Like A Dream

Ye-Hae

Yesung’s Birthday Project: The First Entry

Like A Dream

[—Dan suatu saat nanti kuharap segalanya lebih dari sekedar mimpi.]

.

.

Kim Jongwoon tak pernah benar-benar menyukai fan-service. Tidak ketika salah satu member mencium pipinya pada saat Super Show—bisa kau lihat ekspresinya saat itu?—tidak pula ketika member lain bergelayut manja pada tubuhnya, well, lupakan hobi merabanya karena ia bukanlah tipe yang senang disentuh, melainkan menyentuh.

Jangan berpikiran melenceng, ini peringatan sejak awal.

Namun ketika ia menggenggam tangan Lee Donghae, memeluk pinggang ramping khas lelaki sang dongsaeng, merangkul pundak lemahnya, Kim Jongwoon sama sekali tak pernah melakukannya atas dasar tuntuan. Semua murni kasih sayang.

Ia selalu bermimpi tentang dirinya yang bukan dirinya. Dan segalanya lebih dari indah—abaikan fakta bahwa pada mimpinya ia menjadi dirinya yang bukan dirinya. Di sana Lee Donghae selalu berada di sisinya, tak pernah menjauh barang semenit saja.

Oh, lupakan jadwal padat sialan yang selalu menghampiri keduanya.

Tetapi mimpi itu selalu berakhir sama tiap harinya; ketika ia membuka mata dan mendapati seorang Lee Donghae tengah melompat ke atas tubuhnya, membangunkannya dengan semangat kemerdekaan—bersama Lee Hyukjae, tentu saja.

Dan Jongwoon selalu mendengus tak suka ketika menjalaninya. Duo EunHae sangat menyebalkan baginya. Pisahkan kedua nama itu. Eunhyuk. Dan. Donghae. Tidak ada EunHae dalam kamus Kim Jongwoon. Selamanya takkan ada.

Karena baginya hanya ada Donghae. Dan Lee Donghae.

Demi apapun juga, saat itu ia benar-benar ingin mengusir duo menyebalkan yang selalu merusak paginya; membangunkannya dari mimpi indah yang selalu tak menemui akhir kisah, dengan cara yang sungguh tak elit, sialnya.

“Pergilah, kalian merusak pagiku.”

Karena rasa sesak di dadaku tak tertahankan—

Lee Donghae merengut tak suka, memeluk sang anchovy dari belakang; masih menindih kaki Kim Jongwoon yang tertutup sempurna oleh selimut tebal.

—melihat keakrabanmu dengan orang lain selain diriku.

#

Sekali lagi Yesung mencoba memejamkan mata—berharap rasa kantuk menghampirinya, hingga akhirnya alam mimpi menyambut dirinya dengan suka cita—namun teriakan bersahut-sahutan dari luar kamar begitu memekakkan telinga. Ia bahkan sudah terlalu lelah menerima telepon dari para tetangga; menyatakan betapa terganggunya mereka akibat para-bocah-lelaki-yang-sebenarnya-sama-sekali-tak-dapat-disebut-bocah terus-menerus menciptakan keributan.

Tangan mungilnya bergerak, memijat dahinya pelan. Sungguh ia menyesal menolak tawaran Jungsoo untuk pindah ke lantai atas dan malah memberikan kesempatan emas itu pada mantan roomate-nya, Kim Ryeowook.

Tunggu sampai batas kesabarannya menyentuh garis finish, tamatlah riwayat lima dongsaeng-nya di luar sana.

“Donghae-ya! Terus! Jangan sampai—AAA! SIAAAL!”

“Bagus, Kyu! Kau memang yang paling hebat! GOAAAL!”

Bagaimana bisa alam mimpi menjemputnya bila lima makhluk (minus satu) di luar sana tak bisa menutup mulut mereka minimal lima menit saja? Yesung mengacak rambutnya frustasi, kemudian bangkit dengan cepat. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar, menarik napas dalam dan—

YA!

—hening.

Satu.

Dua.

Tiga.

“Mi-mian, Hyung.”

