. Mungkin jauh di lubuk hati, Seokjin pun menyadari bahwa angannya hanyalah sebuah halusinasi.

“Aku akan tetap berada di sini,” Yoongi tidak berbohong ketika mengatakannya.

“Meski aku akan meninggalkanmu tanpa berpikir dua kali seandainya dia kembali?”

Mengikuti arah pembicaraan Seokjin, Yoongi berusaha meringankan suasana dengan membercandai, “Kenapa kau yakin sekali aku tidak akan pergi sebelum dia kembali?”

Sudut bibir Seokjin terangkat, dan Yoongi selalu mendapati lukanya pulih layaknya regenerasi ketika mendapati senyuman di wajah sang lelaki seumuran. “Aku tahu kau tidak akan pergi.”

Di kemudian hari, Yoongi akan menyadari betapa tepat sasaran rasa percaya diri yang Seokjin miliki.

“Jangan buang waktumu,” Hoseok suatu hari berusaha mengingatkan. Yoongi mendengus tak berkomentar, menyeruput kopi panas yang ia pesan untuk menghangatkan tubuh dari cuaca dingin di luar restoran.

“Kau tidak mengerti,” adalah satu-satunya pembelaan yang dapat Yoongi ucapkan.

Hoseok menggelengkan kepala prihatin. “Jangan melibatkan dirimu pada seseorang yang menolak untuk bergerak maju dan menghadapi kenyataan.”

Kalimat sang Jung setelahnya adalah sebuah tamparan telak yang sama sekali tidak ia butuhkan. “Kau bahkan tidak mencintainya.”

Meletakkan cangkir kopi di atas meja, Yoongi menatap salju yang seolah menari di udara. Hoseok benar-benar tidak mengerti sedikit pun isi kepalanya. “Aku tidak akan melakukan ini jika aku tidak mencintainya.”

“Simpati dan cinta adalah dua hal berbeda.”

Yoongi menyeringai tipis. “Hanya karena aku masuk ke dalam hidupnya dalam kondisi seperti ini, bukan berarti aku sekedar bersimpati.”

Sepasang mata Hoseok terbelalak, kemudian ia menghela napas kasar. “Kalau begitu artinya kau berada dalam masalah besar.”

Salah satu peraturan lain dalam hidup Yoongi adalah menghindari berbohong semaksimal mungkin. Ia bahkan dapat menghitung jumlah kebohongan yang ia lakukan dalam hidupnya dan Yoongi yakin jumlahnya kurang dari tiga. Kecuali kebohongan semasa ia kecil.

Sama sekali tidak mengherankan ketika suatu hari Seokjin menanyakan opininya mengenai pakaian yang akan ia gunakan untuk menghadiri sebuah acara penting, Yoongi tidak berpikir dua kali untuk berkomentar, “Seleramu payah.”

Seokjin mengerucutkan bibir jenaka, yang mana Yoongi pikir amat menggemaskan jika saja tidak diikuti gerutuan panjang. “Kau harus bersyukur aku bersikap jujur alih-alih berusaha menyenangkan hatimu,” ujarnya seraya ikut masuk ke dalam kloset untuk memilihkan pakaian.

Well, berbeda denganmu, dia tidak akan terang-terangan mengatai seleraku,” tandas Seokjin sebelum melepas kemeja yang ia gunakan dan melemparnya ke sembarang arah.

Sebuah emosi tidak menyenangkan bergejolak dalam diri Yoongi mendengar kalimat itu, menyadari bahwa ini pertama kali Seokjin membandingkannya dengan mantan kekasihnya dulu. Ia menarik Seokjin dan menyudutkannya pada pintu, mengabaikan seruan kaget dan erangan akibat terbentur.

Cemburu? Amarah? Yoongi tidak benar-benar tahu. Rasanya konyol membayangkan bagaimana seseorang yang keberadaannya entah di mana berhasil membuatnya kehilangan akal. Konyol bagaimana ia selama ini berhasil menahan diri tiap Seokjin membawa kehadiran orang itu dalam percakapan mereka, namun kali ini emosi keluar sebagai pemenang.

