Love Appeal

Ye-Min

Yesung’s Birthday Project: The Third Entry

Love Appeal

 [—There’s no need for a headache, I love you this way.]

.

.

Lee Sungmin duduk di atas tempat tidurnya dalam diam. Ia meraih sebuah buku fisika yang beberapa jam ini ia baca—tak berguna, sungguh—lalu melemparkan kertas-kertas yang dibukukan itu dengan kesal. Sungmin benci fisika atau matematika sejak dulu hingga sekarang. Atau mungkin selamanya.

Hyung, kenapa kita harus mempelajari sesuatu yang bahkan tidak akan kita gunakan dalam kehidupan?” tanyanya putus asa. Sungmin merasa tubuhnya lemas. Rasanya ia ingin menangis saja meski takkan menyelesaikan masalah. Satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah terlepas dari jeratan pelajaran hitung-hitungan.

Pemuda yang dipanggil hyung menolak untuk berkomentar—ia juga yakin Sungmin tak mengharapkan jawaban. Lagipula, novel yang ia baca sedang berada di puncak klimas; jelas-jelas jauh lebih menarik daripada meladeni Sungmin yang sedang kekanakkan.

Yang lebih muda merangkak mendekati sang hyung yang bersandar pada kepala tempat tidurnya. Ia mengintip isi novel yang hyung-nya baca—tak tertarik. Sepasang mata foxy-nya memandangi wajah di sampingnya dalam diam, kenapa orang ini tampak serius sekali?

Ya, jangan memandangiku seperti itu,” ucap yang bersangkutan di luar perkiraan. Sungmin tersentak sebelum akhirnya meraih boneka kelinci favoritnya, memeluk benda yang bahkan lebih besar daripada tubuhnya itu dalam diam. Sepupunya itu benar-benar tak peduli pada dirinya jika sudah dihadapkan dengan buku bacaan.

Hyung-ah…”

“Hm?”

Sungmin mendecak kesal. Benar-benar menyebalkan. Ia menarik novel yang sepupunya baca, memaksa namja lebih tua dua tahun darinya itu untuk memandang matanya. “Jangan abaikan aku,” tegasnya dengan aksen cute alami—menyebabkan Yesung, kakak sepupunya, menghela napas dan menyerah.

“Baiklah,” balas Yesung tenang. Kedua tangannya menarik Sungmin hingga jatuh dalam pelukannya, menyeringai kecil melihat rona merah muda di pipi chubby adiknya. Mungkin melupakan novel dan memberi perhatian pada Sungmin bisa menjadi hal menarik yang di luar perkiraan.

Namun bagi Sungmin, meminta diperhatikan oleh Yesung jelas sebuah kesalahan besar.

#

Yesung tak pernah benar-benar memperlakukan Sungmin sebagai adik sepupunya sejak tiga tahun lalu—sejak ia menyadari bahwa cinta yang ia tujukan untuk Sungmin bukanlah cinta kakak ke adiknya, melainkan cinta yang sebenarnya.

Ia tak tahu kenapa segalanya berubah begitu cepat. Termasuk hatinya.

Semua yang ia ketahui tentang Sungmin kini hanyalah bahwa ia mencintainya. Dan semua yang ingin ia lebih ketahui tentang Sungmin hanyalah kenyataan bahwa namja lebih muda itu juga mencintainya.

Mungkin Sungmin memang mencintainya, tapi Yesung belum pernah mendengar penuturan frontal yang ia harapkan.

“Lepaskan aku, Hyung,” pinta si pemuda aegyo dengan wajah memelas. “Aku mengantuk. Lihat jam berapa sekarang,” lanjutnya dengan tatapan memohon. Yesung kembali tersenyum, melepaskan pelukannya sesaat—karena setelah mereka berbaring di atas tempat tidur Sungmin, ia kembali menarik sosok itu ke dalam pelukannya.

Tak ada rasa nyaman lebih baik daripada rasa nyaman ketika Sungmin berada di sisinya, atau di dalam pelukannya. Yesung merasa Sungmin adalah kesempurnaan yang melengkapi kekurangan pada dirinya. Bersama dengan Sungmin selalu meyakininya bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama.

“Kau takkan pergi ke manapun, ‘kan, Hyung?”