Lee Sungmin beranjak dari novel yang tengah ia baca, memeluk (baca: mendorong) Yesung kembali ke dalam kamar, kemudian menutup sang pintu rapat.

“Kau mau menjadi Kim Heechul kedua, Hyung?” sindir Sungmin sebelum melangkah keluar kamar, menyebabkannya mendengus kesal. Menjadi seorang Kim Heechul kedua tak pernah menjadi salah satu impian hidupnya. Salahkan saja keadaan.

Sekali lagi ia mendapati dirinya berbaring di atas empuknya kasur tempat tidur, memejamkan mata, terhanyut dalam keheningan sesaat yang kapan saja dapat berubah seratus delapan puluh derajat.

Kemudian pintu kamar terbuka. Yesung terlalu malas untuk sekedar mengintip siapa orang di sana. Sedangkan tanpa sepengetahuannya, Lee Donghae berjalan masuk dengan tatapan terluka. “Hyung belum tidur, ‘kan?” terkanya pelan; secepat itu pula ia membuka mata.

Mianhae,” bisik sang pemuda Lee penuh penyesalan. Yesung tak bergerak sedikit pun dari tempatnya, dalam hati mulai menyusun kata-kata yang akan ia lontarkan—ia paham keadaan ini; keadaan di mana kapan saja seorang Lee Donghae dapat menitikkan air mata, menyebabkan dirinya terciprat amarah dua hyung tertua.

Kali ini Jongwoon kembali memejamkan mata, lalu menghela napas. “Bukan masalah,” dustanya penuh kewaspadaan. “Pergilah. Tidak masalah jika kalian ingin bermain, hanya saja tolong jangan terlalu berisik.” —Karena aku takkan bisa mencapai alam mimpi di mana dirimu yang bukan dirimu kini sedang menungguku.

“A-aku di sini saja.” Donghae memaksa Yesung menggeser tubuhnya merapat ke arah dinding, sedangkan dirinya ikut berbaring di samping sang hyung yang menatap bingung. “Boleh, ‘kan, Hyung?” Ia bertanya polos, tak menyadari detak jantung hyung-nya yang mulai bekerja lebih cepat melebihi batas normal.

Anggukan kaku dari Yesung sudah cukup bagi Donghae sebagai jawaban.

#

Keadaan benar-benar hening beberapa saat setelahnya, namun Kim Jongwoon tetap saja tak dapat tertidur seperti yang diinginkannya. Alam mimpi enggan menjemputnya—keberadaan Lee Donghae menjadi penyebabnya. Yesung benar-benar ingin menggerutu sekarang. Mengapa kini malah Donghae yang tertidur pulas di sebelahnya?

Tangan mungilnya bergerak, membelai helai rambut sang dongsaeng yang tertidur pulas. Detak jantungnya kembali berpacu normal, dan ia cukup menyukuri keadaan itu. Mungkin tak dapat tertidur bukanlah sesuatu yang buruk; karena Lee Donghae berada di sana, dan ia dapat memandangi wajah pemuda Lee itu selama yang ia bisa.

Yesung bangkit dari posisi awalnya. Ia memandangi wajah Donghae lekat, berusaha mencari cacat ataupun keanehan dan hasilnya nihil. Lee Donghae sempurna. Terlalu sempurna untuk dicapai oleh jangkauan tangannya, dan itu bukan masalah—karena memandang dari kejauhan tak pernah menjadi hal yang buruk. Selama namja Lee itu ada, Yesung takkan keberatan menunggu sampai kapan pun. Sampai pemuda itu menyadari perasaannya. Sampai pemuda itu membalas perasaannya.

Karena semua yang dapat dilakukannya hanya menunggu. Dan jika saatnya tiba nanti, ia hanya perlu menyatakan perasaannya. Dengan senyuman. Tanpa khawatir akan apa jawabannya.

Suatu hari nanti. Entah kapan.