Semua orang memiliki batas kesabaran, pikirnya. Hari ini adalah hari di mana Seokjin akhirnya melewati garis yang telah ia tentukan.

“Jangan pernah,” getaran dalam suaranya membuatnya bertanya apakah rasa bersalah atau amarah yang menjadi dalang di baliknya. “Jangan pernah membandingkanku dengan siapa pun.”

Seokjin tidak mengatakan apapun selama beberapa saat, seolah berusaha menilik ekspresi Yoongi sebelum membalas, “Aku tahu,” ia berjalan melewati Yoongi untuk kembali memilah pakaian. “Membandingkan kalian pun takkan ada gunanya, kau tidak akan pernah menang.”

Terdiam mendengar penuturan itu, betapa Yoongi ingin menertawai kebodohannya. Jalan hidupnya adalah untuk meminimalisir penyesalan dan pengandaian di kemudian hari, namun mengapa kini di saat logikanya berusaha memberikan seribu satu alasan untuk pergi dan mengurangi penyesalan yang dapat terjadi, ia justru menemukan rasa ingin yang lebih untuk tetap di sini?

Ia menarik tangan Seokjin dan beranjak mendekati kasur, bersyukur tidak menerima penolakan apapun ketika menggunakan tangan juga mulutnya untuk menyentuh tiap inci lekuk tubuh sang lelaki yang tak lagi berbalut baju. Seokjin mencengkram kedua lengannya, memejamkan mata menikmati cumbu yang semakin turun ke tubuh bagian bawah. Celana kain yang ia gunakan ditanggalkan dengan mudah tanpa hambatan.

“Yoongi,” panggilnya di sela napas yang terputus. “Berjanjilah.”

Mengangkat kepala untuk memandang sosok yang secara konotatif tengah berada dalam genggamannya, Yoongi memiringkan kepala tidak sabar. “Apa?”

“Jangan jatuh cinta padaku,” titah Seokjin dengan satu lengan menutupi kedua mata. “Antara kau dan aku, jangan pernah berharap apa yang kita miliki akan berkembang menjadi sesuatu.”

Di saat Yoongi menyadari kenyataan dari kondisi di mana ia berada saat ini, semua sudah terlambat—Seokjin tidak pernah berada dalam genggamannya, kenyataannya adalah tolak belakang.

Setelah sekian lama, Yoongi akhirnya melanggar salah satu prinsip utama yang ia pegang sejauh ingatan dapat berkelana. “Aku tidak akan jatuh cinta padamu.”

Menegaskan kembali apa yang sebelumnya ia rasakan, Yoongi menemukan dirinya sulit untuk berhenti. Perang antara logika dan hati adalah hal yang sering terjadi dalam diri manusia, hanya saja kali ini hati menguasainya telak tanpa memberikan ruang bagi otak untuk mengutarakan pendapat.

Seokjin telah sepenuhnya menjadi bagian dari hidupnya. Mereka tidak selalu bersama, bahkan terkadang tidak berjumpa berbulan-bulan lamanya. Tapi Yoongi tetap menemukan dirinya berada dalam pelukan Seokjin pada malam tertentu, juga menemukan Seokjin berada di bawahnya dengan pelipis berhiaskan peluh.

Mereka bukanlah teman, bukan pula sepasang kekasih. Hubungan mereka jauh lebih rumit, di saat bersamaan tidak pula memiliki arti. Bukan hanya sekali Yoongi memaksa diri untuk menyudahi apa yang mereka miliki, sayangnya percaya diri Seokjin adalah absolut tanpa dapat dipungkiri.

“Aku tahu kau tidak akan pergi.”

Waktu yang mereka habiskan bersama berkurang drastis—tidak ada lagi kencan pada akhir pekan, tidak ada pula makan siang di jam istirahat hari kerja. Apa yang mereka miliki saat ini tidak lebih dari simbiosis mutualisme akan malam-malam panas.