Yesung membuka matanya yang terpejam. “Pergi ke mana?” tanyanya tak mengerti. Tentu saja ia takkan pergi meninggalkan Sungmin karena namja Lee itu adalah alasannya untuk hidup—harta tak tergolong harta paling berharga miliknya. Harta yang takkan ia tukar dengan apa pun juga.

“Hanya… takut.”

Sungmin dapat merasakan pelukan yang Yesung berikan perlahan terlepas. Ia dapat melihat wajah Yesung yang hanya berjarak lima senti dari wajahnya. Wajah favoritnya. Memorinya berputar kembali pada beberapa hari lalu; hari di mana ia mendengar percakapan ibunya dengan ibu Yesung, percakapan yang menakutkan.

Hyung-nya itu akan pergi ke luar negeri setelah tamat sekolah untuk melanjutkan kuliahnya.

“Aku takkan pergi lama, Sungmin-ah,” gumam Yesung lembut. “Mungkin akan terasa lama, tapi aku akan kembali secepat mungkin, lalu melihatmu lagi, bertemu denganmu lagi, memelukmu lagi.” Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sungmin—merasakan napas sang dongsaeng menerpa wajahnya, sebelum berakhir menyatukan bibir mereka.

Tak terlalu lama, tapi cukup untuk mewakili perasaan yang ada.

Mereka memang tak pernah mengatakan kata cinta. Setidaknya belum. Yesung menunggu saat yang tepat meski ia tak mempunyai banyak waktu tersisa. Sebulan lagi ia akan lulus dari sekolahnya, terbang ke Jepang selama beberapa tahun, kemudian kembali setelah lulus lagi.

Ia hanya tak mau mengecewakan orang tuanya dengan menolak tawaran itu. Yesung juga yakin Sungmin pasti akan kecewa jika ia menolak untuk pergi karenanya—walau mungkin pemuda mungil itu lebih kecewa lagi karena ia harus pergi dan meninggalkannya untuk beberapa saat.

Yang manapun sama-sama mengecewakan bagi Sungmin. Tapi Yesung tak punya banyak pilihan. Ia harus pergi, lalu kembali secepat yang ia bisa. Dengan begitu Sungmin tak perlu merasa kehilangan terlalu lama.

“Kau tahu aku mencintaimu, bukan?”

Sungmin membulatkan matanya, sedangkan pipinya memanas. Wajah serius Yesung di depan matanya seolah menghipnotis dirinya untuk bergeming dan tak mengalihkan pandangan. Sungmin tak dapat melakukan apa pun selain mengangguk kecil dalam diam.

“Aku tetap akan mengatakannya.” Yesung meraih wajah Sungmin, kembali mendekatkan wajah mereka. Tepat sebelum jarak di antara keduanya menghilang, ia berbisik dengan segenap hatinya, “Aku mencintaimu, Sungmin-ah.”

Kali ini lebih dalam—juga menimbulkan debaran aneh yang begitu nyata. Yesung tak mengerti dengan dirinya yang ingin lebih mendominasi daripada biasanya. Dan ia melakukannya; karena ia tahu, Sungmin takkan menolak apapun yang ia berikan.

“Aku juga mencintaimu, Hyung.”

Seharusnya Yesung tahu ia akan mendengar balasan semacam itu. Namun entah mengapa, meski ia telah menebak jawaban Sungmin beberapa menit sebelumnya, degup jantungnya tetap saja menggila dikarenakan rasa senang teramat sangat.

#

Mereka belum pernah melakukan hal sejauh ini sebelumnya. Dan sialan, Sungmin ingin memberontak, tapi tubuhnya berkhianat.

Ia tak bisa menahan diri untuk mendesah ketika lidah Yesung bermain di garis rahangnya. Sungmin memejamkan mata, meski tak menginginkan ini, sentuhan Yesung terasa begitu adiktif dan menyebabkan seluruh bagian tubuhnya menjadi panas.

“H-Hyung…”

Sungmin tahu Yesung takkan menyudahi kegiatan mereka meski ia memohon. Tubuhnya semakin lemas dan tak berdaya ketika Yesung mempertemukan bibir mereka, menggerakkan lidahnya di dalam sana. Pada saat itu juga, Sungmin menyerah melakukan perlawanan.

“Kau melamun? Sungmin-ah?”