Sang namja Kim tak tahu sejak kapan rasa kantuk mulai menghampirinya. Ia kembali membaringkan tubuhnya, menutup mata entah untuk ke berapa kalinya. Kali ini membiarkan alam mimpi menawannya dengan suka rela, karena hanya di sanalah Lee Donghae menjadi miliknya.

#

Kali ini, mereka pergi ke sebuah taman bermain bersama. Hanya berdua. Tanpa masker, topi, atau segala benda lainnya yang menghalangi mata. Bertautan tangan. Saling tersenyum ceria dan berpandangan mata sebagai perwakilan perasaan. Dan segalanya lebih dari sempurna.

Keduanya takut bermain berbagai wahana ekstrim di sana, namun keduanya tetap memainkan permainan sebanyak yang mereka bisa. Karena rasa percaya itu ada. Keyakinan itu ada. Karena Kim Jongwoon tahu, jika Lee Donghae berada di sampingnya, ia takkan apa-apa. Takkan ada masalah yang menimpanya. Segalanya akan baik-baik saja.

Karena segalanya terasa benar tatkala mereka bersama.

Saranghae.”

Kalimat itu bukanah sekedar kalimat. Berbagai makna berada di dalamnya, hanya saja tak dapat dijelaskan oleh ucapan. Satu kalimat itu cukup sebagai perwakilan akan seluruh perasaannya.

Lee Donghae tersenyum manis di hadapannya, sebuah senyuman yang selalu dapat mencairkan hatinya. Senyuman yang paling disukainya. Yesung menunggu jawaban pemuda itu dengan sabar. Selalu seperti ini tiap harinya. Menunggu. Menunggu. Menunggu—

YA! Kim Jongwoon, bangun!”

—Karena itu ia tahu hal yang harus ia lakukan hanyalah menunggu, menunggu, dan—

“Bangun, Bodoh!”

…A-ah, basah?

Kali ini sang namja Kim mengerjapkan mata. Hal yang pertama ia sadari adalah Donghae yang tak lagi berada di sampingnya., dan yang kedua adalah tubuhnya yang terasa begitu dingin dan sangat basah. Bukan dikarenakan berkeringat, tentunya. Tapi—

“Sadarlah! Kau itu!”

Ia kembali mengerjap ketika menyadari suatu keanehan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya. Sepasang matanya menangkap sosok salah satu hyung-nya yang sedang berdiri berkacak pinggang. “Apa yang kau lakukan padaku, Kim Heechul?”

BYUUUR!

Sekarang Kim Jongwoon yakin salah satu hyung-nya itu baru saja menyiramnya dengan air, dan kali ini menyiramkannya, lagi. Tepat pada wajahnya. Dan untuk ke sekian kalinya, ia tak berhasil mencapai akhir kisah dalam mimpinya. Membiarkan dirinya bagai terambang di atas lautan karena membayangkan jawabannya.

#

“Kau akan pindah ke apartemen orangtuamu?”

Yesung menyeruput kopi panasnya perlahan, berusaha menikmati rasa pahit namun nikmat yang terasa. Ia mendapati Park Jungsoo tengah mengernyit heran di hadapannya, seolah menyatakan bahwa tidak tinggal di dorm adalah hal terlarang.

Anggukan dari salah satu vokalis utama Super Junior itu membuat Leeteuk mendesah tertahan. “Waeyo?” Sang leader memandang penuh harap. “Kau akan membiarkan hyung-mu ini mengurus mereka sendirian?”

Dengan canggung, Yesung kembali menganggukan kepalanya. Ia tak punya pilihan lain. Jongjin membutuhkannya, orang tuanya membutuhkannya pula. Dan dorm terlalu berisik untuk tipe seorang pecinta ketenangan seperti dirinya.

“Aku akan sering berkunjung, Hyung. Lagipula aku sudah membeli apartemen yang dekat dari sini,” elaknya dengan senyum tipis. “Aku takkan kesepian di sana, juga takkan terlalu ramai seperti di sini,” tambahnya seraya memutar bola mata menanggapi reaksi yang Leeteuk lemparkan.

“Aku akan kesepi—“

“Kita tinggal di lantai yang berbeda, Hyung.”