Yoongi tidak mensyukuri apa yang mereka miliki sekarang. Ia merasa bodoh karena meyakini bahwa selama Seokjin masih berada dalam jangkauannya, ia masih memiliki peluang besar untuk memenangkan hati sang lelaki yang diketahui lebih keras daripada alumina.

Bukannya benda rusak tidak dapat direparasi, hanya saja tidak semua benda rusak dapat diperbaiki kembali. Seokjin adalah buktinya, meski sulit menyamakan hati manusia dengan benda tak bernyawa.

Sulit untuk berhenti bukan berarti tidak ingin berhenti. Mengenal Seokjin menambah deretan peraturan tidak tertulis dalam hidupnya. Namun layaknya guyonan berbunyi peraturan ada untuk dilanggar, Yoongi menemukan dirinya seolah buta akan peraturan yang sekuat tenaga berusaha ia terapkan.

Tidak pernah terlintas dalam mimpinya bahwa ia akan terjebak di sebuah hubungan seperti ini; tanpa status, komitmen, sapaan manis, bahkan perasaan.

“Aku akan pergi.”

Seokjin tersenyum, meraih wajah Yoongi dan menangkupkan satu tangan pada sisi wajah lelaki yang berdiri di depannya. “Kupikir kau akan selalu ada di sini?”

Mundur dari sebuah usaha setengah jalan jugalah sebuah pelanggaran dari salah satu prinsip hidupnya, mungkin karena itu pula ia tidak pernah berhasil untuk benar-benar pergi terlepas dari telah meniatkannya berulang kali setahun belakangan.

Aneh, batinnya mencemooh diri sendiri. Kau selalu berhasil melanggar peraturanmu sendiri jika itu menyangkut Seokjin, tapi tidak dengan yang satu ini.

“Kau tidak membutuhkanku,” ia berucap tanpa menunjukkan sedikit pun emosi. “Untuk apa aku tetap berada di sini?”

Memejamkan mata menikmati sentuhan pada kulitnya, Yoongi tahu setelah ini ia tidak akan keluar dari pintu di balik tubuhnya. Ia tahu ia akan membiarkan Seokjin menariknya jatuh ke atas tempat tidur, menikmati usapan jemari yang selalu ia rindukan meski baru saja saling menyentuh.

Yoongi membenci fakta itu, juga membenci bagaimana Seokjin tidak pernah menahannya meski hanya untuk berbasa-basi, layaknya saat ini ketika bibir itu melafalkan, “Silakan pergi.”

Ia lebih membenci fakta bahwa Seokjin tahu bahwa bagi dirinya, pergi adalah sebuah tindakan mustahil.

“Semua orang ditakdirkan untuk pergi meninggalkanku,” ucap Seokjin seraya bangkit, berjalan menuju pintu kamar mandi tanpa menolehkan kepala pada Yoongi. “Aku tidak butuh siapa pun. Selama dia menepati janji untuk kembali, hanya dia yang perlu kutunggu.”

Secara refleks, Yoongi mengejar Seokjin, mendekap tubuh yang dari hari ke hari tampak semakin kurus tersebut, lalu mengeratkan rengkuhannya seolah takut Seokjin akan terjatuh.

Meski pada kenyataannya, mereka telah berada di dalam lubang yang sama tanpa berusaha saling membantu.

“Aku tidak pernah bermaksud jahat padamu,” untuk pertama kalinya, Yoongi dapat mendengar rasa bersalah di balik suara Seokjin. “Tapi aku harus menunggunya, Yoongi. Aku sudah berjanji. Dia sudah berjanji. Aku mencintai—”

Isakan Seokjin sepanjang malam bukanlah hal baru, namun Yoongi menyadari bahwa pada malam itu, bukan hanya air mata Seokjin yang terus jatuh.

Jangan angkat teleponnya.

Yoongi menatap layar handphone yang menyala, menunjukkan panggilan masuk entah ke berapa kali dari orang yang sama. Setengah jam telah berlalu namun tampaknya “pantang menyerah” adalah motto milik sosok yang terus berusaha menghubunginya. Ia menghela napas, membiarkan cahaya layar meredup hanya untuk kembali menyala beberapa detik kemudian.