Hyukjae mengerlingkan mata—bahkan setelah menepuk pundak temannya itu agak keras, Sungmin masih bergeming di tempatnya, memandangi lapangan sekolah dengan tatapan kosong—entah apa yang dipikirkannya. Hyukjae memilih tak peduli, lalu mendudukkan dirinya di sebelah si pemilik surai pirang yang enggan mengeluarkan suara.

Bibir bertautan, tubuh polos bergesekan…

Yesung menatap sepasang mata di bawahnya dalam. Sosok yang dulu ia anggap sekedar adiknya, kini tumbuh menjadi orang yang paling ia cintai dalam hidupnya. Tangannya membelai wajah Sungmin lembut, mencoba menyalurkan kehangatan, seolah berkata segalanya akan baik-baik saja.

“Ye-Yesung-hyung, tunggu… ummhh…”

Sama sekali tak peduli. Yesung tahu Sungmin akan memohon semampunya agar ia berhenti—tapi Yesung juga tahu, entah bagaimana caranya, ia tahu bahwa sebenarnya Sungmin tak ingin ia mengakhiri ini. Tubuh namja Lee itu jauh lebih jujur daripada yang ia bayangkan.

Sekali lagi, tangannya kembali bergerak; kali ini menyusuri perut rata Sungmin, kemudian turun menuju pangkalan paha sang dongsaeng kesayangan. Yesung dapat mendengar desahan frustasi Sungmin yang tengah dilema. Dia menikmatinya, mereka menikmatinya, tapi Sungmin masih berpegang teguh dengan pendiriannya.

“Lee Sungmin!” Hyukjae mulai berpikir bagaimana cara yang tepat untuk menyadarkan sahabat baiknya itu. Ia sudah mencubit pelan lengan namja di sampingnya, namun sama sekali tak membuahkan hasil.

“Kau dipanggil Park-seonsaeng,” pancingnya entah untuk ke berapa kalinya selama setengah jam ini. Dan sayangnya, Sungmin masih tak bereaksi—sejak kapan pula mengamati anak-anak lelaki bermandi keringat di lapangan menjadi favorit Sungmin?

Sungmin masih di bawahnya—kali ini kedua kaki adiknya itu terbuka lebar, seolah menggoda dirinya untuk masuk ke dalam inti permainan. Yesung tak menolak, ia mengecup wajah Sungmin dimulai dari dahi, kelopak mata, hidung, kedua pipi chubby-nya, hingga berakhir dengan kecupan manis di bibir.

“Hyung, jebal…”

Yesung tersenyum kecil, cukup untuk menenangkan Sungmin hingga ia tak sadar bahwa milik Yesung perlahan masuk ke dalam dirinya. “Tatap mataku.” Wajahnya merona; Sungmin tahu ia selalu merona tiap kali menatap sepasang mata sipit sang hyung—karena ia mencintai mata itu, juga pemiliknya.

Awalnya terasa biasa saja, selang beberapa detik, Sungmin merasakan sakit luar biasa. Tapi ia percaya pada Yesung. Ia terlanjur jatuh untuk pemuda ini—bukan jatuh akibat gaya gravitasi, tapi jatuh yang lain—dan ia akan menyerahkan dirinya seutuhnya, tanpa peduli hal lain apapun itu jenisnya.

Sungmin mencintai Yesung, dan ia yakin Yesung juga mencintainya.

Rasa sakit yang ia rasakan berhasil menitikkan air matanya, menyebabkan Yesung merasa bersalah. Tapi Sungmin menggeleng, cara halus meminta untuk terus dilanjutkan. Ia tidak terlalu takut dengan rasa sakit, ia lebih takut jika suatu hari nanti Yesung meninggalkannya—

“Ah! Yesung-hyung memanggilmu, Sungmin-ah!”

Lee Sungmin mengerjap. Detak jantungnya menggila dalam kurun waktu kurang dari dua detik. Rasanya ia bisa pingsan saat itu juga. Sungmin tak ingin bertemu dengan Yesung untuk beberapa lama; memalukan sekali mengingat apa yang mereka lakukan semalam.

“Kau sadar juga? Aish. Aku bercanda, tidak usah panik begitu,” sembur Hyukjae sejurus kemudian. Sungmin membulatkan mata, merasa lega, di saat bersamaan merasa dipermainkan. Ia menghela napas dalam diam—bagus, Lee Hyukjae, kau hampir membuatku gila.