“Tapi—“

“Dan kau lebih sering mengurung diri di dalam kamar.”

Skakmat. Sang leader hanya dapat mengangguk sebagai tanda persetujuan. “Baiklah. Kapan kau akan pindah?” Ia bertanya cepat. Tangannya sibuk mengetik e-mail untuk sang manajer sebagai pemberitahuan.

“Secepatnya. Mungkin minggu depan.”

Park Jungsoo menghela napas. “Secepat itu?” ujarnya penuh tekanan. “Aku bisa memarahi penghuni dorm bawah jika kau mau—“ Gelengan tegas. “—oke. Aku mengerti. Kau pasti punya alasan tersendiri.”

Suara pintu yang dibuka terdengar. Baik Leeteuk maupun Yesung menolehkan kepala dan mendapati Lee Donghae berjalan masuk menuju di mana mereka berada. Sang Park tersenyum kecil, kemudian bangkit dan berjalan keluar dengan alasan ingin menambah kopi. Donghae duduk di tempat yang sama dengan Leeteuk sebelumnya, menatap sang pemilik marga Kim dengan tatapan sulit diartikan.

“Aku dengar semuanya, Hyung,” gumam Donghae tanpa mengalihkan pandangannya. Yesung melirik sesaat sebelum akhirnya kembali sibuk dengan handphone yang ia genggam. “Mi-mianhae. Kalau sekarang aku berjanji takkan mengganggumu di pagi hari atau takkan berteriak saat bermain game, sudah terlambat, ya, Hyung?”

Yesung terdiam kaku. Ia hanya berharap Leeteuk ataupun Heechul takkan masuk ke kamar ini dalam waktu yang lama—setidaknya hingga ia berhasil menghentikan air mata si pemuda Lee di hadapannya. “Aniyo, bukan salahmu.” Tangannya bergerak untuk mengusap kepala sang dongsaeng, berusaha menghibur sebisanya.

“Berhenti menangis atau Jungsoo-hyung akan memarahiku,” ucap Yesung pelan seraya mengulum senyum manisnya. Ia mengecup kedua kelopak mata Donghae singkat—dan layaknya mantra, tangisan namja di depannya berhenti saat itu juga. “Lihat, wajahmu memerah karena menangis.”

Lee Donghae ingin memukul kepala hyung-nya dan berkata bahwa sang hyung adalah penyebab wajahnya memerah, bukan karena tangisnya. Ia melirik ke arah lain tanpa minat. “Ne, arraseo,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Jadi, kau tetap akan pindah?”

Anggukan dari sang lawan bicara memupuskan harapannya. “Padahal aku membutuhkanmu, Hyung.”

Walau awalnya terkejut, Yesung hanya beranjak menjauh dan kembali duduk di atas kursi—sesekali melirik handphone-nya yang tergeletak di atas meja. “Kau berucap seolah-olah kita takkan bertemu selamanya,” candanya dengan kekehan pelan.

“Aku ingin kau selalu berada di sisiku. Aku menyayangimu tapi kau selalu memperlakukanku seolah… seolah…” Yesung hanya diam dan menunggu, namun tampaknya Donghae tak berniat melanjutkan perkataannya.

“Seolah apa?”

Sang namja lebih muda bangkit dan membalikkan tubuhnya, menghela napas dikarenakan kegugupan yang ia rasakan. “Tidak penting,” ketusnya singkat. Tubuhnya sedikit tersentak kaget ketika merasakan adanya sepasang tangan yang merengkuhnya dari belakang. Dengan refleks ia memegang tangan tersebut; nyaris mencengkram.

“Aku menyayangi semua dongsaeng-ku,” ujar Yesung tenang. “Itu saja yang perlu kau tahu, Donghae-ya. Nah, sekarang aku harus mulai merapikan barang-barangku.” Ia melepaskan pelukannya perlahan—sedikit tidak rela—lalu berjalan menuju pintu kamar.