Setengah kesal, namun juga dihampiri penasaran, ia meraih menekan tombol hijau juga pengeras suara. Yoongi membiarkan alat elektronik itu tergeletak di atas meja, menunggu suara familiar yang diam-diam ia rindukan.

“Halo? Yoongi?”

Ah, suara itu. Seharusnya ia mempersiapkan hatinya agar tidak mudah terlena. Hampir enam bulan ia telah berusaha membiasakan diri tanpa kehadiran Seokjin dalam kehidupannya. “Hm? Ada apa, Seokjin?”

Lelaki di seberang telepon bungkam selama beberapa saat. Terdapat getaran dalam suaranya ketika akhirnya bersuara, “Boleh aku mampir ke tempatmu? Aku… aku sedang merasa kurang baik malam ini.”

Melirik jendela dan menemukan langit jingga gelap pertanda sore akan segera berganti malam, Yoongi berpikir sejenak. Ia tahu seharusnya mulutnya berkata tidak, namun juga tak terkejut ketika suaranya berkhianat.

Angin musim gugur yang berhembus kencang menyebabkannya sedikit menggigil—Yoongi menutup pintu jendela dan bermaksud masuk ke dalam kamar ketika akhirnya bunyi bel terdengar memenuhi apartemennya. Ia menahan napas, menyemangati diri dengan membatin, kau melakukannya dalam rangka prihatin dan tidak lebih.

Seokjin terlihat luar biasa seperti hari-hari lain—hanya saja hidungnya memerah dikarenakan udara dingin, juga matanya sedikit membengkak yang Yoongi tebak akibat menangis. Ia membiarkan Seokjin masuk ke dalam tempat tinggalnya dan menutup pintu dengan perasaan campur aduk.

“Apa yang terjadi?” Ia bertanya tanpa basa-basi.

Duduk di atas karpet ruang tengah dengan televisi menyala namun tanpa suara, Seokjin masih menggunakan pakaian berlapis lengkap untuk menerjang suhu musim gugur di luar sana. “Hanya… kau tahu. Dia.”

Berdeham seraya mengalihkan pandangan, Yoongi mengabaikan sesak menjalar di dalam dada. Ia masih berada di dalam dapur dan merasa begitu enggan menghampiri tamunya yang tampak begitu lelah secara mental. Menuangkan air panas ke dalam gelas untuk menyeduh teh hangat, kata dia mengiang di telinganya tanpa dapat dihentikan.

“Yoongi,” panggil Seokjin dengan suara serak yang membuatnya ikut merasakan derita meski tentu berlatar belakang berbeda. “Kau temanku, ‘kan?”

Jangan anggap dirimu sebagai temannya.

Menelan ludah akibat tenggorokan yang terasa mencekat, ia mendengung ambigu sebagai jawaban. Semoga saja Seokjin tidak menyadari bagaimana tangannya bergemetar seraya mengangkat nampan, meletakkan dua cangkir teh di atas meja tanpa berani menatap mata lawan bicaranya. Tapi tentu saja, Seokjin terlalu kalut dengan pikirannya sendiri untuk menyadari Yoongi bersikap menjaga jarak.

Bohong, hatinya berbisik kejam. Sejak kapan Seokjin menyadari sesuatu yang terjadi padamu? Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Selalu.

Tangan Seokjin terasa dingin ketika menyentuh kulitnya, mencengkram kuat pergelangan tangannya—anehnya terasa begitu rapuh layaknya berusaha menyalurkan luka. “Yoongi, tolong bantu aku untuk lupa malam ini.”

Maka Yoongi untuk ke sekian kali, menetapkan dalam benak bahwa ini yang terakhir. Sekali lagi ia akan bertindak bodoh. Sekali lagi ia akan mengabaikan otak dan mengutamakan hati.

Sekali lagi.

Satu dan selamanya takkan lagi.

“Tentu,” bisiknya dengan senyum yang dipaksakan. “Aku di sini. Aku akan membuatmu lupa—meski hanya sesaat.”