Si pemilik gummy-smile merangkul erat sahabatnya, berniat mengatakan sesuatu sebelum melihat kejanggalan pada leher sang teman sekelas. Matanya menatap Sungmin tak percaya. Mungkinkah…?

“Jangan bilang ‘tanda’ ini…”

Sungmin menahan napas. Jika tadi Hyukjae hampir membuatnya gila, sekarang teman sekelasnya itu membuatnya ingin lupa ingatan.

#

“Demi Tuhan, jangan menghindariku.”

Sungmin membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi ketika Yesung masuk ke dalam kamarnya dan langsung berkata dengan nada sedemikian rupa. Rasa bersalah menguasai dirinya secara perlahan, lalu ia menunduk dalam diam.

Ia merindukan Yesung.

Menjadi seorang pecinta berartikan menjadi manusia aneh. Kau akan merindukan orang yang baru kau temui, atau bahkan baru berbincang denganmu beberapa menit yang lalu. Lee Sungmin mengalaminya sekarang.

Baru beberapa jam hingga lengkap satu hari. Bagaimana jika nanti Yesung meninggalkannya selama bertahun-tahun? Sungmin memejamkan mata, membayangkan apa yang akan terjadi sebulan lagi; membayangkan betapa tersiksanya ia dikarenakan merindukan sang hyung. Mungkin saja ia bisa menjadi gila.

“Ma-maaf, Hyung,” lirihnya—masih menolak menatap sepasang mata sipit yang merupakan favoritnya sejak dulu hingga sekarang. Tangannya meremas seprai tempat tidur kuat. Malu sekali. Seketika Sungmin mengingat bagaimana mereka tak berpakaian, bagaimana desahannya, bagaimana…

Blush.

Yesung mengacak rambutnya frustasi, membalikkan tubuhnya dan bermaksud meninggalkan kamar Sungmin jika saja pemuda itu tak segera lompat dan menahannya. Sungmin memeluknya dari belakang, tak membiarkannya beranjak meski hanya selangkah. Dan Yesung merasa senang tanpa alasan.

“Jangan pergi…”

Permohonan dengan nada menyedihkan itu berhasil membuat hatinya sakit. Yesung melepaskan tangan Sungmin yang melingkar di pinggangnya, lalu menghadap adik sepupu yang lebih pendek beberapa senti darinya itu dengan seulas senyuman. Ia tak tahu pergi apa yang Sungmin maksud—tapi jika pergi yang dimaksud adalah pergi meninggalkan, maka Yesung takkan pernah melakukannya.

“Aku takkan pergi ke manapun,” jawab Yesung seraya menarik tangan Sungmin menuju tempat tidur dan mendudukkan pemilik surai platinum blond itu di atas sana. “Tidak sekarang, tidak selamanya.”

Sungmin tak punya pilihan selain mempercayai Yesung—bukan berarti ia pernah meragukan hyung-nya pula. Ia menempelkan dahinya pada dahi Yesung sejurus kemudian, memejamkan mata, lalu berkata, “Aku mencintai Yesung-hyung. Aku tak mau berpisah dengannya. Aku menyayanginya. Aku…” Setetes air mata menetes tanpa sadar. “—hanya ingin terus bersamanya.”

Detik itu pula, Yesung berpikir bahwa ia adalah orang paling beruntung di dunia.

#

Sebulan kemudian.

“Aku akan kembali secepat mungkin.”

Tak ada raut wajah bersedih sama sekali pada wajah Sungmin. Ia mengangguk antusias mendengar janji Yesung, menatap wajah sang hyung selama yang ia bisa, merasakan kecupan Yesung di dahinya dengan hati berdegup kencang seperti biasa.

Sungmin dapat melihat sepupunya itu enggan naik ke pesawat dan terus menoleh ke arahnya. Yesung menyerahkan tiketnya pada petugas ketika Sungmin tersenyum ceria, melambaikan tangan kelewat antusias—ia tak bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Sungmin, sungguh.

Setelah duduk di kursinya, ia mematikan handphone dalam diam. Belum lima menit, namun rasanya ia sudah merindukan Sungmin sekarang. Yesung hanya menghela napas dan mengalihkan pandangan ke luar jendela ketika seseorang duduk di sampingnya—entah siapa.