Lee Donghae meringis pelan ketika merasakan perasaan janggal di saat Yesung tak lagi merengkuhnya. Ia berjalan cepat dan memeluk sang hyung dari belakang; persis seperti yang sebelumnya Yesung lakukan. Membiarkan sang namja lebih tua tak tahu harus bereaksi seperti apa hingga terdiam kaku di tempatnya dengan degup jantung yang tak lagi beraturan.

“Kau tak boleh menyayangi semua dongsaeng-mu! Hanya aku, Hyung,” ucapnya posesif. Kim Jongwoon masih bergeming, berusaha mencerna setiap kata dan perbuatan dongsaeng yang dicintainya.

Setelah beberapa detik berlalu, Yesung menyeringai kecil. “Kenapa? Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang hyung untuk menyayangi semua dongsaeng-nya?” tanyanya polos. Di belakangnya, Donghae berusaha sabar dan melepaskan pelukannya—memutar tubuh Yesung agar hyung-nya itu menatap kedua matanya.

Kejadian selanjutnya jauh di luar perkiraan sang vokalis utama yang sebenarnya hanya berniat menggoda. Donghae mengecup bibirnya secepat kilat, lalu berlari keluar kamar dengan tangan yang menutupi wajahnya; meninggalkan dirinya yang masih terperangah tak percaya.

#

Senja terlihat indah seperti biasa. Kali ini tak ada taman bermain atau tempat hiburan lainnya, hanya ada mereka berdua, duduk di tepi danau memandangi indahnya detik-detik sebelum matahari terbenam. Donghae menyandarkan kepalanya di pundak Yesung, tersenyum manis seperti yang biasa ia lakukan.

Hyung-ah.”

Tak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini namja yang lebih muda lah yang memulai pembicaraan. Keduanya terdiam selama beberapa saat, ingin menikmati momen indah yang jarang mereka dapatkan. Padahal ini adalah dunia mimpi di mana dirinya yang bukan dirinya berada. Mengapa segalanya terasa lebih nyata daripada biasanya?

“Kau selalu mengatakan bahwa kau mencintaiku, namun aku belum pernah menjawabnya sekali pun.”

Yesung tahu kurang dari satu menit lagi matahari akan terbenam, dan biasanya berartikan mimpinya akan usai seperti hari-hari lainnya. Hanya saja, kali ini ia berharap dapat mendengar jawabannya—meski hanya dalam bentuk mimpi dan bukan pernyataan langsung di dunia nyata.

Nado saranghae. Apa aku sudah terlambat?”

Merasa pundaknya basah, sang pemuda Kim melirik dongsaeng tercintanya yang kembali meneteskan air mata. Dengan lembut ia mengubah posisi agar dapat memandang wajah favoritnya, kemudian mengecup dahi pemuda tampan itu penuh perasaan.

Donghae kembali memamerkan senyum memikat, kemudian bangkit memandangi matahari yang beberapa detik lagi akan kembali ke kediamannya. “Karena kau sudah mengetahui perasaanku, sepertinya kita takkan pernah bertemu lagi.”

Mendengar kalimat yang menurutnya janggal itu, Yesung mengernyit heran. Ia mendapati si namja Lee mendekat dan mengecup singkat bibirnya, seperti yang Donghae lakukan di dunia nyata kemarin siang.

“Ketika aku telah mengungkapkan perasaanku, maka dia yang berada di duniamu pasti akan melakukan hal yang sama pula.”

#

Sinar matahari pagi berhasil membangunkan Yesung dari tidur nyenyaknya. Mendapati tak ada Eunhyuk dan Donghae yang melompat untuk membangunkannya pagi ini, sedikit banyak membuatnya merasa lega bercampur kehilangan.

Hyung? Sudah bangun?”

Yesung mendapati Donghae tengah membuka pintu kamarnya, meminta izin untuk masuk. Ia mengangguk sekilas, lalu menepuk sisi kosong ranjang; memberi sinyal pada Donghae untuk duduk di sebelahnya.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Hyung,” ujar salah satu dancer utama SJ itu pelan. Yesung tersenyum kecil mengingat mimpinya, mulai berharap banyak akan apa yang ingin dikatakan oleh sang dongsaeng pada dirinya. Ia berpura-pura tak acuh, namun gagal karena ia memang tak pernah bisa benar-benar mengabaikan dongsaeng-nya.