Penyesalan kini telah menjadi teman akrabnya sejak hari mereka kembali berjumpa di Sungai Han; hari di mana Yoongi telah memutuskan untuk mengulurkan tangan.

Seokjin tidak pernah berhasil ia tarik keluar dari lingkaran penderitaan yang menghantui hidupnya, Yoongi justru menemukan dirinya ditarik jatuh ke dalam lingkaran yang sama.

“Kau masih menjalin hubungan dengannya?”

“Hubungan apa?” Yoongi mendengus, memangku kepalanya menggunakan satu tangan di atas meja. “Tidak pernah ada hubungan di antara kami, Hoseok.”

Jawaban itu menyebabkan Hoseok tersenyum pahit. “Kau tahu maksudku.”

Pada meja di restoran yang sama dengan terakhir kali ia berbincang dengan Hoseok, Yoongi menemukan pemandangan berbeda di luar jendela. Musim terus berganti, begitu pun tahun seiring dengan waktu terus bergulir. Alih-alih putih salju, kali ini terik matahari menyinari jalanan pagi.

“Kami masih bertemu sesekali,” respon Yoongi tanpa menunjukkan antusiasme dari topik yang Hoseok pilih. “Terakhir mungkin sekitar empat bulan lalu.”

Perubahaan ekspresi Hoseok luput dari perhatiaan Yoongi yang tengah sibuk memandangi orang berlalu-lalang. “Kau masih… mencintainya?”

Belakangan ini, Yoongi sering bertanya pada diri sendiri akan jawaban dari perasaan yang ia miliki terhadap Seokjin. Apakah benar cinta adalah yang ia rasakan? Atau justru obsesi?

Apakah cinta memang sewajarnya mendahulukan perasaan orang lain tanpa mempedulikan sakit yang mendera diri sendiri?

“Aku memang berusaha menghindarinya, tapi aku tahu aku mencintainya,” jawabannya terdengar kentara tengah menyembunyikan perih. “Jika bukan cinta, aku tidak tahu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku padanya.”

“Bahkan jika dia—”

Dengan tergesa mendorong kursi dan berdiri dari posisi duduknya, Yoongi sama sekali tidak mempedulikan volume suaranya ketika bertanya, “Di mana dia berada sekarang?!”

…or destroy each other beyond repair.

Setelah akhirnya selesai memuaskan rasa penasaran sang pria berkacamata, Yoongi akhirnya dipersilakan untuk keluar ruangan dan mengikuti seseorang yang akan menunjukkannya di mana Seokjin berada. Ia dituntun ke bagian luar gedung pada sebuah taman kecil yang berbatasan dengan tepi jurang.

Seokjin duduk di sebuah bangku, menghadap laut yang menjadi dasar dari jurang di sekeliling taman. Pandangannya tampak kosong dan Yoongi harus menahan diri semaksimal mungkin untuk tidak menarik Seokjin pergi dari tempat itu sekarang juga.

Ia menegarkan hati untuk mendekat, berdeham pelan agar Seokjin menyadari eksistensinya—mirip dengan yang ia lakukan ketika mereka pertama kali berjumpa, hanya saja tanpa asap rokok mengikuti langkah.

Menolehkan kepala, Seokjin tersenyum tipis menyambut kedatangannya. “Yoongi, kau meluangkan waktu untuk menjengukku? Aku tersanjung.”

Sapaan itu menyebabkan Yoongi bergeming selama sesaat sebelum ikut duduk di samping lelaki yang menjadi penghuni tetap alam bawah sadarnya selama tiga tahun belakangan. “Aku ada sedikit waktu kosong hari ini.”

“Bohong,” potong Seokjin ringan, tertawa kecil layaknya seseorang dengan kondisi seratus persen sehat. “Kau tidak pernah memiliki waktu kosong di hari Rabu.”

Yoongi tidak membantah, menyembunyikan keterkejutan akan fakta bahwa Seokjin masih mengingat jadwal kesehariannya. “Lalu kenapa? Sekarang aku tidak lagi boleh menemuimu?”