Awalnya, ia kira memang entah siapa.

Hyung-ah!

Si pemilik surai hitam terbelalak tanpa sadar mendapati Lee Sungmin duduk dengan manis di sisinya. Masih menggunakan pakaian yang sama dengan sebelumnya, masih dengan senyum yang sama. Tapi kenapa bisa berada di dalam pesawat, terlebih lagi, duduk di sampingnya?

“Aku berhasil membujuk eomma dan appa. Kita tak perlu berpisah, aku akan tinggal bersamamu di Jepang, melanjutkan sekolah di sana,” jelasnya dengan mata berbinar, menyebabkan Yesung mengerjap tak percaya. Tak mempercayai penglihatannya, pendengarannya, juga rasa nyaman yang ia rasa ketika Sungmin sedang bersamanya.

Hyung?

Yesung semakin yakin bahwa Sungmin yang duduk di sampingnya bukanlah delusi yang tak sengaja ia ciptakan. Tangannya mencubit pipi Sungmin—tentu saja diprotes habis-habisan—lalu tersenyum lebar menyadari bahwa apa yang ia lihat dan dengar adalah kenyataan.

Mereka tak perlu berpisah.

Sungmin hanya bisa membalas pelukan sang hyung yang tiba-tiba memberinya rengkuhan hangat. Sudah seharusnya mereka tak terpisahkan; karena mereka memang terlahir dan ditakdirkan untuk selalu bersama.

Selamanya.

Fin

Credit title: Hello Venus’s First Mini Album – Venus; Love Appeal

Credit quote: Super Junior’s Second Album – Don’t Don; You’re My Endless Love

Note: Well, salah satu kelemahan saya dalam hal diksi-deskripsi-eyd adalah penggunaan partikel ‘pun’. Ada yang bisa memberitahu yang benar?^^ Dan ini fict dengan scene ‘mature’ (meski implisit) pertama yang saya publish rofl /kabur/ so plotless right? orz

20 thoughts on “Love Appeal

  1. YeMin.. mereka itu pasangan yang manis.. ^^

    selalu aja aku jatuh pd pesona tulisan chingu..
    sesungguhnya, ini simple.. tp entah mengapa, setiap chingu yg bt, jd terasa istimewa..
    hehe

  2. Daebaaak!! Uu aku harus panggil apa? kuroify-ssi? kuroify-chan? Atau eonnie? Pokoknya akuu laaaff bgt sama wp kamu *..* ff Yemin disini bener bener mengalun, huaaahaha apalg ff Yemin itu langka bgt:D Ah buat lg ne, kuroify? ;D

    1. Sebenarnya incest itu relationship di antara dua orang yang memiliki hubungan darah (saudara kandung, misalnya) tapi entahlah jika sekedar saudara atau sepupu dihitung sebagai incest atau tidak><
      Terima kasih^^

  3. Kyaaaaa…. Ketinggalan saya. 😦

    pasangan yg manis. Baru nmu ff yemin. Uuuhhh senangnya. Langka bgt soalnya. Ya meskipun di sini yesung seme tak apalah… Hehe…

    Gomawoooooo

  4. Baru nemu dan langsung suka…FF nya swe…t banget. Jarang2 si nemu pair yang begini kkk. Feel nya juga dapet banget jadi serasa baca novel. Nge fly gimana gitu bacanya. Anyeong, salam kenal chingu 🙂

  5. hallo author, aku akhirnya nemu ff yemin yg castnya cuma yemin doang huhu, susah nyari ff yemin yg kaya gitu abisnya

    oiya mau nanya, penggunaan kata ‘pun’ itu author ga ngertinya dimananya? Aku dapet tugas bikin cerpen sama guru b.indo aku disekolah, dan aku mau ngasih tau aja yg aku tau yaa maap kalo ga ngebantu hehe jadi kata guru aku, kalo kata ‘pun’ itu dalam kalimat berarti kata ‘juga’, maka penulisannya disatukan.
    contoh : akupun ikut memenggal kepala orang itu = aku juga ikut memenggal kepala orang itu

    gitu authornim, maaf kalo ga ngebantu. Cuma ngasih tau semampu aku aja heheheh
    kamsahamnidaaa ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s