“Sebenarnya… aku…” Dengan ragu namja Lee itu melirik sang hyung diam-diam. Ada sengatan aneh yang ia rasakan tatkala mereka bersitatap. “Bagaimana caraku mengatakannya?” Donghae ingin bersumpah serapah saat ini juga. Ia sudah yakin untuk menyatakan apa yang harus ia nyatakan, tetapi nyatanya kata-kata itu terlampau sulit untuk diucapkan.

Saranghae.”

“Eh?”

Kata cinta itu tak terlontarkan olehnya, melainkan oleh hyung-nya yang kini mengulum senyum dalam diam. Donghae merasa wajahnya mulai memanas, sebelum akhirnya Kim Jongwoon menghapus jarak di antara mereka; mengajarkannya betapa manis sebuah ciuman ketika dilakukan oleh seseorang yang dicinta.

#

Hyung.”

“Ya, Jongwoon-ah?”

“Sebenarnya aku bercanda ketika berkata akan sering mengunjungi dorm.”

YA! Kau—“

“Tapi sepertinya aku benar-benar akan sering mengunjungi dorm nantinya.”

Fin.

Credit title: TRAX’s Third Mini Album – Blind; Like A Dream

It’s hard for me to make a YeHae fict. I can’t grab the mood or feelings that well cause I’m someone who love uke!Yesung so much rofl (eventho YeMin suits me well)

Menyebalkan adalah di saat harus mengetik banyak fict dan tiba-tiba saja writer-block menyerang tanpa belas kasihan. Project saya untuk ulang tahun Yesung adalah mem-publish fict tiap hari Sabtu di bulan Agustus hingga hari H (tanggal 3, 10, 17, 24; total 4 fict dengan pair berbeda; 2 uke!Ye & 2 seme!Ye) dan seharusnya menggunakan fict baru, bukan menggunakan fict lama yang sudah usang dan tinggal di-edit sedikit-banyak. Yap, empat fict yang akan saya publish adalah fict lama yang saya jadikan stock untuk saat-saat di luar rencana seperti sekarang. I swear I can’t write more than 300 words these days TT

So, this is my first awful entry for the project^^

13 thoughts on “Like A Dream

  1. aku suka yehae mereka itu manis
    waloupun aku uke yesung shipper tpi khusus utk hae,melihat dr sifat’y hae yg manja lebih cocok klo hae yg jadi uke
    like this story

    1. Kalau dari segi brothership Super Junior, Hae memang uke… tapi jika dilihat dari segi lainnya (performance, akting, MV) dia seme banget orz
      Gomawo^^

  2. kyaaaaa..cweettt..banget , akhirnya kata cinta itu terucap juga d dunia nyata ^^

    ak sich yesung centric he..he.., good ff di tunggu next ffnya

  3. nich ga di publish di ffn y?? aku ga tau.. 😦
    akh bener” hrz mengikuti pkmbng nich WP

    selalu aja begini..
    setiap baca fict yg chingu buat selalu membuat aku tak dpt berkata apa”..
    kenapa setiap fict chingu yg slama ini aku baca, slalu membuat aku terpesona?? u,u

    sungguh, aku ga bo’ong, aku bener” suka sm tulisan chingu..

  4. Kya maniiiisnya yehae,,bnarnya lbh ska haesung sech,,pi kyanya ini yehaekn….but ttp seru,,sprti biasanya ff yg chingu buat pasti mnarik……

  5. Susah amat si bilang saranghae doank !!!! Gemezzzz saya….

    Yg terakhir itu bukan mimpikan???

  6. yehae atw haesung aq suka,couple favorite setlah best couple kyusung!!!! emang hae kdang” brsikap uke dn manja ama ye
    seru mimpi yg akhirnya nyata stelah keberanian itu muncul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s