Menatap kembali hamparan laut biru, Seokjin hanya mendecak sebagai tanggapan. Yoongi ikut melakukan hal sama, berharap pemandangan di depannya tidak hanya dapat menyegarkan mata, namun juga pikirannya yang kusut sudah terlalu lama.

“Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” tanya Seokjin sejurus kemudian.

“Dari seorang teman yang kebetulan selalu update tentang informasi seputar teman-teman semasa kuliah,” Yoongi berusaha bersikap lebih rileks dengan menyandarkan punggungnya. “Kenapa tidak memberitahuku?”

Seokjin mengerlingkan mata. “Kau selalu ingin pergi dariku, Yoongi,” kalimatnya terdengar layaknya informasi kasual alih-alih fakta menyakitkan. “Kupikir ini adalah momen yang tepat untukku menghilang dari hidupmu.”

Tidak ada emosi di balik sorot mata Seokjin, pun nada bicaranya yang terdengar layaknya robot terprogram otomatis. Yoongi telah sejak lama memutuskan untuk tidak memasukkan apapun yang Seokjin katakan ke dalam hati.

“Jadi…” Ragu menyelimuti Yoongi sebelum melanjutkan, “Untuk sementara kau akan berada di sini? Sampai kapan?”

Hembusan angin kencang mengintrupsi Seokjin yang hendak menjawab. Yoongi nyaris tidak menangkap apa yang Seokjin katakan apabila ia sedikit saja mengalihkan perhatian. “Apakah menurutmu aku pantas berada di sini?”

Pertanyaan itu dalam sekejap berhasil membuatnya bungkam.

“Aku tidak gila, Yoongi,” tegas Seokjin dengan tatapan tajam yang Yoongi tahu tidak ditujukan khusus padanya. Mungkin pada dunia. Atau mungkin pada orang tuanya yang mengirimnya ke lokasi di mana ia berada sekarang. “Aku masih sangat waras—aku tahu siapa namaku, bagaimana cara mengerjakan pekerjaanku, bahkan aku tahu ini adalah rumah sakit jiwa,” jelasnya penuh penekanan. “Tapi aku masih tidak mengerti sejak kapan mencintai seseorang berartikan memiliki kelainan mental.”

Tangan Seokjin menyentuh tangannya, mencengkram erat seolah berusaha untuk meyakinkan. “Yoongi, katakan padaku,” pintanya penuh harap. “Apakah aku salah karena bersikeras menunggunya untuk kembali?”

Yoongi hidup dengan peraturan-peraturan tidak tertulis yang ia pegang sebagai prinsip. Semaksimal mungkin menghindari berbohong adalah salah satunya. Tapi untuk Kim Seokjin, ia akan melanggar sebanyak apapun peraturan meski itu berartikan menambahkan deretan penyesalannya suatu hari kelak.

“Tidak,” bibirnya membentuk senyum tipis, kemudian dengan hati-hati meletakkan tangannya yang bebas di atas tangan Seokjin, mengusap penuh kasih dan meyakinkan bahwa dunia adalah pihak yang patut disalahi. “Kau tidak salah. Kau mencintainya, wajar jika kau memutuskan untuk menepati janjimu dengan menunggunya kembali.”

Seokjin terlihat rapuh sebagai imbas dari penuturannya, membuatnya tak kuasa menarik sang Kim ke dalam sebuah pelukan lebar. “Aku ada di sini,” bisiknya mengabaikan air mata yang menetes membasahi wajah.

“Bagaimana jika dia kembali nanti?”

Mengeratkan pelukannya, Yoongi menjawab pasti, “Aku akan tetap berada di sini.”

.

.

.

“Kau sudah dengar tentang Seokjin?”

“Kim Seokjin? Ada apa dengannya?”

“Kekasihnya meninggal dan kudengar dia tidak menerima kenyataan itu dengan baik.”

“Maksudmu…?”

“Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi katanya dia bersikap seolah kekasihnya masih hidup dan sedang membutuhkan waktu untuk sendiri di luar negeri.”

“…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s